Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 24


__ADS_3

Setelah menghabiskan lumayan banyak waktu untuk meyakinkan diri, dan mempersiapkan diri masing-masing, akhirnya hari pertunangan Elvina dan Vano datang juga.


Orangtua mereka yang saling mengenal satus ama lain bahkan bersahabat sejak dulu bahagia sekali karena ternyata hubungan mereka tak hanya sekedar sahabat saja, sekarang hampir menjadi besan. Mereka harap semua acara berlangsung dengan pancar tanpa kendala hingga kereka benar-benar menjadi keluarga besar.


Setelah acara pertunangan berakhir, Vano mengajak Elvina pergi berdua untuk fitting baju pengantin. Elvina tidak menolak. Memang itu wajib, sebagai salah satu bentuk persiapan.


“Elvina bisa aku bawa dulu ya, Tante, Om?” Tanya Vano pada Dini dan Arman, orangtua dari calon istrinya.


“Boleh dong, silahkan. ‘Kan memang harus fitting baju supaya benar-benar pas, nggak ada yang kurang. Lagian udah tinggal dua minggu lagi,”


“Iya nanti langsung aku antar pulang,”


Dini dan Arman tersenyum. Vano menghargai mereka dan anak mereka dengan izin seperti itu, dan berkata bahwa akan langsung membawa Elvina pulang bila urusan fitting sudah selesai, padahal tanpa dibicarakan pun orangtua Elvina paham.

__ADS_1


“Aku ikut dong, boleh nggak?”


“Dek, jangan. Kamu di rumah aja sama Mama, temenin Mama nonton,” Lisa melarang anak bungsunya yang ingin ikut pergi bersama abang dan calon kakak ilarnya. Lisa tidak akan membiarkan Davina ikut mereka, karena apa? Mereka berdua biar menghabiskan waktu bersama dulu sebelum nanti ada istilah dipingit. Mungkin bisa dibilang ini pertemuan terakhir intens mereka sebelum menjadi suami istri. Karena kalau di kampus sulit untuk berdua.


Bicara soal kampus, Elvina dan Vano sepakat untuk mengundang orang-orang terdekat mereka di kampus. Vano mengundang teman-temannya sesama dosen, begitu juga dengan Elvina yang mengundang teman-temannya. Mereka mengikuti anjuran orangtua tentang baiknya pernikahan itu diumumkan, bukan disembunyikan supaya terhindar dari segala macam fitnah. Lagipula tak ada yang salah dari pernikahan antara dosen dengan mahasiswinya.


“Emang Mama mau ditemenin nonton apa di rumah?”


“Gosip,” ujar Lisa asal.


Mereka semua sontak terkekeh mendnegar ucapan polos Davina yang merasa bingung karena mamanya termasuk jarang menonton televisi, sekalipun menonton tidak pernah acara gosip.


“Udah pokoknya kamu sama Mama aja di rumah ya,”

__ADS_1


Davina menganggukkan kepalanya menyerah. Ia tidak membantah karena sudah dilarang oleh mamanya. Walaupun sebenarnya Ia ingin seklai pergi dnegan abang dan calon kakak iparnya. Pergi dengan mereka berdua itu menyenangkan. Ia tidak seperti nyamuk. Karena sejauh ini Vano dan Elvina tidak pernah sibuk mesra berdua, Ia selalu ada di tengah-tengah mereka, sehingga Ia tidak merasa diabaikan, atau berpikir akan menjadi adik yang nantinya kehilangan sosok kakak setelah menikah.


Semakin kenal dengan Elvina, rasa takut kehilangan Vano setelah nantinya Vano menikah dengan Elvina, perlahan hilang dari hati Davina. Dulu Davina takut kalau abangnya menikah karena membayangkan Ia akan kehilangan perhatian dari Vano, dan bisa saja Vano tak ingat lagi pada dirinya sebagai adik Vano. Tapi sekarang rasa takut itu hilang dari hatinya.


“Hati-hati ya, Bang,”


“Okay, maaf ya nggak ikut dulu, lain kali ya, Dek,”


“Iya nggak apa-apa,”


“El, hati-hati ya, selamat cobain baju pengantin ya, aku yakin kamu apati cantik banget nanti,”


“Makasih, Dav,”

__ADS_1


Elvina mengusap dagu calon adik iparnya itu sebelum bergegas masuk ke dalam mobil dan pergi bersama calon suaminya untuk melakukan fitting baju pengantin.


__ADS_2