
"Papa tau nggak sih, mama punya rencana untuk Vano sama Elvina,"
Beni menoleh ke arah Lisa yang baru saja bicara pelan dengannya seolah yang dibicarakan itu adalah hal penting dan tak boleh ada satu orangpun yang tahu.
"Apa tuh?"
"Mama udah nyusun liburan untuk Elvina sama Vano, Pa," kali ini Lisa bicara makin pelan bahkan terkesan berbisik padahal yang dibicarakan jug tidak ada di dekat mereka dan rencana yang disampaikan Lisa barusan bukan hal bersifat sangat rahasia yang kalau bocor bisa merugikan bangsa dan negara.
"Kok bisa? emang mereka nggak keberatan?"
"Bisalah, mama gitu lho. Kalau mama jadi mereka sih harusnya nggak keberatan ya karena ini 'kan liburan, niatnya mau menyenangkan hati mereka masa keberatan sih?"
"Ya barangkali aja keberatan gitu, Ma. Soalnya mereka belum ada tanda-tanda mau liburan tuh mungkin lagi sibuk atau emang belum mau,"
"Nah justru itu mama yang menyiapkan semuanya. Sebenarnya yang sibuk itu ya cuma Vano, Pa. Kalau Elvina 'kan emang lagi kuliah jadi nggak begitu sibuk lagi, paling sibuk sama tugas kuliah aja. Dan Vano bilang kalau dia lagi nyari waktu yang pas. Ah nungguin dia nyari waktu kayaknya nggak bakal dapat-dapat. Ini mama siapin, jadi 'kan mau nggak mau dia nurut dan waktu kosong yang sebenarnya ada bisa dia pakai untuk liburan. Waktu kosong itu ada, tapi kayanya emang dia ogah-ogahan liburan deh, mama juga nggak tau kenapa,"
"Bukan nggak mau, Ma. Mungkin emang benar-benar masih sibuk,"
Beni juga ingin anak dan menantunya berlibur karena selama mereka menikah belum pernah liburan berdua padahal sudah lebih dari dua bulan menikah.
Tapi Ia berusaha memaklumi kesibukan Vano berbeda dengan Lisa yng kesal karena anaknya terlampau sibuk kalau menurutnya. Walupun istri tidak pernah protes karena kesibukan itu dna tidak pernah minta liburan juga tapi seharusnya Vano lebih peka, bisa menghargai perasaan istri yang mungkin menyimpan rasa kesal dan sedih karena dirinya terlalu sering di luar rumah ketimbang di dalam rumah.
Mau bagaimanapun Elvina menutupi, tetap saja Ia bisa tahu kalau Vano belum berubah, Vano anaknya itu masih sibuk belum bisa membagi waktu antara istri dengan dunianya sendiri.
"Mama udah nyiapin liburan kemana? jauh nggak?"
"Nggak kok, cuma di Bali aja,"
"Oh gitu, kapan itu, Ma?"
"Hari minggu ini mama bakal suruh mereka berangkat. Nah kalau pulang suka-suka mereka lah. Maksud mama tuh, Pa, nggak masalah liburan bentar yang penting sempat rileks dulu 'kan, nggak mumet terus. Masalah mau pulang kapan ke Jakarta ya suka-suka mereka aja yang penting mama bkal suruh mereka berangkat akhir pekan ini,"
Beni menganggukkan kepalanya pelan. Lisa, istriya itu bergerak tanpa diduga. Mungkin terlalu jengah dengan kesibukan anaknya, maka dari itu Ia memiliki keinginan untuk mempersiapkan liburan anak dan menantunya itu.
"Kalau udah disiapin sama mama pasti mereka nggak akan bisa nolak. Lagian udah dua bulan lebih nikah, dia itu belum pernah nikmati sehari dimana gitu, minimal ke vilanya kek ya, ajakin istri. Ini mah nggak. Habis nikah langsung kerja, libur minggu aja itupun masih sering kerja di rumah. Lah kok makin suka-sukanya dia, mama 'kan jadi bingung, berasanya masih bujang kali,”
"Ya udah terserah mama deh mau gimana. Semoga mereka mau ya, Ma. Takutnya mama udah antusias mau mereka liburan tapi kenyataannya mereka malah nggak mau dan mama bisa kecewa,"
"Mama yakin mereka mau, Pa. Kalaupun nggak mau, ya mama paksa sampe mau,"
"Ya jangan, Ma. Kasian anak-anak lah kalau mama paksa,"
"Mama yakin mereka mau kok, Pa. Tenang aja, pasti mereka nggak akan bisa bikin mama kecewa,"
Lisa yakin sekali anak dan menantunya tidak akan bisa membuatnya kecewa. Semua sudah disiapkan dan kalau mereka tidak berangkat tentu yang sudah disiapkan itu akan sia-sia dan mereka tidak akan tega membuat Lisa merasa kecewa.
*******
"Sayang, Mama udah siapin tiket untuk kamu sama Vano berlibur ke Bali ya. Enjoy di sana, Sayang,"
Lisa yang sedang menata lemari terkeju begitu Ibu mertuanya menghubungi karena Lisa sedang di luar bersama suaminya dan tak sabar lagi memberitahu menantunya maka Ia hubungi sekarang.
__ADS_1
Elvina Ia tidak menyangka Lisa menelponnya untuk memberitahu bahwa Ia dan Vano akan berlibur. Barusan Lisa mengatakan bahwa dirinya sudah mempersiapkan tiket.
"Liburan ya, Ma? tapi 'kan Mas--"
"Udah mama siapin. Vano nggak mungkin nolak. Udah mama siapin semuanya kalian tinggal menikmati. Anggaplah ini hadiah pernikahan dari mama untuk kalian yang kedua,”
"Duh, Ma. Pernikahan aku sama Mas 'kan udah dua bulan lalu. Lagipula semua yang mama kasih ke aku sama Mas Vano udah lebih dari cukup,"
"Nggak apa-apa, Nak. Mama pengen kamu sama Vano rileks sebentar. Kamu jangan di rumah terus, dan Vano juga jangan kerja mulu. Biar nggak mumet ya 'kan, jadi mama atur deh liburan kalian. Habisnya kalau nungguin kalian yang berangkat sendiri kayaknya susah bener,"
"Aku ngikut Mas Vano aja, Ma. Apa kata dia aku nurut. Dia 'kan bilang kalau masih sibuk banget,"
"Vano emang sibuk mulu, Nak. Nungguin dia nggak sibuk bakalan lama banget. Sebetulnya ada lho waktu kosong yang bisa dipakai tapi entah kenapa dia belum ngajakin kamu liburan juga ya? apa dia udah mulai bahas liburan kalian?"
"Nggak, Ma. Belum sempat memang,"
"Ya udah, itu mama udah kirim foto-foto destinasi yang bisa kalian datangi, mama juga udah fotoin tuh tiket pesawat, booking hotel juga udah,"
"Ya ampun, Mama cepat banget ngatur semuanya, mana nggak aba-aba sebelumya," batin Elvina seraya memijat keningnya yang mendadak pening karena tindakan yang diambil ibu mertuanya. Ini semua terlalu mendadak, dan entah bagaimana reaksi Vano.
Elvina ingin sekali berlibur tapi Ia tidak menduga kalau ibu mertuanya langsung mempersiapkan liburan mereka secara dadakan. Apa tidak ikut pusing Vano mencari peluang untuk liburan ditengah kepadatannya setiap hari? Elvina merasa tidak tega juga dengan Vano karena membayangkan suaminya pasti harus pusing mengatur waktu untuk menyesuaikan liburan mereka.
"Mama nanti bakal ngomong juga ke Vank,"
"Oh iya, Ma,"
"Mama berharap kalian berdua bisa menikmati liburan yang udah mama siapkan itu,"
"Iya Aamiin, Mama harap sih dia nggak bikin mama kecewa,"
"Iya, Ma, makasih sekali lagi, Ma. Perhatian banget Mama sampai siapin liburan untuk aku sama Mas Vano,"
"Oh iya dong, karena kalu nunggu Vano yang gerak ngajakin kamu liburan kayaknya bakalan susah banget. Dia waktu masih bujang juga begitu, agak susah diajakin liburan. Kirain setelah nikah udah berubah, apalagi liburan sama istri 'kan. Eh nggak taunya sama aja. Mama suruh liburan kayaknya nggak digubris. Maaf ya kalau mama kesannya semangat banget pengen kalian liburan soalnya mama gemes kalian anteng-anteng aja di rumah, mama juga kasian sama kamu yang pasti bosan di rumah 'kan?"
"Nggak apa-apa, Ma. Aku sekarang ada kegiatan baru, aku lagi belajar merajut,"
"Sering-sering liburan lah, tapi belajar rajutnya darimana?"
"Sering-sering liat videonya, Ma. Tapi baru banget beli benang dan segala macamnya. Lumayan bisa isi waktu luang aku kalau tugas udah habis 'kan,"
"Nanti kalau udah punya anak malah minta nggak ada kerjaan, Nak. Sekarang kamu masih nyari-nyari kerjaan ya,"
Elvina terkekeh karena sekarang ini Ia memang belum punya anak jadi memang benar-benar terasa beda Ia sudah bisa membayangkan itu.
"Udah dulu ya, Sayang. Mama tutup teleponnya ya. Assalamualaikum,"
"Iya, Ma, Waalaikumsalam,"
Elvina meletakkan ponsel di nakas dan kembali sibuk menata pakaian. Sekarang Ia mulai membayangkan baju apa yang sekiranya tepat digunakan bila seandainya Ia dan Vano jadi berlibur.
"Gimana reaksinya Mas Vano setelah tau mama udah siapin liburan ya? apa dia bakal kesal? soalnya diajakin pergi kondangan sama aku aja awalnya nolak banget. Dia tuh kayak berat baget kalau mau pergi sama aku. Entah kenapa juga dia begitu ya, aku bingung,"
__ADS_1
Mengingat diajak pergi menghadiri acara resepsi pernikahan temannya saja, Vano menolak. Vano selalu bilang malas, Ia sibuk tak ada waktu, dan bahkan pernah menyuruh Elvina untuk liburan sendiri. Trauma nya Vano liburan bersama Elvina dan bertemu demgan Rendra masih ada sampai sekarang.
*****
"Saya bingung banget deh sama Mama, El. Ngapain banget udah nyiapin liburan buat kita? seolah liburan itu wajib banget, padahal 'kan nggak. Lagian saya udah bilang kalau saya bakal cari waktu yang pas untuk ajakin kamu liburan, eh mama malah udah nyiapin tanpa aba-aba dulu, sekarang saya bingung banget soal kerjaan. Gimana caranya saya bisa rela ninggalin kerjaan demi liburan yang tiba-tiba ini? nggak ada persiapan sama sekali. Minimal kasih waktu lah untuk saya nyelesain kerjaan yang emang harus saya selesain dulu dalam waktu dekat sebelum liburan,"
Begitu sampai di kamar, Vano yang baru saja pulang langsung menggerutu atas keputusan mamanya yang sudah menyiapkan liburan untuk Ia dan istrinya secara mendadak atau tiba-tiba.
"Aku juga kaget, Mas. Tadi Mama tiba-tiba nelpon kalau mama udah siapin liburan untuk kita, jadi sekarang gimana? kamu nggak mau? tapi mama pasti kecewa banget, Mas. Nggak ada yang bisa dikalahkan dulu kerjaan kamu ya? kalau begitu ngomong baik-baik sama mama,"
Vano berdecak kesal. Elvina bisa melihat bahwa suaminya itu benar-benar kesal dengan rencana mamanya.
Terlampau kesal sampai menanggalkan kemeja putihnya saja Vano melakukannya dengan gerak kasar.
Elvina akhirnya tidak berani bersuara karena takut menjadi tempat pelampiasan rasa kesal Vano. Elvina menyerahkan semua keputusan di tangan sang suami. Kalau memang dia bersedia untuk liburan, Elvina juga bersedia. Tapi kalau sebaliknya, maka Elvina pun akan demikian.
"Saya mandi dulu deh, nanti diobrolin lagi. Saya juga mau nanya pendapat kamu,"
Setelah berkata seperti itu, Argantara bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Elvina cukup terkejut ketika Argantara mengatakan bahwa dirinya ingin menanyakan pendapatnya juga. Padahal Elvina sendiri sudah punya niat untuk membebaskan suaminya dalam mengambil keputusan.
Elvina memang ingin sekali berlibur tapi Ia tidak mungkin egois memikirkan kehendaknya sendiri sementara sang suami tidak bersedia untuk liburan karena ada kesibukannya.
Benar saja apa yang dikatakan lelaki itu. Begitu dirinya keluar dari kamar mandi mulutnya kembali membicarakan rencana yang sudah dibuat oleh Lisa.
"Jadi menurut kamu gimana?"
"Kamu minta pendapat aku ya? aku malah serahin keputusan di tangan kamu, Mas. Aku nggak mau ambil keputusan, biar kamu aja soalnya 'kan yang terikat kamu, kalau aku sih bebas-bebas aja. Mau liburan ayo, nggak juga nggak masalah. Nah kalau kamu ini 'kan ada kaitannya sama kerjaan, jadi benar-benar terikat nggak bebas kayak aku. Terserah kamu mau gimana," ujar Elvina tanpa mau mengatakan secara terang-terangan bahwa dirinya ingin berlibur. Tidak perlu yang jauh, yang mewah atau mahal. Kemanapun asal dengan Vano, Elvina sudah senang.
"Tapi kalau kita nolak, nggak tega ya sama mama?"
"Nah makanya itu. Terserah kamu deh mau gimana. Aku sih ikut-ikut aja. Kalau kamu emang bisa kosongin waktu untuk liburan ya nggak masalah, aku malah senang banget diajakin liburan,
"Tapi saya nggak mau. Kamu sendiri aja deh, bilang sana ke mama,"
"Lah kok aku yang ngomong. Kamu aja yang ngomong, Mas. Soalnya 'kan kamu yang nggak mau," ujar Elvina yang merasa tidak tega bila Ia yang menolak langsung permintaan mama mertuanya.
"Aku sibuk, jadinya nggak mau,"
"Ya udah kamu yang ngomong sama mama ya. Jangan aku, rasanya nggak tega kalau bilang nggak ke Mama apalagi mama udah nyiapin semuanya,"
Vano jadi merasa bimbang. Elvina saja merasa tidak tega mengecewakan mamanya.
Vano akan merasa bersalah juga nanti. Tapi di lain sisi, Ia enggan pergi berlibur dengan Elvina. Ia tidak mau menghabiskan waktunya bersama Elvina untuk beberapa hari, benar-benar hanya berdua dengan Elvina saja tanpa orang lain.
"Mas, putusin sekarang. Kalau mau nolak ya nolak baik-baik, kamu harus bicara sama mama,"
"Mama pasti bakal kecewa ya?"
"Iya tapi kalau kamu nggak mau ya jangan dipaksa,"
__ADS_1