
“Elvina, makan dulu yang benar, jangan sibuk main handphone. Risih saya liatnya tau,”
Vano menegur Elvina yang makan sambil bermain ponsel dan senyum-senyum, kemudian sesekali akan terkekeh. Vano hampir sering melihat Elvina seperti itu tapi kali ini Ia merasa benar-banar terganggu sebab senyumnya Elvina itu lebar sekali. Entah kenapa Vano yakin Elvina sedang memperhatikan foto atau video mantan kekaishnya
Elvina melirik suaminya sekilas dan tetap sibuk dengan ponsel genggamnya. Elvina makan sambil menonton video-video yang lucu di sosial medianya, dan juga melihat video makanan yang menggugah selera makanya sibuk sendiri. Kenapa Ia melakukan itu? Karena Vano juga tadi sibuk sendiri dengan ponsel. Niatnya bukan ingin balas dendam, tapi supaya Vano paham saja kalau diangguri dan kalah dari ponsel itu rasanya menyakitkan.
Vano melakukan hal serupa tapi dia mengajukan protes. Benar-benar aneh, dan menutup mata terhadap kesalahannya sendiri.
“El, kamu dengar saya ngomong nggak sih? Makan dulu yang benar, tadi katanya udah lapar. Kamu malah sibuk sama handphone, beneran lapar atau nggak sih sebenarnya?”
“Lah kamu sendiri tadi sibuk sama handphone, senyum-senyum nggak jelas. Aku protes nggak? Nggak kan? Nah ya udah sekarang kamu nggak boleh protes juga,” ujar Elvina yang langsung membuat Vano terdiam sekaligus geram.
“Kamu mau ngikutin saya maksudnya? Ya kalau itu kamu anggap salah harusnya jangan kamu ikutin dong. Kamu cukup kasih tau saya, kamu bisa ngomong baik-baik ke saya supaya aku paham kamu terganggu juga kalau saya main handphone pas lagi makan. Lagian ya, saya lebih sering liat kamu sibuk sama handphone apalagi sambil senyum dan ketawa, dan kayaknya baru kali ini saya tegur ‘kan? Kamu langsung nggak terima gitu baru saya cuekin sekali,” ujar Vano.
“Aku nggak suka, Mas,” ujar Elvina yang membuat Vano terbungkam.
“Saya juga nggak suka kamu sibuk sendiri sama handphone coba mulai sekarang berubah ya, kita sama-sama saling menghargai,”
Vano istrinya yang ternyata tidak suka bila Ia sibuk dengan ponsel ketika Ia sedang bersama dengan Elvina tapi alih-alih bicara, Elvina justru memberi peringatan dengan cara melakukan hal yang serupa. Dan ketika Vano menegur, Elvina akan membalik keadaan.
“Ya udah saya minta maaf. Sekarang taruh handphone kamu di meja, kita makan aja jangan main handphone,” ujar Vano dnegan tegas tidak ingin dibantah.
“Tapi kamu sendiri nanti—“
“Nggak, kamu boleh pegang omongan Saya. cepat taruh handphone kamu di meja, jangan dipegang. Kita benar-benar fokus makan aja sekarang,”
Akhirnya Elvina mengangguk setuju dan tidak membantah ucapan sang suami. Ia segera meletakkan ponselnya di atas meja dan benar-benar hanya fokus dengan makanan yang ada di depan matanya saja.
Kalau Ia boleh jujur, sebetulnya Ia pun enggan sibuk dengan ponsel ketika makan tapi supaya Vano sadar kalau hal itu salah.
“Kamu mikirnya aku ketawa dan senyum-senyum barusan sambil liat apa, Mas?”
“Liat video orang gila,”
“Dih enak aja. Ngapain aku liatin video orang gila? Ya nggak lah. Aku liat video-video lucu, bukan orang gila. Kayak kucing jatuh, sapi berantem, kucing galau, dan macam-macam lah pokoknya,”
“Parah banget mereka jadi bahan tertawaan kamu. Padahal mereka nggak ada dosa,”
“Editan videonya itu lho, keren banget bikin aku ketawa,” ujar Elvina yang makan sambil bercerita.
“Kayak orang gila kamu ketawa-ketiwi sendirian,”
“Lah kamu juga begitu senyum-senyum sendiri, nggak jelas banget apa yang disenyumin, kayak orang lagi jatuh cinta aja,”
__ADS_1
“Kamu waktu lagi jatuh cinta emang begitu?”
Elvina menganggukkan kepalanya. Ia melihat suaminya suka senyum-senyum sendiri menatap ponsel, Ia kalau jatuh cinta begitu ciri-cirinya. Akan senyum kalau melihat postingan, pesan, atau apapun itu yang berhubungan dengan orang yang telah membuatnya jatuh cinta.
“Kamu senyum liat handphone karena lagi jatuh cinta ya? Habis liat postingan orang yang disuka?”
“Saya emang jatuh cinta setiap harinya sama kamu,” batin Argantara yang senyum seraya menatap ponsel nya. Did alam sana banyak foto istrinya yang Ia ambil diam-diam dan tadi Ia senyum karena itu. Hanya saja Ia gengsi, membiarkan Elvina tenggelam dalam praduganya sendiri.
“Mas, karena apa kamu senyum-senyum? Baca chat dari gebetan ‘kan nggak mungkin,”
“Baca postingan yang bikin senyum aja sebenarnya, kamu jangan mikir yang aneh-aneh,” ujar Vano
“Kayak yang lagi jatuh cinta makanya senyum-senyum,”
“Mau sama siapa saya jatuh cinta selain sama kamu?”
“Ah masa?”
“Ya,”
“Jadi kamu ngeliatin foto aku ya? Hahaha aku terlalu percaya diri nih. Tapi aku bakal senang sih kalau kamu bilang kamu emang liat foto aku dan nyatain perasaan kamu ke aku. Mislanya bilang cinta gitu,” ujar Elvina melempar kelakar yang inginnya ditanggapi dengan tawa juga oleh sang suami namun yang terjadi justru sebaliknya. Argantara malah berwajah datar.
“Kamu udah tau perasaan saya masih aja pura-pura nggak tau,” ujar Vano dengan ketus.
“Ya makanya jangan pura-pura nggak tau,”
“Ya udah deh aku minta maaf, jangan marah,”
“Aku pikir dia lagi liat foto-foto aku gitu makanya dia senyum-senyum sendiri liat handphone,” batin Elvina yang merasa kesal karena ucapan suaminya barusan yang sinis.
“El, ingat ya, kita pulang lusa. Jangan ada drama-drama yang bikin kita akhirnya nggak jadi pulang,”
“Emang siapa yang suka bikin drama? Orang nggak ada kok, kamu nuduh aku suka bikin drama?!”
Elvina menatap suaminya dengan tajam tidak terima. Ia tidak suka suaminya berkata seperti itu. Seolah-olah Ia sering sekali membuat drama, padahal kenyataannya tidak seperti itu.
“Ya takutnya karena kamu masih mau di Bali, kamu bikin drama apa gitu ‘kan. Saya nggak mau itu terjadi soalnya saya udah harus pulang ke Jakarta, kerjaan saya banyak, El. Jadi tolong paham ya,”
“Aku nggak suka bikin drama, Astaga. Aku juga tau kalau kita ini mau pulang. Kamu nggak usah khawatir deh. Santai aja, aku tau kok kamu banyak kerjaan, dan aku pun nggak seegois itu bikin drama supaya nggak jadi pulang ke Jakarta lusa. Kok mulut kamu jahat banget. Nuduh aku sembarangan tanpa bukti itu nggak baik lho,”
“Intinya saya mau ingetin kamu aja supaya nggak lakuin itu, okay?”
Elvina membuang muka dan jujur hatinya tersinggung mendengar ucapan Vano. Tanpa diingatkan, Ia pun sudah ingat bahwa lusa mereka harus pulang. Mereka tidak akan egois berbuat ini itu supaya jadwal kepulangan mereka tertunda. Sejak awal rencananya memang liburan di Bali hanya tiga hari saja setelah itu langsung pulang. Elvina tidak mengerti kenapa suaminya berpikir Ia akan membuat drama demi menunda kepulangan mereka.
__ADS_1
“El, kamu paham ucapan saya nggak? Saya takut ya kamu mau lama-lam di sini karena ada mantan kamu juga kebetulan,”
“Aku paham! Kamu nggak perlu khawatir. Kita bakal pulang tepat waktu. Walaupun aku masih pengen di sini, aku masih betah, tapi aku tau kamu itu punya kewajiban di Jakarta yang nggak bisa ditinggal terlalu lama. Jadi kamu nggak perlu khawatir, Mas! Aku nggak egois kok. Kamu kalau ngomong bisa nggak sih dipikirin dulu? Jangan kebiasaan asal ngomong dan nggak mikirin perasaan orang! Itu nggak baik! Biasakan hargain perasaan orang, jangan asal nuduh. Aku nggak ada urusan lagi sama Rendra,”
Elvina meluapkan kekesalannya pada sang suami yang menurutnya sudah sangat keterlaluan. Ia tidak suka Vano bicara seperti itu seolah-olah Ia gemar membuat drama supaya keinginannya terpenuhi. Ia memang nyaman di Bali, inginnya liburan lebih lama lagi tapi tidak mungkin sengaja mengulur waktu kepulangan yang sudah diatur sejak mereka belum berangkat.
“Udah cukup kita senang-senang, saatnya saya cari uang lagi,”
“Aku tau, nggak perlu kamu omongin itu terus. Memang kamu pikir aku seegois itu? Ya nggak lah, kalau aku egois, aku bakal paksa kamu untuk lebih lama di Bali, dan aku minta bantuan mama supaya ikut bujuk kamu. Tapi kenyataannya apa? Aku nggak ngelakuin itu ‘kan? Aku hargain keputusan kamu. Kamu bilang kita liburan satu hari aja itu terlalu cepat menurut aku dan aku minta tiga hari. Kamu setuju, dan aku senang banget. Tapi aku nggak akan minta nambah hari liburan lagi karena aku tau kesibukan kamu,”
“Aaya takutnya kamu tuh merengek ke saya, ngadu ke mama, atau ngelakuin hal lain supaya bisa lebih lama di Bali. Saya wanti-wanti supaya itu nggak terjadi, El,”
Sl geleng-geleng kepala mendengar ucapan suaminya. Ia jengah dianggap egois sekali sampai dikira akan membuat drama demi memperpanjang waktu liburan mereka dan Ia memilih untuk diam saja sekarang karena kalau diladeni, takutnya perdebatan Ia dan Vano malah tidak kunjung selesai.
“Ya udah buruan habisin makanannya. Setelah ini kita langsung balik dan istirahat ya, biar kota fresh pulang besok tapi kalau memang kamu benar-benar sudah pulih kesehatannya.
“Kayaknya dia udah kepengen banget pulang deh,” batin Vano seraya melirik suaminya yang baru saja menyuruh Ia segera menghabiskan makanan.
“Kalaupun sakit ya tetap aja pulang, biar kamu nggak perlu tunggu lama balik ke kampus. Ada yang kamu kangenin banget kayaknya,”
Mulut Elvina gatal untuk melontarkan ucapan itu. Ia tahu tidak seharusnya Ia berucap hal yang tidak sopan pada suaminya tapi Vano yang memancing rasa kesalnya datang.
“Iya, kerjaan. Itu yang aku kangenin banget. Emang kamu pikir apa? Manusia? Pikiran kamu bersihin dulu tuh. Kamu curiga saya kangen ke siapa? Hmm?” Tanya Vano seraya tersenyum miring. Vano tahu apa yang ada di kepala Elvina sekarang dan Ia ingin memastikan.
“Kamu mikir saya kangen siapa? Kangen selingkuhan saya? Hmm?”
“Aku nggak ngomong gitu, jangan suka nyimpulin sendiri, nggak baik,”
“Lah, barusan maksud kamu ngomong kayak gitu apa? Kangen sama siapa yang kamu maksud?”
“Ya aku ‘kan nanya, bukan mikir ke arah sana,”
“Halah, emang kamu pikir saya ini bodoh ya? Hmm? Aku nggak bodoh, El. Kamu nuduh saya selingkuh? Ya udah terserah, yang jelas kalau dalam pernikahan udah nggak ada rasa saling percaya lagi mending bubar aja sekalian,”
Elvina langsung membulatkan matanya kaget mendengar Vano bicara seperti itu. Kemudian Elvina langsung melirik ke sekitar. Tak seharusnya mereka membahas perkara ini di tempat makan, Vano benar-benar tidak terduga jalan pikirannya. Walaupun suara Vano pelan tapi Elvina takut ada yang mendnegar pembahasan mereka.
“Segampang itu dia ngomong pisah, seolah pernikahan kami ini cuma main-main aja. Lagian kenapa kesal banget sih hanya karena aku ngomong kayak tadi? Kok kayak merasa sakit hati gitu? aneh banget,” batin Elvina.
“Kok diam?”
“Ya kamu maunya aku ngapain? Girang? Loncat-loncat di atas meja setelah kamu ngomong pisah dengan gampangnya? Aneh banget kamu,”
“Lagian kayak nggak percaya gitu ke saya. Ya mending pisah aja. Karena kalau hubungan udah nggak ada rasa saling percaya tuh bakalan susah untuk tetap baik-baik aja, pasti ada aja masalahnya, pasti selalu berantem,”
__ADS_1