
“Ya tapi kalau mau cium bilang-bilang dong, Mas. Aku ‘kak kaget tiba-tiba kamu ngedeketin aku terus langsung nyosor aja,”
Vano tertawa sebentar mendengar Elvina menggerutu setelah itu tawanya berhenti melihat Elvina mengusap bibirnya sendiri. “Kamu jijik sama saya ya?” Tanya Vano pada Elvina.
“Nggak, siapa bilang?”
“Ya itu buktinya kamu hapus bekas ciuman saya,”
“Basah kemana-mana, Mas,”
“Ya udah cuci aja sekalian gih,”
Elvina mendengus kesal. Ciuman suaminya tidak menjijikan. Vano juga punya hak hanya saja Ia kaget. Ditambah lagi ciuman Vano barusan membuat bibir dan sekitarnya menjadi sedikit basah makanya Elvina hapus.
“Mas mau kemana?”
“Bersih-bersih, kamummau ikut sama saya ke kamar mandi? Ayo, saya nggak keberatan. Jadi kamu mandi lagi,”
“Jangan lah, Mas. Aku mau istirahat,”
“Yakin? Nggak mau sama saya bersih-bersih di kamar mandi?”
__ADS_1
Elvina berdecak pelan melihat aksi tatapan usil Vano. “Udah sana masuk kamar mandi, Mas,”
“Iya okay, kalau kamu nggak mau berarti saya aja yang bersih-bersih ya,”
“Lah ‘kan aku udah,” ujar Elvina dengan ketus. Ia bukan tidak mau ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Tapi kebetulan Ia sudah melakukan itu.
Elvina segera mengganti mengganti chanel televisi. Ia tidak tertarik menyaksikan berita, apalagi berita tentang koruptor.
“Mas Vano aneh deh. Koruptor kok ditonton. Nggak penting banget. Dia aja nggak mentingin rakyat,” gumam Elvina. Sebelum menikmati tontonannya, Elvina menanggalkan bathrobe dan mengenakan baju dulu. Setelah itu barulah Ia naik ke atas ranjang.
“Enaknya tidur-tiduran sambil nonton. Berasa masih sendiri lagi nih aku yang kerjaannya kalau di kamar suka rebahan sambil nonton,”
Disaat Ia menikmati tontonan, tiba-tiba ada yang memghubungi dirinya. Dan begitu Ia lihat ponselnya ternyata Davina, adik iparnya.
“Hai, Kak El. Lagi ngapain?”
“Lagi nonton nih,”
“Hah? Nonton? Nggak kemana-mana? Ya ampun, kalau cuma mau nonton kenapa nggak di rumah aja sih, Kak? Aku kangen lho, pengen kita jalan-jalan berdua sebagai kakak adik ipar, ‘kan belum pernah tuh ya?”
“Aku baru aja nonton nihc Dav. Tadi biasa lah ke pantai aja. Terus balik ke penginapan dan rebahan sambil nonton deh,”
__ADS_1
“Abang mana? Kenapa dia nggak keliatan, Kak?” Tanya Davina dengan sorot mata penasaran.
“Lagi di kamar mandi,”
“Oh, ngapain?”
“Ya bersih-bersih, ‘kan abis dari luar,”
“Aku pikir tidur dia di kamar mandi,”
Elvina tertawa mendengar ucapan adik iparnya itu. Kalau Vano dengar pasti Vano akan kesal. Walaupun mereka berjauhan tapi tetap saja Davina menyebalkan.
“Ya udah kalau gitu aku tutup dulu deh teleponnya. Selamat senang-senang, jangan lupa tuh oleh-oleh orangtua Kakak sama Abang, masih ingat ‘kan? Apa perlu aku ingetin lagi?”
“Ya ampun, Dav. Jangan mulai deh,”
Davina tertawa keras mendengar jawaban Elvina yang langsung paham dengan kata-katanya.
“Aku ingetin aja deh ya, takutnya Kamu sama Abang udah lupa. Orangtua kalian minta oleh-oleh, dan itu dedek bayi hahahahah. Okay deh bye, nanti sambung lagi ya,”
Sambungan telepon mereka berakhir. Elvina geleng-geleng kepala sambil meletakkan ponselnya di atas nakas.
__ADS_1
“Aku aja masih kuliah, gimana ceritanya mau punya anak? Gimana sama pendidikan aku? Lagian kayaknya Mas Vano juga enjoy aja belum punya anak, mungkin dia ngerti kalau aku masih harus kuliah. Tapi nanti aku omongin deh sama dia supaya lebih jelas,”