Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 126


__ADS_3

“Ya Allah, Elvina nih suka macam-macam aja, kenapa hobi bikin aku khawatir sih, El?”


Agatha menepuk-nepuk pelan pipi Elvina yang mabuk. Elvina mabuk berat. Agatha takut Elvina mantan kekasih suaminya tidak sadar-sadar.


“Kak Elvina, hei,”


Rendra melirik kaca di depannya mengamati Elvina yang tengah berusaha menyadarkan Elvina. Dalam hati Ia menggerutu. Elvina sudah membuat Agatha tidak keruan sekarang. Kasihan istrinya itu, kelihatan cemas sekali. Ya wajar saja, orang yang sudah Ia anggap sebagai kakak tengah mabuk berat begitu.


“Jadi ini mau dibawa kemana, Sayang?”


“Ke rumahnya aja lah, Mas, biar suaminya tau, kok bisa sih Vano biarin Kak El ke bar sendirian,”


“Mungkin berantem lagi atau memang Elvina enggak mau diatur,”


“Aku enggak habis pikir sama Kak El. Kenapa sih selalu aja enggak bisa selesaikan masalah dengan baik? Padahal udah dewasa,”


Agatha mengguncang lengan Elvina yang tadinya pelan mulai kasar dan Elvina hanya melenguh.


“Ih gimana caranya supaya kamu sadar, Kak?!”


“Nanti, Sayang. Itu pengaruh alkohol nya masih besar banget,”


“Terus gimana, Mas?”


“Ya nanti terserah Vank lah mau diapain supaya Elvina cepet bangun,”


Wacana jalan-jalan malam yang diinginkan Agatha tidak jadi terlaksana karena mereka harus mengantarkan Elvina ke rumahnya.


“Tolong bawa kakak masuk boleh enggak, Mas?”


“Aku yang bawa ke dalam?”


“Iya kalau enggak keberatan,”


Rendra menganggukkan kepala. Ia pernah ada di situasi seperti ini. Ia mengantarkan Elvina yang sudah mabuk untuk pulang ke rumahnya.


Ia bahkan mengantarkan Elvina hingga benar-benar masuk ke dalam rumah tapi waktu itu Vano malah salah paham mengira bahwa Ia dan Elvina pergi bersama.


Rendra menggendong Elvina keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah dimana pintunya sudah diketuk oleh Agatha dan tak lama langsung dibuka oleh Vano.


“Eh kok—kok Elvina bisa—“


“Ada yang telepon aku ngasih tau kalau kakak mabuk,”


“Kok bisa?”


“Ya mana aku tau. Kamu aja yang suaminya enggak tau apalagi aku,”


Rendra menempatkan Elvina di sofa ruang tamu dan Vano langsung menepuk-nepuk lembut wajah Elvina.


“Lo enggak tau kalau istri lo keluyuran malam-malam?”


“Gue baru aja pulang dari acara teman gue. Tadi sebelum gue pergi, dia ada di rumah, pas gue pulang Amih bilang dia belum pulang,”


“Ya udah lo urus deh istri lo. Kayaknya kalian ada masalah lagi ya?”


Vano menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Rendra. Ia merasa tidak punya masalah apapun dengan Elvina sebelum Ia pergi. Seingatnya mereka baik-baik saja, tanpa ada masalah.


“Thanks ya,” ujar Vano dengan tulus pada Rendra dan Agatha.


“Lo enggak salah paham lagi ke gue ‘kan?”


Vano tertawa dan menepuk bahu Rendra dengan hati tidak enak karena sindiran Rendra yang mencoba mengungkit kejadian waktu itu.


“Enggak, niat lo baik, lo mau nolongin istri gue. Dan sekarang ‘kan juga ada Agatha, bukan lo sendiri,”


“Gue sendiri pun nolongin dia niatnya bener-bener mau nolongin bukan yang lain. Jadi kalau lo berpikir gue sama dia habis jalan terus gue buat dia mabuk, lo salah besar,”


“Sorry, lo jangan ngungkit dong, jadi enggak enak nih gue,”


“Gue sama Agatha balik. Kalau ada masalah selesaikan dengan baik-baik,”


“Enggak usah ngomong, Ren. Gue selalu berusaha untuk selesaikan masalah dengan cara baik dan dewasa cuma kadang Elvina tuh enggak bisa diajak kompromi,”


“Belakangan ini dia kayak lagi cemburuan sama gue, dia nuduh gue selingkuh padahal enggak sama sekali. Terus supaya meyakinkan gue kalau dia tuh mau belajar mencintai gue, dia bakar barang-barang dari lo di masa lalu, saat itu gue bener-bener kaget tapi gue senang,”


Rendraw dan Agatha membelalakkan mata mereka mendengar cerita Vano. Mereka tidak menyangka kalau Elvina melakukan itu.


“Padahal gue enggak minta lagi untuk musnahin apapun soal kalian di masa lalu, tapi dia malah ngelakuin itu,”


“Van, jujur, aku juga enggak minta Mas Rendra buang-buangin semua yang dia punya di masa lalu dia. Semuanya dikumpulkan dalam satu kotak terus disimpan tapi enggak pernah dibuka-buka lagi. Bagi aku yang penting Mas Rendra udha benar-benar fokus sama aku,”


“Gue juga enggak mau lagi masalahin soal barang-barang dia dari Rebdra, Tha. Karena gue pikir untuk apa? Asal dia cinta sama gue, itu semua nggak penting, tapi dia malah bakar,”


“Hadeh, udah deh, rumit banget masalah lo berdua. Gue enggak mau ya disangkut pautin. Perlu lo tau, gue sama sekali enggak nyuruh Elvina untuk simpan barang-barang itu setelah kita enggak ada hubungan apa-apa lagi. Tapi kalau gue pribadi memang masih simpan karena Agatha juga yang nyuruh. Gue simpan dan udah enggak gue tengok-tengok lagi. Kata dia sayang kalau dibuang karena biar gimanapun itu beli pakai uang padahal awalnya mau gue buang waktu gue udah bener-bener lupain masa lalu gue dan mau fokus sama dia,”


“Gue mau balik, ini sudah malam dan Agatha lagi hamil,”


“Okay, sekali lagi thanks ya udah bawa Elvina ke sini,”


“Iya, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Vano langsung fokus pada istrinya yang kini tengah bergumam tidak jelas tapi membawa-bawa namanya.


“Kamu selingkuh, Van! Aku liat sendiri,” katanya yang membuat Vano bingung.


Vano sempat bingung tak tahu harus apa, tapi Ia tentu tidak bisa diam saja. Ia harus membuat Elvina sadar secepat mungkin.


Ia mengambil air putih di dapur kemudian Ia dibawa ke ruang tamu dan langsung Ia berikan pada Elvina.


“Na, ayo minum dulu yang banyak,”


“Apaan sih!”


Elvina dengan mata terpejam mendorong gelas di tangan Vano tapi beruntungnya tidak jatuh ke lantai alias pecah. Hanya tumpah saja di sofa. Vano menarik napas panjang. Ia berusaha untuk sabar menghadapi istrinya ini. Jangan sampai Ia terbawa emosi. Namanya juga orang sedang mabuk pasti tingkahnya begini.


“Ayo minum yang banyak,”


“Enggak bisa!”


“Enggak bisa apa sih? Itu ngomong bisa,”


Elvina menyahuti dengan kata tidak nyambung. Disuruh minum malah mengatakan tidak bisa dengan tangan yang masih mengusir gelas dari depan bibirnya.


“Elvina, bisa dengar aku enggak sih?! Minum dulu yang banyak,”


“Orang dibilang enggak bisa ya enggak bisa. Gue enggak kenal sama lo,”


“Hadeh, mulai ngaco ni kamu,”


Vano menepuk-nepuk lembut wajah Anatha. Ia juga mencubit beberapa kali pipi Elvina hingga perempuan itu berdecak.


“Lo tuh selingkuh! Lo Vano ya? Parfum lo sama kayak dia,”


“Lah emang aku Vano. Kamu pikir aku siapa?”


“Pergi deh lo! Orang yang mirip Ken bakal gue benci kayak gue benci ke dia,”


“Sayang, hei. Kamu ngomong apa sih? Buruan minum deh, biar—“


“DIEM LO! GUE BILANG DIEM YA DIEM!”


“Kamu kenapa mabuk gini sih, El? Aku khawatir, minum berapa banyak kamu? Hah? Kalau mati gimana?”


“Ini kan yang lo mau supaya lo bisa selingkuh lebih bebas,”


“Astaga,”


Vano menggaruk tengkuknya yang tidak gatal mulai bingung bagaimana supaya Elvina bisa minum barangkali setelah itu efeknya berkurang.


“Gue pusing,”


“Iya makanya minum, terus aku ambilin obat, minum yang banyak, El,”


Vano kembali membujuk Elvina untuk minum dan beruntungnya kali ini Elvina mau, tidak menolak lagi. Vano bisa sedikit menghela napas lega.


“Gue enggak mau minum obat!”

__ADS_1


“El, tolong dong jangan kayak gini lagi, aku minta maaf ya,”


Vano menarik badan perempuan itu kemudian merengkuhnya erat. Vano menangis di balik bahu Elvina. Ia tidak bisa melihat Elvina seperti ini.


“Elvina, jangan kayak gini lagi. Kalau ada yang ganggu pikiran kamu, tolong ngomong ke aku, kasih tau aku dan jangan simpan sendiri terus kamu ngelakuin hal kayak gini. Aku nggak suka, El. Aku khawatir, tolong ya jangan begini lagi, Sayang, hei,” vano bicara sambil menepuk-nepuk lembut wajah Elvina yang kini membuka matanya sedikit.


“Lo siapa sih?! Ih!”


“Aku Vano, suami kamu,”


“Iya gue tau,”


“Lah tadi kamu nanya,”


“Berisik lo!”


Vano memberikan air putih lagi kepada Elvina. Ia ingin Elvina mengonsumsi air putih sebanyak-banyaknya barangkali pengaruh alkohol nya bisa hilang.


“Aku enggak akan bisa tenang karena kamu kayak begini, El,”


******


“Sayang, langsung pulang aja ya? Enggak usah kemana-mana,”


“Aku mau beli makanan dulu boleh enggak, Mas?”


“Makanan apa?”


“Hmmm, yang pedas enaknya apa ya, Mas? Mie setan deh, Mas,”


“Ya Allah ada-ada aja maunya. Setan kok dimakan,”


“Itu namanya aja, Mas,”


“Dimana? Aku aja enggak tau mie gituan jualnya dimana,”


“Ya udah deh, empek-empek aja, Mas,”


“Emang masih ada jam segini?”


“Ya cari aja dulu, kalau enggak ada pulang deh,”


“Okay kita coba cari dulu ya,”


Rendra menuruti apa kata istrinya yang tiba-tiba kepingin empek-empek malam ini, entah ada atau tidak yang penting berusaha untuk mencari dulu.


“Mas, aku enggak nyangka ya, Kak El masih segitunya sama kamu,”


Di tengah mencari-cari makanan yang diinginkan, Elvina tiba-tiba teringat dengan cerita Vano soal Elvina.


“Segitunya gimana maksud kamu?”


“Ya…dia masih berharap sama kamu kayaknya, Mas. Barang-barang aja masih ada ya walaupun sekarang sudah dibakar sih,”


“Lah aku juga masih ada tapi aku enggak berharap apa-apa ke dia. Kamu sendiri bilang barang itu cuma benda mati, yang penting hati aja,”


“Iya kalau kamu, aku percaya udah enggak berharap apapun lagi meskipun masih simpan barang-barang kalian itu. Tapi kalau kakak ‘kan pasti ada tujuannya nyimpan barang-barang kalian, mungkin untuk diingat-ingat,”


“Mungkin awalnya dia juga mikir kayak kamu, Sayang. Sayang kalau dibuang atau dibakar. Kamu ‘kan ngomong kayak gitu ke aku waktu aku mau libas semuanya,”


“Enggak, Mas. Kalau kata aku dia simpan itu karena dia masih cinta sama kamu, kok sesak ya,”


“Hei, udah ah enggak usah mikir yang aneh-aneh, nanti kamu bisa stres dan aku enggak mau itu terjadi. Jangan mikir yang aneh-aneh. Kamu itu tetap punya aku begitupun sebaliknya, Sayang,”


“Tadi Vano bilang Kak El kayak lagi cemburuan sama dia dan nuduh Vano selingkuh. Kamu dengar Vano ngomong gitu ‘kan, Mas?”


“Iya dengar, nah dia itu udah mulai takut kehilangan Vano mungkin,”


“Kalau dipikir-pikir iya sih. Yang aku tau juga, selama ini El enggak pernah mau peduli soal-soal urusan pribadi Vano. Karena mungkin enggak cinta jadi bodo amat. Vano sempat ngomong kayak gitu ke aku. Sekarang Elvina cemburu artinya takut atau mulai cemas posisi dia tergantikan. Lagian kenapa sih ya enggak bisa terima Vano, cinta sama Vano. Padahal menurut aku, Vano itu udah luar biasa banget,”


“Namanya cinta enggak bisa dipaksa, Sayang. Tapi yakin aja, lambat laun juga bakalan sadar, nah sekarang udah mulai deh tuh, yang tadinya enggak pernah cemburuan, terus sekarang mulai,”


“Itu ada, Mas. Berhenti-berhenti, stop!”


“Astaga, ya sabar dong, Bee,”


“Akhirnya ada juga, semoga masih ada deh, belum habis,”


“Itu keliatan di dalam etalase masih ada, Bee,”


“Ayo-ayo, udah enggak sabar aku nih, Mas,”


“Pelan-pelan eh! Bisa pelan enggak? Jangan grasak-grusuk aja kamu tuh,”


Agatha terlalu bersemangat, sebelum keluar dari mobil suaminya sudah mewanti-wanti agar Ia tidak sembarangan melangkah.


“Ibu, aku mau satu porsi,”


“Empek-empek tinggal kapal selam aja,”


“Iya enggak apa-apa, sama minumnya es kacang merah masih ada ‘kan ya?”


“Masih, silakan ditunggu sebentar,”


“Ih kok aku enggak dibeliin?”


“Eh iya lupa,”


“Astaga, bisa-bisanya lupa sama suami sendiri, aku juga mau dong,”


Terlalu semangat memesan miliknya sendiri, Agatha sampai lupa kalau suaminya belum dipesankan juga satu porsi.


“Ibu semuanya jadi dua porsi ya, empek-empek sama minumnya,”


“Okay, ditunggu sebentar ya,”


Agatha dan Rendra langsung mencari tempat duduk yang aman, dekat dengan kipas itu pilihan Agatha. Karena semakin hari rasanya semakin mudah merasa gerah.


“Parah banget suaminya enggak diingetin, masa lupa kalau ke sini sama aku,”


Agatha tertawa karena suaminya masih membahas perkara itu. Ia meminta maaf pada suaminya itu seraya meraih tangannya.


“Iya maaf, Mas. Aku udah kelaperan jadinya begitu, enggak niat melupakan kok,”


“Tadi buktinya bilang lupa,”


“Bukan lupa, tapi belum waktunya ingat aja,”


“Lah terus kapan waktunya? Tunggu kamu abisin empek-empek nya dulu baru ingat aku gitu ya?”


Tawa Agatha makin geli mendengar ucapan sang suami. Rendra masih tidak terima dengan ucapannya tadi yang mengatakan bahwa Ia melupakan Rendra jadi hanya pesan satu porsi saja padahal Ia ke sini dengan Rendra, suaminya itu rela menuruti ngidamnya tapi malah dilupakan. Pantas saja Rendra jengkel, ya walaupun tidak sungguhan, hanya Ia tak habis pikir saja dengan istrinya itu.


“Lama banget, aku udah enggak sabaran,”


“Sekarang enggak sabaran, nanti kalau enggak habis awas aja ya, aku cium kamu di sini,”


“Dih yang bener aja kamu, Mas? Enggak tau malu kalau beneran,”


“Nantang dia, ntar beneran aku cium baru deh jantungan,”


“Enggaklah, biasa aja, orang sudah sering dicium,”


Polos sekali jawaban Agatha hingga mengundang tawa Rendra. Memang benar bisa dicium tapi kalau dicium di tempat umum apa tidka jantungan dia?


“Beneran? Ini ‘kan di tempat makan, Bee,”


“Aku sih malu banget, Mas. Kamu enggak malu? Kayak enggak punya kamar aja di rumah,”


“Kayak bule-bule gitu, Sayang. Aku perna lho, enggak sengaja liat bule ciuman waktu liburan ke luar kota,”


“Idih, kamu liatin? Bener-bener kamu pantengin mereka ciuman?”


“Ya enggak dipantengin lah, enggak sengaja aja ngeliat, terus aku buang muka. Itu posisinya di pantai. Mereka berdua itu lagi berjemur gitu lah ceritanya,”


Agatha membayangkan ada di posisi Rendra saat itu. Ia pasti akan kikuk apalagi Ia belum pernah melakukannya semasa belum menikah.


“Kamu buang muka apa kamu pantengin terus, Mas?” Goda Agatha yang membuat Rendra memutar bola matanya jengah. Agatha tidak percaya kalau Ia risih melihat orang saling beradu bibir di tempat umum.


“Seriusan, aku langsung canggung sendiri, terus malu juga. Enggak tau kenapa malah aku yang malu padahal bukan aku yang diliatin orang waktu lagi ciuman,”

__ADS_1


“Kamu pernah, Mas?”


Mata Rendra melotot mendengar pertanyaan istrinya.


“Pernah apa coba?”


“Pernah ciuman?”


“Enggak!”


“Heleh boong,”


“Ya udah kalau enggak percaya,”


“Sekalipun di tempat tertutup?” Tanya Agatha lagi kali ini dengan senyum usilnya. Agatha sama saja dengan kebanyakan perempuan yang biasanya hobi mencari tahu informasi di masa lalu suami, nanti giliran tercetus jawaban dari bibir Rendra yang tak sesuai bayangan, maka dipastikan akan merajuk.


“Enggak, beneran enggak,”


“Ah kamu bohong,”


“Lah ya udah kalau enggak percaya. Mulai deh ya mau cari tau soal masa lalu, nanti aku jawab malah salah, terus kamu nya ngambek dan aku yang repot,”


“Baru juga sekali ini tanya,”


“Enggak, kamu pernah tanya soal itu sebelum-sebelumnya, Sayang,”


“Emang iya?”


“Lupa ingatan dia,”


“Tanya soal pernah datang ke bar sama mantan enggak? Pernah ketemu sama orangtua mantan-mantan enggak? Pernah mau dijodohin sama anak teman bunda enggak? Pernah ini enggak pernah itu enggak? Ada aja yang ditanyain, padahal udah lewat masanya,”


“Ya ‘kan aku penasaran, Mas,”


“Ya udah aku jawab semuanya, ini ditanya lagi, males aku ngulangnya,”


Empek-empek dan es kacang merah pesanan mereka sudah jadi dan kini tengah dihidangkan di hadapan mereka.


“Pengantin baru ya?”


“Hmm? Enggak, Bu,” jawab Agatha dengan senyum canggungnya. Ia bingung kenapa tiba-tiba ditanyakan seperti itu.


“Enggak baru lagi, Bu. Tuh udah melendung mau tiga bulan,” ujar Rendra yang langsung membuat si penjual kaget.


“Oalah calon orangtua ya. Kirain pengantin baru, soalnya auranya kayak begitu, kelihatan bahagianya. Semoga akur-akur ya,”


“Iya, Bu, terimakasih,”


Agatha dan Rendra menahan senyum setelah ibu penjual pergi. Mereka senang ketika didoakan yang baik-baik apalagi dibilang pengantin baru.


“Dih jadi malu, dibilang pengantin baru kita, Mas,”


“Auranya keliatan katanya. Aura apaan ya? Asal bukan aura mistis aja,”


Agatha mencubit punggung tangan suaminya dengan gemas. Ada saja celotehan Rendra yang membuat Agatha ingin tertawa.


“Kamu keseringan nonton horor kali ya? Jadi bawaannya mistis terus,”


“Enggak, aku mah nontonnya yang berantem-beranteman sama komedi, emang kamu sukanya yang romantis muluk, akhirnya baper sendirian sampe nangis sampe ketawa cekikikan sendiri, aneh banget,”


“Selera tontonan orang itu beda-beda, Mas. Ada yang suka laga dan komedi. Ada yang sukanya nonton film romantis,”


“Iya sih, cuma kamu tuh kadang bapernya kelewatan sih, sampai nangis, aku pikir kenapa eh enggak taunya karena nonton film. Padahal akur film romantis itu udah mainstream kata aku dan gampang ketebak, tapi kamu suka banget nontonnya. Ya itulah selera,”


“Selera nonton sama selera makan itu hampir sama ya, Mas. Masing-masing orang punya perbedaan. Ada yang suka ini ada yang suka itu,”


“Aku suka kamu eh kamu juga suka aku,”


Benar-benar keluar dari pembicaraan dan kedengaran aneh tapi Agatha tetap dibuat tertawa oleh ucapan suaminya.


“Aku suka kamu eh kamu suka dia,”


“Suka siapa? Jangan ngada-ngada ngomongnya, Sayang,”


“Enggak, ini aku lagi asal ngomong aja, kenapa dibawa serius?”


“Ya kirain kamu nuduh aku suka sama yang lain gitu,”


“Enggak, Mas,”


“Duh lembut banget ngomongnya,”


Agatha tersenyum mengerlingkan matanya pada Rendra yang membuat Rendra terbahak. Ada-ada saja tingkah wanita hamil itu yang bisa menghiburnya.


“Ada yang pernah ngedip ke kamu juga enggak, Mas?”


“Tuh mulai, pertanyaan aneh banget,”


“Ya ‘kan aku cuma tanya, ada enggak?”


“Enggak ada sih, kenapa emangnya?”


“Beneran enggak ada yang ngedip genit ke kamu gitu, Mas? Itu si Tari pernah begitu enggak?”


“Enggak, kalau pernah, udah pasti sepatu aku mendarat ke jidat dia,”


“Galak amat,”


“Iya lah, macam-macam aja ngedip begitu, dikira aku demen apa,”


Sampai tidak terasa empek-empek hampir habis karena dimakannya sambil ngobrol dan bercanda. Bagaimana orang yang melihat mereka tidak berpikir kalau mereka pasangan yang baru menikah? Sebab memang kelihatan sekali akrabnya, bahagianya, dan hangatnya. Orang mengira karena itulah mereka pengantin baru.


“Kalau yang lain pernah begitu enggak, Mas?”


“Enggak pernah, paling cuma senyum aja, tapi enggak pernah yang terang-terangan genit gitu sampai harus ngedip segala, beneran aku timpuk sih kalau kayak begitu,”


“Kenapa? Bukannya suka liat yang centil?”


“Enggak, tapi beda cerita kalau yang centil itu kamu,”


Gantian Rebdra yang mengedipkan sebelah matanya seraya menggigit bibir bawahnya. Ekspresi nakalnya itu membuat Agatha tertawa.


*****


Amih keluar dari kamar pukul empat pagi. Hari ini rencananya Ia akan ke pasar. Tapi entah bersama Elvina atau Elvina menyuruhnya ke pasar hanya sendiri.


Amih akan membawa sampah keluar dan melintasi ruang tamu. Alangkah terkejutnya Ia ketika mendapati Vano dan Elvina yang tertidur di sofa.


“Aduh-aduh romantis amat tidur di sofa berdua,”


Amih tersenyum melihat kedua majikannya yang tidur pulas dengan Vano yang memeluk Elvina dengan posesif.


Ingin membangunkan supaya pindah ke kamar mereka yang lebih nyaman, karena sepertinya mereka ketiduran di sana. Tapi Ia tidak enak hati. Ia biarkan saja mereka berdua sampai bangun sendiri.


Elvina terbangun karena mendengar suara pintu rumah yang ditutup dan Ia sempat melihat Amih yang baru masuk entah habis apa di luar.


Elvina meringis seraya memegang kepalanya sendiri. Benar-benar terasa berat dan semua yang Ia lihat sekarang ini seperti tengah diputar.


“Aduh sakit banget,”


Elvina meringis karena ternyata efek sakit kepala dari alkohol yang Ia teguk masih ada. Ah jelas saja, semalam dia mabuk berat. Beruntungnya sekarang sudah sadar hanya tersisa sedikit saja efeknya yaitu sakit kepala yang rasanya cukup menyiksa.


Elvina mengusir tangan Vano yang merengkuh pinggangnya dan Ia bangun sambil terus memijat kepalanya sendiri.


Mendengar seseorang meringis, Vano langsung beranjak bangun. Ia terkejut karena rupanya sang istri sudah terjaga dari tidurnya dna kini tengah memejamkan mata sambil tangannya memijat kepala.


“El, kamu udah baik-baik aja?”


Elvina menolehkan kepala ke arahnya. Elvina pikir suaminya belum bangun. Ternyata sekarang menyusulnya bangun juga.


“Kenapa kamu di sini?”


“Aku temenin kamu lah. Tadinya aku mau bawa kamu ke kamar tapi aku malah ketiduran di sini juga. Gimana keadaan kamu sekarang? Udah mendingan? Itu kepalanya sakit ya?”


“Kamu enggak usah sok peduli deh sama aku,”


“Masa iya aku enggak peduli sama istri sendiri, Na?”


“Enggak usah ngomong begitu kalau kenyataannya kamu itu enggak benar-benar cinta sama aku dan mau bertahan di pernikahan ini,”

__ADS_1


__ADS_2