
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, Alhamdulillah akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga,”
Vano dan Elvina langsung mencium tangan kedua orangtua Elvina yang menyambut mereka dengan begitu hangat.
“Gimana kabarnya, Yah, Bun?” Tanya Vano pada kedua mertuanya yang benar-benar kelihatan bahagia dapat kunjungan dari anak tunggal mereka sekaligus menantu.
“Alhamdulillah sehat, kamu semdiri gimana sama Elvina?”
“Sehat juga, Alhamdulillah. Ini El ngajakin nginap di sini, sekalian aku juga mau nginap di sini. Apa boleh, Yah, Bun?”
Biar bagaimanapun Vano sebagai suami harus ada kata ‘permisi’ sebelum memutuskan untuk bermalam di rumah mertuanya.
“Ya ampun kok nanya gitu? Ya pasti boleh dong, malah itu yang kami mau, akhirnya bisa juga nginap di sini, sekama ini El nya susah ah,”
“Maaf banget baru bisa nginap sekarang ya, Bun,”
Elvina menggenggam tangan bundanya saat meminta maaf. Sebenarnya sudah beberapa kali Dini meminta Elvina menginap, dan Elvina juga ingin sekali karena sudah rindu satu atap dengan orangtuanya, Ia rindu suasana di rumah terutama kamarnya. Hanya saja baru bisa sekarang terlaksana keinginan itu.
“Pokoknya harus sering-sering ya nginap di sini, nggak usah pakai izin segala, Vano. Ini memang rumah kalian juga,”
“Makasih sebelumnya, Ayah, Bunda, udah ngizinin aku sama El ngonap di sini,”
“Sama-sama, jangan sungkan ya. Kapan aja mau datang ke sini, nginap apalagi, jangan ada rasa sungkan. Orang ini rumah kalian juga kok,” ujar Arman seraya menepuk bahu menantunya yang langsung menganggukkan kepala patuh.
“Iya, Yah,” jawab Vano.
“Eh iya, Bunda udah siapin pisang goreng, sama bolu pisang, terus minumannya ada susu jahe. Sebentar ya, Bunda ambil dulu,”
“Bunda, aku bantuin ya,”
“Nggak—“
“Aku bantuin, Bun. Masa iya udah jadi ustri orang nggak bantuin Bundanya nggak dibantu?”
“Ah bisa aja. Ya udah ayo, kamu bantu Bunda bawa-bawain ke ruang tamu,”
“Eh kita ke ngobrolnya di ruang makan aja, gimana? Kita nikmati yang ada di sana,”
“Iya begitu kebih bagus biar nggak merepotkan Bunda pindah-pindahinnya,” ujar Vano yang merasa lebih simple kalau mereka saja yang menghampiri hidangan, alih-alih hidangan yang menghampiri mereka.
“Oh ya udah kalau gitu ayo kita ke meja makan,”
Vano dan Elvina diajak ke meja makan. Di sana sudah terhidang pisang goreng, bolu pisang, dan juga sekoteng.
“Bunda kenapa repot-repot siapin ini?”
Vano sebenarnya sudah menduga kalau orangtua Slvina pasti akan merepotkan dirinya sendiri untuk menyiapkan ini dan itu padahal seharusnya tidak perlu. Kaya Elvina tadi sebslum berangkat, mereka begitu sampai rumah ayah bunda akan langsung tidur tapi ternyata berakhir di meja makan.
“Bun, senenarnya aku sama Mas Vano udah makan malam lho tapi emang nggak pernah banyak sih,”
“Nah iya makanya Bunda siapin yang nggak berat-berat banget lah ya, initinya bukan nasi karena Bunda tebak kalian udah makan di sana,”
“Tadinya sampai sini mau langsung tidur, Bun hehehe,”
“Nanti aja tidurnya ngobrol-ngobrol dulu sama Ayah Bunda,”
“Iya, gimana mau tidur orang udah diajak ke meja makan,” ujar Vano sambil terkekeh.
“Maaf ngerepotin, makasih banyak untuk semuanya,”
“Ih suamimu ini kenapa hobi bener bilang makasih sama maaf sih, El?”
Elvina terkekeh sambil menatap suaminya yang sekarang merasa tak enak sendiri. Datang disambut dengan baik, lalu disajikan makanan.
“Bunda tau aja kalau Mas Vano suka sekoteng,”
“Oh ya? Wah padahl Bunda nggak tau sama sekali lho. Tiba-tiba kelikiran bikin itu. Eh jadi juga deh. Alhamdulillah kalau Vano suka ya semoga sekoteng nya enak, takutnya nggak enak kayak yang beli di luar,”
“Ini enak banget, Bun. Sekoteng terenak sepanjang masa,”
“Halah bisa aja kamu,”
“Udah ada sekoteng, pisang goreng, bolu pisang, teh hangat. Beuh ini mah lengkap banget. Sama aja kayak makan nasi lagi ini ya, Mas?”
“Iya, rasanya nasi yang sempat dimakan tadi udah hilang,”
“Bener lagi,” ujar Elvina sambil terkekeh.
“Sengaja siapinnya yang sederhana-sederhana aja yang lebih ke tradisional. Kalau cupcake, brownies, gitu-gitu ‘kan udah biasa kita makan sehari-hari, tapi yang kayak gini lumayan jarang,”
“Iya Bunda benar, dan semua yang Bunda bikin enak,” puji Elvina.
“Bukan Bunda sendiri aja ini, dibantuin sama si Bibi. Ah sebenarnya inimah nggak ada apa-apanya,”
__ADS_1
“Nggak ada apa-apanya gimana, Bun? Orang niat gini mau nyambut aku,”
“Makasih ya udah datang ke sini. Eh ngomong-ngomong udah ngabarin Mama Papanya belum, Van?”
“Oh iya belum, Bun. Tuh ‘kan, karena udah keasikan makan akhirnya sampai lupa deh. Padahal Mama udah pesan-pesan banget ke aku,”
Vano langsung memberitahu mamanya bahwa Ia dan Elvina sudah sampai di kediaman orangtua Elvina. Setelah itu Vano simpan lagi ponselnya di saku celana joger yang Ia kenakan.
“Oh iya, Davina aman di rumah, Van? ‘Kan nggak ada kamu, nggak ada Mama Papa juga, Van,”
“Kebetulan Davina nginap di rumah sepupu nggak jauh dari rumah, Bun. Jadi Insya Allah aman. Dia mau datang ke konser bareng sama sepupu,”
“Oh gitu, mau konser ternyata,”
“Aku juga pengen deh datang ke konser,”
“Ah kamu jangan ikut-ikutan anak yang baru gede,”
“Tapi aku juga anak baru gede kok, Bun,”
“Nak, kamu udah nikah, kalau memang mau datang ke konser jangan lupa izin dulu. Kalau Vano nggak kasih izin ya jangan maksain,”
“Boleh-boleh aja asal ngomong ke saya kapan acaranya, pulang jam berpaa kira-kira, sama siapa aja, tempatnya dimana. Atau kalau perlu sama saya aja sekalian,”
“Ah cowok nggak enak diajak konser,”
“Dih kata siapa, El? Kamu belum tau aja cowok justru paling asyik kalau diajak konser,”
Arman membela menantunya yang secara tidak langsung tidak dikehendaki oleh Elvina untuk ikut konser dengan alasan laki-paki itu tidak menyenangkan kalau diajak komser. Mungkin maksud Elvina terlalu kaku, terlalu membosankan, kurang berekspresif. Supaya Slvina tidak salah duga, makanya sang ayah menjelaskan.
“Kamu nggak tau aja kalau cowok ikut konser tuh asyik lho,”
“Ya masalahnya Mas emang mau nonton konser boyband Korea?”
“Ya kenapa nggak? Saya suka-suka aja kok,”
“Hah? Seriusan? Biasanya ‘kan yang hobi ngonser boyband Korea itu ya perempuan,”
“Nggak juga, saya suka semua konser. Wakaupun misal nggak mengidolakan artisnya, saya ‘kan tetap bisa menikmati lagu-lagunya, aksi panggungnya,”
“Jawaban top, Van,”
Arman langsung memuji Vano dengan dua ibu jarinya dan Vano terkekeh. “Kenapa Ayah sampai bilang top?”
“Ya jawaban kamu bagus, itu yang Ayah tunggu. Mau konsernya si ini kek si itu kek, ya nggak masalah. Tetap bisa kita nikmati aksi panggung sama lagu-lagunya. Kita tuh datang ke konser ya nggak harus ngefans dulu sama pengiri acara di konsernya itu,”
“Belum apa-apa udah berprasangka buruk sama suami sendiri. Nggak baik begitu, Nak,”
Elvina langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan menahan tawa. Ucapannya ternyata dianggap serius.
“Bercanda kok, Bun,”
“Bercanda apa lagi cemburu ini?”
“Ih nggak, aku nggak cemburu lah. Aku bercanda, lagian ya, itu aku nggak lagi ngomongin Mas Vano. ‘Kan seringnya cowok-cowok gitu kalau udah di tempat yang banyak ceweknya, pasti matanya jelalatan, nah kalau ngonser boyband Korea itu mayoritas fans yang datang itu cewek,”
“Tapi saya nggak tertarik juga sih merhatiin fans nya, sekalian aja merhatiin artisnya. Kalau mau merhatiin perempuan, di rumah juga ada, istri saya sendiri. Ngapain merhatiin yang lain? Istri saya udah lebih dari cantik kok, saya nggak tertarik sama yang lain,”
“Nah ‘kan, ditegasin langsung,” Dini meledek anak satu-satunya itu sambil terkekeh.
“Salah tingkah tuh kayaknya,”
Tidak kalah dari istrinya, Arman juga meledek Elvina yang langsung menggaruk alisnya padahal tidak gatal.
“Nggak ah, aku nggak salah tingkah,”
“Masa sih? Anak ayah nggak bisa bohong tau,”
Elvina terkekeh pelan. Ia mengakui kalau Ia langsung salah tingkah begitu Vano menegaskan Ia tidak mau memperhatikan yang lain sekalipun nanti bila Ia ikut konser akan bertemu dengan para perempuan.
Sambil menikmati hidangan yang dipersiapkan oleh Dini, mereka berbincang hangat hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
“Kita akhiri obrolan kali ini besok lanjut lagi,”
“Mama udah kayak host aja ya,”
“Hahaha cocok Mama ya?”
“Iya cocok, kalau Mas Vano cocok jadi customer sevice,”
“Itu lagi yang dibahas, El,” gumam Vano karena jengah istrinya sudah terlalu sering mengatakan bahwa Ia mirip customer service kalau bicara.
“Selamat istirahat ya,”
“Makasih, Bun,”
__ADS_1
“Besok kita mancing, Van, kalau kamu mau,”
“Mau-mau, Yah. Pengen nyoba mancing,”
“Okay besok kita tempat mancing ya. Sekarang istirahat dulu deh. Selamat istirahat semoga nyenyak tidur kalian ya,”
“Iya makasih, Yah,”
Dini dan Arman ke kamar mereka sementara Elvina dan Vano bergegas ke kamar Elvina semasa masih belum menikah.
“Assalamualaikum,”
”Waalaikumsalam, silahkan masuk, Mas. Ini pertama kalinya Mas nginap di kamar aku ya?”
“Iya, rapi, bersih, harum,”
Begitu masuk ke dalam kamar, Vano langsung memberikan penilaian untuk kamar istrinya itu. Penilaian yang datangnya dari apa yang Ia lihat, apa yang Ia rasakan.
“Beneran emang?”
“Beneran apa?”
“Rapi, bersih, wangi, emang beneran?”
“Benar lah, saya ‘kan bisa nilai pakai mata saya, hidung saya, dan kaki saya nih yang nginjak lantai kamar kamu,”
“Bunda rajin bersihin, rajin beresin, Mas,”
“Oalah pantesan. Kalau waktu masih di sini, kayak begini juga keadaan kamar kamu?”
“Iya kurang lebih,”
“Aku masuk kamar mandi duluan ya?”
“Silahkan,”
Elvina langsung bergegas ke kamar mandi usai mengambil pouch berisi sabun badan, sikat gigi, pasta gigi, dan facial wash karena Ia ingin buang air kecil, sekaligus bersih-bersih tangan, kaki, dan wajah sebelum tidur. Sementara Vano duduk di tepi ranjang istrinya sambil matanya masih belum puas menatap tiap sisi di kamar yang dominan berwarna putih dan merah muda ini.
Vano merasa tertarik menghampiri rak bukunya Elvina. Di sana Ia menemukan cukup banyak buku, yang dominannya adalah novel juga komik.
“Ternyata dia pernah sesuka ini ya dama buku? Kok setelah nikah kayaknya daya nggak pernah liat kamu pegang buku, El. Apa saya aja yang nggak sadar ya?” Batin Vano sambil mengamati koleksi buku-buku milik sang istri.
Setelah itu Vano mengamati lemari istrinya yang rapi sekali. Benar-benar tersusun dengan baik dan begitu Ia buka pintunya, harum langsung menyebar.
“Ternyata begini kamar El waktu masih belum menikah,”
Vano sudah menutup pintu lemari, dan saat ini Ia mengamati lemari kaca yang di dalamnya berisi boneka-boneka kecil, pajangan, miniatur dan semacamnya.
“Banyak juga barangnya El,”
Setelah sempat menjelajah sebentar, sekarang Vano duduk lagi di tepi ranjang. “Nggak nyesal staycation di sini. Benar-benar nyaman, persis di rumah aja rasanya,” batin Vano.
Vano berhenti mengagumi kamar Elvina karena si pemilik kamar sudah mempersilahkan Ia untuk masuk ke kamar mandid an melakukan hal serupa seperti apa yang dilakukan Elvina barusan.
Elvina langsung mengeluarkan produk-produk perawatan wajahnya untuk Ia pakai sebelum tidur. Ketika Ia menggunakan pelembab di sajah, Vano keluar dari kamar mandi, dan langsung mendaratkan tubuhnya di atas ranjang Elvina.
“Saya duluan yang tiduran ya daripada yang punya kamar,”
“Ish jangan ngomong gitu. Ya nggak apa-apa lah Mas tidur duluan. Mas, nggak pakai skincare dulu gitu kayak aku? ‘Kan muka Mas lagi kering tuh udah aku beliin stok moisturizer nya kenapa nggak dipakai?”
“Saya mkan pake gitu-gituan kalau lagi mau aja, El. Kalau nggak mau ya nggak pakai,”
“Ya ampun, pakai dong, Mas. Jangan males rawat muka,”
“Ah yang penting udah cuci muka,”
“Pakai sabun nggak?”
“Pakai lah, nggak ketinggalan,”
“Yeayy pinter banget, Masku ya. Kirain cuma cuci muka pakai air. Eh tapi kalau nggak pintar ya nggak bakal jadi dosen ya? Duh, oneng dasar!”
Elvina menepuk pelan keningnya. Ia memuji suaminya dengan kata-kata pintar. Ya jelas saja Vano pintar, buktinya menjadi pengajar.
“Skuncare kamu nggak banyak ya keliatannya? Kenapa kalau saya nggak sengaja liat di sosial media ya, skincare dan make up nya perempuan tuh banyak banget jenisnya, saya bingung itu bisa dihafalin semua?”
“Hahaha Kas aneh deh pertanyaannya,”
“Saya bingung aja gitu. Kok banyak banget yang mesti dipakai. Tapi kamu nggak gitu ya? Saya liatnya nggak banyak-banyak produk,”
“Jujur aku juga nggak paham-paham banget soal skincare. Dan emang aku pakenya yang sesuai sama kebutuhan kulit aku aja, Mas,”
“Ya memang baiknya begitu, apapun yang berlebihan nggak baik. Lagipula wajah kamu udah csntik kayak gitu kok,”
“Tapi perlu dirawat ‘kan, Mas. Itu tandanya kita bersyukur sama pemberian Allah, dan aku menghargai kamu sebagai suami jadi harus dirawat lah,”
__ADS_1
“Kalau dulu sebelum nikah merawat diri untuk siap?”
“Ya untuk diri sendiri. Setelah nikah selain untuk diri aku sendiri, untuk Mas juga lah,”