Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 82


__ADS_3

Elvina dan Vano berjalan menuju hotel setelah memutuskan turun dari kendaraan karena keinginan Elvina yang katanya mau menikmati suasana malam di sana sembari berjalan kaki.


Malam ini Elvina dan Vano menginap di sebuah hotel. Karena Elvina menemani suaminya yang diundang untuk staycation bersama teman-teman sesama dosen tapi dari kampus berbeda.


"Kamu enggak capek apa?"


"Enggak, Mas. 'Kan udah dekat ke hotel,"


"Biasanya cewek cepat capek dan paling mager jalan kaki. Benar begitu enggak sih? Saya pernah punya teman dekat yang kayak begitu. Mager banget diajak jalan kaki, Astaga,"


“Teman dekat atau mantan yang mana tuh? Mantan kamu bukan cuma satu 'kan, Mas?"


"Dekat ada lah. Kalau saya jelaisn kamu nggak akan kenal juga,”


Elvina menganggukkan kepalanya. Sempat terbesit dalam benaknya kalau yang dibicarakan Vano itu adalah dosen di kampus.


Kalaupun begitu faktanya, tidak apa-apa. Huh! Kenapa Ia jadi posesif ya? Cuma membicarakan saja, jadi tidak boleh risih apalagi kepanasan.


"Terus kalau jalan sama kamu gimana?"

__ADS_1


"Kayak waktu itu kami sepakat untuk olahraga di senayan. Eh baru juga lima menit, dia udah kelelahan, terus kesal juga. Padahal awalnya dia juga mau. Dari situ enggak pernah olahraga bareng lagi. Katanya dia paling cepat capek kalau jalan apalagi lari,"


"Eh iya, kenapa jadi bahas di. Maaf, saya enggak sengaja,"


Bodoh! Vano memaki dirinya sendiri yang kelewat bodoh. Ia sudah membahas masa lalu dengan istrinya. Giliran Vano bertemu Rendra saja, Ia sewot sendiri, dapat kiriman makanan dari Rendra langsung uring-uringan sendiri.


"Enggak apa, Mas. Santai aja, aku enggak cemburu,"


"Seriusan?"


"Cemburu sih, tapi sedikit aja, enggak banyak,"


Vano terkekeh pelan dan merengkuh kepala Elvina yang lebih pendek postur tubuhnya dibanding dengan dirinya. Kalau cemburunya baru sedikit artinya belum ada cinta. Mungkin juga cemburu itu hanya main-main saja.


"ARGHH SAKIT! MALING!"


"Astaghfirullah, El,"


Vano langsung berjongkok saat tiba-tiba saja Elvina terduduk dengan tangan yang berdarah usai ditusuk dengan pisau oleh seorang pencuri yang mengambil ponsel Elvina dan lari begitu saja.

__ADS_1


"Mas, handphone aku,"


"Mas, tanganku---arghh,"


Tanpa aba-aba Vano membawa Elvina dalam gendongannya. Ia akan membawa Elvina ke rumah sakit karena kondisi tangannya yang terluka dan mengeluarkan banyak darah.


Vano tidak peduli dengan harta benda Elvina yang hilang. Ia lebih mengutamakan keselamatan Istrinya.


Pria sialan itu harus mendapatkan pelajaran darinya karena telah membuat Elvina terluka. Vano sangat tersiksa mendengar ringisan Elvina yang kesakitan karena lukanya. Belum lagi isak tangis Elvina yang sebenarnya Ia tahu sudah ditahan oleh Agatha mungkin karena Agatha tidak ingin membuatnya terlalu cemas.


"Sebentar ya, El. Tahan sebentar, saya mohon,"


Setelah sampai di rumah sakit Elvina langsung mendapat penanganan. Luka yang dialami Agatha membuatnya harus kehilangan banyak darah dan juga mendapatkan jahitan.


Vamo membantu Agatha untuk beranjak bangun dari bangsal. Agatha memilih kembali di hotel daripada harus pemulihan di rumah sakit.


"Yakin mau pulang, El? Gimana tangannya? Masih nyeri ya, El?"


"Iya, Mas. Tapi udah agak mendingan ketimbang waktu ditusuk tadi,"

__ADS_1


Vano mengeraskan rahangnya ketika mengingat kejadian yang menimpa Elvina barusan. Meskipun ini bukan tempatnya lahir dan tumbuh besar, bukan berarti Vano akan diam saja ketika ada orang yang melukai Elvina.


Ia sudah menyuruh orang untuk mencari pencuri yang sudah tega melukai istrinya.


__ADS_2