
"Nih aku bawain siomay yang tadi kamu pesan,”
Vano pulang dengan wajah berserinya. Menghampiri Elvina yang sedang menikmati potongan buah apel di meja makan.
"Yah, Aku udah gak pengen,”
Wajah Vano langsung berubah masam menatap istrinya yang sibuk mengunyah. Ia sudah berusaha mencari, tapi begitu pulang membawa siomay yang diinginkan malah Elvina bilang sudah tidak mau.
"Tadi kamu chat aku biar aku beliin ini. Kok sekarang gak pengen lagi?"
Vano melonggarkan dasinya dan meletakan jasnya di atas meja makan.
"Beliin siomaynya telat,”
Vano duduk disamping istrinya.
"Aku ‘kan tadi masih kerja, Sayang. Harus rajin kerja sebagai suami yang baik tuh, jadwal ngajar padat tadi,”
__ADS_1
"Kan bisa pulang dulu sebentar untuk nganterin pesenan aku,”
"Yaudah maaf deh. Aku tadi lagi sibuk banget soalnya,”
Vano melangkah ke dapur untuk mengambil dua buah mangkuk disana. Lalu menghidangkan siomay di hadapan istrinya.
"Aku udah gak mau. Makan aja sendiri. Aku juga udah kenyang,”
Elvina meninggalkan meja makan dengan piring berisi apel di tangannya. Vano langsung mengejar langkah istrinya sebelum jauh dari meja makan.
"Kamu gak bisa ngehargai aku ya? Aku udah berusaha penuhi permintaan kamu. Tapi dengan gampangnya kamu bilang udah gak pengen lagi. Di mana pikiran kamu?! Aku kerja seharian ini bukan santai-santai. Jadi maklum kalau aku gak bisa nganter siomay ini dari tadi,”
Selain sikap Elvina, rasa lelah yang menghadangnya juga menjadi pengaruh besar dalam memancing amarahnya di sore hari ini.
"Kamu selalu pengen dihargai sama aku. Soal apapun itu! Tapi kamu gak pernah mikirin aku juga. Kamu nggak pernah berusaha untuk ngehargai aku. Dari dulu kayaknya eitu terus deh kamu,”
Suara vano terdengar memenuhi ruang makan megah yang ada di rumah besar ini. Asisten rumah tangga terlihat memasuki kamar mereka masing-masing tidak ingin ikut campur mendengar pertengkaran kedua majikan mereka.
__ADS_1
Elvina menunduk tak berani menatap suaminya yang sedang dalam mode marah. Tubuhnya bergetar takut mendengar suara Vano yang terdengar menyeramkan. Ia kembali merasa terhempas pada kejadian lampau yang pernah dialaminya. DimanVano pernah membentaknya. Sekarang Vano kembali melakukannya. Ia takut setiap kali nada suara Vano terdengar naik barang sedikit.
Elvina menangis. Ia merasa sesuatu dalam perutnya berontak. Buah hatinya pun merasa takut mendengar suara tinggi Vano yang sangat jarang terdengar di telinganya.
Vano melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Elvina. Ia juga mengambil piring yang ada di tangan istrinya kemudian diletakkan di atas meja makan.
"Sekarang makan siomaynya. Aku gak terima penolakan ya, El!"
Vano menyiapkan satu kursi untuk istrinya. Kemudian satu kursi lain yang langsung di tempatinya. Ia menatap istrinya yang masih berdiri kaku di dekatnya.
Vano tahu Elvina pasti kembali tertekan karena amarahnya barusan. Oleh karena itu ia berusaha mengembalikan aura lembutnya yang beberapa saat lalu lenyap entah kemana. Jangan sampai Elvina menangis berkelanjutan. Ia juga tidak bisa melihat Elvina bersedih apalagi itu karenanya. Ia akui yang tadi itu hilang kendali. Seharusnya Ia tidak melakukan itu pada Elvina, tidak sepantasnya Ia membentak Elvina karena merasa tidak dihargai. Sikap Elvina ini memang kadang tidak bisa ditebak. Elvina memang kerap menyebalkan jadi seharusnya Vano tak merasa heran lagi. Jadi sudah sepatutnya Ia memaklumi itu.
"Duduk, Sayang,”
Vano berdecak melihat sikap Elvina yang tak pernah hilang. Sikap keras kepala milik Elvina memang terkadang membuat Vano harus mengelus dada.
"Aku bilang duduk sekarang. Terus makan siomaynya. Kamu ngerti?"
__ADS_1
Suara Vano terdengar sangat lembut di telinga. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa tersanjung diperlakukan selembut itu oleh lelaki tampan yang tegas ini.