
Elvina mengintip dari pintu masuk dapur barangkali suaminya ada di sana tapi ternyata cuma ada ibu mertuanya saja. Akhirnya Ia ke teras rumah barangkali suaminya di sana tapi ternyata tidak ada, Ia datang ke taman tidak ada juga, akhirnya Ia ke kolam renang barangkali saja suaminya di sana.
Ketika melihat suaminya ada di kolam renang sendirian, Elvina tersenyum. Elvina langsung mendekati kolam dan memanggil suaminya itu. Vano langsung berhenti ketika mendengar panggilan seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah istrinya. Ia sudah hafal suara istrinya itu.
“Eh kamu kok udah bangun?” Tanya Vano seraya menghampiri istrinya yang sedang berdiri di tepi kolam.
“Iya aku kebangun karena aku pengen pipis,” jawab Elvina.
“Oalah, terus udah pipis?”
“Udahlah masa ditahan-tahan,”
“Kamu kenapa pegang telpon aku? Abis telepon siapa, El?”
“Oh ini, aku mau tanya sesuatu sama kamu,”
“Okay, mau tanya apa?” Tanya Vano seraya mengusap wajahnya dan Ia duduk mendongak menatap istrinya yang berdiri di tepi kolam sementara Ia masih ada di dalam kolam.
“Ini foto siapa?” Tanya Elvina dengan wajah yang sengaja dibuat ketus supaya Vano panik sendiri. Dan apa yang Ia inginkan itu benar terjadi. Seketika wajah Vano panik.
“Saya nggak merasa nyimpan foto siapa-siapa deh,”
“Terus kenapa muka kamu panik?”
“Ya karena kamu salah paham, El, makanya saya keliatan panik. Emang muka siapa sih? Kamu plis jangan salah paham dulu ya, saya tuh nggak tau foto siapa yang kamu liat di handphone saya tapi foto perempuan lain nggak ada kok,” ujar Vano mengakui kalau di ponsel itu tidak ada foto perempuan lain.
“Nih liat sendiri!” Ujar Elvina seraya mengarahkan layar ponsel kepada sang suami yang memicingkan matanya bahkan sampai lebih mendekat ke arah Elvina supaya bisa lebih jelas mengenali foto perempuan yang sudah membuat Elvina ketus seperti ini.
“Astaga, itu foto kamu,”
“Hahahaha ya emang foto aku,”
“Ish kamu jahat amat sih. Saya pikir foto siapa tau,”
“Hahahaha cie panik,”
“Aku pikir foto siapa yang udah nangkring di handphone aku sampai bikin kamu salah paham kayak gini,”
“Aku sengaja bikin kamu panik hahahaha,”
“Jahat kamu ah,”
“Tapi kamu beneran nggak simpan foto perempuan lain di handphone kamu?”
“Nggak sama sekali, nggak ada foto siapa-siapa, kamu cek aja,”
“Nggak usah, aku percaya sama kamu. Lagian ya kalau misalnya kamu simpan foto perempuan lain juga nggak apa-apa kok,”
“Lho kok gitu sih? Kamu nggak cemburu gitu?” Tanya Vank dengan wajah yang kesal. Ia kesal karena istrinya malah kelihatan tak peduli kalau seandainya Ia menyimpan foto perempuan lain di ponselnya. Padahal Ia ingin istrinya cemburu karena itu tandanya Elvina benar-benar mencintainya. Walaupun seandainya belum cinta, tapi paling tidak tunjukkan rasa cemburunya biarpun cuma sedikit.
“Kalau nggak cemburu berarti kamu belum cinta ya sama saya,” ujar Vano seraya beranjak meninggalkan kolam renang dan kini berhadapan dengan istrinya. Dengan badan yang maish basah kuyup Ia mengarahkan istrinya untuk lebih dekat dengannya, kedua tanganmya juga Ia gumakan untuk memeouk pinggang Elvina.
“Ih kamu masih basah, baju aku ikutan basah deh,”
Saat Elvina akan mundur menciptakan jarak, Vano menggelengkan kepala tidak mengizinkan. Kemudian Ia menatap Elvina dengan sorot mata sedih.
“Apa kamu masih nggak cinta sama saya?”
“Belum,“
“Ya buktinya barusan kamu ngomong nggak apa-apa kalau misalnya saya simpan foto perempuan lain,”
“Nggak! makanya dengerin dulu aku ngomong sampai selesai,”
“Apa? Coba lanjutin ngomongnya kalau gitu,”
“Biarin aja kamu simpan foto perempuan lain di handphone kamu, aku doain handphone kamu rusak, terus semua data-datanya nggak bisa balik lagi aamiin,”
“Hahahaha, oh gitu,”
Pecah sudah tawa Vano. Jadi ternyata Elvina sudah mempersiapkan harapan kalau-kalau Ia mendapati foto perempuan lain di ponsel suaminya.
“Itu tandanya kamu cemburu ‘kan?”
“Ya iyalah, siapa yang nggak cemburu kalau liat foto perempuan lain di handphone suami? Aku rasa semua istri di dunia ini bakal cemburu deh, ya walaupun belum cinta tapi ‘kan ada rasa kesal lah pasti,”
“Ya bagus kalau gitu, tandanya kamu masih cinta sama aku,” ujar Vano sambil mencium bibir istrinya itu sekilas.
“Ih bibir kamu dingin banget, Vano,”
“Ya namanya juga abis berenang, El,”
“Iya juga sih, okay sekarang aku mau nanya sesuatu sama kamu,”
“Tanya apa?”
“Sejak kapan kamu pakai foto aku untuk wallpaper?”
“Sejak—-sejak kapan ya? Hmm lupa sih saya,”
“Tapi ini ‘kan foto pas aku mandi bola ya?”
“Iya, lucu kan? Saya sengaja motret kamu diam-diam waktu saya temenin kamu main di time zone,”
“Ih romantis banget, kok aku nggak sadar ya,”
“Iyalah orang kamu fokus sama mandi bolanya, jadi kamu nggak sadar deh,”
“Hehehe makasih ya udah fotoin aku terus jadiin foto aku wallpaper,”
“Jangan bilang makasih ah, masa kayak gitu aja makasih,”
“Lho, aku emang harus bilang makasih ke kamu karena kamu tuh ternyata romantis juga. Udah ngambil foto aku diam-diam, terus kamu jadiin foto aku itu sebagai wallpaper handphone kamu,”
“Tujuannya supaya ingat aja gitu sama kamu, dan jadi kalau ada orang liat terutama perempuan yang mau caper ke saya, dia udah bisa tau nih kalau saya udah nggak sendiri lagi, buktinya wallpaper handphone foto perempuan, nanti kalau dia nanya saya jawab aja ini istri saya,”
“Hahahaha harus gitu ya?”
“Ya harus dong, biar kalau ada yang mau deketin mikiri ribuan kali dulu, soalnya saingan dia berat,”
“Aku saingannya?”
“Ya iyalah, emang siapa lagi istri saya? Cuma kamu aja jadi otomatis saingan cewek-cewek yang mau caper ke saya itu ya kamu, saingan mereka berat, jadi jangan macam-macam,”
“Halah bisa aja,”
“Ya udah nih aku balikin handphone kamu,”
“Jadi kamu nenteng handphone aku karena mau nanya soal ini aja, El?”
“Iya, aku soalnya tuh penasaran, kenapa kamu pakai wallpaper foto aku. Jujur aku nggak sangka sih,”
“Lho, kenapa nggak nyangka? Ya harusnya kamu nyangka dong, saya ‘kan suami kamu jadi ya wajar-wajar aja saya pakai foto kamu untuk wallpaper handphone,”
“Ya tapi aku nggak mikir kamu bakal pakai foto aku, biasanya ‘kan cowok pakai foto pemandangan yang cantik, atau benda-benda mati gitu ‘kan? Nah ini kamu pakai foto aku,”
“Ya ngapain pakai foto wallpaper foto pemandangan yang cantik kalau istri saya lebih cantik? Dan buat apa juga pakai wallpaper foto beda mati? Jadi kurang menarik gitu untuk diliat, ya mending pakai foto kamu lah,”
“Hmm okay-okay makasih ya untuk fotonya, ntar kirim ke aku ya, aku suka juga nih sama hasil kamu fotoin aku tadi aps mandi bola di timezone,”
“Okay nanti saya kirim ke kamu ya, El,”
“Makasih,”
“Sama-sama,”
“Nih handphone kamu, aku kembalikan ke tangan kamu,” ujar Shena sambil mengulurkan ponsel yang ada di tangannya kepada sang pemilik
“Pegang aja dulu sama kamu, saya masih basah kuyup gini, lagian aku mau lanjut berenang. Kamu temenin saya aja, duduk di situ,” ucap Vano sambil menunjuk kursi yang ada si tepi kolam di atasnya terdapat payung, dan juga ada meja bulat.
“Okay deh aku duduk di sana ya,”
Elvina langsung mendekati kursi yang barusan ditunjuk oleh suaminya. Setelah itu Ia mengamati Vano yang aktif sekali di kolam renang.
Karena merasa bosan hanya memperhatikan Vano berenang, dan itu membuat Ia tergiur juga untuk berenang tapi Ia malas untuk basah-basahan akhirnya Ia bicara pada Vano.
“Mas, aku pinjam handphone kamu boleh nggak?”
“Boleh, pakai aja, El, ngapain harus izin segala sih,”
“Makasih ya,”
“Iya,”
Vano yang sempat berhenti berenang karena dipanggil istrinya tadi yang minta izin untuk pinjam ponselnya, sekarang kembali melanjutkan renangnya.
Elvina membuka akun instagram sang suami yang tidak ada postingannya. Ia gulir beranda instagram suaminya itu dan menonton video-video lucu.
“Berandanya banyak video lucu hahahaha
Elvina menonton satu persatu video dan itu berhasil membuatnya terhibur. Sepertinya sang suami sering juga menonton video yang menggelitik perut makanya tanpa Ia cari sudah ada di beranda.
“Iseng buka DM ah,”
Elvina gulir direct message instagram suaminya, hanya ada obrolan dengan teman laki-lakinya sebanyak tiga orang. Ia buka obrolan mereka ternyata itu adalah teman semasa Vano sekolah, mereka saling bertegur sapa, setelah itu tidak ada obrolan lagi. Salah satunya juga ada yang mahasiswa Vano karena membahas tugas kampus.
“Sepi banget kehidupan sosmednya Vano ya,” guman Elvina.
Setelah itu Elvina meninggalkan instagram, dan Ia melihat aplikasi apa saja yang ada di ponsel suaminya, ternyata didominasi oleh game.
“Hadeh, game mulu deh yang aku liat,” gumam Elvina.
Setelah itu Elvina buka whatsapp, Ia gulir asal tidak mau terlalu tahu, Ia hanya iseng saja membuka whatsapp, kemudian Ia beralih membuka galeri. Begitu Ia buka ternyata banyak juga foto-fotonya.
“Astaga, Vano koleksi foto aku ya? Kok bisa sebanyak ini?” Tanya Elvina dengan wajah terkejutnya.
“Sejak kapan dia suka ngambil foto aku diam-diam? Lumayan banyak juga lho ini dan anehnya aku nggak pernah sadar,” batin Elvina yang entah kenapa merasa senang, dan hatinya menghangat. Suaminya benar-bsnar seperti pengagum rahasinya. Memotretnya banyak kemudian tersimpan rapi di galeri nya.
Setelah itu Elvina keluar dari galeri, dan tiba-tiba suaminya menyentuh bahunya. Ia tentu langsung kaget. “Ih kamu kenapa sih bikin kaget aku! Bilang dong kalau mislanya mau datang,”
“Hahaha kaget emangnya?” tanya Vano smabil tertawa, dan setelah itu Ia duduk di hadapan sang istri.
“Ia aku kaget tau,”
“Iya deh maaf,”
“Kamu ngapain, El?”
“Lagi iseng aja buka instagram kamu, buka whatsapp kamu, ternyata banyak game di handphone kamu dan kenapa ada banyak foto aku di handphone kamu? Hmm? Kamu kapan fotonya sih? Kok aku nggak pernah tau?”
Vano meneguk air minumnya dulu sebelum menjawab dengan santai. “Ya kamu liat aja sendiri itu kapan waktunya, ‘kan ada tanggal-tanggalnya, El. Intinya sejak saya mulai kagum sama kamu, saya naksir kamu, saya mulai tertarik untuk foto-foto kamu tanpa kamu tau, terus kadang saya suka perhatiin deh,”
“Beneran?”
“Ya beneran lah masa bohong sih? Kamu nggak percaya?”
“Ya—-percaya sih, cuma kok bisa jadi orang bucin gitu kamu? Merhatiin foto aku emang nggak mau muntah apa?”
“Eh sembarangan! Kenapa saya harus muntah coba?”
“Ya karena liat foto aku,”
“Dih, justru saya senang tau,”
“Kenapa senang?”
“Ya senang lah, saya berhasil ambil foto kamu diam-diam tanpa kamu tau jadi saya bisa liatin deh foto kamu kalau saya lagi kosong waktunya. Kok jadi muntah sih?”
“Ya kamu ‘kan udah ngeliat aku mulu tiap hari nih di rumah, di kampus juga gitu, terus masih suka ngeliatin foto aku? Emang nggak bosan apa? Nggak mau munta ya?”
“Ngeliatin cewek cantik nggak ada bosannya apalagi mau muntah. Jangan ngomong gitu lah, saya nggak suka ah,”
Elvina terkekeh dan mengusap pipi suaminya itu. Vano kelihatan tidak senang mendengar kata-katanya barusan. Tidak ada cerita bosan apalagi mau muntah lihat foto Elvina. Kalau suku Elvina bicara begitu mungkin tidak Vano bantah, kalau sekarang akan Vano bantah dengan tegas.
“Iya okay deh kalau gitu,”
“Aku kaget banget waktu liat foto aku banyak di handphone kamu,”
“Hahaha, kamu kaget?”
“Iyalah, aku pikir kamu nggak sekurang kerjaan itu motoin aku,”
“Saya bukan kurang kerjaan. Asal kamu tau ya, motoin kamu tuh keinginan dari hati saya, jadi ya udah saya lakuin aja lah,”
“Bahkan foto kamu aja kayaknya tadi nggak aku temuin deh, yang ada cuma foto aku, terus sama foto dari dokumen-dokumen gitu yang aku liat,”
“Iya emang galeri saya isinya kayak gitu hahaha,”
“Foto kamu, aku jarang foto, terus yang paling banyak ya dokumen tentang kuliah atau kerjaan,”
__ADS_1
“Galeri laki-laki emang begitu ya?”
“Saya nggak tau ya kalau isi dari galeri orang lain tapi galeri saya sih kayak gitu aja isinya,”
“Nih handphone kamu aku kembalikan ya,”
“Udah pegang aja dulu, pinjam sepuas hati kamu,” ujar Vano seraya tersenyum menatap istrinya itu.
“Aku tadi sempat nonton video-video lucu di beranda instagram kamu lho, kamu sering juga ya nonton video lucu di beranda?”
“Sering banget kalau lagi butuh hiburan, bosan nggak tau mau ngapain ya udah nonton yang lucu-lucu aja, daripada nonton gosip,”
“Aku jadi suka juga deh nonton video lucu,”
“Ya udah nggak apa-apa tonton aja, Elvina. Untuk hiburan biar nggak stres, sh ngomong-ngomong tadi ‘kan kamu bilang kalau kamu pusing, sekarang gimana? Masih pusing? Atau udah mendingan?”tanya Vano sambil memijat lembut kening Elvina hingga membuat Elvina memejam karena rasanya nyaman sekali dipijat oleh Vano. Elvina tidak pernah membayangkan bisa mendapat perlakuan seperti ini dari suaminya mengingat awal pernikahan mereka cukup dingin, bahkan bisa dibilangs ampai sekarang pun masih.
“Tangan kamu dingin,”
“Kayaknya enak ya pijatan saya sampai merem-merem gitu?”
“Iya rasanya mau tidur lagi nih. Satu dua tiga aku tidur!”
Tiba-tiba Elvina bersandiwara menjadi orang tidur, yang kepalanya jatuh ke bawah dan Vano tertawa melihat kelakuan istrinya itu.
“Kamu kenapa sih? Menghibur banget deh,”
“Hehe biar kamu ketawa. Udah ah jangan mijitin aku terus, kamu capek lho,”
“Nggak apa-apa olahraga tangan,”
“Ya tapi kamu pegal, kamu harus panjangin tangan kamu untuk bisa pijat kepala aku karena posisi kamu duduk di dpean aku,”
“Nggak apa-apa, pijat istri dapat pahala ‘kan ya? Nah saya lagi berusaha ambil pahala itu,” ijar Vano sambil tersenyum menatap istrinya.
“Udah cukup, aku nggak pusing lagi kok,”
“Bentar!”
Vano tiba-tiba beranjak meninggalkan kursinya kemudian Ia berdiri di belakang Elvina dan Ia memijat Elvina lagi.
“Ya ampun sampai pindah tempat kamu,”
“Ya mggak apa-apa biar makin leluasa,”
“Ih udah, aku nggak pusing lagi kok,”
“Tapi kamu kelihatannya nikmatin pijatan aku banget ya?”
“Iyalah, nggak aku sia-siakan, tapi beneran deh pijatan kamu endul, tau endul nggak?”
“Enak,” jawab Elvina yang langsung diangguki oleh istrinya.
“Iyap betul, pijatan kamu endul,”
“Apa sih bahasanya endal endul udah kayak apaan tau,”
“Hahahaha kenapa sih kamu? Aku sering dengar itu dari teman-teman aku jadi aku kebawa deh,”
“Endul itu bahasa apaan sih?”
“Nggak tau cuma pelesetan dari kata enak aja, ih random ah obrolan kita. Kenapa jadi bahas endul coba?”
“Ya kamu yang mulai, Elvina,”
Vano benar-benar memijat istrinya dengan lembut dan itu membuat Elvina nyaman sekali hingga terbuai ingin lanjut tidur.
“Udah, aku mau masak nih,”
“Ntar aja,”
“Ih aku mau masak, awas ah,”
Elvina akan beranjak meninggalkan kursi namun ditahan kedua bahunya oleh sang suami. Kepala Elvina mendongak menatap suaminya yang berdiri di belakangnya dna kini menundukkan kepala hingga kening mereka bersatu.
“Nggak apa-apa sih aku pijat dulu bentar, jangan nolak kebaikan suami dong,”
“Aku aja pernah ‘kan minta tolong pijitin sama kamu,”
“Ih tapi itu jarang banget, terakhir kapan tuh,”
“Ya udah jadi nggak apa-apa dong kalau misalnya aku pijat kamu juga sekarang,”
Elvina pasrah saja sekarang. Suaminya tidak mau Ia menghentikan pijatan. Bisa-bisa Ia tertidur sungguhan di kursi ini karena pijatan suaminya di kepala memang benar-benar membuatnya terbuai ingin tidur.
“Ini aku sampai kapan dipijatnya?”
“Sampai—-nggak tau sampai kapan,”
“Sampai kamu capek ya,”
“Kayaknya sih nggak bakal capek,”
“Ya udah nggak usah lagi deh, kamu kerjainan deh, nanti tangan kamu kram lho mijitin aku lama-lama,”
“Okay sebentar lagi ya, Nona. Kamu ceritanya klien saya ya,” ucapan Vano itu mengundang tawa Elvina. Bagaimana Elvina tidak tertawa kalau suaminya sekarang bersikap seolah-olah sedang melayaninya sebagai klien.
“Jadi ini kamu ceritanya buka jasa pijat dan aku pelanggan kamu gitu?”
“Iya bener,”
“Ya ampun, Mas,”
Elvina tidak bisa menahan tawanya karena lelucon suaminya yang sedang alih profesi ceritanya.
“Kamu ada-ada aja,”
“Maksudnya bagaimana, Nona? Apa pijatan saya kurang endul?”
“Hahahaha endul juga yang disebut,”
“Bagaimana? Endul ya?”
“Endul banget, Mas, makasih ya,”
“Sama-sama, Nona,”
“Sekarang saya rasa sudah cukup ya, Mas. Saya mau masak dulu,”
“Eh kamu panggil aku kayak gitu lagi dong,” pinta Vano yang tiba-tiba rindu mendengar Elvina memanggilnya dengan sebutan Mas seperti itu.
“Bukannya waktu itu kamu nggak bolehin aku manggil Mas atau apapun itu selain nama ya? Karena biar lebih akrab,”
“Ya itu ‘kan ulu. Sekarang saya pengen kamu manggil saya Mas aja udah,”
“Emang udah Mas terus kok,”
“Ya udah sekarang aku mau ke dapur dulu ya, kamu mau lanjut renang atau udahan?”
“Saya udah selesai berenang.
“Kamu lupa belum bawa handuk ya?”
“Astaga? Iya saya lupa, El,”
“Ya udah aku ambil dulu tunggu bentar, Mas Vano dosenku yang tampan,”
Elvina langsung pergi meninggalkan Vano yang senyum-senyum sendiri mendengar panggilan Elvina, jujur jadi salah tingkah.
Waktu itu Ia tidak suka sekali kalau Shena memanggilnya dengan sebutan ‘Mas’ walaupun tidak bisa dipungkir ada rasa senang karena Ia merasa sangat dihargai dengan panggilan seperti itu. Tapi lama-lama terbiasa juga.
Tadinya Ia sempat merasa aneh maka dari itu Ia menegur Elvina dan Ia minta Elvina untuk memanggil namanya saja tanpa ada sebutan apapun di depan atau dibelakang namanya. Itu menggambarkan betapa asingnya mereka.
“Nih handuk kamu, Mas,” ujar Elvina sambil berjalan ke arahnya dengan membawa handuk.
“Bilas dulu ya sebelum masuk ke dalam,” ujar Elvina seraya mengisyaratkan suaminya untuk membilas badannya terlebih dahulu di tempat pembilasan dan Vano menganggukkan kepalanya.
“Makasih ya,”
“Sama-sama, Mas. Aku mau ke dapur dulu,”
“Masak apa buat makan malam?”
“Itu kayaknya Mama udah mulai masak deh, Mas. Makanya aku mau bantuin. Mama udah aku bilangin biar aku aja yang masak sh malah Mama yang masak,”
“Ya mungkin Mama nggak mau kamu kecapekan kali,”
“Padahal niatnya smang abis tidur dulu baru masak,”
“Ya udah nggak apa-apa, ‘kan emang Mama yang nggak ngasih kamu masak, kamu disuruh istirahat,”
“Aku ke dapur dulu ya, Mas,”
“Okay, El,”
Elvina berjalan menuju dapur sementara suaminya ke tempat pembilasan untuk membilas badannya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam.
*****
“Ma, ya ampun aku padahal udah niat abis tidur mau masak, tapi udah keburu Mama duluan yang masak,”
“Nggak apa-apa, Sayang,”
“Aku bantuin, Ma
“Ih nggak usah, kamu kok cepat banget sih tidurnya? Bukannya baru tidur ya kata Vano?”
“Iya tadi kebangun karena mau buang air kecil, Ma. Terus nggak tidur lagi deh.”
“Oh gitu, Vano udah selesai berenang?”
“Udah, Ma, lagi bilas tuh,”
“Mama mau masak apa, Ma?”
“Soto betawi sama perkedel kentang, Sayang,”
“Wow enak banget tuh,”
“Semoga kamu nafsu makannya nanti ya,”
“Pasti nafsu, Ma,”
“Udah saja ke kamar aja,”
“Mama gampang kok ini, bumbu soto udah jadi, tinggal celup-celup aja lagi,
“Aku buat perkedel kentangnya kalau gitu ya, Ma,”
“Duh anak ini kok bandel ya dikasih taunya, nggak usah, Sayangku, biar Mama aja, kamu nggak usah repot-repot,”
“Nggak repot kok, Ma, biar aku bantu ya, Ma,”
Elvina tetap mau membantu ibu mertuanya itu. Ia yang mengambil alih perkedel kentang, sementara Lisa sedang menumis.
Mereka sering bekerja sama di dapur, biasanya bertiga dengan Bibi juga tapi Bibi sedang pulang menjenguk anaknya jadi kali ini hanya mereka berdua saja yang bekerja sama di dapur.
*******
Vano langsung masuk kamar mandi untuk menggunakan shampo, sabun, dan menyikat giginya setelah berenang. Setelah itu Ia keluar dari kamar mandi dengan penampilan segarnya. Ia langsung mengambil baju sendiri karena sepertinya Elvina lupa menyiapkan baju dan Vano tidak mempermasalahkan itu.
Setelah berpakaian Vano mengeringkan rambutnya menggunakan handuk di depan cermin. Kemudian Ia menyisir rambutnya yang setengah basah itu. Tak lupa menggunakan minyak wangi. Ia harus tetap wangi meksipun di rumah saja.
“Dah ganteng, dah wangi, jadi Elvina betah,” gumamnya sambil terkekeh.
Elvina meraih remot televisi di nakas dan Ia tak sengaja melihat ponsel istrinya yang berkedip-kedip karena ada panggilan masuk. Dengan cepat Ia meraih ponsel istrinya itu dan membaca nama si penelpon.
Seketika rahangnya mengeras setelah tahu kalau Rendra kembali menghubungi istrinya. “Ini si Rendra maunya apa sih? Ganggu istri gue aja, gue blokir tau rasa lo ya!”
Vano langsung memblokir kontak Rendra, beberapa hari diam tidak ada tanda-tanda kehidupan sekarang Rendra menghubungi istrinya lagi.
“Hah rasain gue blokir nomor lo biar nggak bisa hubungin istri gue lagi mampus lo!”
Vano meletakkan ponsel sang istri di nakas lagi sambil bergumam “Semoga aja dia nggak hubungin Elvina lagi, kalau dia masih nekat hubungin istri gue. Wah benar-benar cari masalah dia. Orang udah mantan kok masih aja ngusik sih. Padahal dia yang selingkuh di belakang Elvina. Astaga, benar-benar nggak habis pikir gue, dan anehnya El maish aja simpan eprasaan buat si brengsek itu,” batin Vano.
Vano menghidupkan televisi dan Ia duduk di tepi tempat tidur mencari saluran televisi yang menarik untuk Ia tonton.
Kebanyakan acara infotainment dan Dio tidak tertarik sama sekali. “Sore-sore gini kok ada acara gosip sih?” Ia menggerutu sambil terus mengotak atik remot televisi.
Ketika berhasil menemukan acara pertandingan sepak bola, Ia langsung tersenyum sumringah padahal sebelumnya mudung karena seringnya dapat acara gosip yang tidak Ia sukai sama sekali. Makanya apa yang terjadi dalam dunia selebriti benar-benar tidak Ia ketahui sedikitpun.
__ADS_1
Vano pindah posisi menjadi duduk bersandar di kepala ranjang menatap televisi dan setelah itu fokus menonton televisi. Sekitar satu jam Vano menonton televisi, tiba-tiba ada panggilan tapi bukan dari ponsel melainkan istrinya yang baru masuk ke dalam kamar.
“Mas,”
“Iya kenapa, El?”
“Aku ada sesuatu buat kamu,”
Vano mengernyitkan keningnya ketika sang istri masuk-masuk membawa sesuatu di tangannya dan raut wajah gembira Elvina tidak bisa ditutupi.
“Kamu bawa apa itu?”
“Ini aku beli baju buat kamu di online,”
Elvina membuka kemasan belanjaan online nya yang sudah datang. Setelah melihat baju pesanannya sudah ada di depan mata, Ia langsung menyerahkannya kepada Vano.
“Coba kamu dong yang buka ‘kan kamu yang beli, El,”
“Okay coba ya kita buka,”
“Kamu beliin buat aku doang, El?”
“Iya aku sengaja beli buat kamu aja soalnya aku liat lucu dipakai sama kamu,”
Elvina menunjukkan baju yang kemasannya sudah Ia buka kemudian Ia minta pendapat suaminya yang langsung tersenyum melihat gambar di kaos biru tua yang saat ini dipegang oleh sang istri.
“Ini beneran buat saya?”
“Iyalah beneran buat kamu, masa aku bohong sih,”
“Ya ampun, makasih ya,”
“Sama-sama, senang nggak?”
“Senang banget, tapi kok kamu kepikiran ngambil yang gambar ini? Saya penasaran deh alasan kamu,” ujar Vano seraya meraih baju yang telah dibelikan oleh istrinya itu kemudian Ia tatap bordiran di kaos yang dibeli oleh sang istri.
Ada gambar seorang laki-laki dewasa yang sedang bertekuk lutut di hadapan seorang anak kecil perempuan. Elvina tertarik membeli itu karena maknanya sampai sekali ke hatinya. Ia jadi teringat bagaimana papanya memperlakukan Ia bagai ratu. Ia berharap kalau suatu saat Ia dan Vano punya anak eprempuan, Vano bisa memperlakukan anak mereka layaknya ratu juga.
“Soalnya aku suka sama gambarnya, lucu dan menurut aku berkesan banget,”
“Iya sih memang, kesannya nyampe ya. Ini gambar ayah sama anak perempuannya ‘kan?”
“Iya bener, aku beli itu sebenarnya juga karena teringat sama papa aku yang sikapnya tuh baik banget ke aku dan aku dianggap kayak ratu sama Papa aku,”
“Okay-okay saya paham sih makna nya apa. Tapi ‘kan—saya belum—saya belum punya anak, El. Dan kalaupun punya anak nih, emang anak saya perempuan?”
“Ya aku ‘kan jatuh cinta sama gambarnya ya. Jadi nggak apa-apa dong aku beli aja? Walaupun kita belum punya anak atau kalau nantinya anak kita bukan perempuan ya nggak masalah, baju ini ‘kan bagus, aku beli ya karena suka gambarnya, makna, kesannya tuh dapet banget di aku. Makanya aku beli deh,”
“Jangan-jangan ini pertanda kalau nanti saya bakal punya anak perempuan?”
Elvina terdiam mendengar ucapan Vano yang sekarang senyum-senyum sendiri mengamati gambar di kaos pemberian sang istri.
“Jangan-jangan iya nih anak saya cewek nanti,”
“Ankakkamu doang nih? Anak aku juga dong,”
“Iya maksud saya, anak kita. Kayaknya iya deh cewek makanya kamu kepikiran beli ini,”
“Nggak tau deh, tapi terlepas dari apapun itu intinya adalah aku senang sama gambarnya,” ujar Elvina.
“Iya sama, saya juga senang, Elvina. Makasih ya udah dibeliin baju yang penuh kesan, penuh makna ini, saya senang banget,”
Vano langsung memeluk istrinya kemudian mencium puncak kepalanya betulang kali.
“Makasih ya, El,”
“Iya sama-sama,”
“Semoga kamu suka ya,”
“Saya suka banget, saya mau langsung pakai nih sekarang juga,”
“Eh jangan, nanti aja pakenya kalau udah aku cuci setrika, okay?”
“Emang kenapa kalau dipakai sekarang?”
“Ya nggak usah sekarang juga, Mas. Aku cuci dulu biar kamu pakainya nyaman, dan bersih nggak gatal, takutnya kotor,”
“Tapi ini bersih kok, saya juga nggak alergi baju baru alias harus cuci dulu baru pakai,”
“Udah pokoknya ini aku cuci dulu ya, Mas. Jangan bandel kalau dikasih tau, okay?”
“Hmm padahal saya mau pakai sekarang lho,”
Entah kenapa Vano antusias sekali ingin mengenakan baju pemberian istrinya saat ini juga.
“Nanti ya, aku cuci dulu, aku strika dulu nah kalau udah, baru deh aku kasih ke kamu, Mas, okay?”
“Okay, saya nggak sabar pakainya karena dibeliin sama istri dan gambarnya bagus, ada maknanya gitu. Saya anggap itu harapan kamu ya, El, kamu berharap nanti kalau misalnya kita punya anak, apapun jenis kelaminnya, saya bisa memperlakukan mereka dengan baik, apalagi kalau anak perempuan,”
“Iya, aku berharapnya kayak gitu, soalnya aku diperlakukan dengan baik sama ayah aku,”
“Okay, mudah-mudahan saya bisa penuhi harapan kamu itu ya, semoga saya nggak ngecewain anak kita nanti, nggak ngecewain kamu, nggak ngecewain penciptanya juga. Saya berharap bisa jadi figur ayah yang baik untuk anak kita kelak,”
“Aamiin,”
“Saya pasti nanti banyak kurangnya deh, saya minta maaf ya, El. Saya bakal belajar terus pastinya,”
“Iya, aku juga banyak kurangnya nanti, emang kamu doang,” ujar Elvina seraya terkekeh.
“Kita ‘kan masih sama-sama baru jadi orangtua,” ujar Elvina.
Elvina membuang bungkusan paketnya ke tempat sampah kemudian Ia meletakkan baju baru milik suaminya di tempat cucian setelah itu Ia mengulurkan tangan mengajak suaminya untuk beranjak keluar dari kamar.
“Sholat, udah maghrib,”
“Ayo,”
“Abis itu kita makan ya,”
“Makan dimana?” Tanya Vano pada istrinya.
“Di meja makan lah,”
“Saya pikir kamu ngajakin saya makan di luar,”
“Nggak, di rumah aja, Mama masak,”
“Masak apa tuh?”
“Ntar liat aja sendiri aku yakin kamu suka deh,” ujar Elvina pada suaminya yang langsung tersenyum antusias.
“Masakan kamu sama Mama tuh nggak pernah gagal jadi nggak sabar deh pengen tau apa yang dimasak,”
“Ya makanya sekarang sholat dulu ayok,”
“Kaki saya kesemutan, makanya belum bangun nih,”
“Yah, terus gimana dong, Mas?”
“Ya tunggu bentar aja,”
“Aku ambil wudhu duluan boleh?”
“Boleh dong, El,”
Elvina menganggukkan kepala lantas bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu Ia menyiapkan peralatan sholat untuknya dan juga sang suami.
“Jangan dipaksa kalau masih kesemutan, Mas. ‘Kan jadi susah jalan aku sering begitu,”
“Iya tunggu bentar ya,”
Vano menunggu tidak sampai lima menit, setelah kakinya sudah baik-baik saja, rasa tidak nyamannya hilang, Ia langsung beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Setelah itu Ia langsung mulai beribadah dengan istrinya sebagai makmum. Selepas menjalankan kewajiban sholat maghrib sebanyak tiga rakaat dan berdoa, Elvina langsung mencium tangan suaminya dan suaminya mengecup keningnya.
“Shen, nanti kalau kamu nggak malas, kita jalan malam yuk,”
“Hah? Kamu mau jalan malam kemana? Besok ‘kan mau pergi ke Lombok,”
“Ya justru itu, makanya saya mau ngajak kamu jalan soalnya besok saya pergi,”
“Cuma pergi bentar aja kok, nggak usah murung gitu dong,”
“Ya gimana nggak murung, saya bakal ninggalin kamu, El,”
“Aku baik-baik aja di sini, Mas. Ya udah yuk kita ke ruang makan,”
Vano menganggukkan kepalanya, setelah melipat sajadah, kain panjang dan mukena yang mereka gunakan untuk sholat, mereka berdua langsung bergegas ke ruang makan.
“Van, besok nggak jadi ke Lombok ya, tunda minggu depan,”
Baru tiba di ruang makan, Vano langsung dapat informasi dari papanya bahwa besok tidak jadi berangkat ke Lombok.
“Seriusan, Pa?”
“Iya, minggu depan,”
“Okay aku mau liburan ke luar negeri deh kalau gitu sama El ya, Pa, Ma?”
“Kemana?”
“Itali, mumpung ada waktu gitu,”
Elvina membelalakkan kedua matanya kaget. Suaminya belum membahas apapun dengannya tiba-tiba punya rencana ke Italia.
“Yah Mama udah siapin liburan buat kalian ke Bali. Udahlah ke Bali aja dulu,”
“Hah? mama udah siapin liburan ke Bali?” Tanya Vano yang langsung diangguki oleh Mamanya.
“Iya Mama udah siapin semuanya kalian tinggal berangkat, ya sebagai pengganti kamu ke Lombok lah istilahnya,”
“Yah, Ma, kenapa nggak bilang-bilang dulu kalau mau nyiapin liburan ke Bali? Aku padahal mau ajak El ke luar negeri,”
“Mas, nggak boleh gitu, harus bersyukur dong dikasih liburan sama Mama,” bisik Shena.
“Ya ke situ ‘kan udah sering, pengennya ke tempat lain,”
“Udah ke situ aja dulu, kasian Mama ‘kan. Udah nyiapin masa kamu nya nggak mau,” bisik Elvina mengingatkan suaminya supaya menghargai apa yangnsudah disiapkan oleh mamanya.
“Tapi aku liat jadwal libur aku dulu ya, Ma. Kalau nggak bisa ya berarti nanti-nanti aja deh,” ujar Vano
“Ya udah atur aja sama kamu, kalau belum bisa nggak apa-apa,”
“Udah sih, Bang, ke Bali aja sana. Bawa oleh-pleh yang banyak buat aku,” ujar Davina yang mendorong kuat supaya abang dan istrinya itu pergi berlibur.
“Ah udah sering juga Abang kasih oleh-oleh Bali, masih aja kurang,”
“Biar sekalian abang sama kak El tuh liburan, di rumah mulu emang nggak bosan apa? Itu Kak El bodan kali tuh,”
“Nggak, Dav. Kakak dimana aja nggak bosan selagi nyaman, dan rumah ini ‘kan nyaman banget buat kakak. Jadi ya nggak ada cerita bosan dong,”
“Ya tapi ‘kan di rumah mulu tuh sebenarnya bosan, Kakak,”
“Nikmatin aja, Dav, aku apsti jadinya nggak bosan,” ujar Elvina sambil tersenyum.
“Ih Abang, kok istrinya demen banget sih di rumah. Nggak pernah hang out gitu, atau abang yang nggak bolehin?”
“Eh sembarangan. Mana Abang pernah larang El untuk hangout. Udah terserah dia, uang juga dia megang. Cuma emang dianya yang nggak mau kali,” ujar Vano yang tidak terima dikatakan melarang istri untuk pergi mencari kesenangan di luar. Selagi itu positif, Vano tidak akan pernah melarang. Karena Ia tahu itu hak istrinya. Tidak mungkin Ia terus saja menekan Elvina supaya tetap di rumah terus, dementara Ia tahu bahwa manusia itu sda rasa penatnya juga dan pasti butuh penyegaran pukiran.
“Masa perginya kalau aku ajakin doang,”
“Aku emang dari dulu suka pergi tapi ya kalau emang benar-benar mau aja, Dav. Dan itu jarang, padahal aku suka kok,”
“Jadi menghemat uang jajan kalau begitu. Kalu aku jadi kakak, aku mah bakal sering keluar rumah, belanja, nyalon—“
“Halah kamu sekarang ngomong begitu. Ntar kalau udah jadi istri juga beda cerita, liat aja. Apalagi kalau udha punya anak, bakal lebih betah di rumah, sama suami, sama anak,”
“Rmang gitu ya, Ma?” Davina langsung bertanya pada mamanya.
“Iya, Mama sebelum nikah hobi juga ke mall. Tapis etelah nikah bawannya malas. Apalagi setelah punya anak. Mending di rumah deh sama anak, tapi kalau emang udah benar-benar bosan, butuh refreshing ya Mama bakal pergi juga, untuk me time. Nah El harus begitu, Nak. Biar kamu nggak stres di dalam rumah,”
“Nggak lah, Ma. Masa aku stres. Di rumah ini nyaman banget kok, jadi kalaupun nggak pergi-pergi ya nggak masalah. Lagian ‘kan aku udah pergi kalau pagi ke kampus nah itu udah ermasuk refreshing,”
Ucapan Elvina mengundang tawa mertua dan juga adik iparnya. Disaat banyak orang tidak mau ke kampus karena tidak siap menerima segala kerumitan dunia perkuliahan, Elvina justru sebaliknya. Elvina menganggap ke kampus bisa untuk refreshing.
“Udah sering aku suruh juga untuk jalan-jalan tapi dianya jarang mau, aku juga nggak tau tuh kenapa. Betah banget di rumah,”
“Ya udah kalau gitu Abang yang garus sering ngajakin Kak El pergi, pasti Kak El mau deh,” ujar Davina yang menuangkan gagasannya.
__ADS_1
“Nah bener tuh kata adikmu, Van,”
Vano menganggukkan kepalanya. Ia akan coba biasakan untuk sering mengajak Elvina pergi walaupun Ia sendiri adalah tipe laki-laki yang tidak begitu suka pergi keluar rumah kalau tidak benar-benar menginginkannya.