
Begitu tiba di kamar, Vano mendapati Elvina yang memejamkan matanya dengan deru napas yang teratur. Tiba di Bali dengan niat liburan, Elvina malah jatuh sakit. Sangat disayangkan sekali, tapi apa boleh buat. Elvina sendiri juga menyesali kenapa Ia sakit saat liburan, tapi Vano selalu meyakinkannya bahwa ini sudah jalan dari Tuhan jadi tidak ada yang perlu disesali.
Vano geleng-geleng kepala. Ia pikir Elvina menunggu kedatangannya dan juga makanan yang dia inginkan tapi rupanya Elvina memilih tidur.
"Elvina, kamu nggak mau makan? udah saya beliin nih bebek gorengnya,"
Vano membangunkan Elvina dengan menepuk-nepuk pelan kakinya. Ia perlu melakukannya beberapa kali sampai akhirnya Elvina tidak lagi memejamkan mata.
"Lho kamu udah pulang? kok cepat banget ya,"
"Iyalah cepat, kamu nungguin saya sambil tidur jadi berasa cepat. Ayo buruan makan,"
Elvina beranjak dari posisi berbaringnya. Vano segera menyerahkan satu porsi bebek goreng yang baru saja dibelinya.
"Ini enak nggak?"
"Ya mana saya tau. Tapi kalau dari aromanya sih enak, cobain aja sekarang," ujar Vano
"Aku cuci tangan dulu deh,"
Elvina meninggalkan ranjang dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tangannya sebelum mengisi perut.
Vano pun turut membasuh tangan barulah setelahnya mereka makan di sofa kamar.
"Masih rame di jalanan, Mas?"
"Lumayan, bahkan masih ada orang yang makan di restoran bebek ini,"
"Kelaparan juga mereka ternyata,"
"Iya dalam hati saya juga ngomong gitu. saya kalau jadi mereka sih nggak mau banget keluar malam-malam cuma buat makan, mending tahan sampai besok pagi. Ini karena kamu bilang lapar aja makanya saya mau nyetir malam-malam. Padahal sebenarnya saya pengen tidur,"
"Maaf ya udah ganggu waktu tidur kamu, Mas. Dan makasih juga udah baik mau cari makanan untuk aku,"
"Lain kali jangan begini lagi ya. Saya belum tentu sabar kayak tadi soalnya. Sebelumnya udah saya tawarin makan pas sore eh kamu malah nolak. Giliran malam kamu merengek lapar,”
"Aku 'kan nggak tau kalau bakal lapar pas udah malam-malam, aku juga sebenarnya ngerasa bersalah,"
Mereka mulai bersantap sambil diselingi dengan obrolan. Elvina tak lupa mengatakan maaf dan juga terimakasih kepada suaminya yang malam ini bersedia tidak melanjutkan tidurnya hanya untuk membelikan makanan karena Ia merasa lapar.
"Enak 'kan?" tanya Vano yang dibalas dengan anggukan oleh Elvina. Istri Elvina itu sampai mengangkat ibu jarinya memuji cita rasa dari bebek goreng bumbu khas Bali yang mereka makan sekarang.
"Emang dari harumnya aja udah ketauan enak. Untung nggak salah fokus nyetirnya karena bebek goreng. Aromanya nguar di dalam mobil,"
Elvina terkekeh mendengar cerita suaminya. Ternyata Vano sudah bisa menebak bahwa bebek yang Ia beli itu lezat karena dari aromanya sudah bisa ditebak katanya.
"Kamu udah nahan lapar ya?" Tanya Elvina.
Melihat Vano mengangguk, Elvina langsung mentap suaminya dengan tatapan mengejek.
"Tadi aku ingat banget ada yang ngatain aku perut karet. Itu siapa ya?"
Elvina mengungkit ucapan suminya tadi. Ia lapar padahal tadi sudah sempat makan bubur ayam dan karena itulah Vano mengejeknya punya perut karet.
"Saya sih nggak sekaret kamu ya," elak Vano.
"Oh gitu? masa sih? aku nggak percaya ah,"
"Aku nggak punya perut karet, kamu tuh. Kamu kan perempuan jadi perutnya bisa kayak karet yang bisa melar kalau lagi hamil,"
"Laki-laki juga bisa tau! bentar lagi perut kamu kayak ibu hamil yang melendung. Tapi kamu melendung bukan karena ada bayi tapi gara-gara kebanyakan makan. Eh tapi nggak apa-apa kok, aku tetap anggap kamu sebagai suami aku, Mas VanGan, kamu tetap ganteng,”
Vano mengangkat bahunya geli mendengar ucapan Elvina. Padahal Ia tidak minta pengakuan terang-terangan seperti itu.
"Nggak usah ngedip-ngedip matanya. Genit banget," tegur Vano ketika melihat istrinya mengedipkan mata setelah berkata bahwa Ia akan terus dianggap sebagai suami.
"Kamu bisa nggak sih jangan manggil saya Mas VanGan? udah sempat berhenti, eh sekarang diulang lagi. Panggil nama aja bisa nggak? aku nggak terima panggilan selain nama,"
Setelah Vano protes soal panggilan lagi, Elvina tiba-tiba terbatuk karena kekehan pelannya.
"Hmm makanya makan tuh jangan sambil ketawa,"
"Ya habisnya kamu lucu banget,"
"Aku bukan badut mampang, jadi aku nggak lucu,"
"Astaghfirullah,"
Elvina menahan tawa ketika suaminya menyangkut pautkan badut di dalam pembicaraan mereka.
"Dah diem! jangan ngomong lagi nanti kamu batuk,"
Elvina menahan senyum mendengar penuturan suminya. Vano tidak mau mereka terlibat obrolan lagi karena barusan Ia sempat batuk dan Vano lihat itu cukup menyiksa Elvina.
"Apa kamu masih panas badannya?"
Elvina menyentuh kening dan lehernya sendiri dengan tangan kiri yang bersih, sebab tangan kanan sedang digunakan untuk makan.
"Masih,"
"Ya ampun, terus gimana dong? padahal udah minum obat. Kamu yakin nggak mau ke rumah sakit aja?"
"Nggak usah, Mas. Ini udah malam, aku--"
"Rumah sakit buka terus, El. Dua puluh empat jam selalu beroperasi jadi kamu nggak usah takut tutup,"
"Ih aku juga tau rumah sakit buka terus tapi aku malas malam-malam keluar, apalagi ke rumah sakit. Mendingan aku tidur aja,"
"Ya udah ke klinik deh. Kalau klinik 'kan nggak begitu ramai pasiennya, dan tadi kayaknya aku sempat liat ada klinik dekat-dekat restoran bebek ini, nggak jauh dari sini lah pokoknya,"
Elvina menggelengkan kepala dan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri untuk menolak ke rumah sakit.
Sekalipun ke klinik yang kata Vano dekat dengan penginapan mereka, dan pasiennya tak sebanyak rumah sakit, tetap saja Elvina enggan kemana-mana, Ia hanya ingin istirahat saja.
"Ya terus kalau demam nggak turun-turun gimana?"
"Kamu tenang aja, aku pasti sembuh secepatnya kok,"
Vano diam sebentar dan Elvina melihat suaminya seperti tengah berpikir tapi Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya itu.
Vano berdehem, setelah itu menyeruput air minum dan menatap Elvina.
"Ya udah lah kalau emang kamu belum kuat untuk pulang, kita nggak usah pulang dulu. Tadinya kita ‘kan udah mau pulang. Tapi kita bisa tetap di sini sampai kamu kuat untuk pulang,"
"Aku kuat, Mas. Kita bakal tetap pulang. Aku nggak mau hancurin rencana yang udah kita buat sebelum berangkat. Bisa liburan tiga hari aja aku udah senang banget, dan aku paham kamu nggak bisa lama-lama," ujar Elvina yang sudah merasa bersyukur bisa liburan bersama suaminya walaupun hanya tiga hari dan pulang-pulang sakit.
"Ya tapi gimana mau pulang kalau keadaan kamu kayak gini? saya yakin kamu berdiri lama pun nggak akan kuat,"
"Tapi kita 'kan duduk nanti, emang di pesawat berdiri?"
"Tapi tetap aja lah nggak enak kalau kita melakukan perjalanan dengan keadaan badan yang nggak sehat. Sampai rumah yang ada malah makin sakit,"
"Kita harus pulang, kamu maunya kita cuma tiga hari aja 'kan di sini? aku nggak mau bikin kamu kecewa karena nggak jadi pulang. Kamu udah kangen sama kerjaan soalnya,"
"Ya udah liat keadaan kamu besok lah. Kalau emang kamu merasa nggak sanggup, ya udah jangan dipaksa,"
"Aku sanggup, Mas. Kita bakal tetap pulang besok,"
Sejak awal liburan saja Vano sudah mewanti-wanti agar mereka pulang tepat waktu sekalipun Lisa, mama Vano menyarankan mereka tambah hari untuk berlibur. Vamo juga sudah dengan tegas mengatakan mereka harus pulang sesuai rencana, jadi Elvina tidak mau membuat Vano kecewa atau bahkan kesal gara-gara Ia sakit kepulangan mereka jadi tertunda. Suaminya itu, tidak mau terlalu lama liburan.
Nasi bebek sudah habis, Vano segera mencuci tangannya. Setelah itu kembali lagi ke sofa, sementara Elvina masih menghabiskan bebeknya.
"Ya semoga aja kamu baik-baik aja. Jadi kita tetap pulang besok. Tapi kalau nggak sanggup jangan dipaksa. Soalnya mama pun udah tau kamu sakit. Kalau tetap maksain pulang, saya yang dimarahin mama, dan saya juga takut kamu kenapa-napa selama perjalanan pulang. Daripada ribet urusannya mending tunda dulu lah,"
"Jangan langsung tidur habis makan," pesan Elvina pada Vano yang duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Emang siapa yang mau tidur sih?"
"Lah itu naik ke atas tempat tidur,"
"Aku cuma mau duduk aja. Sok tau kamu ya,"
Elvina menutup mulutnya menahan tawa dan malu karena sudah menebak tapi ujungnya malah salah.
"Minum obat jangan lupa,"
"Lah aku 'kan tadi udah minum obat,"
"Astaga saya lupa. Iya ya, kamu udah minum obat tadi,"
"Makanya pikiran kamu jangan kemana-mana, Mas,"
*******
Pagi ini kondisi kesehatan Elvina ternyata tidak ada perubahan. Demamnya masih tinggi bahkan batuknya semakin parah sampai Vano yang melihatnya merasa tidak tega karena Elvina kelihatan begitu tersiksa ketika batuk. Wajahnya merah, uratnya lehernya sampai terlihat, dan matanya juga merah.
Disaat sarapan saja Elvina tak bisa menikmatinya karena harus diselingi batuk yang tak berkesudahan.
"Ya ampun, keadaan kamu kayaknya nggak memungkinkan banget buat diajak pulang,"
"Aku bisa kok, Insya Allah. Udah, kamu lanjut aja sarapannya,"
Elvina mengusir halus tangan sang suami yang baru saja mengusap punggungnya dengan lembut dan memijat tengkuknya.
"Kamu yakin?"
Elvina menganggukkan kepalanya. Ia yakin akan baik-baik saja selama dalam perjalanan pulang ke ibukota.
"Nggak usah kalau kamu--"
"Aku bisa, Mas. Kita pulang aja. Aku juga udah kangen rumah,"
"Ya udahlah, terserah kamu. Asal kamu benar-benar kuat. Saya nggak mau terjadi sesuatu sama kamu. Jadi panjang urusannya nanti,"
Elvina keras kepala karena sekali lagi, Ia tidak mau membuat suaminya kecewa. Dan Vano heran karena Elvina keras kepala tetap mau pulang padahal Ia sudah berusaha terima dengan lapang dada kalau memang Elvina tidak bisa pulang sekarang.
"Mama telepon nih," ujar Vano seraya memperlihatkan layar ponselnya kepada Elvina.
"Kalau mama tanya aku, bilang aja aku udah baikan keadaannya," ujar Elvina mengajarkan suaminya supaya Ibu mertuanya tidak khawatir.
"Kok bohong sih? dosa besar lho kamu,"
"Aku nggak mau mama khawatir, Mas. Ya udah terserah kamu kalau nggak mau bohong. Nanti mama pasti nggak izinin kita pulang. Kita udah tiga hari empat malam di sini, kamu mau tetap bertahan? kamu nanti kesal sama aku karena ninggalin kerjaan,” ujar Elvina yang mengungkapkan alasannya ingin berbohong pada mertuanya soal keadaan dirinya saat ini.
"Saya angkat telepon mama dulu," ujar Argantara pada istrinya yang langsung menganggukkan kepalanya mempersilahkan sang suami untuk menerima panggilan mamanya.
"Halo Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, Van. Gimana keadaan El? udah baikan atau malah makin?"
Yang langsung ditanyakan oleh Lisa adalah keadaan menantunya, bukan hal lain. Itu gambaran yang menunjukkan bahwa Elvina begitu disayang dan diterima oleh ibu mertuanya itu. Tahu Elvina sakit, mertuanya langsung khawatir sekali.
Elvina sangat bersyukur ada di tengha-tengah keluarga yang menerimanya dnegan tangan terbuka, keluarga suaminya semua baik kepadanya.
"Elvina udah baikan keadaannya, Ma," jawab Vano.
Elvina yang mendengar jawaban suaminya langsung mendengus. Tadi Vano mengatakan bahwa berbohong itu dosa besar tapi sekarang dia melakukannya. Vano mengikuti apa yang Elvina katakan tadi untuk tidak mengungkapkan keadaan Elvina yang sesungguhnya kepada Lisa.
"Jadi pulang berarti ya?" Tanya Lisa.
"Iya jadi, Ma," jawab Vano.
Elvina mati-matian menahan batuk supaya tidak terdengar ibu mertuanya, tapi Ia tak bisa menahannya lagi karena tenggorokannya benar-benar sangat gatal.
“Lho kok El masih batuk-batuk gitu, Van? Bener El udah baikan? Itu batuknya kedengeran masih parah lho,”
“Kenapa sih? Aku udah berusaha nahan tapi nggak bisa. Akhirnya kelepasan batuk. Aku minta maaf,”
“Makanya jangan ngajarin saya bohong! Mama nggak percaya sama saya tau nggak?”
Vano berbisik dengan tatapan tajamnya pada Elvina yang langsung menunduk. Ia juga tidak mau ada di situasi seperti ini. Tadi sudah berusaha menahan batuk tapi tidak bisa. Tenggorokannya benar-benar sangat gatal akhirnya batuk juga dan didengar oleh Lisa yang sebelumnya diberitahu kalau kondisi Elvina sudah membaik.
“Van, masih kesambung sama mama nggak nih? Suara mama masih kedengaran?”
“Iya aku dengar, Ma,”
“Mama tanya, El masih parah itu batuknya? Batuk kering itu kayaknya, nama kalau batuk kering sakit banget lho, nyelekit rasanya. Udah minum obat belum? Jangan bilang kamu nggak nyediain obat,”
“Dia emang udah nyiapin obat-obatan sebelum pergi kok, Ma. Dan udah minum obat juga,”
“Berarti emang belum ada hasilnya itu obat. Apa udah diajakin ke rumah sakit?”
“Udah tapi El nggak mau, Ma. Dia keras kepala nolak ke rumah sakit, ke klinik juga gitu,”
“Ya Allah, terus gimana? Demamnya masih nggak? Terus flunya itu masih juga?”
Vano menghembuskan napas kasar. Sepertinya isa, mamanya sudah bisa menebak bagaimana keadaan Elvina yang sesungguhnya tanpa Ia beritahu.
“Semuanya masih, Ma,”
“Terus kenapa kamu bilang udah baikan? Huh? Bener-bener anak ini ya. Kerjaannya bohong aja!”
“Elvina bilang ke aku, jangan kasih tau mama kalau dia masih sakit, bilang aja udah baikan. Kata dia begitu, Ma,” jawab Vano yang akhirnya jujur kalau Ia terpaksa bohong karena istrinya.
Lisa mendengus kesal. Rupanya anak dan menantunya itu sudah bekerja sama. Ia sudah sempat senang tadi karena Elvina sudah membaik tapi kenyataannya Ia dibohongi.
“Paksa lah ke rumah sakit, Van. Supaya diperiksa dokter terus dikasih obat yang sesuai. Itu karena kelelahan kali ya?”
“Iya kayaknya sih gitu, Ma. Tapi mulai pusing sama gatal hidungnya itu setelah hampir kebawa ombak itu,” ujar Vano yang kembali mengulas kejadian istrinya hampir saja terbawa ombak ketika main di pantai.
“Kebetulan aja itu. Sebelumnya memang udah mau menurun kondisi kesehatannya gara-gara kesana kemari terus, kurang istirahat mungkin,”
“Dia nggak mau diajak ke rumah sakit, ke klinik juga nggak mau. Nggak tau lah, pusing aku ngasih taunya,”
“Jangan kayak gitu, Van. Bujuk baik-baik, dan ambil aja keputusan untuk nggak pulang dulu, sampai keadaan El benar-benar udah pulih,”
“Aku udah bilang begitu tapi El tetap mau pulang, Ma,” ujar Vano seraya menatap Elvina yang beranjak ke kamar mandi untuk membuang cairan dalam hidungnya.
“Coba ajak lagi ketemu dokter deh. Atau mama aja yang ngomong sama Elvina sekarang. Elvina dimana sekarang?”
“Kami lagi sarapan, Ma. Tapi barusan El ke kamar mandi, tunggu sebentar ya, Ma,”
“Okay, mama mau ngomong sama El,”
Vano terus memegang ponselnya tanpa bersuara lagi karena mamanya ingin bicara dengan Elvina yang saat ini masih berada di kamar mandi.
Elvina selesai membuang cairan yang memenuhi hidungnya padahal sebelum mulai makan, Elvina sudah membersihkannya. Elvina kembali duduk berhadapan dengan makanan.
Vano segera mengulurkan ponselnya kepada Elvina sekaligus memberitahu bahwa mamanya ingin bicara dengan Elvina.
“Assalamualaikum, Ma,”
“Waalaikumsalam, El kok nggak mau ke rumah sakit, Nak? Harusnya kamu diperiksa supaya setelah itu dikasih obat yang sesuai. Suara kamu udah beda banget itu, El. Demam pasti masih tinggi juga ya?”
“Aku udah baik-baik aja kok, Ma,” jawab Elvina.
“Kamu jangan bohongin mama, Nak. Mama pasti tau. Ada aja caranya mama tau, El. Kayak tadi, tiba-tiba mama dengar kamu batuk. Mama langsung curiga. Karena kalau udah baikan nggak mungkin batuknya masih nyelekit kayak gitu. Sebaiknya nggak usah pulang dulu lah. Demam batuk pilek itu pasti bikin pusing luar biasa. Daripada kamu kenapa-napa selama dalam perjalanan mendingan ditahan dulu pulangnya. Insya Allah kalau memang keadaan kamu udah membaik, secepatnya bisa pulang. Lagipula Vano gampang-gampang aja kalau mau ambil libur, kamu pun sekarang nggak terikat sama apa-apa jadi saran mama lebih baik kalian tunda dulu pulangnya, nanti kalau kamu udah benar-benar pulih, barulah kalian bisa pulang,”
“Ya udah makanya nurut aja apa kata saya. Mama juga ngomong kayak gitu. Jadi kamu harusnya iyain aja,” ujar Vano dengan pelan. Ia juga ragu mau membawa Elvina pulang. Dari wajahnya saja Elvina kelihatan lemah sekali. Kalau terjadi apa-apa pada Elvina selama dalam perjalanan, Ia juga yang dibuat susah nantinya.
“El, ke rumah sakit ya. Jangan nggak mau terus, Nak. Takutnya keadaan kamu malah makin parah,”
__ADS_1
“Tapi aku udah minum obat yang biasa aku minum kalau sakit ini kok, Ma. Sengaja aku bawa obatnya untuk jaga-jaga,”
“Tapi nggak maksain pulang ‘kan? Kamu yang keras kepala mau pulang atau Vano yang maksa kamu?”
“Nggak kok, Ma. Mas Vano nggak maksa aku. Emang aku yang mau pulang soalnya aku udah kangen sama rumah,”
“Lho, bukannya enak kalau tambah beberapa hari lagi di sana, Nak. Tapi percuma juga sih nambah waktu di sana, karena kamu nya sakit. Jadi nggak bisa nikmati liburan,”
“Tapi kayaknya aku tetap mau pulang aja deh, Ma. Soalnya aku udah pengen sampai di rumah, dan aku juga nggak mau kalau Mas Vano terlalu lama ninggalin kerjaan. Kasian dia, kerjaannya jadi numpuk gara-gara terlalu lama di sini dan bukan karena liburan tapi karena aku sakit. Yang tadinya cuma tiga hari, tiba-tiba jadi nambah. Otomatis kerjaan Mas Vano jadi makin banyak yang numpuk,”
“Ah suami kamu itu emang kerjanya banyak terus deh kayaknya. Numpuk mulu buktinya pulang nggak teratur waktunya. Dari zaman belum nikah suka begitu emang,”
“Insya Allah aku kuat kok, Ma,”
“Jangan maksain ya, El. Tolong pikirin baik-baik deh. Kalau kamu sakit kayak begini terus diajak pulang itu rasanya bakal nyiksa diri kamu sendiri. Mau berdiri aja mama yakin masih lemas, apalagi perjalanan pulang? Ya walaupun di pesawat cuma duduk aja tapi ‘kan badan harus sehat kalau mau kemana-mana,”
“Jangan keras kepala. Mama udah ngomong kayak gitu, kamu masih mau maksa?” Desis Vano yang melihat keraguan di mata Elvina untuk mengiyakan apa kata mertuanya. Padahal sudah dibujuk oleh Lisa untuk ke rumah sakit atau menunda kepulangan. Vano sendiri juga berusaha menerima kalau memang Elvina belum jadi pulang ke rumah. Yang penting Elvina bisa istirahat hingga kondisi kesehatannya memulih setelah itu barulah mereka pulang. Karena kalau Ia memaksakan kehendak, lalu terjadi sesuatu pada Elvina, urusannya jadi panjang. Dan walaupun sedikit, pasti ada rasa bersalah karena telah memaksakan kehendak untuk tetap pulang disaat kondisi kesehatan Elvina sedang menurun.
“Elvina, saran mama nggak usah maksain pulang sampai kamu baikan, okay?”
“Iya, Ma,”
“Ya udah mama tutup dulu teleponnya. Kalau sarapan belum habis, dan sebaiknya ke rumah sakit aja, dan jangan lupa minum obat,” ujar Lisa pada menantunya. Lisa tidak bisa diam saja setelah tahu menantunya akan tetap memaksakan diri untuk pulang.
“Iya makasih, Ma,”
“Assalamualaikum, hati-hati ya kamu sama Vano,”
“Waalaikumsalam iya, Ma,”
Setelah sambungan telepon dengan Lisa berakhir, Elvina menyerahkan ponsel yang ada di tangannya kepada sang pemilik.
“Kok nggak dilanjut makannya?” Tanya Vano pada istrinya itu yang tak memghabiskan makanannya.
“Aku udah kenyang, takut muntah,”
Vano mengangguk tak memaksa Elvina untuk menghabiskan makanannya. Yang terpenting sudah ada makanan yang masuk ke perut Elvina.
“Mau ke rumah sakit? Mama ‘kan udah saranin kamu ke rumah sakit,”
“Nggak deh,”
“Terus mau sampai kapan sakit?”
“Ih aku nggak mau ke rumah sakit, takut ujungnya malah disuruh dirawat, terus kapan kita pulang kalau aku dirawat?”
“Ya kalau kamu dirawat berarti emang keadaan kamu nggak memungkinkan untuk istirahat di rumah,”
Elvina menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin ke rumah sakit karena baginya obat yang biasa Ia minum pasti bisa menyembuhkannya.
“Jadi gimana? Kita pulang atau nggak?”
“Ya kamu maunya gimana?” Tanya Elvina yang tak berani mengambil keputusan. Ia takut bila mengiyakan untuk tetap bertahan di tempat liburan mereka, Vano justru keberatan. Ia tidak ingin Vano juga kecewa karena tak jadi pulang sesuai rencana.
“Saya sih udah pasrah aja sama gimana maunya kamu. Emang kamu kuat kalau kita pulang? Bisa?”
“Ya dikuat-kuatin aja, kayaknya bisa kok,”
Vano berdecak mendengar jawaban Asyira. Ia tahu Asyira tengah berusaha memaksakan diri, jadi Ia ambil keputusan untuk menunda kepulangan.
“Nggak usah dipaksa kuat. Kita pulang kalau kamu udah mendingan aja,”
Saat mulut Elvina hendak terbuka, Vano langsung berdesis, mendekatkan jari telunjuknya dengan bibir.
“Kamu nggak usah ngomong apapun lagi. Dengar aja apa kata saya, kalau saya bilang nggak sekarang pulangnya, ya udah kamu jangan bantah!”
“Tapi kamu nya nggak apa-apa? Aku bisa kok, Mas. Insya Allah aku kuat. Cuma demam sama batuk flu aja mah nggak masalah,”
“Ya, nanti kalau kamu pingsan, di jalan, siapa yang repot? Saya lah! Makanya nggak usah maksain karena keadaan kamu nggak memungkinkan,”
“Kamu nyumpahin aku pingsan? Ih kok kamu ngomongnya begitu sih?”
“Ya lagian mau maksain aja sih, keras kepala,”
“Aku bisa pulang kalau emang kamu maunya kita pulang hari ini,”
“Saya nggak maksa, Elvina. Kamu juga jangan maksain badan kamu. Ya udah saya putusin untuk di sini dulu, sampai kapannya saya nggak bisa mastiin. Pokoknya sampai kamu udah sehat, barulah kita berangkat pulang. Saya nggak keberatan. Lagian kalau maksain pulang, takutnya kamu malah kenapa-napa. Jadi panjang urusannya,”
Elvina lumayan kaget mendengar keputusan suaminya. Ia pikir Vano akan bersikeras untuk mengajaknya pulang walaupun setelah Ia sakit Vano memang kelihatannya mulai bimbang atau maju mundur untuk pulang. Tapi Elvina tidak menduga kalau Vano akan dengan yakin mengambil keputusan untuk menunda jadwal kepulangan mereka disaat rencana sebelum mereka berangkat sudah menjadwalkan pulang hari ini.
“Kamu nggak marah ‘kan, Mas?”
“Ya nggak lah. Ngapain saya marah? Paling jengkel aja dikit,”
“Ih sama aja dong. Aku nggak mau kalau sampai kamu marah-marah karena nggak jadi pulang. Terus kerjaan kamu gimana?”
“Ya udah nanti saya kerjain dikit-dikit,”
“Aku minta maaf ya udah bikin kamu nggak kerja lagi. Kerjaan kamu jadi numpuk. Sekali lagi aku minta maaf ya, Mas. Aku juga nggak mau sakit sebenarnya. Tapi ternyata dikasih sakit, padahal habis senang-senang karena liburan,”
“Ya udahlah jangan ngomong begitu. Sakitnya kamu itu ‘kan dikasih sama yang di atas, terima aja, jangan ngeluh,”
“Aku nggak ngeluh, cuma bingung aja tiba-tiba sakit, padahal sebelumnya aku baik-baik aja,”
“Kamu mau ngapain kok buka baju?”
Elvina mengernyitkan kening ketika melihat sang suami tiba-tiba membuka baju. Habis makan, Vano buka baju. Tentu saja Elvina merasa bingung.
“Saya mau berenang, biar seger,”
“Lho, baru banget makan. Nanti aja dulu, harusnya tadi tau,”
“Ya udah saya duduk-duduk dulu aja di tepi kolamnya, kamu istirahat sana. Nggak usah ngapa-ngapain,”
“Emang aku nggak ngapa-ngapain selama liburan. Kerjaannya cuma jalan, makan, tidur,”
“Saya yang jadi makhluk pemalas. Kalau kamu masih mending. Beresin koper dan segala macamnya ‘kan kamu semua,”
“Ya makanya bantuin,”
“Saya udah mau bantuin kamu ya tapi kamu malah nolak, malah larang saya untuk megang koper dan barang-barang. Ya udah saya tinggal tidur aja,”
Elvina terkekeh sementara suaminya sudah melangkah menuju kolam renang. Ia duduk di tepi dan memainkan ponselnya. Elvina geleng-geleng kepala melihat Vano yang buka baju pagi-pagi.
“Mas ‘kan udah mandi tadi ya? Dia mau berenang? Berarti mandi lagi dong,” gumam Elvina.
Elvina segera beranjak menghampiri suaminya yang ternyata sedang menelepon seseorang. Suara langkah kakinya terdengar di telinga Vano yang langsung menoleh.
Rahang Vano mengetat melihat istrinya berjalan ke arahnya. Disuruh istirahat malah menghampirinya.
“Kamu ngapain sih? Udah selesai makannya?”
“Aku bilang tadi aku udah selesai makan soalnya udah kenyang takut muntah, kamu kenapa berenang? ‘Kan udah mandi ya?”
“Ya emang kenapa? Suka-suka saya lah, terserah saya mau renang atau ngapain. Udah sana masuk ke kamar, nggak usah nyamperin saya. Kamu tuh harus istirahat, Syira,”
“Oh ya udah deh aku masuk. Tapi ini masih dingin lho, Mas. Emang kamu nggak apa-apa?”
“Ya nggak masalah, udah masuk sana!”
“Ya udah, Mas, biasa aja dong jangan kesel gitu, aku emang nggak boleh apa ngeliatin kamu renang? Aku ‘kan nggak ngapa-bgapain cuma ngeliatin aja. Nggak capek kok,”
Vano langsung menatap Elvina dengan datar sambil berkata penuh penekanan “Istirahat, Elvin,”
Elvina mendengus dan langsung berbalik badan meninggalkan Vano yang kesal karena Ia menghampiri Vano.
__ADS_1