
“Mas, aku mau ngobrolin sesuatu sama kamu. Aku rasa ini penting, tapi kalau menurut kamu ini nghak penting, atau kamu nggak nyaman kamu bisa ngomong sama aku, Mas,”
Elvina menatap suaminya dengan ragu-ragu sambil menyatukan kedua tangannya yang Ia letakkan di atas paha.
Elvina menghampiri suaminya yang sedang menikmati malam di balkon kamar mereka sambil menyeruput kopi dan juga makanan ringan.
Vano langsung menegakkan posisi duduknya, Ia juga berhenti makan. Keripik kentang yanga da di tangan segera Ia masukkan semuanya ke dalam mulut yang padahal masih ada isinya. Ia kunyah sebentar, setelah itu Ia menyeruput kopinya supaya kerongkongannya aman.
__ADS_1
“Boleh kok, kamu boleh ngomong aja. Saya bakal jadi pendengar yang baik,” ujar Vano setelah Ia siap mendengarkan istrinya bicara.
“Hmm..ini tentang anak. Kita belum pernah bahas ini sebelumnya ‘kan, Mas? Ya karena emang baru nikah juga, ini aja lagi bulan madu,”
“Okay, apa yang mau kamu omongin sama saya soal anak?” Tanya Vano seraya menatap istrinya dengan sorot nata yang fokus.
“Mas, kalau kita punya anaknya nanti-nanti aja nggak apa ‘kan? Karena Mas tau sendiri, aku masih kuliah. Aku takut nggak fokus kedua-duanya. Nggak fokus sama pendidikan aku dan anak aku,“
__ADS_1
“Ya nggak masalah, punya anak itu ‘kan harus sama-sama siap. Saya nggak maksa kamu untuk segera jadi Ibu. Saya senang kamu mau fokus di pendidikan dulu. Saya berdoa semoga kamu bisa menyelesaikan pendidikan kamu dnegan baik. Setelah itu barulah mikirin jalan hidup selanjutnya apa. Kamu nggak perlu khawatir, saya nggak akan maksa kamu kok,”
“Beneran Mas nggak keberatan? Aku pikir Mas mau langsung punya—punya anak,” Sebenarnya gugup membicarakan ini kepada Vano, tapi Elvina merasa perlu membahasnya sebab ini bukan perkata yang tidak penting. Iaembicarakan ini supaya Vano mengerti bahwa ada yang lebih Ia utamakan sekarang, yaitu menyelesaikan pendidikannya dulu.
“Nggak dong, saya nggak keberatan sama sekali. Kamu punya hak untuk mutusin udah siap atau belum punya anak. Dan anak kita nanti juga punya hak untuk dapat kehidupan yang baik dari orangtua, caranya bagaimana? Ya orangtuanya harus siap dulu untuk nyambut kehadiran dia. Sekarang ‘kan kamu belum siap, kamu mau fokus di pendidikan, ya berarti jangan. Daripada malah punya anak terus anak jadi korban ketidaksiapan kita jadi orangtuanya,”
Elvina tersenyum dengan perasaan yang lega. Ternyata suaminya sependapat dengannya. Untuk saat ini mereka sama-sama berpikir bahwa pendidikan Elvina jauh lebih penting. Nanti akan ada waktunya mereka memikirkan keturunan.
__ADS_1
“Tapi kalau seandainya udah dikasih, kita nggak bisa nolak ya, El. Saya ngomong ini sebagai bentuk jaga-jaga aja supaya kamu nggak kaget. Karena ‘kan banyak pasangan di luar sana yang niatnya nggak buru-buru punya anak, eh tapi nggak taunya malah cepat punya anak. Saya mau tegasin ke kamu, kalau anak itu rezeki, anugrah, harus diterima dengan begitu baik, disambut dengan antusias terlepas dari rencana sebelumnya dimana kita mutusin untuk nggak buru-buru punya anak. Kalau udah dikasih, ya mau nggak mau kita harus mempersiapkan diri,”
Elvina menganggukkan kepalanya paham. Ia juga tidak akan menyalahkan takdir. Kalau memang sudah ditakdirkan Ia menjadi Ibu dalam waktu dekat, Ia akan terima takdir itu dengan tangan terbuka. Ia akan berusaha untuk siap menjadi ibu dari anaknya.