
“Ayo ih buruan, kamu lama deh padahal cuma milih minuman doamg lho, Mas, kayak milih pasangan hidup aja penuh pertimbangan,”
“El, saya nggak pernah cerewetin kamu kalau kamu lagi milih. Kamu parah sih,”
Elvina tertawa menyaksikan Vano yang kesal karena Ia minta untuk cepat memilih minuman di dalam kulkas. Mungkin sudah lima menit Vano diam di depan lemari pendingin sebuah minimarket dekat kampus, hanya untuk memilih minuman.
Elvina sudah pilih makanan ringan, sudah pilih minuman juga sementara Vano minuman pun belum memilih.
Sejak tadi Vano mengikuti kemana Elvina melangkah. Setelah Elvina menyuruhnya untuk cari kesibukan sendiri barulah Ia jalan-jalan mencari makanan atau minuman yang diinginkan. Elvina tidak lama memilih makanan ringan dan minuman sementara suaminya masih terpaku di depan kulkas.
“Saya bingung nih mau minum apaan,”
“Ya udah minum air gunung aja deh kamu, ke gunung langsung sana biar nggak bingung,”
Vano terbahak mendengar ucapan Elvina yang kini berdiri di sebelahnya sambil memasang wajah datar.
“Kamu kesel sama saya nih ceritanya?”
“Nggak, cuma bosen aja nungguin kamu di delan kulkas. Lama ya milihnya. Biasa yang lama milih itu cewek lho, tapi ternyata kamu cowok juga bisa lama kalau milih-milih sesuatu,”
__ADS_1
“Ya iyalah, semua manusia itu bisa bingung, bisa bimbang mau pilih yang mana,” ujar Vano yang tidak pernah berpikir bahwa yang suka lama memilih ini itu adalah perempuan tapi tidak tahunya laki-laki juga bisa saja lama kalau memilih sesuatu karena yang namanya manusia wajar saja merasa bimbang.
“Ya udah ini aja deh,”
Vano akan mengambil minuman dalam kaleng dan Elvina langsung membelalakkan kedua matanya dan spontan mencubit pinggang Vano.
“Aw sakit tau. Apaan sih? Kok saya dicubit?”
Vano menatap istrinya dengan sorot kesal. Tadi Ia diminta untuk cepat, giliran Ia ingin mengambil minuman Elvina tiba-tiba mencubitnya otomatis Ia tidak jadi mengambil minuman yang menjadi pilihannya.
“Aku tau itu ada alkoholnya ‘kan? Ngapain beli itu sih? Minuman yang lain ada tuh,”
“Tapi mau ini,”
“Saya sih udah pernah ya nyobain ini,”
“Ya sekarang nggak boleh! Udah deh pilih yang lain aja nggak usah aneh-aneh. Ntar ngefly kan bahaya. Kamu masih mau nyetir ya ke rumah aku. Dan aku nggak mau mati muda, ntar jadi janda muda juga,”
“Ini sih nggak berat, El,” jawab Vano dengan santai. Elvina tetap menggeleng walaupun kategorinya ringan, Elvina tidak ingin Vano minum itu disaat minuman lain masih banyak jenisnya.
__ADS_1
“Mending ambil jus aja tuh , buat kesehatan, daripada yang itu bikin sakit,” ujar Elvina.
“Nggak mau,”
Vano sebenarnya hanya bercanda. Ia tidak benar-benar menginginkan minuman itu. Hanya saja Ia senang membuat Elvina kesal sekaligus cemas.
“Saya nggak sampai mabok kok minum ini, El, rasanya tuh enak cobain deh makanya jangan langsung—“
“Hih, aku mah nggak mau minum yang aneh-aneh. Kamu sendiri pintar banget ya ingetin aku untuk hati-hati kalau misal datang ke party nggak boleh minum inilah itulah, eh kamu sendiri ternyata begitu,” sindir Elvina dengan sinisnya. Vano tertawa dan langsung menarik ujung hidung Elvina yang runcing.
“Kamu khawatir ya sama saya?”
“Takut kamu terbang abis minum itu,”
“Biasanya sih gitu tapi abis itu balik lagi,”
Elvina melirik sinis dan itu mengundang tawa Vano. “Nggak deh, saya bercanda aja,” kata lelaki itu sambil merangkul bahu tunangannya.
“Kamu jangan galak-galak gitu dong, takutnya saya nggak kuat mau nikahin kamu,”
__ADS_1
“Lah kan udah nikah,”
“Oh iya,”