Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 115


__ADS_3

“Gimana? Udah diantar ke rumah Elvina? Dia terima ‘kan?”


Jona langsung diserbu dengan pertanyaan dari mamanya begitu Ia tiba di rumah selepas mengantarkan makanan ke rumah Elvina.


“Terima dong, Ma,”


“Ah syukurlah, soalnya mama senang kalau diterima. Tapi kamu cepat banget ya,”


“Iya aku cuma antar itu aja, enggak keluyuran kemana-mana kok, Ma,”


“Oh Elvina ada di rumah berarti ya?”


“Ada, tapi kayaknya tadi mau pergi,”


“Oh untung aja ketemu sama kamu dulu, kalau dia udah keburu pergi, sia-sia kamu ke sana,”


“Ya bisa diterima sama asistennya sih,”


“Semoga suka deh sama ayam bakar yang mama kirim,”


“Pasti suka, orang enak banget, Ma,”


“Hadiah tas yang dipilih dia untuk mama tuh berkesan banget untuk mama,”


Jona sedikit membelalakkan matanya. Hadiah tas yang dimaksud mamanya itu kan pembeliannya, ya walaupun itu pilihan Elvina, tapi tetap saja itu darinya.


“Itu aku yang beliin, Mama, kenapa malah—“


“Iya tau, tapi tas nya bagus dan itu pilihan Elvina ‘kan? Makanya mama senang banget,”

__ADS_1


“Tetap aja aku yang beliin,”


“Mama tau, Sayang. Tapi pilihan Elvina tuh pas banget sama selera mama gitu lho, makanya mama senang dan merasa terkesan,”


“Iya dia udah tau kok kalau mama senang sama hadiah dari dia,”


****


Elvina meraih tangan Vano yang akan berjalan lebih dulu. Vano tersentak kaget sekaligus bingung karena Elvina tiba-tiba menggenggam tangannya yang akan masuk ke dalam sebuah restoran.


“Kenapa? Kok tiba-tiba mau gandengan?”


“Ya emangnya enggak boleh apa?”


“Boleh sih, cuma agak kaget aja. Posesif banget, takut aku kecantol sama pengunjung lain ya?”


“Dih?”


Lagipula biasanya Vano selalu jalan di sampingnya, tidak mau mendahului. Mungkin karena sudah lapar makanya mau cepat-cepat sampai di dalam.


Begitu duduk langsung pesan menu. Setelah itu menunggu beberapa saat sebelum pelayan datang menyajikan.


“Aku udah lapar banget,”


“Ya siapa suruh enggak makan siang,”


“Niatnya ‘kan mau makan sama kamu. Eh malah enggak taunya gagal,”


“Ya karena kamu sendiri ‘kan. Lain kali jangan ngomong begitu kalau enggak bisa nepatin. Aku udah nungguin lho padahal,”

__ADS_1


“Iya aku minta maaf, aku ‘kan udah bilang tadi, aku sibuk,”


“Kamu sibuk kerja atau sibuk yang lain?”


Vano dengan gemas mencubit pipi istrinya dengan gemas. Masih saja curiga, padahal Ia sudah jujur dan sikapnya selama ini pada Elvina seharusnya bisa jadi bukti kalau Ia benar-benar mencintai perempuan itu begitu dalam.


“Sibuk kerja, biar banyak duit dan bini betah,”


“Aku punya mata-mata lho, Mas. Kamu harus hati-hati,” ujar Elvina seraya menatap suaminya dengan tajam.


Vano tertawa dan Ia tidak percaya. Elvina tidak mungkin sekurang kerjaan itu menyewa orang untuk menjadi mata-mata yang siap sedia mengawasi setiap pergerakannya.


“Kamu pikir aku bakalan percaya?”


“Ya udah terserah, makanya hati-hati aja,”


“Mulai keliatan takutnya nih,”


“Takut apa?”


“Takut aku itu—“


Vano mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali dan hal itu membuat Elvina mengernyit bingung tidak paham.


“Itu apa?”


“Anu—anu-anu,”


“Apaan sih, enggak jelas kamu,”

__ADS_1


“Dah, makan aja dulu,”


Vano mempersilahkan istrinya makan, tak lagi membahas ucapannya yang sengaja Ia hentikan beberapa saat tadi. Ia hanya ingin mengatakan bahwa Elvina sudah mulai takut kehilangannya.


__ADS_2