Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 47


__ADS_3

“Kak, cocok mana di bibir aku?”


Elvina mengamati Davina yang sudah mencoret sedikit tangannya dengan dua lip tint yang berbeda warna.


Elvina diminta penilaian, karena Davina paking bingung bila harus memilih. Beruntung kakak iparnya itu bisa diandalkan makanya Ia mengajak Elvina pergi alih-alih mengajak kakaknya sendiri.


“Cocok semuanya sih pasti,”


“Hah? Jangan bikin aku boncos, Kak. Yang benar aja masa cocok semuanya? Menurut kakak yang paling cocok yang mana?”


Davina sudah beli masker wajah, toner, dans erun. Uangnya masih ada tapi kalau sampai beli lip tint dua buah rasanya sayang sekali. Tapi jujur terbuai untuk membeli dua-duanya karena penilaian Elvina itu.


“Ya udah aku beliin aja,”


“Nggak ah, aku mau beli sendiri aja, Kak,”


Elvina mengambil dua buah lip tint itu dari tangan Davina lalu berjalan ke kasir. “Kakak jangan! Aku aja, plis aku aja yang bayar, ini belanjaan aku tau,”


“Ya ‘kan dari tadi kamu udah bayar sendiri belanjaan kamu nah sekarang aku traktir,”


“Nggak-nggak,”


Davina tidak enak kalau kakak iparnya itu terlalu sering membelikan sesuatu untuknya. Ia buru-buru mengambil dua buah lip tint dari tangan Elvina.


“Menurut kakak bagus yang mana? Yang warna peach ini kali ya? Kayaknya iya deh, okay aku ambil ini aja,” ujar Elvina yang akhirnya mengambil keputusan untuk mengambil salah satu saja dan menurutnya yang paling cocok di bibirnya adalah lip tint dengan warna peach.

__ADS_1


“Kakak setuju ‘kan?”


“Iya lebih bagus yang peach,”


“Nah ya udah aku beli yang ini,”


Davina langsung bergegas ke kasir. Ia tidak mau kalau sampai Elvina punya niat untuk membayarkan lip tint pilihannya itu.


Setelah belanja produk make up, dan skin care, tadi sudah sempat ke salon juga dan mereka potong rambut, sekarang mereka sepakat untuk makan.


“Makan apa yang enak, Kak?”


“Ramen ya?”


“Okay aku setuju, udah lama nggak makan ramen jadi kangen,”


Ajakan Elvina itu ditanggapi serius oleh Davina yang selalu antusias kalau soal liburan. “Ayo, Kak. Aku pengen ke Jepang. Baru sekali doang, itupun waktu masih kecil,”


“Aku kalau ke Jepang belum pernah malah,”


“Kenaoa nggak bulan madu ke sana aja sih kemarin? Kenapa cuma ke Bali?”


Elvina tertawa, menurutnya terlalu jauh kalau bulan madu ke Jepang. Ke Bali saja, Ia yakin Vano menghabiskan uang yang tidak sedikit karena mulai dari transportasi sampai makan benar-benar niat dipersiapkan yang paling maksimal.


“Lain kali aja,”

__ADS_1


“Ke Jepang juga harusnya, Kak. Jadi pergi ke dalam negeri dan luar negeri, lengkap deh,”


“Iya uangnya sayang,”


“Lah orang Abang banyak uang. Lagian dia pasti nggak keberatan, Kak,”


“Nanti lain kali aja, Dav,”


“Kalau aku jadi kakak sih aku pengen ke Bali dan ke Jepang juga ya. Biar perginya nggak dalam Indonesia aja tapi luar Indonesia juga,”


“Jauh banget mau bulan madu aja,”


“Lho, ya nggak apa-apa, Kak. Mungkin lebih berkesan gitu lho. Biasanya kalau pergi ke tempat jauh sama pasangan rasanya lebih dekat, lebih akrab, Kak. Ada rasa saling ingin menjaga yang benar-benar kuat,”


“Tau-tau aja kamu ya hahaha. Aku kayaknya mesti belajar dari kamu nih,”


“Aku ‘kan sering dengar kata orang begitu, Kak. Aku sih belum punya pasangan ya,”


“Ah masa sih? Cerita aja kalau udah ada yang lirik-lirik,”


“Kakak!”


“Hahahah,”


Elvina senang sekali bisa mempunyai adik setelah Ia menikah dengan Vano. Yang hiasanya hidup sendiri, sekarang dihadirkan sosok adik yang menyenangkan. Davina sendiri juga senang sekali bisa memiliki Elvina sebagai seorang kakak. Usia mereka yang tak jauh berbeda membuat mereka saling melengkapi satu sama lain, dan tak jarang Ia menjadikan Elvina sebagai teman curhatnya dalam segala hal.

__ADS_1


“Aku nggak lagi dekat sama siapa-siapa, kalau ada juga pasti aku cerita sama kakak,”


__ADS_2