Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 152


__ADS_3

“Ih kamu kenapa sih? Kok ngomongnya begitu?”


Elvina sampai mencubit paha suaminya yang mempermasalahkan hal kecil. Harusnya bersyukur orang lain baik pada istri, ini malah dipermasalahkan kebaikan Jona itu.


“Ya wajarlah kalau aku gondok, Sayang,”


“Emang kamu gondokan, mana?”


Elvina menyentuh rahang suaminya kemudian Ia amati dengan lekat. Vano langsung berdecak kesal karena istrinya malah bercanda.


“Bukan gondok itu yang aku maksud ih!”


Elvina tertawa, dan sebenarnya Ia juga tahu gondok yang Vano maksud adalah kesal, bukan benjolan di leher yang biasanya disebabkan oleh kekurangan yodium.


“Kamu diperhatiin banget sama dia, cie, senangnya dalam hati,”


Elvina berdecak ketika suaminya bersenandung seperti itu. Lagi-lagi Ia mencubit paha Vano hingga lelaki itu kembali meringis dna menatapnya dengan tatapan tajam.


“Jangan begitu, El! Sakit tau, cubitan kamu itu hot banget,”


“Hat hot hat hot! Makanya jangan ngomong mulu!”

__ADS_1


“Ya abisnya kamu yang bikin aku kesel, Sayang,”


“Kok aku sih? Orang kamu yang masalahin kebaikannya Jona. Masih untung dia baik ke aku, tandanya dia ngehargai aku,”


“Udah makan buruan, setelah kamu makan, kita pulang, aku nggak mau lama-lama di sini, mau istirahat dulu,”


“Ya udah sabar, aku masih ngunyah nih. Kamu beneran nggak mau, Ken?”


Vano langsung menggeleng memberi penolakan. Ia menyuruh istrinya saja yang menyantap makanan itu.


“Kamu aneh deh, masa nggak mau sih? Ini enak banget ternyata, cobain sedikit,”


Begitu siomay masuk ke mulutnya, Elvina tersenyum lebar. “Begitu dong, jangan nutup aja itu mulut, harus buka mulut dan cobain,”


“Sekarang bakso,”


“Udah ah, aku nggak mau,”


“Ih emang kenapa sih? Masih kesel gara-gara tadi Jona ambilin ini untuk aku?”


Vano memutar bola matanya, dan dalam hati mencibir Elvina yang tidak paham kalau dia itu memang cemburu, biarpun hal kecil tapi kalau bisa memancing kecemburuannya pasti Ia permasalahkan.

__ADS_1


“Udah habis nih. Ayo pulang sekarang,”


“Akhirnya balik juga, udah pengen tidur. Capek duduk terus,”


“Halah, orang baru bentar kok,”


“Tadi di mobil sama duduk di sini totalnya jadi satu jam lebih, Na,”


“Ya cuma satu jam aja, biasanya juga berjam-jam, kalau kamu di kantor,”


“Ayo kita pamit sama mantan kamu, sekalian bilang makasih udah perhatian banget sama istri aku, sampai-sampai diambilin makanan lho, uluh-uluh,”


“Tapi aku nggak minta, Mas. Lagian dia begitu supaya aku makan, tadinya aku ‘kan nolak, tapi dia nggak mau kita langsung pulang dan malah nggak makan, aku nggak minta ambilin, emang dia aja yang baik, perlakukan aku kayak ratu,”


Vano menatap Elvina dengan sinis kemudian menunjukan gestur ingin muntah. Kelakuannya itu membuat Elvina terkekeh. Elvina sengaja berkata berlebihan supaya suaminya makin panas.


“Eh ngomong-ngomong, Delila juga perlakukan aku kayak raja lho,”


Tak mau kalah, Vano pun bergerak cepat membuat Elvina kepanasan. Elvina pintar beraksi, Ia pun tak kalah pintar. Giliran dibalik situasinya Elvina langsung kesal tidak terima dan Ia mencubit pinggang Vano hingga Vano menggeram supaya tidak berteriak karena kesakitan.


“Bisa-bisanya gue punya istri yang enteng banget KDRT sama gue,” batin Vano sambil menggusar rambutnya.

__ADS_1


__ADS_2