
“Ya elah, sangkain gue mah datang ke konser yang berdiri rame-rame depan panggung itu lho. Nggak tau nya kayak begini doang. Ini namanya live musik, oon!”
Vano mendorong kepala Tata dengan telunjuknya. Menurut Vano apa yang akan mereka lakukan sekarang adalah menikmati live musik.
“Setau gue konser tuh ada panggung di depan terus banyak orang berdiri,”
“Itu ada panggung, oon!”
Gantian Tata yang mengumpati Vano. Ia menunduk panggung di depan sana dengan tangannya. Okay, ada panggung. Tapi yang membuat Vano bingung, kenapa semua pengunjung duduk dengan santai.
“Ini maksudnya VVIP semua apa gimana sih? Duduk semua perasaan, enggak ada vibes nonton konser, njir,”
Tata tertawa lepas karena Vano tak henti menggerutu. Entahlah apa namanya. Pada intinya adalah, mereka nonton orang nyanyi. Tata menyebutnya konser, salah atau benar yang penting sama-sama nonton orang bernyanyi.
“Konser di dalam kafe,”
“Ya tapi ‘kan kafe bagian outdoor ini udah kayak konser ‘kan, ini mah konser beneran malah,”
“Iya deh suka-suka lo aja,”
“Nah gitu dong. Intinya nonton orang nyanyi, ribet banget lo mah,”
“Pulang aja kalau mau ribet, Vano,”
Mendengar kalimat Elvina, Tata tertawa lagi. Istrinya saja tidak suka dengan kecerewetan Vano, apalagi dirinya.
Setelah mereka duduk menyaksikan penampilan seorang penyanyi di atas panggung, ada pelayan datang menanyakan menu apa yang mereka inginkan.
__ADS_1
Ketiganya hanya pesan minuman dan pasta saja. Pesanannya benar-benar sama, tidak ada beda. Setelah itu pelayan pergi menyiapkan pesanan mereka bertiga.
“Konser ada pelayannya ya, serius gue baru tau,”
“Tuh ‘kan, cerewet lagi, ntar deh gue ajakin lo ke konser beneran, konser boyband korea, lo mau?”
“Enggak ah, enggak demen korea gue,”
“Ya udah band indo aja deh,”
“Okay, kapan?”
“Ya nanti lah, cari info dulu,”
“Aku enggak diajak lagi nih, Ta?” Tanya Elvina yang pasif sejak tadi. Vano dan Tata bicara, Elvina lebih memilih menjadi pengamat.
“Kalau kamu ngajak aku, enggak usah ajak Ken,”
“Lah emang kenapa? Aku ‘kan udah lama enggak nonton konser, terakhir waktu SMA kalau enggak sampah itupun sama temen,”
“Enggak usah, aku sama Tata aja,”
“Ya udah nanti aku ajakin kamu datang ke konser berdua aja, enggak sama Tata,” tidak mau kalah. Vano juga bisa mencari kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua dengan istrinya. Tidak apa kalau Elvina tidak mau Ia ikut bersama Elvina dan Tata ke konser yang terpenting nanti Ia cari waktu yang tepat untuk mengajak Elvina ke konser, mereka hanya berdua saja, tanpa Tata. Membayangkannya saja sudah membuat Vano senang karena seingatnya selama ini Ia dan Elvina tidak pernah datang ke konser berdua.
“Lo mau ngajakin Elvina nonton konser apa lenong?”
“Konser lah,”
__ADS_1
“Oh gue kirain lenong. Lenong juga bagus banget tuh,”
“Gue enggak pernah nonton lenong,”
“Ya udah nonton lah sama Elvina,”
“Lah orang gue maunya ke konser. Napa sih ribet banget ni orang,”
“Cuma gue saranin, ah elah nggak jelas lo,”
“Udah ih, debat terus kalian ya,” Elvina menunjuk Tata dan Vano seraya memberi mereka tatapan tajam. Vano justru membalas tatapannya dengan usil. Ia menaik turunkan alis kemudian melempar kecupan jauh untuk Elvina.
“Idih genit banget,”
Vano tertawa melihat wajah geli istrinya terhadap apa yang Ia lakukan barusan. Ia makin tertawa karena Elvina juga tertawa. Kalau lihat Elvina tertawa, bawaan hati jadi tenang. Beda kalau Elvina sudah marah-marah.
“Lo bawa gebetan lo dong, jadi kita konsepnya kayak double date gitu. Nonton konser bareng-bareng,”
“Ya masalahnya gebetan gue dimana? Belum lahir kayaknya,”
“Lah cari dong, males amat nyari gebetan,” ujar Vano pada temannya itu.
“Bukan males, lebih selektif,”
“Jiah elah, yang pernah ditinggalin dan gagal nikah, jadi lebih selektif ternyata,”
“Mas, enggak boleh ngomong begitu ih,” Elvina memperingati Vano yang tengah membercandai Tata, tapi Elvina takutnya Tata tersinggung karena Vano membahas masa lalunya.
__ADS_1