
Elvina tertawa lepas tapi suaranya teredam dengan suara dari panggung. Penyanyi sibuk bernyanyi menghibur, sementara mereka bertiga malah lebih banyak bercanda daripada menikmati apa yang disajikan penyanyi.
Pesanan mereka datang. Obrolan selesai, apalagi tawa, kalau masih tertawa nanti malah jadi tersedak dan Elvina jera sekali tersedak dikala makan apalagi ketika makan yang pedas. Sakitnya jadi double. Hidung terasa perih, tenggorokan gatal, semuanya Ia rasakan.
“Enak juga di sini, El,”
“Tadi aja protes. Bukan konser lah tapi live musik, sekarang malah bilang enak di sini,”
“Iya apapun itu namanya, suasana nya enak,”
“Iya ‘kan. Enggak desak-desakkan gitu, semua ada meja,”
“Ini lo booking dari kapan?”
“Hmm enggak ingat, kayaknya belum terlalu lama,”
“Boleh lah ngajak gue sama Elvina ke sini lagi. Traktir tapi ya, ini ngomong-ngomong makanan ditraktir ‘kan?”
“Dih najis enggak modal banget, padahal cowok sendiri, enggak tau malu ya minta traktir sama cewek,”
Vano terkekeh pelan. Ia menelan makanannya kemudian menyeruput minuman sebelum menyahuti Tata.
“Iya deh, ntar gue bayar. Tapi gue bayar untuk gue sama Elvina aja, lo bayar sendiri,”
__ADS_1
“Sama aja boong!”
“Enggak-enggak. Gue bayarin seriusan. Tenang aja, santai, gue mah enggak perhitungan kalau soal duit,”
“Iya tau, lo royal kok orangnya,”
“Ya udah kenapa tadi cemas banget enggak gue bayarin?”
“Enggak cemas, gue bisa bayar sendiri,”
“Gue bayarin! Pokonya gue yang bayar. Soalnya ‘kan lo udah book tempatnya nih,”
“Okay bagus kalau gitu,”
“Dih, enggak ada kata-kata terimakasih gitu? Gue nih udah keluar duit buat bayar makan sama minum,”
“Okay, gue juga mau bilang terimakasih karena lo udah ngajak gue sama Elvina ke sini jadi kita berdua punya hiburan juga, enggak di rumah aja?”
“Makanya lo ajakin Elvina kemana kek, jangan di rumah mulu, dulu enggak ada modal apa gimana?”
“Mager, njir. Bukan enggak ada modal. Dia nya juga kadang malesan diajak kemana-mana. Jadi ya udah kalau libur seringnya di rumah. Paling sesekali ke mal, belanja, nonton di bioskop, makan di luar, kayak gitu aja paling,”
“Nah biar makin mesra sering liburan ke luar kota aja,”
__ADS_1
“Nah kalau kayak gitu aku enggak bakalan malesan, Mas,” sahut Elvina dengan semangat. Menjelajahi kota-kota ketika liburan pasti menyenangkan sekali. Apalagi kalau kita nya belum pernah di kunjungi oleh mereka sebelumnya.
“Masalahnya kalau ke luar kota itu enggak cukup cuma sehari atau dua hari, sedangkan libur gue dalam seminggu ‘kan mentok segitu aja lamanya,”
“Hmm iya sih, karena kerjaan ujung-ujungnya ya,”
“Iya, gue juga mau banget liburan ke luar, enggak di sini-sini terus, tapi susah banget cari waktunya,”
“Itu karena kamu enggak niat mau ngajak aku liburan, Mas. Coba kalau niat, pasti gampang aja,”
“Ya ampun, El. Bukan enggak niat, emang aku susah cari waktunya. Kalau ada libur yang panjang dikit pasti aku ajak kamu ke luar kota deh, kayak sebelumnya ‘kan juga begitu. Kalau ada waktu yang luang dan lumayan lama pasti aku ajakin liburan ke luar kota,”
“Ini mah mentok-mentok staycation aja, itu juga jarang. Ayo dong, kita kemana gitu,”
“Iya deh, udah butuh liburan ya?”
Vano mengacak lembut kepala istrinya. Ia menyerah kalau sudah melihat wajah suntuk Elvina. Akan Ia cari waktu secepat mungkin untuk liburan lebih lama keluar kota karena istrinya sudah protes, bukan lagi sekedar lempar kode untuk liburan ke luar kota, tapi Elvina sudah terang-terangan meminta.
“Jangan lupa ajak gue,”
“Lu mah enggak diajakin, cuma gue sama Elvina aja,”
“Kalau mau, kamu bawa doi, El. Jadi kita pergi berempat,”
__ADS_1
“Emang mau liat kemesraan gue sama Elvina kalau lo ikut kita berdua?”
“Kagak! Najong, amit-amit. Sakit mata gue,”