Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 95


__ADS_3

"Kalau nanti perhatiannya udah hilang, baru terasa lho, Bu. Jadi selagi ada, jangan disia-siakan,"


"Kamu ngomong apa sih? Vano itu nggak sopan, kurang ajar pergi dari rumah. Padahal dia sendiri nggak terima kalau aku bawa masalah aku keluar rumah,"


"Ya mungkin Pak Vano udah terlalu lelah, Bu. Jadi beliau begitu,"


"Lelah? apanya yang lelah? Harusnya aku yang lelah. Hidup dengan orang yang nggak cintai itu melelahkan tau nggak?"


Amih benar-benar sudah kenyang menelan semua masalah yang didapati telinganya baik dengan cara mendengar langsung perdebatan antara Vano dengan Elvina ataupun Elvina yang kelepasan curhat. Seperti tadi, Elvina dengan terang-terangan mengakui bahwa Ia tidak mencintai suaminya sendiri, yang selama ini begitu mencintainya bisa dilihat dari segala perilaku baik yang Vano berikan kepada Elvina.


*****


"Lo masih cek dia lewat ART di rumah?"


Vano mengangguk kemudian tertawa. Ia benar-benar sudah gila karena Elvina. Bahkan disaat ada masalah pun, Ia tidak lepas mencari tahu kabar perempuan itu. Dan ya, Ajun kini menertawakannya.


"Kalau begitu, balik aja, Van,"


"Nggak, gue malas balik ke rumah terus cekcok lagi sama dia,"


"Ya terus kenapa lo masih penasaran soal dia? Sampai lewat jalur ART?"


"Karena gue harus tau apapun tentang istri gue, Jun. Gue harus tau kabar dia. Gue enggak bisa lihat dia secara langsung soalnya, jadi yang bisa gue lakuin adalah tanya ke Amih sesekali,"


"Lo itu udah benar-benar bucin banget kayaknya. Cepat sadar deh, karena kalau udah bucin banget terus disakiti, bisa gila lo, Ken,"

__ADS_1


"Ya kenapa bucin sama istri sendiri?"


"Lo jadi beloon tau enggak? Lo menomor duakan perasaan lo sendiri. Paham?"


"Apa bedanya sama lo, njir? Lo sama Sarah akhirnya baik-baik aja meskipun Sarah enggak bisa cinta sama lo,"


"Udah gue bilang, kalau punya anak, semua harus dipikirkan dengan matang. Kasihan Kila kalau gue sama Sarah egois. Gue memang sakit hati setelah tau Sarah nggak cinta sama gue. Tapi mau gimana? Memang udah nasib gue nikah tapi nggak dicintai,"


"Sarah nikah sama gue karena mau move on dari mantan. Dia yakin bisa cinta sama gue, tapi nyatanya enggak,"


"Rumit amat ya. Sama lah kayak gue,"


"Sekarang gini, lo 'kan bilang mau terbiasa hidup tanpa Elvina ya? Nah, gimana mau terbiasa kalau lo aja masih enggak berhenti mikirin dia? Yakin, dia bakal baik-baik aja, jadi lo enggak usah cari tau soal dia dulu. Biar dia benar-benar merasa kehilangan,"


"Gila nih orang,"


Ajun ingin menjambak rambut Vano rasanya tapi tidak mungkin Ia lakukan sebab Vano ini temannya dan selalu ada di setiap gundah gulana yang Ia alami akibat permasalahan cinta juga.


"Ayo gue ajakin ke bar deh, masih siang nih,"


"Nggak ah, ntar gue menggila kalau di sana, ribet urusannya,"


"Kenapa? Santai aja kali, oh atau lo mau ke Bandung bentar sama gue? Chill lah kita. Kebetulan nih ya, Sarah sama Kila lagi staycation berdua," ujar Ajun yang kali ini hanya sendirian karena anak dan istrinya pergi tanpa dirinya


"Bandung? Boleh juga. Kapan?"

__ADS_1


"Sekarang ayo lah, udah kelar kerjaan gue. Lo gimana? Jangan ninggalin kewajiban,"


"Ayo lah,"


Vano langsung antusias ketika diajak ke Bandung. Barangkali di sana Ia bisa menenangkan pikiran.


"Sekalian gue juga mau ketemuan sama teman lama gue,"


"Abis itu balik lagi ke Jakarta?"


"Ya terserah lo. Kalau gue sih langsung balik, kalau lo mau stay enggak apa-apa,"


"Lihat nanti deh,"


Vano dan Ajun akhirnya bergegas ke Bandung di waktu menjelang sore ini. Vano akan melepas penat di sana.


"Coba aja Elvina ikut,"


"Ya elah, ini orang kenapa pikirannya Elvina muluk sih?"


"Biasanya gue kalau ke mana-mana tuh berdua,"


"Ya sekarang enggak dulu. Biar lo tenangin pikiran dulu, Vano. Dan Elvina juga begitu,"


******

__ADS_1


__ADS_2