Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 121


__ADS_3

Mau kamu apain itu semua?”


“Ya aku buang lah, itu yang kamu mau ‘kan?”


“Enggak usah kalau masih sayang mah. Nanti ngamuk ke aku. Percuma juga buang-buang itu semua kalau kamu masih belum cinta sama aku. Simpan aja itu sampai bulukan,”


“Supaya kamu tau kalau aku ini juga serius belajar cinta sama kamu,” ujar Elvina yang membuat Vano terdiam beberapa saat. Wajah Elvina menggambarkan betapa menggebu-gebu nya Ia ingin membuktikan keseriusan itu.


“Maksud kamu apa, El?”


“Iya! Aku benar-benar serius mau belajar mencintai kamu. Cara ini bisa membuktikan keseriusan aku,”


“Udah aku bilang percuma kalau hati dan pikiran kamu itu bukan untuk aku tapi yang lain. Percuma aja mau musnahin barang-barang itu karena yang jadi masalah sekarang ini adalah hati kamu yang enggak bisa terima aku, apalagi cinta sama aku kayaknya nggak mungkin banget,”


“Tapi aku ‘kan mau benar-benar belajar,”


Vano mengikuti Elvina yang membawa kotak berukuran lumayan besar keluar dari kamar dengan langkah cepat. Vano penasaran dengan apa yang akan dilakukan istrinya itu. Benarkah dia mau memusnahkan barang-barang yang diberikan mantan kekasihnya? Vano tahu itu semua berarti untuk Elvina tapi entah mengapa malah mau dimusnahkan hanya untuk membuktikan keseriusannya kali ini dalam belajar untuk mencintai dirinya.


“Ibu, itu mau dibawa kemana atuh?”


Elvina tidak menjawab pertanyaan Amih yang kebetulan berpapasan dengan Elvina yang melangkah menuju taman.


“Elvina, kamu mau apakan? Dibuang?”


“Bakar kalau perlu,”


“Tapi bukannya sayang?”


“Lho? Dulu ini yang kamu mau ‘kan? Sekarang aku mau lakuin itu kenapa kamu kayaknya keberatan?”


“Aku bukan keberatan cuma bingung aja. Ngapain kamu ngelakuin ini? Aku aja udah enggak pernah lagi nyuruh kamu lupain masa lalu kamu, dan musnahin barang-barang kamu ini,”

__ADS_1


Elvina dan Dio itu suka sekali bertukar hadiah. Love language mereka adalah saling memberikan kado. Random saja, tidak hanya ketika ulang tahun, monthsary, atau anniversary. Kapan saja mereka mau, maka akan saling bertukar kado. Tidak heran kalau barang mereka itu lumayan banyak.


“Kamu enggak usah lakuin ini. Simpan aja,”


“Kenapa kamu ngomong begitu?”


“Ya karena untuk apa?”


“Biarin! Aku bakal musnahin semuanya,”


Elvina melempar kotak itu ke atas rumput taman. Ia mengambil korek api dari dapur untuk membakar semua barang-barang itu.


“Anatha, kamu yakin? Aku enggak mau kamu salahkan setelah ini ya!”


“Aku bakal nyalahin kamu? Kata siapa?”


“Kamu kenapa jadi begini? Aku bingung, serius. Sebenarnya kamu kenapa? Kamu udah mulai cinta sama aku ya?”


Vano mengaitkan kejadian tadi dimana Elvina seperti orang yang tengah cemburu dengannya setelah mengetahui bahwa ada perempuan lain yang menghubunginya, lalu setelah itu Elvina punya niat untuk membakar barang-barang dari Dio katanya untuk membuktikan bahwa Ia ingin serius belajar mencintai Vano.


Setelah itu Elvina menepuk-nepuk tangannya singkat dan menatap Vank dengan puas. Ia tersenyum miring.


“Aku kalau udah ngomong bakal bener dilakuin, sekarang terbukti ‘kan? Kalau aku bilang aku mau benar-benar belajar cinta sama kamu, artinya aku serius. Dan aku boleh minta sesuatu sama kamu enggak? Berhenti main-main di belakang aku!”


“Serius, aku enggak main—“


“Kamu bohong! Kamu itu bohong! Kamu pikir aku percaya sama omongan kamu? Aku itu udah lihat semua buktinya. Kamu lagi dekat sama perempuan lain,”


“Ya udah lah terserah kamu. Aku males tarik urat terus sama kamu, serius,”


Vano melangkah meninggalkan taman. Elvina langsung berjalan cepat menyusul Vano. “Jangan pergi dulu, Mas!” Ia berseru memanggil Vano.

__ADS_1


“Mas!”


Elvina memeluk Vano dari belakang. Membuat Vano langsung membeku di tempatnya. Elvina tiba-tiba memeluknya erat, ada apa sebenarnya? Barusan marah-marah.


“Kamu kenapa sih?”


Vano membalik badannya. Ia menatap istrinya dengan kening mengernyit. Ia benar-benar tidak paham dengan Elvina sekarang.


“Aku mau kamu jujur!”


“Udah jujur, El,”


“Aku mau belajar cinta sama kamu, Mas. Terus kenapa kamu selingkuh? Hah?”


“Aku enggak selingkuh, Astaga,”


“Mas, tolong jangan bikin aku kecewa. Aku udah pilih kamu masa kamu mau ninggalin aku, Mas?”


Vano menahan senyumnya mendengar ucapan Elvina. Hatinya menghangat, ada rasa senang ketika Elvina bicara seperti itu. Semoga saja benar, Elvina benar-benar cinta dengan dirinya tidak lama lagi.


Sikapnya berubah, menggambarkan kalau Elvina memang ingin serius fokus dengan dirinya. Vano tersenyum dan mengecup singkat keningnya.


“Semoga bener ya,”


“Bener apa?”


“Aku tanya sama kamu, bener-bener mau fokus sama pernikahan kita?”


Elvina diam sesaat dan menatap Vano. Lelaki itu mengangkat satu alisnya bertanya jawabannya sekarang.


“Ayo jawab dong. Masa aku tanya enggak dijawab?”

__ADS_1


“Iya, buktinya aku enggak mau lagi punya barang-barang masa lalu aku,” ujar Elvina dengan lugas. Vano tersenyum lega mendengar ucapan istrinya. Ia senang, benar-benar senang sekarang. Tapi tidak begitu memperlihatkan saja karena sudah sering dikecewakan. Semoga kali ini Elvina benar-benar serius dengan ucapannya. Ia harap Elvina bisa mencintainya dalam waktu dekat dan kehadirannya bisa dihargai.


“Kamu enggak perlu khawatir. Aku enggak main-main di belakang kamu kok,” ujar Vano setelah itu Ia mencium singkat bibir Elvina dan melanjutkan langkahnya.


__ADS_2