
“Om, Tante, saya mau serius sama Elvina. Saya udah yakin untuk ngajak Elvina menjalani hubungan yang serius, lebih dari dosen dan mahasiswi. Saya cinta sama Elvina, saya juga udah cukup mengenal Elvina selama ini. Saya mohon izin untuk bersama Elvina menikah. Sebelumnya saya udah bicarakan ini sama orangtua saya, dan Alhamdulillah mereka mengizinkan. Mereka membebaskan saya dalam urusan pasangan, dan mereka yakin pilihan saya nggak salah,”
Vano menatap kedua orangtua Elvina dengan sorot yang menunjukkan bahwa kedatangannya kali ini memang punya niat ingin serius, bukan sekedar main-main.
Kemudian Vano menatap Elvina yang mengalihkan pandangan ke arah lain, seolah tak mau ambil pusing dengan niatnya Vano, dan Elvina menyerahkan semuanya kepada ayah dan juga bundanya untuk mengeluarkan tanggapan.
“Tapi, Vano tau nggak kalau El itu masih cinta sama seseorang?”
“Iya saya tau, Tante. El sejak awal udah cerita sama saya, tapi siapa orang itu, saya sendiri juga belum tau,”
“Mantannya dia sendiri. Udah sama yang lain, tapi El masih belum bisa lupain dia, sampai sekarang,”
Vano menganggukkan kepalanya pelan. Orangtua Elvina terbuka. Barangkali Vano belum tahu soal fakta itu. Jadi di kemudian hari, Vano tidak menyesal mencintai perempuan yang tidak masih terjebak di masa lalunya sendiri.
“Tante dan Om udah berusaha untuk nasehatin El supaya jangan melihat masa lalu lagi. Dia udah nyakitin El sedalam itu. Tapi El masih aja belum bisa lupain dia, sampai Tante dan Om nggak habis pikir. Memang kalau seandainya kalian bersama, Vano nggak keberatan El belum bisa cinta sama Vano?”
Pertanyaan yang tidak sulit untuk Vano jawab. Karena Ia hatinya sudah mencintai Elvina, dan niat awalnya sudah jelas, jadi kalau masalah Elvina belum bisa membalas perasaannya, itu bukan masalah yang besar.
“Saya percaya dengan kata-kata cinta itu bisa datang karena terbiasa. Ya walaupun bersama dengan saling cinta itu lebih menyenangkan, tapi kalau El perlu waktu untuk belajar, saya nggak masalah, Om, Tante,”
“Jujur, Om Tante membebaskan El dalam memilih pasangan. Tergantung keputusan El ya, Van,”
“Aku nggak bisa, aku ‘kan nggak cinta sama Pak Vano,”
“Tadi Vano bilang, dia paham soal itu. Belajar mencintai itu sebenarnya nggak sulit kalau memang ada niatnya,”
“Ketinbang kamu terjebak dalam masa lalu terus, lebih baik buka hati, Nak. Ada laki-laki yang nunjukkin keseriusannya sama kamu, harusnya kamu coba buka hati kamu, kasih kesempatan untuk dia,” batin Dini sambil menatap Elvina yang kini menundukkan kepalanya.
“Lagian, Pak Vano sendiri bilang Bapak mau kenapa saya sama ayah bunda lebih jauh dulu,”
__ADS_1
“Iya, saya juga nggak minta buru-buru, saya tau kamu perlu waktu, sambil kamu coba untuk belajar untuk terima saya ‘kan? Nggak usah cinta dulu deh, terima saya dulu untuk masuk ke hati kamu, nanti cinta bisa belakangan. Kalau terima aja belum, terus gimana bisa cinta ‘kan?” Vano tersenyum hangat menatap perempuan yang beda kurang lebih tujuh tahun dengannya itu. Diberikan waktu untuk menerima, untuk belajar mencintai, dan paham bahwa Ia masih mencintai sosok pria lain, dari itu semua Elvina bisa mengambil keputusan bahwa Vano memang serius untuk menikahinya, Vano benar-benar baik.
“Pak Vano kenapa sih mau serius sama saya? Saya ‘kan cuma mahasiswi, memangnya nggak ada yang bisa diajakin serius selain saya?”
“El—“
“Ya, Bun? Aku penasaran, makanya tanya,” ujar Elvina ketika bundanya memberikan tatapan peringatan setelah Ia melontarkan pertanyaan berbeda kesal yang tak bisa disembunyikan.
“Ya kalau Vano sukanya sama kamu, merasa tertariknya sama kamu, masa mau dipaksa untuk ke yang lain? Nggak bisa lah, hati bebas memilih,”
“Nah itu udah dijawab sama Tante Dini, terimakasih Tante sudah bantu saya jelaskan ke Elvina,”
****
Hari ini Elvina setuju ketika Vano mengatakan niat baik orangtuanya yang ingin bertemu dengan orangtua Elvina dan juga Elvina sendiri supaya bisa saling mengenal satu sama lain.
Tidak hanya orangtua tapi Vano juga menbawa adiknya yang tak mau ketinggalan ingin bertemu langsung juga dengan orangtua Elvina.
Orangtua Elvina benar-benar tidak menyangka kalau yang akan datang ke rumah mereka itu adalah sahabat mereka ketika masih sekolah, senentara orangtua Vano sendiri memang sudah tahu soal itu, dan sudah membayangkan akan sekaget apa reaksi Dini dan juga Arman.
“Aku benar-benar nggak tau sama sekali kalau kalian orangtuanya dosen Elvina. Ya Allah, aku senang banget lho ketemu kalian lagi,”
Dini dan Arman awalnya diam dulu berusaha mengingat-ingat wajah dua tamunya yang mereka rasa tak asing. Selang beberapa detik, barulah mereka ingat. Mereka sama-sama terharu ketika bisa bertemu lagi dengan sahabat lama.
“Dunia sempit banget ya, Din,”
“Iya, ya ampun nggak sangka ternyata kalian yang bakal datang,”
“Kalau kami, udah tau orangtua Elvina itu kalian,”
__ADS_1
“Tau dari kapan?”
“Baru beberapa hari lalu sih sebenarnya. Jadi Vano unjukkin foto Vano bareng kalian terus aku langsung ingat deh kalau kalian itu sahabatnya aku pas zaman SMA,”
“Ih kok nggak langsung nyamperin sih pas tau? Udah tau aku kangen banget sama kamu,” Ujar Dini yang menyayangkan kenapa baru sekarang Ia dan sahabatnya bertemu? Kenapa tidak dari sebelum-sebelumnya saja mengingat Lisa Ternyata sudah tahu bahwa orangtua Elvina itu tidak asing.
“Senang banget bisa ketemu kalian lagi, sekarang zamannya anak kota yang kenal ya,”
“Iya, harus sering-sering ketemu dong, dan jangan sampai putus komunikasi lagi,”
“Yang kemarin tuh sebenarnya bukan mau kita putus komunikasi tapi karena perkembangan zaman aja, Dini. Dulu kita belum ada handphone, lah sekarang-sekarang udah ada,”
“Iya bener sih, pokoknya kita harus jalin terus tali silaturahmi kita, simpan nomorku, Lis, aku juga bakal simpan nomor kamu,”
Akhirnya dua wanita itu saling bertukar nomor telepon, begitupun suami-suami mereka. Sementara para anak mereka bingung. Ternyata orangtua kalau sudah bertemu sahabat yang sudah lama tak bertemu, reaksinya akan sama seperti orang yang masih muda ya? Bisa dibilang heboh. Tapi itu bisa menjadi bukti bahwa di masa lalu mereka memang sedekat itu. Jadi itninya adalah, tidak perlu lagi ada perkenalan antara orangtua Vano dengan orangtua Elvina karena jauh sebelum mereka berdua ada di dunia ini, orangtua mereka sudah kenal bahkan bersahabat.
“El, aku semalam udah pakai masker yang kamu beliin, bagus tau. Aku baru pertama kali nyoba tapi hasilnya keliatan. ‘Kan sebelumnya komedo aku udah mulai ada tuh, nah setelah maskeran jadi berkurang banget, terus halus lagi. Ih pokoknya suka deh. Makasih ya udah dibelanjain,”
“Ya ampun, Dav. Kamu bilang makasih terus deh. Iya sama-sama, syukur lah kalau masker itu cocok di kamu. Berarti rekomen dari aku nggak sia-sia,”
“Jangan ngomongin skin care atau make up dulu bisa nggak, wahai para gadis? Saya di sini nggak ngerti apa-apa berasa anak kecil yang nggak diajakin main. Udahlah orangtua sibuk sendiri, nah kalian juga sibuk bahas gituan,”
Davina terkekeh mendengar abangnya mengeluh. Elvina dan Davina mulai terasa memiliki frekuensi yang sama. Padahal ini pertemuan kedua mereka.
“Ya makanya nimbrung aja, Bang,”
“Gimana mau nimbrung orang nggak dunia cewek, alias skin care dan make up itu,”
“Ya makanya belajar. Nanti kalau udah punya istri nggak kagok lagi,”
__ADS_1
“Ngapain belajar? ‘Kan nanti udah diurus sama istri, jadi nggak usah belajar soal skin care. Abang udah cukup kenal sama satu aja, facial wash, selebihnya nggak tau,”
Lagi-lagi Vano menjadi bahan tertawaan adik satu-satunya itu. Vano sama saja seperti pria kebanyakan yang tak mau ambil pusing soal skin care.