Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 78


__ADS_3

"Siapin obatnya, Van,"


"Obat apa?"


Lisa berdecak pelan. Ia melotot pada Vano yang bertanya polos dengan tangan memegang baki berisi sepiring makanan dan juga teh hangat.


"Obat untuk istri kamu lah, El ‘kan lagi sakit,"


Sudah tahu istrinya yang sakit, tapi masih bertanya obat untuk siapa. Lisa heran anaknya bertanya seperti itu.


"Oh obat pusing ada di kamar,"


"Iya, jangan lupa dikasih ya,"


"Ya, Bunda. Siap laksanakan,"


Lisa yang menyiapkan makan malam Elvina karena Vano benar-benar tidak becus.


Masa Elvina hanya diberikan sayur bayam, tidak pakai ayam balado dan juga tahu bacem yang menjadi lauk makan malam tadi.


Bukannya mau sembuh, yang ada malah kurang gizi, kasihan sekali nasib menantunya. Jangan sampai Dini dan Arman tahu kelakuan menantu mereka.


"Udah sana antar makanannya. Kamu mau buat istri kamu kelaparan? tadi cuma mau dikasi sayur bayam aja. Benar-benar kamu, Van,"


Vano terkekeh geli ketika diingatkan dengan kebodohannya tadi. Yang menganggap akan lebih baik Elvina tidak makan apapun dulu, takut Ia radang juga. Tapi kata mamanya kalaupun memang radang, nanti Elvina memilih sendiri makanan yang sesuai dengan keinginannya, yang terpenting diberikan dulu semua lauk yang ada.


"Pelit kamu sama istri sendiri,"


"Enggak pelit, Ma,"


"Udah sana bawa makanannya ke El,"

__ADS_1


Lisa geregetan sendiri dengan anaknya yang malah cengengesan disaat Elvina mungkin sudah merasa lapar tapi Ia enggan keluar kamar.


Vano sudah seperti seorang pelayan saja. Membawa baki berisi sajian makan dan minum. Tapi ini untuk istrinya, bukan pelanggannya.


Vano yang menduga Elvina masih terlelap cukup terkejut saat mendapati istrinya ternyata sudah bangun dan kini tengah bergelut dengan ponselnya.


"Kok bangun? Saya pikir masih tidur. Sekarang makan dulu. Ini udah disiapin sama Mama,"


Elvina melepas ponselnya. Dan langsung bersikap menghargai dengan menerima baki dari tangan suaminya.


"Terimakasih, Mas,"


"Nama yang masak sama Bibi yang siapin ini untuk kamu,"


"Terimakasih juga Mama,"


"Mama nya enggak ada di sini,"


"Ya nanti aku bilang langsung juga," katanya.


Vano menggerakkan dagunya ke arah makanan menyuruh Elvina makan dengan segera.


Lelaki itu kemudian mencari kotak obat. Tapi memang dasarnya ia tidak bisa diandalkan untuk hafal tempat ini dan itu, maka sekarang bingung sekali menemukannya.


"Mas cari apa?"


"Kotak obat dimana?"


"Buat apa? Mas sakit?"


"Cari obat pusing,"

__ADS_1


Elvina yang tengah menyendokkan makanan ke dalam mulut langsung berhenti dan menatap suaminya dengan cemas.


"Mas pusing?"


"Buat kamu, bukan saya, Elvina," dengan geram Vano menjawab. Tidak bisakah Elvina langsung menjawab tidak perlu banyak tanya.


"Nanti aku ambil sendiri, Mas,"


"Memang dimana tempatnya?"


"Biar aku aja,"


"Kenapa kalau saya yang ambil buat kamu? Kamu nggak mau saya perhatiin? hm? Atau marah sama saya?”


Elvina mengerang kesal dalam hati. Ia jadi ingat lagi dengan omelannya Vano tentang Rendra.


“Kamu tuh harusnya bisa jaga lebih tau diri lah. Kamu istri saya ngapain masih dekat sama yang lain?”


Padahal Elvina dan Rendra sebatas teman saja sekarang, tapi Vano sudah dikuasai dengan rasa cemburu, tapi seharusnya Vano tidak usah bicara seperti itu.


"Enggak, aku enggak marah,"


"Kamu marah, terus kamu enggak mampu buat meluapkan akhirnya nangis pas tidur,"


Ujar Vano dengan wajahnya yang datar menatap Elvina yang terpaku.


Mulutnya yang mengunyah perlahan memelan. Memang benar Ia menangis dalam tidur? kapan juga Vano melihatnya?


"Hei kok malah ngelamun? habiskan makannya biar minum obat,"


Elvina mengangguk dan kembali melahap. Vano masih berdiri ditengah kamar menatap setiap sisi kamar barangkali matanya menemukan apa yang ia cari.

__ADS_1


__ADS_2