
"Vano hubungi kamu lagi enggak?"
"Enggak, Bu. Mungkin bapak sibuk,"
"Tapi ini 'kan udah sore mau malam bahkan, sibuk apa?"
Amih yang saat ini menjadi teman ngemil Elvina menggelengkan kepalanya.
Ia pun tidak tahu mengapa Vano tidak menghubungi Elvina lagi padahal biasanya rajin beberapa jam sekali, minimal satu jam sekali pasti lelaki itu mengirimkan pesan padanya yang menanyakan kabar Elvina.
"Kenapa, Bu? Kangen sama suami ya?"
"Amih, kamu ngomong apa? Aku cuma penasaran aja, kenapa dia tumben enggak hubungi kamu,"
"Kirain ibu kangen. Wajar aja sih kalau kangen, Bu. Namanya juga suami istri jauhan,"
"Kalau saling membutuhkan karena cinta, mungkin aku bakal rindu sama dia. Tapi nyatanya 'kan enggak,"
Elvina bergumam dalam hati. Ia menyeruput minuman kemudian berdehem seraya menatap Amih.
"Aku benar-benar bosan seharian ini di rumah aja, terus sepi juga. Biasanya 'kan kalau Ken ada di rumah, aku ada teman ngobrol dan teman berantem. Jalan kemana ya enaknya, Mih?"
"Datangin Pak Vano aja, Bu,"
Elvina berdecak kesal. Ia merasa kalau Amih sedang berusaha merekatkan hubungannya dengan Vano dan Ia tidak suka itu. Vano sudah memutuskan untuk pergi jadi biar saja lah dia pergi, kenapa harus Ia yang datang pada pria itu lebih dulu?
"Ke rumah ayah bunda saya aja yuk,"
"Saya ikut, Bu?"
"Iya lah, temani aku ke sana,"
"Istirahat aja, Bu. Saran saya, ibu enggak boleh capek-capek. Kaki ibu dibiarkan untuk sembuh dulu barulah Ibu bisa aktivitas normal lagi,"
"Aku itu udah istirahat terus tau enggak sih? Dan aku bosan, enggak ada kegiatan apapun,"
******
"Kamu nih kenapa sih? Susah banget dikasih taunya. Mau sampai kapan perangai kamu begini? Hah? Suami kamu udah baik banget tapi kamu enggak pernah mau menghargai dia. Ayah yang kesal jadinya,"
"Ayah datang ke sini cuma karena mau bela Mas Vano ya? Sedih banget jadi aku. Orangtua aku enggak dukung ak---"
"Ayah enggak akan dukung orang yang salah. Kalau salah ya minta maaf, bukan malah egois dan keras kepala begini," lugas Arman yang langsung membuat Elvina terdiam. Arman menunjuk wajah Elvina yang langsung menciutkan nyali Elvina.
"Kalau Vano benar pergi dari hidup kamu, baru kamu tau bagaimana arti dia dalam hidup kamu ya. Sekarang terserah kamu mau gimana, percuma ayah kasih tau tapi enggak mau dengar. Mau sampai kapan bertengkar sama suami? Tunggu berapa lama lagi?"
Elvina tidak bisa menjawab. Ia hanya diam menunduk. Arman kalau sudah dalam mode tegas benar-benar membuatnya takut.
Melihat Arman beranjak, Elvina langsung bertanya,"ayah mau pulang? Minumnya belum ayah coba,"
"Ayah mau pulang, ayah enggak tau lagi gimana caranya merubah sifat kamu yang buruk itu. Susah sekali minta maaf? Padahal kalau kamu minta maaf dan minta Vano kembali, ayah yakin Vank bakal kembali. Dia hanya perlu kesadaran kamu aja, Elvina,"
"Okay-okay, aku bakal minta maaf sama dia," Akhirnya Elvina memutuskan untuk patuh pada apa yang dikatakan oleh ayahnya.
Arman tersenyum mendengar penuturan Elvina. Ia senang karena Elvina mau meminta maaf pada Vano.
"Ayah senang dengar kamu mau minta maaf. Kamu harus sadar kesalahan kamu," ujar Arman pada anak satu-satunya yang keras kepala itu.
"Aku telepon dia nanti, dan semoga aja dia enggak besar kepala,"
Arman mengangguk kepala. Ia pamit pulang pada anaknya itu dengan perasaan lega. Yang terpenting baginya Elvina meminta maaf pada Vano.
"Dia enggak akan besar kepala karena kamu minta maaf duluan ke dia. Justru dia bakal senang karena kamu mau melakukan itu,"
Elvina menghela napas pelan. Sebenarnya enggan sekali untuk meminta maaf tapi ayahnya sudah nenasihati dirinya begitu. Akan Ia turuti.
Arman meninggalkan rumahnya dan Ia langsung meraih ponsel genggamnya untuk menghubungi Vano.
Anehnya Vano begitu cepat menjawab. Bahkan dering pertama belum berakhir, Vano sudah menjawab panggilannya.
"Halo, Vano,"
"Halo, kenapa?"
Vano sebenarnya senang luar biasa mendapatkan telepon dari istrinya. Akhirnya Ia bisa mendengar suara Elvina lagi setelah mereka berpisah untuk beberapa hari belakangan ini.
Tapi Vano ingin terlihat biasa saja walaupun hatinya berbunga-bunga. Ia harus tetap kelihatan punya pendirian di depan Elvina.
"Apa kamu sibuk?"
"Enggak,"
"Okay, aku cuma mau minta maaf sama kamu,"
Senyum Vano terbit mendengar permintaan maaf Elvina. Entah dapat pencerahan darimana istrinya itu sampai mau menghubungi lebih dulu dan juga meminta maaf. Ia benar-benar terkejut sekaligus bahagia bukan main.
"Minta maaf?"
"Iya, dan kapan kamu pulang?"
"Kamu minta aku pulang sekarang?"
Elvina terdiam sebentar. Sebenarnya bukan Ia yang ingin Vank pulang sekarang. Ia hanya melakukan apa yang diminta oleh ayahnya saja.
"Aku minta maaf ya," ujar Elvina sekali lagi, mengabaikan pertanyaan Vano yang padahal ingin sekali mendengar Elvina menjawab "Iya, aku mau kamu pulang sekarang,"
Sayangnya itu hanya harapan Vano saja. Vano berdehem menetralkan rasa kecewa yang kini terasa mencekiknya.
"Okay, aku juga minta maaf. Udah 'kan? Aku tutup teleponnya ya," ujar Elvina.
"Tunggu! Aku mau tanya kapan kamu pulang"
"Kamu mau aku pulang kapan, Elvina?”
"Kenapa tanya aku? Kamu yang tau kapan waktu yang tepat untuk kamu kembali ke rumah,"
"Gimana enggak ada aku? Apa kamu mulai merasa kehilangan? Kamu kesepian tanpa aku?"
"Enggak,"
Vano terkekeh karena kejujuran Elvina. Ia berusaha untuk tidak sakit hati lagi, Ia harus maklum. Elvina sedang jujur sekarang bahwa kehadirannya tidak sepenting itu sampai-sampai membuat Elvina merindukan sosoknya ketika Ia pergi.
"Beda banget jawabannya sama aku ya. Coba kamu tanya hal yang sama ke aku, jawabannya itu beda banget,"
"Kamu kesepian enggak ada aku?"
"Iya,"
"Ya udah terus kenapa enggak pulang aja? Kalau pulang 'kan enggak bakal kesepian,"
"Masalahnya kamu enggak merasa kehilangan aku, Elvina. Jadi untuk apa aku pulang? Hmm? Kamu bisa hidup tanpa aku 'kan? Aku juga bisa kok,"
"Jadi kamu belum mau pulang? Sampai kapan kita pisah rumah begini?"
"Sampai kapan pun aku siap untuk pulang ke rumah,"
"Ya udah kalau enggak mau pulang, terserah kamu. Sebenarnya aku telepon kamu dan minta maaf ke kamu karena tadi ayah yang suruh aku,"
"Astaga,"
Vano mengerang kesal sekaligus sedih. Tadi bunga-bunga bermekaran di hatinya, sekarang malah layu. Jadi ternyata Elvina menghubunginya sekaligus meminta maaf atas suruhan sang ayah.
"Jangan hubungi aku lagi kalau bukan keinginan kamu sendiri, paham?"
Vano menyudahi sambungan telepon mereka. Jengkel sekali pada Elvina yang terlalu jujur. Untuk kali ini Vano inginnya Elvina bohong supaya Ia senang. Tadi malah Elvina kelewat jujur. Akhirnya Ia yang sebelumnya senang, mendadak jadi sedih dan menyesal karena bisa-bisanya langsung senang sebab Elvina menghubunginya. Harusnya Ia sadar kalau Elvina tidak mungkin menghubungi karena kemauan sendiri.
Vano meletakkan ponselnya dengan kasar di atas nakas kemudian Ia berbaring terlungkup. Ia akan beristirahat, daripada mengingat Elvina.
"Kenapa langsung dimatiin sih? Enggak mau pulang juga itu orang,"
"Ah bodo amat deh. Yang penting udah minta maaf, jadi gue enggak dianggap salah lagi,"
Elvina tidak peduli apa mau Vano sebenarnya. Yang penting baginyaa adalah Ia sudah meminta maaf walaupun sebenarnya Ia tidak merasa bersalah.
__ADS_1
"Ibu, sekarang Pak Vano enggak tanya-tanya soal ibu lagi lho, Bu,"
Amih berbagi cerita pada Elvina seraya duduk di hadapan Elvina yang masih bertahan di ruang tamu usai menerima tamu yaitu papanya sendiri.
"Ya bagus lah berarti,"
"Tapi kok tumben ya, Bu? Biasanya rajin banget hubungi saya untuk tanya-tanya soal ibu. Misalnya ibu lagi sibuk apa, terus udah makan belum, atau udah tidur belum. Udah dua hari ini enggak lagi. Kayaknya semenjak dari Bandung itu, Bu. Kata Ibu, Pak Vano sempat ke Bandung 'kan?"
"Iya, mungkin udah dapat selingkuhan kali, jadi enggak mau peduli lagi sama aku. Tadi juga dia bilang enggak mau pulang. Mungkin dia udah ada yang baru,"
Dengan santainya Elvina bicara seperti itu sementara Amih terperangah. Amih tidak menyangka kalau Elvina akan sesantai itu telah menuduh suaminya punya selingkuhan.
"Ibu, jangan ngomomg gitu. Enggak takut jadi kenyataan, Bu?"
Elvina memutar bola matanya jengah. Ada yang salah dengan ucapannya? Ia hanya mengatakan kemungkinan besar yang mungkin terjadi setelah Vano pergi dari rumah. Amih sendiri menyadari ada yang beda dari Vano.
Lelaki itu tak lagi rajin menghubungi Amih untuk menanyakan kabar Elvina sejak dari Bandung.
"Ibu, enggak coba hubungi Pak Vano?"
"Barusan udah, dan dia tetap mau di luar, enggak mau pulang. Aku harus apalagi? Apa aku masih salah? Aku udah minta maaf lho,"
"Maksud saya, supaya Ibu enggak punya prasangka buruk sama Pak Vano, ada baiknya Ibu hubungi langsung,"
"Biarin aja lah dia mau selingkuh atau apa. Aku enggak peduli,"
"Lagian mau pisah juga,"
"Astaghfirullah,"
Amih menatap punggung Elvina yang sudah menjauh dengan gelengan kepala tak habis pikir. Elvina kalau bicara terkadang tidak pikir-pikir padahal banyak yang bilang bahwa ucapan itu doa. Elvina seolah membebaskan Vano untuk berselingkuh disaat para istri di luar sana menjaga suaminya mati-matian.
"Pak Vano sabar banget ngadepin Ibu ya. Saya salut," gumam Amih.
"Masa enggak peduli kalau suami selingkuh? Itu keterlaluan banget,"
"Sebelumnya udah nuduh Pak Vano selingkuh padahal enggak ada bukti apa-apa,"
Amih menggaruk kepalanya yang terasa pening karena perkara rumah tangga majikannya. Ia sangat menyayangkan Elvina dan Vano bisa berada di fase ini. Sulit sekali hubungan mereka berdua. Ia adalah saksi dari perjalanan pernikahan Vano dengan Elvina. Selalu ada masalah tapi selama ini bisa terselesaikan dengan baik karena sosok Vano yang luar biasa sabar. Tapi kali ini sepertinya akan sulit untuk kembali baik-baik saja karena Vano juga mulai egois, mungkin karena lelah dengan Elvina.
"Semoga secepatnya balik kayak dulu lagi. Sedih lihat mereka bertengkar kayak begini,"
Amih berharap, Elvina dengan Vano bisa membaik. Ia rindu melihat kebersamaan mereka. Vano yang lembut, terkadang jahil, tapi sabar selalu terlihat cocok berdampingan dengan Elvina yang kebalikan dari Vano.
****
"Benar atau enggak dia selingkuh ya? Berarti omongan manis dia selama ini apa? Katanya cinta sama aku, tapi nyatanya udah ada yang baru? Aduh Vano...Vano, kamu pintar banget menutupi kebusukan kamu sampai akhirnya aku yang kelihatan terus-terusan salah di mata semua orang,"
Sampai di kamar, Elvina masih kepikiran dengan obrolannya bersama Amih tadi di lantai bawah.
"Jangan-jangan alasan kamu enggak mau pulang karena memang kamu itu udah punya yang lain, bukan karena aku,"
"Kalau memang dia enggak selingkuh, kenapa dia cuek aja sekarang? Biasanya bukan main agresif,"
Elvina menggelengkan kepalanya cepat. Ia tidak mau ambil pusing soal Vano. Tadi Ia sudah katakan pada Amih bahwa Ia tidak akan peduli sekali pun Vano selingkuh.
*****
"Ayah, udah ketemu sama Elvina? Gimana? Apa dia udah baikan sama Vano?"
"Ayah udah ketemu Elvina. Ayah ngobrol sama dia,"
"Terus gimana perkembangan hubungannya sama Vano, Yah?"
"Elvina enggak mau mulai duluan, Bun. Itu yang susah, dia selalu merasa bahwa dia itu benar, enggak mikirin perasaan orang lain,"
Dini mengusap bahu Arman dengan lembut. Arman tidak boleh sakit karena stres dengan masalah anaknya. Sekarang ini Arman kelihatan terbebani sekali hanya saja Arman tidak mau menyampaikannya.
"Yah, jangan sampai sakit karena mikirin masalahnya Elvina dan Vano. Ayah udah coba mendamaikan mereka jadi enggak usah merasa bersalah,"
"Ayah udah suruh dia minta maaf. Susahnya luar biasa. Benar-benar keras kepala Elvina itu, Bun. Tapi akhirnya dia mau juga. Entah lah dia benar-benar minta maaf atau enggak,"
"Pasti dia minta maaf lah, Yah,"
"Ya semoga aja. Entah apa susahnya minta maaf sama suami sendiri. Vano itu pergi 'kan karena Elvina juga,"
"Ayah udah coba bantu kok. Ayah udah berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka dengan porsinya ayah sebagai orangtua. Jadi ayah enggak usah stres lagi mikirin masalah mereka,"
Arman sudah berusaha mendinginkan situasi panas yang membara ditengah Elvina dan juga suaminya. Sebagai orangtua hanya itu saja tugas Arman, berharap apa yang ia lakukan bisa membuat hubungan keduanya kembali normal.
****
"Halo, kenapa? Kok hubungi aku? Tumben banget, ada yang suruh lagi? Ayah kah?"
Vano mendengus menutupi rasa senang ketika Elvina menghubunginya pagi ini. Ia tidak boleh senang dulu sebab bisa jadi Elvina menghubungi karena disuruh oleh Arman lagi.
"Enggak, aku memang mau telepon kamu, enggak ada yang suruh,"
"Okay, kenapa kamu mau telepon aku?"
"Aku mau tanya, kapan kamu pulang?"
"Serius tanya itu lagi? Aku 'kan udah bilang kalau aku bakal pulang setelah kamu merasa kehilangan aku dan aku udah siap ketemu kamu lagi,"
Vano menikmati sarapannya seorang diri dengan sandwich dan juga susu di hotel. Ia sudah mulai terbiasa sarapan sendiri tanpa Elvina.
"Pulang, Mas,"
Vano hanya diam mendengar ucapan Elvina yang terkesan tidak benar-benar ingin Ia pulang.
"Mas, aku mau minta tolong sama kamu, bisa temani aku ke acara ulang tahun teman aku enggak? Semuanya ajak pasangan masing-masing, aku harus ajak kamu. Terus kalau bukan kamu siapa lagi 'kan?"
Kemarin menelponnya karena disuruh oleh sang ayah, sekarang kembali menelpon rupanya ada permintaan.
"Nelangsa banget hidup gue ya. Disuruh pulang karena biar temani dia ke acara ulang tahun temannya," batin Vano seraya menggaruk keningnya. Pagi-pagi sudah dibuat sakit hati dengan Elvina. Ia pikir Elvina mulai sadar akan kesalahannya. Maka tak sungkan menghubungi lagi kemudian menyuruhnya pulang. Tapi ternyata dibalik itu semua, Elvina punya keperluan dengannya. Ia hanya dibutuhkan sebagai pasangan untuk datang ke acara ulang tahun teman.
Jadi kepulangannya semata-mata nanti hanya untuk menemani Elvina ke acara itu saja. Bisa jadi selepas acara itu Ia diminta pergi oleh Elvina.
"Aku enggak bisa,"
Sebelum semakin dibuat nelangsa, Vano sudah punya keputusan sendiri. Ia tidak akan mau menururti permintaan Elvina.
"Kenapa? Kamu sibuk?"
"Iya, aku banyak kerjaan jadi enggak bisa temani kamu ke acara itu, sorry,"
"Kamu bohong ya? Masa iya enggak bisa sempatkan waktu untuk temani aku? Cuma sebentar kok, Mas,"
"Selepas itu apa? Aku boleh pergi lagi? Hmm?"
"Ya--ya---terserah kamu mau pergi lagi atau enggak,"
Vano tersenyumm miring. Elvina seperti diciptakan tanpa hati. Selepas digunakan, Ia dibiarkan begitu saja. Persis seperti barang.
"Aku enggak akan datang. Udah ya, aku lagi sarapan, jangan ganggu,"
"Mas! Tolong lah temani aku. Masa aku cuma datang sendiri sih?"
"Enggak usah datang aja sekalian, gampang 'kan? Enggak ada kewajiban untuk datang ke acara ulang tahun teman kamu itu,"
"Tapi aku mau datang, Mas,"
"Ya udah, datang sendiri, enggak usah dibikin ribet,"
Vano menyudahi sambungan telepon mereka. Daripada Ia marah-narah pagi ini disaat suasana hatinya mulai membaik, lebih baik Ia sudahi saja pembicaraannya dengan Elvina.
Ia tidak ingin paginya dirusak oleh Elvina yang semakin hari tak ada lagi niat untuk menghargainya.
Yang Ia inginkan Elvina meminta Ia pulang karena Elvina mulai menyadari betapa penting kehadiran Vano di hidupnya. Ini malah disuruh pulang karena supaya ada teman ke acara ulang tahun teman. Sangat keterlaluan, pintar sekali membuat orang sakit hati.
Vano melirik ponselnya yang menampilkan nama Elvina. Istrinya itu kembali menghubunginya. Dengan cepat Ia menolak.
"Biar tau rasa," gerutunya.
__ADS_1
Berkali-kali Elvina menghubungi, Ia tolak terus. Sudah tahu Ia sakit hati, tapi masih saja dipaksa untuk pulang dan menemaninya ke acara itu.
Lebih baik Vano tidak ikut daripada makan hati. Di sana Ia akan jadi seperti apa? Hubungannya dengan Elvina belum membaik, bisa jadi di acara itu Ia diabaikan dan istrinya bersikap seperti orang yang tidak saling kenal dengannya.
Ia membaca pesan yang dikirimkan Elvina. Sengaja Ia hanya membaca tanpa membalasnya.
-Mas, tolong angkat telepon aku!"
-Aku nih minta tolong sama kamu! Kok nyebelin banget sih-
"Kamu lebih nyebelin lagi," gumam Vano setelah membaca pesan terakhir istrinya. Sekeras apapun Elvina membujuk, Ia tidak akan mau menemani Elvina. Biar Elvina tahu rasanya ketika permintaan tidak dipenuhi. Selama ini Ia berusaha memenuhi setiap permintaan atau keinginan Elvina sementara Elvina sebaliknya.
Elvina tidak pernah memahami perasaannya. Kali ini Ia yang bersikap seperti itu. Biar Elvina semakin cepat sadar akan kesalahannya yang telah menyia-nyiakan dirinya.
*****
Bugh
Amih terlonjak kaget saat melintasi meja makan, tiba-tiba saja Elvina memukul meja makan.
"Ibu kenapa?"
"Ya Allah, kaget saya,"
"Enggak apa-apa,"
Kepala Elvina sudah dipenuhi dengan kata-kata kasar untuk suaminya itu. Ingin rasanya Ia mengumpat di depan wajah Vano yang telah mengabaikan telepon dan pesan darinya, bahkan menolak permintaan.
"Ibu serius enggak apa-apa? Bisa cerita ke saya kalau ada sesuatu yang bikin ibu---"
"Aku kesal sama Mas Vano. Udah, cuma itu aja. Enggak usah tanya-tanya lagi,"
Elvina beranjak dari ruang makan meninggalkan Amih yang terheran. "Kesal kenapa lagi ya, Bu? Padahal Pak Vano mah lurus-lurus aja kalau saya lihat. Bu El ini yang kadang bikin Pak Vano elus dada. Harusnya Pak Vano yang kesal sama Ibu. Ini mah kebalikannya. Ibu yang keseringan kesal sama Pak Vano. Hadeh, ada-ada aja,"
"Amih, baju yang semalam aku kasih ke kamu supaya disterika udah rapi ya?"
Amih terlonjak mendengar suara Elvina yang agak keras dari tangga. Ia menepuk mulutnya.
"Untung aja enggak ngomong keras-keras cuma di dalam hati. Masih ada ibu ternyata,"
Kalau Elvina dengar Ia ada di pihak Vano, bisa-bisa Elvina merajuk dan susah kalau Elvina sudah kesal dengannya.
"Amih,"
"Eh iya, Bu. Udah selesai disetrika. Sebentar, saya ambil dulu ya, Bu,"
Amih bergegas mengambil pakaian yang dimaksud Elvina kemudian Ia berikan pada Elvina yang masih berdiri di anak tangga.
"Saya aja yang bawa, kaki ibu lagi sakit terus harus pakai tongkat juga,"
"Aku mau buang aja lah tongkat ini. Nyusahin aja,"
"Ya jangan atuh, Bu. Nanti ibu enggak bisa jalan gimana?"
"Sebenarnya udah mendingan banget sih, cuma ya memang masih suka sakit,"
Amih mengawal Elvina ke kamarnya. Amih berjalan tepat di belakang Elvina dengan tangan yang memegang baju yang akan dikenakan Elvina ke acara ulang tahun tahun temannya.
"Ibu jadi pergi sama Vano Ken?"
"Dia enggak mau, udah aku paksa aja dia tetap enggak mau,"
"Kalau ngomong baik-baik udah dicoba, Bu?"
"Ya udah lah, Mih. Saya enggak mungkin langsung paksa dia, pasti minta baik-baik dulu. Tapi dia tetap enggak mau ya udah lah, saya pergi sendiri aja,"
"Butuh bantuan saya enggak, Bu?"
"Bantuan apa?"
"Ngomong ke Pak Vano untuk temani Ibu,"
"Enggak usah, Mih. Saya datang sendiri aja. Dia makin menjadi kalau dibujuk-bujuk,"
*****
"Lo enggak ajak suami? Yang lain pada bawa lho,"
"Laki lo kemana? Sakit atau sibuk jadinya enggak bisa datang?"
"Sibuk, udah jangan tanya suami gue. Gue nih datang karena mau ketemu kalian tau enggak?"
"Lo bela-belain datang ke sini dengan kaki sakit aja udah buat gue senang, Shen. Thanks ya udah datang,"
Elvina menerima pelukan Elya yang hari ini berulang tahun dan ingin mengajak teman-temannya untuk berkumpul di sebuah restoran dan juga membawa pasangan masing-masing. Itulah sebabnya Ia meminta Vano untuk ikut pergi dengannya. Tapi laki-aki itu menolak. Sampai sekarang Elvina masih kesal dengan itu.
"Tapi suami lo tau 'kan kalau pergi ke acara ulang tahun gue?"
"Tau lah, kenapa sih?"
"Elya tuh mementingkan izin suami untuk melakukan apa-apa. Iya enggak sih?"
Elya tertawa mendengar ucapan temannya dan Elvina membenarkan itu. Padahal Ia tak izin pad Vano pun tidak masalah. Kalau sebelum bertengkar, Vano akan menegurnya bila pergi tanpa izin. Tapi situasi sekarang ini, Elvina dan Vano sedang bertengkar dan Vano mulai cuek. Sepertinya mau jungkir balik pun Elvina, VNo tidak akan peduli.
Para suami dari teman-teman Elya berkumpul dan mereka sibuk berbincang. Sementara Elvina dan semua temannya itu juga sibuk dengan topik pembahasna mereka.
Seandainya Vano ikut, Vano akan masuk dalam kumpulan para suami teman-temannya itu. Sayang, hanya Vano saja yang tidak ikut. Jujur Elvina merasa makin kesal karena VNo tidak bersedia menemaninya. Tapi Ia tidak bisa berontak. Vano saja mengabaikan semua panggilan dan pesannya.
*****
"Elvina jadi pergi enggak ya? Apa dia enggak pergi karena enggak ada gue? Mungkin dia malu enggak bawa pasangan makanya enggak datang,"
"Ah elah, kenapa harus penasaran sih!"
Vano sebenarnya tidak ingin tahu tapi hatinya terpanggil untuk mencari tahu. Dan jalan satu-satunya adalah melalui Amih. Pasti asisten rumah tangganya itu tahu apakah Elvina pergi atau tidak ke acara ulang tahun temannya.
Vano menghubungi Amih yang tak lama dijawab oleh wanita itu. Vano salut dengan Amih yang sigap selalu menjawab panggilannya. Ia memang beberapa kali berpesan agar Amih tidak meninggalkan alat komunikasinya tempat yang sulit terjangkau melainkan selalu ada di sakunya supaya kalau ada apa-apa yang perlu diberutahukan kepadanya, Amih tak butuh waktu lama untuk menghubunginya.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, saya mau tanya, Elvina ada di rumah nggak, Mih?”
"Lagi pergi, Pak,"
"Kemana?"
"Katanya tadi mau datang ke acara ulang tahun temannya,"
"Oh jadi dia datang? Cuma sendiri?"
"Sama orang, Pak,"
"Hah? Orang? Temannya, Mih?"
"Saya bercanda aja kok, Pak. Ibu pergi sendiri kok, enggak sama siapa-siapa,"
"Sendiri?"
"Mau juga datang sendiri," batin Vano seraya tersenyum. Mungkin Elvina tidak enak kalau tidak hadir. Makanya Ia terpaksa hadir meskipun tanpa pasangan.
"Iya, Ibu pergi cuma sendiri naik mobil,"
"Keadaan kakinya gimana, Mih?"
"Udah mendingan banget, Pak. Makanya tadi enggak saya larang untuk keluar. Soalnya kasihan juga sama Ibu di rumah terus selama kakinya sakit. Saya rasa kaki ibu udah baikan, makanya saya biarkan ibu pergi. Maaf ya, Pak saya enggak bilang Pak Vano dulu,"
"Enggak apa-apa, kalau pun kamu larang, Elvina belum tentu mau nururt. Dia tetap kekeuh mau datang ke acara ulang tahun temannya,"
"Iya, Pak. Nanti kalau Ibu udah pulang, bakal saya kasih tau ke Pak Vano ya. Oh iya ngomong-ngomong, Pak VNo beberapa hari ini enggak tanya-tanya soal Ibu, kenapa, Pak? Ibu jadi mikir yang enggak-enggak karena mendadak Pak Vano enggak rajin lagi tanyain soal Ibu,"
"Mikir aneh-aneh gimana?"
Vano penasaran dengan pemikiran Elvina soal dirinya yang diketahui memang tidak rajin lagi mencari tahu soal Elvina melalui koneksinya di dalam rumah yaitu Amih.
__ADS_1
"Ibu pikir Pak Vano itu selingkuh,"
"Astaga, benar-benar pikirannya ya. Jahat banget,"