
Hari dimana Dewi menikah sudah tiba. Elvina merasa badannya sehat, dan ada kesempatan untuk hadir di momen penting seumur hidup teman kuliahnya itu.
Elvina diundang oleh Dewi untuk hadir di acara resepsi sore ini dan kebetulan Vano tidak biasanya sudah pulang tepat di pukul tiga sore. Elvina tidak menyia-nyiakan kesempatan. Barangkali kalau Ia kembali meminta Vano untuk datang, lelaki itu bersedia. Ia tidak akan tahu jawaban Vano kalau belum mencoba. Barangkali jawaban sebelumnya dengan jawaban yang sekarang berbeda.
“Mas, kamu ‘kan udah selesai mandi nih, aku udah selesai make up. Kamu yakin nggak mau temenin aku datang ke kondangannya Dewi?”
Tanya Elvina dengan pelan dan takut-takut Vano marah. Ia sudah tahu risikonya tapi Ia tetap melakukannya. Ia berharap Vano bersedia menjadi temannya ke acara resepsi pernikahan Dewi.
Biasanya Vano akan kesal kalau ditanya berulang kali, tapi Elvina harap kali ini tidak. Kalaupun Vano menolak tidak masalah yang terpenting Ia tidak dimarahi.
“Bukannya dari awal saya udah bilang ya kalau saya nggak mau temenin kamu kondangan? saya males, mendingan istirahat di rumah, mumpung pulang cepat,” ujar Vano yang pulang sore karena dari kantor langsung ke rumahnya.
“Oh jadi nggak mau ya? Hmm…ya udah deh, aku berangkat sendiri aja,”
Elvina tampak kecewa karena suaminya memilih untuk tetap bertahan pada keputusannya. Vano tidak bersedia pergi bersamanya untuk menghadiri acara resepsi pernikahan Dewi, teman kuliahnya. Elvina sudah mencoba lagi untuk mengajak Vano tapi Vano tetap tidak mau maka Elvina tidak mungkin memaksa.
Elvina yang sudah selesai berhias, langsung meraih hand bagnya dan pamit pada sang suami yang duduk di tepi ranjang.
“Aku berangkat dulu,”
“Terus kamu sama siapa ke sana?” Tanya Vano pada istrinya yang akan hadir di acara resepsi pernikahan temannya.
“Ya sendiri lah, ‘kan kamu nggak mau. Jadi aku berangkat sendiri aja,”
“Emang nggak ada janjian sama temen gitu?”
“Nggak ada, ternyata teman aku yang udah pada punya pasangan datang sama pasangannya, aku juga baru tau. Tapi nggak apa-apa, ‘kan banyak juga yang belum punya pasangan,”
“Terus kamu bakal gabung sama mereka?”
“Ya ‘kan emang harus gabung, namanya juga berteman. Aku nggak mau sendiri-sendiri. Nanti ‘kan waktunya ngumpul bareng,”
“Ya udah berarti nggak apa-apa ‘kan saya nggak ikut?”
Apa yang bisa Elvina lakukan selain menganggukkan kepalanya. Tentu saja Ia berusaha untuk tidak merasa keberatan dengan keputusan suaminya yang enggan untuk hadir di acara pernikahan Dewi.
“Aku berangkat dulu, Assalamualaikum,”
“Ya udahlah saya temenin,”
Elvina sudah terlanjur menutup pintu kamar dan tampaknya tidak mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya yang memang terlambat mengatakannya. Giliran Elvina masih di kamar Ia tidak memutuskan untuk ikut pergi.
Vano akhirnya membuka pintu kamar dan memanggil Elvina yang akan menuruni anak tangga menuju lantai dasar.
“EL, Saya temenin, tunggu bentar,” ujarnya pada Elvina yang terkejut mendengar ucapan suaminya sekaligus senang karena akhirnya Vano bersedia. Namun sebelum terlalu senang, Ia bertanya untuk meyakinkan Vano.
“Beneran kamu mau ikut, Mas?” Tanya Elvina yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Vano yang sudah pastah saja kalau emamng dipertemukan dengan mantan kekasihnya Elvina Ia harus siap menahan kecemburuan.
“Tolong siapin baju saya,”
“Udah kok, aku udah siapin jaga-jaga kamu mau ikut,”
“Ya udah dimana?”
“Itu—“
“Ambilin coba, saya mau ke kamar mandi dulu,” ujar Vano pada istrinya. Setelah itu Vano masuk ke dalam kamar mandi sementara istrinya masuk lagi ke kamar, Ia harus benar-benar memberikan baju yang telah Ia disiapkan itu tepat di depan mata Vano supaya Vano tidak manja minta diambilkan padahal jelas-jelas ada di sofa kamar.
“Nih bajunya,” ujar Elvina seraya menyerahkan baju yang sudah Ia siapkan untuk suaminya. Sengaja Ia tetap menyiapkan sekalipun Vano mengatakan Ia tidak mau ikut, beruntung sudah Elvina siapkan pakaian suaminya jadi ketika Vano berubah pikiran semua sudah siap.
“Okay makasih,”
“Kok tiba-tiba kamu berubah pikiran, Mas? Mendadak banget lagi. Tadi waktu aku pamit kamu nggak bilang mau ikut,”
“Ya ‘kan saya masih pikir-pikir. Sebelum ambil keputusan itu harus mikir matang dulu,”
“Lah waktu pertama kali aku minta kamu untuk ikut pergi kondangan sama aku, bukannya kamu udah mikir dulu sebelum bilang nggak?”
“Iya sih, cuma mendadak saya berubah pikiran. Abisnya kasian saya dengar teman-teman kamu pada bawa pasangan lah kamu cuma sendiri,”
“Oh karena nggak tega ya?
“Karena kasian,”
Elvina berdecak pelan. Elvina mencubit lengan Vano yang ternyata bersedia menjadi temannya pergi untuk menghadiri suatu undangan karena merasa kasihan.
“Aku nggak mau dikasianin sama siapapun, apalagi untuk hal ringan kayak gitu. Kalau emang kamu nggak mau temenin aku ya udah nggak usah ada alasan karena kasian atau segala macamnya. Aku pergi sendiri juga nggak masalah kok,”
“saya ikut,”
“Kenapa mau ikut? Karena kasian? Kalau karena kasian aku nggak kamu biarin kamu ikut, jatuhnya malah nggak ikhlas. Mendingan aku pergi sendiri aja, enak juga pergi sendiri. Anggaplah emang belum punya pasangan. Banyak juga teman aku yang belum punya pasangan, dan mungkin yang punya pasangan belum tentu juga pasangannya bisa ikut karena ada satu dan lain hal. Kalau pasangan aku ‘kan tadinya nggak bisa ikut karena emang nggak mau, nggak ada waktu, sibuk,”
Vano tetap bersiap. Ia mengenakan baju dnegan cepat, merapikan rambutnya, kemudian Ia juga menggunakan pewangi setelah itu melingkarkan arloji di pergelangan tangan.
“Ayo berangkat,”
Vano sudah siap dan penampilannya sudha beda seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya yang hanya mengenakan pakaian rumah nonformal dan sekarang kemeja serta celana membalut tubuh tegap tingginya.
“Jadi beneran mau ikut? masih mau bilang karena kasian?”
“Nggak, Elvina. Aku ikhlas ini temenin kamu, nggak karena kasian kok,”
“Ya udah bagus. Aku nggak maksa ya, kamu yang mau ikut,”
Elvina berjalan keluar dari kamar disusul oleh sang suami. Tidak disangka oleh Elvina hari ini Ia akan hadir di acara resepsi pernikahan Dewi dengan mengikutsertakan sang suami. Ia benar-benar senang sekali.
Walaupun diawal sempat kesal karena mendengar alasan Vano mau menemani dirinya karena kasihan. Setelah Ia kesal dan tidak menerima alasan Vano itu malah berinisiatif untuk tetap pergi sendiri, akhirnya Vano berkata bahwa dia ikhlas menemani istrinya pergi ke acara pernikahan temannya, tidak karena kasihan pada Elvina.
“Kira-kira di sana rame nggak, El?”
“Entah, aku ‘kan belum sampai juga di sana gimana mau tau suasananya? Ih pertanyaan kamu aneh, Mas,”
“Ya menurut perkiraan kamu,”
“Aku nggak tau soalnya bukan aku yang nikahan,”
“Banyak teman sekolaj kamu pasti ya? Banyak mantan kamu juga mungkin,”
“Tau darimana kalau mantan aku banyak? Hmm? Jangan sok tau deh,”
“Aku cuma nanya. Mantan kamu semasa sekolaj banyak ‘kan?”
“Nggak, jangan sok tau dibilangin, masih aja nebak-nebak,”
“Oh ya? Berapa? Banyakan mana mantan kamu atau mantan saya?”
Elvina merotasikan bola matanya dan membuang muka. Ia lebih memilih menatap suasana di sekitarnya ketimbang meladeni pertanyaan aneh suaminya yang tidak ada angin dan hujan malah membahas mantan.
“Kamu belum pernah ya cerita soal mantan, jangan-jangan karena kebanyakan mantan jadinya bingung deh mau cerita yang mana,”
“Mantan aku cuma satu, kamu jangan mutar balik fakta deh. Yang mantannya banyak itu kamu ‘kan? Kok jadi nunjuk aku?”
Elvina terkekeh membalikkan kata-kata suaminya yang menduga Ia punya banyak mantan kekasih padahal kenyatananya tidak seperti itu.
“Cuma satu? Serius? Kamu ‘kan cantik, kok cuma satu?”
Elvina memainkan lidah di dalam mulut dan menahan senyum dengan melipat bibirnya ke dalam ketika Elvina mengatakan bahwa dirinya cantik. Tidak biasanya Vano bicara seperti itu. Entah sadar atau tidak Vano. memuji, pada intinya Elvina senang.
“Nggak usah bahas mantan lah, emang nggak risih bahas masa lalu?” Ujar Vano.
“Ya nggaklah, kita ‘kan kayak udah temen aja gitu. Mau cerita soal mantan atau masa lalu juga nggak masalah aku rasa,” jawab Elvina dengan ringan.
“Kecuali nanti ya kalau udah cinta, baru deh ada rasa cemburu,” ujar Elvina.
“Ya mungkin,”
“Mas, aku belum cinta sama kamu, daripada kamu bertahan sama aku yang nggak cinta sama kamu, itu ‘kan menyakitkan ya. Lebih baik pisah aja. Aku kalau jadi kamu lebih baik ambil keputusan itu, Mas,”
“saya bukan kamu yang mau mempermainkan pernikahan,” satu kalimat Vano yang diutarakan dengan tajam menjadi penutup obrolan mereka karena mereka sudah tiba di hotel yang ballroomnya digunakan sebagai tempat berlangsungnya acara resepsi pernikahan.
Elvina keluar dari mobil sendiri tidak ada adegan dibukakan pintu oleh pangeran yang menemaninya untuk pergi ke pesta hari ini.
Tapi Elvina cukup terkejut ketika Vano meraih tangannya. Tangan mereka bertaut dengan erat dan Vano menariknya untuk berjalan karena Ia sempat membeku di tempat untuk beberapa saat menatap tautan tangannya bersama Vano dan juga menatap wajah Vano.
“Ayo buruan jalan, kenapa diam aja?”
Setelah Vano bicara seperti itu dan tangannya sedikit ditarik barulah Elvina melangkah dengan anggun tepat di sebelah suaminya itu.
Elvina terlalu kaget, makanya Ia sempat diam membelu dulu untuk beberapa saat. Ia tidak menduga kalau suaminya akan menggenggam tangan. Ia pikir Vano hanya sekedar menemani tidak menunjukkan sikap manis seperti itu. Iya, menurut Elvina, sikap Vano manis karena tiba-tiba menggenggam tangannya dengan erat dan hangat. Entah kenapa Elvina merasa hatinya jadi menghangat.
“Ini kita mesti pura-pura mesra atau gimana, El?”
“Ya nggak usahlah, ngapain? Kamu megang tangan aku gini supaya keliatan mesra gitu ya?”
“Nggak, aku takut kamu jatoh aja, nanti ‘kan malu-maluin,”
Elvina menggertakkan gigi gerahamnya kemudian mencubit pinggang Vano dengan lancang. Ia tidak peduli Vano kesal yang terpenting ada pembalasan untuk Vano atas ucapannya yang jahat itu.
Elvina dan Vano langsung bergegas menghampiri pengantin untuk memberikan mereka selamat dan juga doa.
“Selamat menempuh hidup baru. Seneng kamu akhirnya dapat jodoh, Dew. Semoga bahagia terus ya,”
“Makasih, El. Doa terbaik untuk lo sama suami juga ya,”
Baik Elvina maupun Vano sudah menemui pengantin, mereka berdua dipersilahkan untuk menikmati hidnagan yang tersedia oleh Dewi.
Vano membawa Elvina ke meja yang masih kosong. Elvina hendak duduk, tiba-tiba dipanggil oleh seorang pria.
“El, sini gabung sama kita dong,”
“Eh Gino tuh, kita ke sana aja ya? Atau kamu mau tetap di sini?” Elvina meminta pendapat suaminya dulu. Ia ingin Vano nyaman jadi Ia bebaskan Vano memilih tempat. Takutnya Vano keberatan bila bergabung dengan kurang lebih tujuh orang di meja bundar yang ukurannya besar dan mereka semua adalah teman sekolah Elvina.
“Ya udah gabung aja,” ujar Vani yang setuju mau bergabung di meja teman-teman Elvina, istrinya.
Begitu tiba di dekat mereka yang masing-masing membawa padangan, Elvina tentunya berjabat tangan begitupun Vano.
“Gimana kabar lo eh?”
“Baik Alhamdulillah, ini buktinya bisa datang,”
“Ah syukur deh kalau gitu. Gue pikir lo nggak datang,”
“Datang lah, kalau ada kesempatan ya datang,”
“Vano udah balik kerja ya? Sore-sore udah temenin istri ke kondangan aja nih,”
“Iya tadinya nggak mau, tapi dipaksa,” jawab Vano yang langsung membuat kening Elvina mengernyit dan menatap Vano dengan sorot tajam. Ia langsung mencubit paha Vano yang duduk di sebelahnya, dan itu tak diketahui oleh teman-temannya.
“Nggak maksa, kamu yang mau datang temenin aku,”
__ADS_1
“Bohong dia jangan didengerin,” ujar Elvina membela dirinya. Ia tidak mau dinilai jadi istri yang pemaksa. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
“Bercanda, emang gue yang mau,” ujar Vano seraya terkekeh.
“Kalau gue beneran dipaksa nih. Tadinya gue mau sama anak aja di rumah ya ‘kan, eh malah dipaksa ikut, akhirnya anak sama nenek-neneknya,” ujar Ali seraya melirik istrinya yang merupakan teman Elvina juga.
“Terus anak lo ngambek ditinggalin? Atau biasa aja?”
“Malah seneng. Karena kalau sama neneknya ‘kan apaan aja diturutin. Beda kalau sama emak bapaknya. Ini nggak boleh itu nggak boleh. Ambil contoh kalau mau jajan. Kalau mau beli ice crema udah dijatahin sama Nita cuma boleh dua paling banyak. Karena takut batuk ‘kan. Lah kalau sama neneknya mah bisa lebih dari itu karena nggak tegaan sama cucu,”
“Lah, sama kayak nyokap gue. Apaan aja maunya cucu diturutin, karena nggak tega katanya. Soalnya sama emak bapaknya udah dilarang, dibatesin ‘kan, nah jadi sama mereka kebalikannya,”
“Ternyata udah ada yang punya anak ya temannya Elvina,” batin Argantara seraya melirik ke arah istrinya yang kini sedang mengobrol dengan Nita, istrinya Ali.
Walaupun sempat membicarakan soal anak, Elvina tidak kelihatan minder atau semacamnya. Dia menikmati obrolan yang ada.
Vano beranjak untuk mengambil air minum, dan Elvina yang melihat suaminya beranjak langsung bertanya.
“Mau kemana, Mas?”
“Ambil minum, mau?”
“Mau, minta tolong ya,”
Vano menganggukkan kepalanya. Ia segera bergegas mengambil air minum untuk dirinya sendiri dan Elvina sang istri.
Tidak lama Vano beranjak pergi, perut Elvina terasa tidak nyaman. Bukan karena ingin buang air besar tapi seperti tanda-tanda mau datang bulan. Akhirnya Elvina memutuskan untuk bergegas ke kamar mandi.
"Kamu mau kemana?"
"Kamar mandi sebentar,"
"Kok mukanya nggak enak gitu sih? mau buang air besar ya? pantes aja bau," bisik Vano yang baru saja mengambil minum, mengernyit bingung ketika melihat istrinya beranjak dari kursi dimana Ia duduk.
Ia langsung bertanya pada istrinya yang ternyata ingin bergegas ke kamar mandi. Ia langsung menebak kalau Elvina ingin buang air besar karena wajahnya kelihatan tidak nyaman. Elvina mencubit pinggangnya dan Ia langsung melotot memperingatkan.
"Kamu kok jadi berani sih? biasanya juga nggak pernah nyubit,"
"Karena mulut kamu tuh bikin aku kesal. Jangan sok tau makanya,"
"Muka kamu kayak lagi nggak nyaman gitu berarti emang mau pup,"
"Enak aja kamu, orang aku nggak mau buang air besar kok,"
"Ya terus kenapa mukanya kayak yang nggak nyaman gitu?"
"Aku sakit perut--"
"Nah berarti bener mau pup,"
Suami istri itu bicara sambil berdiri tak jauh dimana meja mereka berada. Elvina tidak senang suaminya menebak asal.
"Terserah lah, kamu nuduh aku aja kerjaannya. Segala ngatain bau, jangan asal deh kalau ngomong. Perut aku sakit kayaknya mau mens,"
"Oh, perlu aku temenin ke kamar mandi?"
"Nggak usah, aku sendiri aja,"
Elvina bergegas ke kamar mandi sementara Vano kembali ke tempatnya tadi dengan dua gelas di tangan untuknya dan juga untuk Elvina yang minta tolong diambilkan minum juga tapi sekarang malah ke kamar mandi.
"Elvina orangnya kalau di rumah banyak omong atau nggak, Van?" tanya Ifan pada Vano yang langsung memberi jawaban dengan anggukan kepalanya.
"Iya, nggak cerewet sih sebenernya. Tapi kadang bisa cerewet juga. Tergantung mood dia kali ya,"
"Ya berarti sama kayak waktu masih sekolah. Yang gue ingat ya, dia tuh nggak banyak omomg orangnya, seperlunya aja kalau ngeluarin omongan tuh, tapi emang tegas sih orangnya, gue akuin itu. Soalnya pernah ada yang suka sama dia 'kan, tapi dia nya nggak suka. Dia ngomong ke orang itu kalau dia nggak bisa balas perasaan suka itu dan sikap dia juga tegas, bukan yang menye-menye kasih harapan palsu gitu,"
"Kok lo tau sih? lo yang suka sama dia ya?"
"Nah lho, langsung ditembak sama lakinya. Jawab lo Fan!"
"Buruan jawab, Fan! yang jujur ya,"
Ifan tertawa lebar ketika teman-temannya meledek Ia yang baru saja membahas Elvina dengan suami Elvina.
"Nggaklah, gue anggap Elvina teman aja. Tapi ada temen gue beda jurusan yang demen sama bini lo tapi tanggapan Elvina nggak berlebihan. Begitu temen gue itu jujur soal perasaan, Elvina bilang kalau dia nggak bisa balas perasaan temen gue itu, dari sikap juga udah menegaskan kalau temen gue tuh dilarang ngarep lebih ke dia. Tetap bersikap baik tapi kayak jaga jarak gitu lho, dan kalau ketemu juga balas sapa seperlunya aja, jadi temen gue paham dan mundur alon-alon,"
"Mantannya banyak?" tanya Vano yang mulai tertarik dengan obrolan mengenai Elvina.
"Yang gue tau sih cuma satu aja,"
"Siapa?"
"Lah emang dia belum pernah cerita?"
"Yang geu tau juga cuma satu,”
"Udah dibahas Elvina berarti, okay kita jangan bahas lagi orang Elvina udah nimah," ujar Tina yang disetujui oleh yang lainnya.
Padahal Vano penasaran dengan jawaban dari teman-teman Vano soal mantannya Elvina. Entah kenapa Ia tertarik untuk mencari tahu. Padahal biasanya tidak seperti itu.
"Oh jadi nggak mau cerita ke gue nih? padahal gue penasaran lho, soalnya dia nggak pernah cerita-cerita soal masa lalu dia, jadi kadang penasaran,"
"Ya lo tanyain sendiri aja ke dia, bro. Berani nggak?"
"Males, mending gue bahas yang lain,"
Vano terkekeh, membahas soal anak masih sangat jarang di antara Vano dan Elvina.
"Atau bahas malam pertama?"
"Gila, ngapain bahas malam pertama lagi? 'kan udah lewat, bro,"
"Oh iya, berarti udah malam berapa ratus dong? 'kan sebutannya bukan malam pertama lagi,"
"Kepo aja lo,"
"Dia belum kawin soalnya, Van, jadi kepo," ujar Tito meledek Ifan yang memang datang paling terakhir diantara penunggu lain di meja itu. Dia masih single oleh sebab itu menjadi bahan ledekan.
Vano merasakan getaran di dalam saku celananya. Dengan segera Ia meraih ponselnya yang bergetar.
Elvina menghubungi Vano, alih-alih kembali ke meja. Dan hal itu membuat Vano tentu merasa bingung.
"Halo,"
"Mas, aku beneran dapet ternyata. Kita langsung pulang aja ya. Aku udah di deket mobil nih, tolong sampein maaf ke teman-teman, aku harus pulang sekarang,"
"Oh okay-okay, kita pulang sekarang,"
Vano cukup terkejut Elvina memutuskan untuk pulang lebih dulu ketimbang teman-temannya karena Ia menstruasi dan Vano bisa menebak kenapa Elvina ingin pulang cepat. Tampaknya Elvina tidak ada persiapan untuk menerima kedatangan tamu bulanannya dan mungkin keadaan Elvina kurang baik sekarang karena hari pertama menstruasi.
"Guys, sorry banget ya gue sama Elvina harus balik sekarang nih,"
"Lho emang kenapa? kok buru-buru? Elvina bukannya lagi di kamar mandi, Van?"
"Iya, agak nggak enak badan dia jadi minta pulang sekarang. Sorry banget sekali lagi,”
“Okay nggak apa-apa semoga di lain waktu kita bisa ketemu lagi dan kumpul-kumpul kayak gini lagi ya,"
"Okay hati-hati kalian,"
"Elvina mual ya, Van? makanya mau balik,"
"Tanda-tanda udah hamil nih,"
VNo hanya terkekeh saja menanggapi ucapan Ifan. Setelah berpamitan, Vano segera bergegas keluar dari ballroom hotel menuju area parkir hotel. Barusan yang Ia dengar Elvina sudah didekat mobil.
Benar saja, dari jarak yang lumayan jauh, Ia sudah bisa melihat keberadaan istrinya tepat di samping mobil.
Vano mempercepat langkah kakinya untuk menghampiri Elvina yang berdiri di samping mobil tanpa bersandar.
Vano langsung membukakan pintu untuk Elvina yang wajahnya tampak kesal.
"Kenapa kamu?"
"Aku mens, dan aku nggak bawa pembalut. Kesal banget aku, Mas. Padahal lagi enak kumpul-kumpul. Aku sempat bingung banget mau tetap di sana atau pulang, tapi aku 'kan nggak bakalan nyaman kalau maksain untuk tetap ada di sana, akhirnya aku ke parkiran dan telpon kamu untuk ngajakin pulang. Tapi teman-teman aku nggak masalah 'kan? apa kata mereka?"
"Ya nggak apa-apa. Mereka bilang semoga bisa ketemu lagi lain waktu dan mereka ngira kamu mual tanda-tanda hamil. Emang pada aneh teman kamu ya, apalagi si Ifan tuh. Segala bahas malam pertama lah, bilang kamu udah tanda-tanda hamil lah,"
"Oh si Ifan emang asik banget orangnya. Kalau sama dia tuh topik obrolan nggak akan habis, tapi sayang masih single,"
"Kamu pernah pacaran sama dia?"
"Lah kok tiba-tiha nanya kayak gitu?" tanya Elvina yang terkejut karena sang suami bertanya hal diluar dugan Elvina.
"Nggak pernah, tapi teman dia pernah suka sama aku dan dia juga sempat jodohin tapi nggak jadi karena aku nggak bisa balas perasaan temannya dia itu,"
"Oh berarti jujur soalnya Ifan juga cerita itu tadi,"
"Iyalah aku jujur. Emang aku pernah bohong sama aku? nggak pernah tau,"
"Jadi ini kita langsung pulang ya?"
Elvina menganggukkan kepalanya. Ia sudah tidak nyaman karena menstruasi disaat tidak memiliki persiapan pembalut.
"Mas, maaf ya sebelumnya. ini jok mobil kamu kayaknya bakal kotor deh,"
"Nggak apa-apa, nanti saya bersihin,"
"Maaf ya, aku juga nggak nyangka banget bakal mens disaat kita kondangan,"
"Makanya lain kali selalu bawa apa itu namanya?"
"Pembalut," sahut Elvina karena suaminya lupa salah satu perlengkapan yang wajib dimiliki perempuan karena setiap bulan paling tidak selama satu minggu butuh sekali dengan itu.
"Iya harusnya kamu bawa pembalut,"
"Aku nggak kepikiran, maaf,"
"Terus taruh juga di mobil ini jadi 'kan kalau kita pergi-pergi nggak repot nyari gituan. Kamu bisa langsung ambil di dalam mobil,"
"Okay, lain kali aku bakal begitu. Semoga ingat,"
"Waktu itu kamu masih gadis emangnya nggak ada persiapan kayak di mobil, di tas, dimana kek gitu,"
Elvina tertawa mendengar ucapan suaminya. Elvina yang tiba-tiba tertawa tentu saja membuat Argantara merasa bingung.
"Kenapa kamu ketawa?"
"Tadi kamu bilang waktu aku masih gadis nggak nyiapin kayak gituan? ya nyiapin lah, di mobil aku ada, di tas juga kadang ada kalau aku ingat masukinnya. Tapi sekarang 'kan aku lagi nggak pergi pakai mobil aku sendiri,"
__ADS_1
"Ya makanya nanti simpan juga di mobil saya ini,"
"Emang boleh?"
"Ya boleh lah daripada kamu bingung nyarinya 'kan. Terus nanti kamu bisa aja mints tolong aku untuk beliin, lah aku 'kan nggak paham kayak gituan. Aku nggak tau kamu make yang mana. Daripada kayak gitu mending ada persiapan,"
"Nggak apa-apa nih aku taruh pembalut di laci mobil kamu?"
"Nggak apa-apa, asal nggak di pintu mobil aja, kalau laci 'kan jarang dibuka,"
"Kamu pengertian banget, tapi iya juga sih. Biar nggak repot ya, sebaiknya ada persiapan di kendaraan. Tapi ngomong-ngomong nih, aku sampai sekarang masih gadis jadi nggak ada beda waktu itu sama hari ini. Tadi kamu bilang 'waktu itu kamu masih gadis--' sekarang juga aku masih kok,"
Vano langsung diam karena Elvina membahas kesalahannya dalam berucap tadi.
"Soalnya kita 'kan belum jadi sepasang suami istri seutuhnya jadi aku masih gadis perawan ting-tong, Mas,"
"Sorry saya lupa,"
"Yee soal malam pertama aja lupa,"
"Cerewet ah, bukannya mikirin itu lagi datang bulan,"
"Lah ngapain aku mikirin? ya nggak usah lah, 'kan emang udah waktunya dan udah biasa juga, Mas VanGan,"
"Elvina, kamu kalau manggil saya kayak gitu, bener-bener aku turunin sekarang ya?"
"Eh jangan-jangan!"
"Ya makanya jangan manggil saya dengan sebutan kayak gitu. udah dibilangin saya nggak suka kok kamu nggak paham-paham sih? saya bingung banget deh,"
"Ya karena aku suka manggil kamu kayak gitu. Kedengeran manis, macho, dan sopan pastinya,"
"Itu menurut kamu, aku tetap aja nggak suka sama sekali," ujar Vano yang entah sudah berapa kali protes tidak terima dengan panggilan Elvina terhadapnya.
"Kalau aku panggil Mas sayang nggak mau?"
"Itu lebih nggak mau lagi,"
Vano tertawa dan Ia mencubit lengan suaminya gemas. Vano berdecak pelan dan balas menarik pipi Elvina untuk melampiaskan kekesalannya.
"Udah aku duga sebenernya,"
"Ya udah jangan panggil aneh-aneh makanya. Aku nggak bakalan suka,"
"Mas cinta nggak mau juga?"
"Ih panggilan macam apa itu? nggak suka saya denger yang romantis-romantis karena kita emang nggak cocok untuk romantis, El. Apalagi kamu, mulutnya nggak baisa romantis,”
"Iya okay, mudah-mudahan aku bisa terus nyaman dengan panggilan ke kamu yang biasa aja ya, aku emang kadang suka pengen coba hal yang baru. Contohnya manggil kamu. Biasanya pakai nama Mas aja terus tiba-tiba suka manggil kamu dengan sebutan Mas VanGan, itu aneh ya?"
"Aneh banget, pake tanya lagi,"
Roda mobil Vano sudah tiba di depan gerbang yang langsung dibukakan oleh Pak Arif.
Setelah mesin mobil berhenti, Elvina keluar dari mobil dan Ia segera berjalan cepat ke dalam rumah karena Ia benar-benar sudah tidak nyaman. Sementara Vano membersihkan jok mobil yang hanya kotor sedikit saja.
"Gue belum pernah nih bersihin bekas duduknya cewek yang lagi haid. Baru kali ini, dan itu gara-gara Elvina. Baru perempuan itu aja yang bikin gue mau turun tangan," gumam Vano seraya tangannya bekerja membersihkan jok mobil berulang kali supaya benar-benar bersih.
Setelah itu Vano menutup pintu mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah. Ia minta dibuatkan es teh oleh Bi Rumi kemudian beranjak ke kamar.
Ia tiba di kamar, Elvina masih di kamar mandi mengganti pakaian. Vani duduk menunggu di sofa kamar, dan berutungnya Elvina tidak terlalu lama di kamar mandi.
"Jok mobil kalau belum kamu bersihin biar aku aja, Mas,"
"Udah saya bersihin kok,"
"Serius? ya ampun aku nggak enak, maaf banget ya. Sekali lagi aku minta maaf. Aku nggak enak deh sama kamu, mana nggak sopan pula. Udah lah ngotorin mobil suami, nggak bersihin sendiri juga,"
"Ya udah sih santai aja,"
"Tapi kamu nggak marah 'kan?"
"Kalau saya mau marah, udah dari tadi saya marah sama kamu," ujar Vano.
"Ikhlas 'kan tapi? nggak ngedumel dalam hati?"
"Nggak, Elvina. Cerewet banget kamu,"
Elvina terkekeh mendengar suaminya menggerutu. Vano menutup pintu kamar mandi, Ia masih terkekeh.
"Makasih ya, Mas,"
"Sama-sama," ujar Vano dari dalam kamar mandi.
"Nggak kapok 'kan kondangan sama aku, Mas?"
"Kapok,"
"Hah?"
Elvin tidak mendengar jelas jawaban suaminya itu makanya Ia kembali bertanya. Kali ini dijawab lebih tegas oleh Vano.
"Kapok aku,"
"Lho kok kapok sih?"
"Kapok aja pokoknya,"
"Gara-gara aku repotin barusan?”
"Nggak tau,”
"Terus? teman-teman aku buat kamu nyaman 'kan? atau nggak? kalau yang aku liat kamu gampang berbaur sama mereka kok, tandanya kamu ngerasa nyaman 'kan?"
"Kapok sama kamu nya. Ribet banget, segala haid lagi kondangan. Yang harusnya masih di tempat acara akhirnya jadi pergi, dan emang iya, aku nyaman ngobrol sama teman-teman kamu,"
"Iya deh maaf, aku 'kan juga nggak tau kalau bakal kejadian kayak tadi. Aku juga panik tadi, dan aku bingung harus ngapain. Aku nggak bawa pembalut, nggak pegang kunci mobil juga. Kalau aku pegang kunci mobil, aku udah masuk ke mobil dan aku tungguin sampai kamu selesai ngobrol sama teman-teman aku. Sayangnya aku nggak bawa kunci mobil jadi terpaksa aku telepon kamu dan ajakin kamu pulang cepat,"
Suara ketukan pintu membuat Elvina yang akan masih berdiri di depan pintu kamar mandi mengobrol dengan suaminya yang ada di dalam kamar mandi, langsung bergegas membukakan pintu kamar.
"Mba, ini es teh Mas Vano sama Mba El,"
"Duh Bibi tau aja aku butuh yang seger-seger abis kepanasan,"
"Ini tadi Mas Vano minta tolong buatin, Mba. Jadi sekalian saya buatin juga untuk Mba. Emang Mba kepanasan karena apa? di tempat acara nggak ada pendinginnya, Mba?"
Elvina terkekeh mendengar pertanyaan polos Bi Rumi yang tidak tahu apa kejadian yang membuatnya kesal tadi.
"Bukan itu, Bi. Aku haid dan nggak bawa pembalut jadi bawaannya uring-uringan. Kesel sama diri sendiri ada, ngerasa bersalah sama Mas Vano ada karena dia aku ajakin pulang cepat padahal dia lagi ngobrol sama teman-teman aku, dan dia juga yang bersihin jok mobil,"
"Oh Ibu haid kirain panas karena di tempat acara itu nggak ada pendinginnya,"
Bi Rumi menertawakan dirinya sendiri yang awalnya tidak paham dengan ucapan majikannya.
"Ya udah saya permisi ya, Mba. Silahkan diminum es tehnya kalau mau apa-apa tinggal panggil saya aja kayak biasa,"
"Iya, makasih banyak, Bi. Maaf udah bikin Bibi repot ya,"
"Nggak repot kok, Mba. Saya turun dulu ya, Mba,"
Elvina mengangguk seraya tersenyum. Elvina segera membawa baki dengan dua cangkir di atasnya itu ke dalam kamar.
"Mas, ini tehnya udah dibuatin sama Bi Rumi,"
"Iya taruh aja, nanti saya minum,"
"Kamu lagi ngapain sih? kok nggak kedengeran suara air,"
"Lagi babat habis kumis aku nih, udah mulai tumbuh tipis-tipis,"
Elvina langsung sedikit membulatkan matanya dan Ia tersenyum. Tanpa banyak bicara Ia mengetuk pintu kamar mandi.
"Sini aku bantuin,"
"Hah? Apaan sih? saya nggak butuh bantuan kamu, saya biasa sendiri kok,"
"Aku kepengen bantuin kamu cukur kumis janggut kamu, Mas,"
"Nggak-nggak! Saya nggak mau. Yang ada nanti luka kalau sama kamu,"
"Ya nggak bakalan, aku pastiin aman,"
"Nggak, makasih tawarannya. Saya bisa sendiri,"
Elvina berdecak pelan. Padahal Ia ingin sekali membantu suaminya membabat habis bulu halus di area atas dan bawah bibirnya. Entah mengapa Ia ingin sekali melakukannya padahal tidak ada pengalaman sama sekali.
"Mas, yakin nih nggak mau aku bantuin?"
"Nggak, makasih,"
"Coba aku liat, udah selesai?"
VANO segera membuka pintu kamar mandi memperlihatkan hasil kerja tangannya tadi. Sekarang wajahnya sudah cukup bersih tak ada bulu-bulu tipis dan pendek lagi di wajah bagian bawahnya.
"Masya Allah, suami aku ganteng banget ya"
Vano merotasikan bola matanya mendengar pujian Elvina yang menurutnya berlebihan.
"Kayak orang yang baru kenal aja. saya emang dari kandungan udah ganteng,"
"Kamu lebih ganteng kalau bersih tanpa kumis dan janggut ya,"
"Makanya aaya mau habisin,"
"Masih ada dikit tuh cambang kamu. Sini aku yang bantuin biar benar-benar bersih,”
"Nggak, saya nggak terima bantuan,"
Elvina menghembuskan napas kasar karena niatnya untuk membantu ditolak mentah-mentah oleh suaminya.
"Padahal nurutin kemauan istri itu dapat pahala lho, dan ini sederhana aku cuma pengen cobain cukur cambang kamu yang tipis itu,"
"Nggak mau, Elvina! jangan maksa bisa nggak sih?"
"Ya emang kenapa?"
"Saya takut kamu nggak bisa, terus hasilnya nggak bagus, mendingan saya sendiri aja,”
Vano menghindari musibah. Kebetulan pisau cukurnya yang aman tanpa menyebabkan luka hilang jadi sekarang Ia pakai yang manual, dan Ia takut itu mengenai kulitnya kalau dipegang oleh Elvina yang suka tidak hati-hati orangnya.
__ADS_1