Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 6


__ADS_3

“Eh iya tadi aku sempat foto bareng sama mereka, Ma,”


“Oh ya? Coba Mama mau liat dong fotonya, Mama penasaran,”


“Nih aku kasih unjuk ke Mama ya,”


Vano langsung mengeluarkan ponselnya dari saku dan memberitahu hasil fotonya bersama Elvina dan kedua orangtuanya yang sudah tersimpan di galeri ponselnya.


Tidak hanya Lisa yang penasaran, tapi Davina juga sama penasarannya. Ia ingin tahu bagaimana rupa dari perempuan yang berhasil memikat hati abangnya.


Beberapa saat Lisa menatap fokus ke layar ponsel anaknya yang sedang menampilkan foto itu. Ia seperti tidak asing dengan kedua orangtua Elvina. Matanya mengerjap kemudian mendekatkan layar ponselnya dengan mata.


“Bang, ini kayak sahabatnya Papa Mama zaman SMA deh. Udah lama nggak kontakan lagi emang,”


“Hah? Mama serius?”


“Iya, kok mirip sama mereka ya? Siapa nama orangtua Elvina kalau Mama boleh tau?”


“Tante Dini sama Om Arman, Ma,”


“Ya Allah, iya beneran itu sahabat Mama Papa pas masih SMA. Ya Allah kok dunia sempit banget ya?”


Vano dan Davina membelalakkan mata mereka masing-masing mendengar ucapan Lisa. Kebetulan yang unik. Vano memiliki perasaan untuk Davina yang ternyata orangtuanya kenal dengan orangtua Vano, bahkan kata Mama Vano mereka bersahabat.


“Ih Mama mau ketemu sama mereka, udah kangen banget. Setelah lulus SMA emang nggak pernah kontakan lagi, dulu ‘kan masih belum zaman handphone ya. Ya ampun nggak nyangka banget,”


“Ma, beneran?” Tanya Vano yang masih ragu. Ia tidak yakin karena kalau memang benar kenyataannya seperti itu, kenapa dunia bisa terasa sangat sempit? Vano yang niatnya ingin menunjukkan foto orangtua Elvina ke mamanya malah diberikan kenyataan bahwa ternyata mereka bersahabat.


“Masa Mama bohong sih, Bang? Mama beneran, coba deh nanti tanyain ke mereka,”


“Kira-kira Elvina tau nggak soal itu?” Tanya Davina menatap abangnya.


“Pasti nggak taulah, Dek. Orang abang aja baru tau sekarang. Davina ‘kan belum pernah ketemu mama papa, ngeliat aja belum pernah. Apalagi orangtuanya. Mereka pasti kaget banget deh,”


“Iya Mama kaget banget. Wah Papa harus tau, kalau anaknya yang sulung naksir sama anaknya Arman, bestie dia waktu masih sekolah,”


“Jadi maksud Mama, Mama Papa sama orangtuanya Elvina itu sahabatan? Beremat sahabatan?”


“Iya, jadi Mama itu awalnya sahabatan sama mamanya Elvina aja, kami duduk sebangku terus tuh tiga tahun. Terus Papa sahabatan sama Om Arman. Nah kita dekat gitu ‘kan, pernah makan berempat tuh pulang sekolah, makan bakso di dekat sekolah, jadi ceritanya kayak double date gitu lah,”


“Bisa sama-sama berakhir ke jenjang pernikahan gitu ya, duh enak banget. Pacaran dari zaman sekolah terus sampai nikah,”


“Udah punya pacar satu sekolah? Awas aja ya,”

__ADS_1


“Ih Abang apaan sih pertanyaan nya nggak jelas deh,”


“Lho kok nggak jelas, Abang ‘kan cuma nanya, Dek. Jadi apa jawaban kamu, Dek?”


Davin melirik abangnya dengan tajam. Tidak tahukah Vano, kalau sekarang Davina sedang cemas abangnya tahu kalau Ia sedang dekat dengan seseorang.


“Jangan dulu deh pacaran, sekolah yang benar dulu,”


“Ketemu anang dulu coba kalau dia tetap mau macarin kamu. Abang mau nilai dulu orangnya,”


Lisa tertawa melihat kerekatan hubungan di antara kedua anaknya. Berusaha melindungi satu sama lain. Yang adiknya bisa posesif kepada abangnya. Dan abangnya pun seperti itu.


****


“Pak, saya minta tolong, jangan samperin saya pas di kampus ya. Soalnya saya takut teman-teman saya salah paham. Nanti mereka kira saya punya hubungan gelap sama Bapak,”


Elvina merasa terganggu ketika Vano sudah sampai di depannya. Vano tiba-tiba memanggilnya yang sedang berjalan di area parkir kampus.


Elvina takut teman-temannya melihat dan menimbulkan kesalahpahaman dan Elvina menghindari itu. Selama ini hidupnya Elvina lurus-lurus saja, tak mau membuat perkara, mencari perhatian dengan cara yang tidak baik.


“Lho, emang kenapa? Saya ‘kan cuma mau ngajak kamu ngobrol aja, nggak ngelakuin apapun,”


“Tapi mereka bisa salah paham, Pak. Saya takutnya mereka ngira saya punya hubungan gelap sama bapak,”


Elvina menghembuskan napas kasar. Vano ini tidak tahu ya kalau Ia tidak mau dikira ini itu oleh siapapun. Dengan Vano mengejarnya yang akan menghampiri motornya, mahasiswa lain bisa mengira hal yang tidak-tidak.


“Ya udah bapak mau ngomong apa emang?”


“Jalan sama saya yuk,”


“Jalan? Jalan kemana maksudnya, Pak?”


“Jalan—ya jalan kemana aja terserah kamu,” ujar Vano. Sebenarnya Vano hanya ingin menghabiskan waktu bersama Elvina. Mau kemana saja, terserah Elvina. Ia serahkan keputusannya kepada Elvina.


“Saya nggak mau,”


“Kenapa?”


“Saya nggak mau aja kalau jalan berdua,”


“Karena masih cinta sama laki-laki lain, Elvina kayaknya masih nutup diri banget. Sikapnya dingin, ya walaupun baik,” batin Vano seraya menatap Elvina dengan tatapan dalam.


“Maaf sebelumnya, tapi saya takut ada yang salah paham aja,”

__ADS_1


“Kamu sendiri yang bilang kalau saya boleh mengenal kamu sama keluarga kamu lebih dekat, saya rasa salah satu caranya kayak begini,”


Elvina diam, nampaknya Ia sudah membuat Vano kecewa. Ia menolak, jadi Vano terlihat kecewa karena penolakannya itu.


“Kalau sama adik saya gimana? Kamu nggak mau juga ya? Adik saya mau kenal kamu, El,”


“Adiknya Bapak emang dimana sekarang?”


“Di sekolah, kita jemput dia di sekolahnya terus kita langsung jalan bertiga. Gimana menurut kamu?”


Kalau dipikir-pikir, apa salahnya Ia menambah teman? Vano itu orang yang baik. Dan Elvina penasaran dengan sosok adiknya Vano. Mungkin mereka bisa menjadi teman nantinya. Elvina senang bertemu dengan orang baru, menambah kenalan apalagi kalau bisa berteman.


“Ya udah ayo kalau gitu,”


“Motor kamu gimana tapi ya? Saya yang urus, nanti kamu tinggal terima di rumah nggak apa-apa ‘kan? Kamu percaya sama saya ‘kan?”


“Jangan, nanti abis jalan, tolong antar saya ke sini aja lagi, Pak. Biar saya pulang bawa motor saya,”


“Ya udah gampang. Sekarang kita ke sekolah adik saya ya?”


“Tapi, saya takut kalau ada yang loat saya masuk mobil bapak, gimana kalau kita ketemu nya di halte aja?”


“Lho, kok—“


“Saya takutnya diliat mahasiswa lain, Pak,”


“Kamu kenapa terlalu khawatir sama reaksi orang lain sih? Ya terserah mereka mau menanggapi gimana. Jangan diambil pusing, El,”


“Kalau bapak mau jalan sama saya, saya maunya begitu, Pak, kita ketemu di halte,”


Vano menganggukkan kepalanya pasrah. Daripada Elvina berubah pikiran tidak jadi pergi dengannya dan Davina, lebih baik Ia turuti saja permintaan Elvina.


“Tapi saya nggak tega kamu harus jalan kaki ke halte, El,”


“Nggak masalah, saya senang jalan kaki kok, Pak,”


“Kamu serius nggak apa-apa?”


“Iya nggak masalah,”


“Lagian mahasiswa lain belum tentu merhatiin kita,”


“Kata siapa? Mereka ‘kan punya mata, Pak,”

__ADS_1


“Ya udah kalau gitu. Anggap aja kita lagi backstreet ya,”


__ADS_2