
“Ah akhirnya sampai juga. Jujur punggung aku udah pegal nih pengen rebahan. Tapi harus bersih-bersih dulu deh. Abis kena pasir pantai, kena udara luar,”
Elvina bahagia sekali ketika sudah sampai di kamar. Ia segera bergegas ke kamar mandi untuk melakukan apa yang Ia ucapkan tadi. Sementara suaminya menyalakan televisi sambil duduk di tepi tempat tidur. Sepeeti biasa, yang disuka oleh Vano adalah siaran olahraga atau berita terkini.
Selera tontonan Vano memang seperti orangtua, begitu kata adiknya. Padahal menurut Vano, orang muda wajar saja menyukai siaran olahraga ataupun berita.
“Abang tuh kenapa sih suka banget nonton bola, badminton, apalagi berita. Ih, udah kayak bapak-bapak aja sih. Abang udah jadi orangtua ya?”
“Siapapun boleh suka olahraga atau berita, Dav. Kamu kenapa jadi bawa-bawa umur? Abang tiga puluh aja belum,”
Kalau sdah dijawab begitu biasanya Davina akan mendengus kesal. Menurut Davina yang masih muda, usianya dibawah Vano, sudah jarang menonton televisi, seringnya sibuk dengan handphone, menonton apa yang ada di sosial media. Kalaupun menonton televisi, paling suka drama. Karena kebiasaan Davina seperti itu jadi Davina menyamaratakan semua orang.
“Mas, boleh jangan nonton berita nggak? Kita nonton series terbaru aja yuk. Seru deh kayaknya, drama romantis komedi. Aku penasaran banget, dan pengen nonton sekarang. Boleh gantian tv nya, Mas?”
__ADS_1
Elvina sudah keluar dari kamar mandi, dan sekarang berdiri tepat di hadapan Vano, alias menghalangi Vano yang sedang sibuk mendengarkan berita terkini soal koruptor yang akan menjalani sidang.
“Lagi seru tuh padahal. Koruptor mau sidang,”
“Ya elah, Mas. Ujungnya juga dapat hukuman yang nggak sesuai sama harapan kita. Udahlah nggak usah ditonton yang kayak gitu. Bikin darah tinggi tau. Kenapa sih Mas suka banget nonton berita?”
“Ya karena menurut saya penting, menambah wawasan. Ketimbang nonton series yang jalan ceritanya itu lagi, sama seperti yang lainnya cuma dibungkus beda aja,”
Vano baru sadar kalau Elvina yang saat ini masih berdiri di hadapannya menghalangi pandangannya ke televisi, sedang mengenakan bathrobe berwarna biru mudanya. Vano meneguk salivanya pelan.
“Mas, boleh gantian ‘kan tv nya? Plis boleh lah, bikin istri bahagia itu bisa dapat pahala yang besar lho, Mas,” ujar Elvina membujuk Vano supaya mau memberikan kuasa atas televisi di kamar mereka sekarang.
“Mas, boleh ya?” Lagi-lagi Elvina bertanya pada suaminya yang hanya diam saja menatap dalam ke matanya, berusaha tidak salah fokus ke badan Elvina yang mengenakan bathrobe panjangnya sejengkal di atas lutut.
__ADS_1
Melihat Vano tiba-tiba berdiri mendekat ke arahnya, Elvina langsung gugup, meneguk salivanya susah payah dan kakinya juga berusaha untuk mundur walaupun rasanya lemas seperti jelly.
“Ini Mas Vano mau ngapain ya? Kok maju-maju begini? Apa—“
Vano langsung meraup bibir sang istri yang merah tanpa menggunakan apapun. Sejak Elvina berdiri, Vano sudah dibuat salah fokus dengan itu, ditambah lagi Elvina hanya mengenakan bathrobe.
“Mas—hmmpp,”
Vano masih sibuk dengan bibir istrinya sampai sekitar tiga menit barulah Vano melepaskan. Elvina menghirup oksigen dengan rakus. Kemudian Ia menatap Vano dnegan sorot mata kesal. Ia juga memukul pelan dada Vano.
“Kamu kenapa sih, Mas? Tiba-tiba nyium aku. Nggak jelas banget deh,”
“Lho, salahnya dimana? Yang saya cium ‘kan istri saya sendiri, bukan perempuan lain,”
__ADS_1