
“Kirimin alamat hotel ini ke ayah dan bunda aku sekarang, Mas! Pasti mereka mau jemput aku,”
“Nggak, aku nggak mau kamu dijemput. Biar kamu sama aku dulu,”
Elvina berdecak karena Vano yang keras kepala dan egois. Dia tidak mau mendengarkan kata-katanya yang menyuruh Vano untuk mengirimkan alamat hotel yang saat ini menjadi tempat mereka berdiam kepada orangtuanya yang Ia yakini pasti mau menjemputnya.
“Mas, kasian nanti mereka kebingungan dong, karena kamu nggak kirim-kirim alamatnya. Buruan kirim! Ayah bunda aku udah nungguin,”
“Nggak lah, aku bilang nggak mau ya nggak mau,”
Vano bersikeras tidak mau mengirimkan alamat hotel kepada mertuanya. Ia ingin menghabiskan waktu bersama Elvina, Ia tidak mengizinkan Elvina pulang.
“Mas, kamu jangan egois dong! Aku mau pulang, nggak mau ada di sini apalagi sama kamu,”
“Di sini aja, kamu nggak boleh kemana-mana,”
Vano keras kepala, tetap tidak akan mengirimkan nama hotel apalagi alamat hotel supaya orangtua Elvina tidak bisa mengetahui posisinya dan Elvina.
******
__ADS_1
“Aneh bunda nih, masa ngajakin jemput Elvina tapi belum tau dimana alamatnya. Kita mau jemput kemana, Bun?”
Arman mengurangi kecepatan mobil karena istrinya yang belum juga bisa memberikan arahan mereka akan kemana karena memang Dini belum punya alamat hotel tempat anaknya bersama sang suami.
“Ya orang Vano nya yang belum kirimin alamat, giliran di telepon nggak dijawab, bunda telepon ke Elvina malah nggak aktif sama sekali, bener-bener Vano ini ya. Mancing bunda mau marah aja. Dia kurang ajar kalau begini caranya,”
“Karena dia nggak mau kita ganggu, Bun, jadinya begitu. Coba pakai handphone ayah, tolong bunda hubungi,” suruh Arman pada istrinya itu agar segera menghubungi Vano menggunakan ponselnya. Barangkali bila dihubungi dengan nomornya, Vano mau menjawab.
“Masih nggak ada jawaban ‘kan, Yag. Emang dia sengaja berarti,”
“Ya udah jangan marah, sabar dulu,” ujar Arman pada istrinya yang semakin menjadi-jadi emosinya pada Vano.
Dini masih terus menghubungi Vano yang tidak juga menjawab panggilan darinya. Kalau saja ada Vano di depannya saat ini, Dini sudah mengoceh terus untuk memarahinya.
“Jadi gimana ini, Yah?”
“Gini aja, kita ke kantor Vano,”
“Ngapain, Yah? Dia nggak ada di kantornya, ada di hotel sama Elvina,”
__ADS_1
“Tadi ‘kan bunda tau dari Amih kalau sebelumnya Vano rapat di hotel itu. Nah kita tanya di kantor Vano rapat di hotel mana,”
“Oh iya benar-benar, Bunda setuju. Kita ke sana aja sekarang,”
“Iya benar kata ayah ‘kan? Lebih baik kita pergi ke kantornya sekarang. Kita tanya-tanya di sana,”
“Tapi kantor masih buka nggak, Yah? Soalnya ini udah sore,”
“Masih buka mungkin, Bub. Makanya sebaiknya kita ke sana aja sekarang,”
Arman yang sebelumnya tidak punya arah tujuan mau melajukan mobilnya kemana, sekarang tujuannya adalah kantor dimana Vano bekerja.
“Semoga ada yang bisa kita tanyain nanti ya, Yah, mama pengen banget jemput Elvina. Kasihan dia, Yah,”
“Papa yakin Elvina nggak akan diapa-apain sama Vano. Mama tenang aja, Vano nggak akan setega itu lah sama dia. Memang mama mikirnya Elvina bakal diapain sama suaminya? Papa tau gimana Vano, Bun. Dia kalau marah nggak pernah main tangan. Kalau memang kenyataannya begitu, pasti udah lama Elvina laporan sama kita bahwa Vano kasar,”
“Tapi tetap aja ah, mama khawatir. Kita ‘kan nggak tau hati manusia. Takutnya Vano ngelakuin sesuatu sama Elvina. Soalnya mereka tadi itu kayaknya berantem hebat, Yah. Bunda takut sama-sama emosi terus saling nyakitin satu sama lain,”
“Insya Allah nggak, bunda tenang aja,” ujar Arman sekali lagi menenangkan istrinya. Ia tahu kalau Dini cemas sekali terhadap Elvina, tapi Ia yakin Elvina akan baik-baik saja. Mereka tidak bisa sama-sama kalut, harus ada yang bisa berpikir positif dan menenangkan.
__ADS_1
******