
“Hai Bro. Waduh makin seger aja gue liat-liat,”
Vano terkekh ketika Syahir menyapanya sambil menggoda. Syafir adalah teman kuliahnya bersama Danu. Syafi datang membawa istrinya juga yang langsung mengajak Elvina untuk berkenalan.
“Hai, aku Dina,”
“Hai, Dina. Aku Elvina,”
“Wah namanya kita hampir sama ya,”
“Cocok berarti,” ujar Syahir pada dua perempuan itu.
“Eh gue temuin yang punya acara dulu nih, yang lagi ulang tahun. Kemana dia?”
“Tuh lagi di meja lain,”
Konsep acaranya Danu menghampiri satu persatu meja tamu. Danu akan mengobrol dengan mereka sehingga hubungan pertemanan semakin akrab.
Vamo langsung menghampiri Danu yang kaget ketika bahunya ditepuk dari belakang. “Happy birthday! Bahagia selalu, makin sukses,”
“Wah ini dia yang gue tunggu hahaha. Thanks brodie. Thanks doanya dan juga thnaks udah mau datang,”
“Sama-sama. Oh iya, ini istri gue, Elvina,”
Danu langsung mengulurkan tangannya ingin memperkenalkan diri dan langsung diterima dengan ramah oleh Elvina.
“Hai, Danu. Selamat ulang tahun ya. Semoga panjang umur, diberikan kesehatan terus, rezekinya melimpah aamiin,”
“Hai, Elvina. Makasih doanya, doa baik juga untuk kalian berdua ya. Ayo duduk dong,”
Danu langsung mengajak mereka untuk menempati salah satu meja yang dimana sudah ada teman-teman Danu yang Vano kenali juga.
“Hai guys, Vano datang nih bawa istrinya, Elvina,”
“Wuidih, hai Elvina,”
“Hai semuanya,”
“Gue nggak disapa gitu?”
“Hai, Vano jelek,”
Vano tertawa ketika Ardy menyapanya dengan ketus, diiringi dengan tawa yang lainnya. “Ah gilirna nyapa Elvina pada ramah bener,”
“Ya harus lah. Ornag baru harus disapa dnegan begitu hangat, orang lama mah mundur dulu,”
“Oh gue harus mundur sekrang nih? Okay,”
Vano malah melangkah mundur alih-alih duduk di kursi yang sudah disiapkan. Teman-teman Vano tertawa melihat itu.
“Jangan dong, nggak begitu maksudnya. Ayo duduk-duduk, kita ngobrol. Jarang banget ‘kan kita ngobrol kayak gini,”
Mereka berlima di meja itu, dan masing-masing membawa pasangan kecuali Danu sebagai pemilik acara.
“Eh cewek lo mana?”
“Dia mendadak sakit, tadinya mau datang, ya walaupun emang udah sakit sih cuma dia mau maksain. Eh malah pas mau bernagkat dia ngerasa nggak kuat akhirnya gue suruh aja di rumah. Ntar abis acara ini gue ke rumahnya,”
“Ya ampun, semoga cepat sembuh ya. Sakit apa, Dan?” Tanya Vano yang baru tahu kalau pasangan Danu sedang tidak baik-baik saja.
“Demam tinggi sama pusing. Udah dari kemarin nggak enak badan, tapi dia udah niat tetap mau pergi ke sini. Eh malah sakit banget pas mau pergi, dia nggak kuat takut malah pingsan. Jadi daripada kenapa-napa ya gue suruh aja dia nggak usah datang, istirahat di rumah aja,”
“Semoga cepet membaik ya,”
“Aamin-Aamiin, thanks doanya. Dia nitip salam aja buat semuanya,”
“Elvina, lo ‘kan mahasiswa nya si Vano, gimana nikah sama dosen? Seru nggak? Atau justru tantangannya berasa banget? Lo belajar mulu ya kalau di rumah?” Tanya Hafiz.
Vano langsung menoleh ke arah istrinya yang sedang berpikir mencari jawaban. Dan itu dianggap sebagai intervensi oleh teman-temannya.
“Eh lo jangan neken bini lo buat jawab yang baik-baik,” kata Ardy smabil menunjuk Vano.
“Hahahaha nggak lah. Biarin aja dia jujur. Astaga, bisa-bisanya ngira gue bakal neken dia,”
“Oalah kirain,”
Vano tertawa, Ia benar-benar merasa terhibur dnegan tuduhan teman-temannya itu. Hanya karena Ia menatap Elvina, mereka mengira Ia ingin menekan Elvina supaya Elvina menjawab tentangnya yang baik-baik.
“Hmm gimana ya? Nikah sama dosen ya seru-seru aja kalau menurut aku. Dibilang belajar mulu tiap hari juga nggak. Aku belajar ya kayak biasa aja sebelum aku nikah sama Mas Vano,”
“Diajarin dia galak nggak?” Tanya Kevin.
“Nggak, dia tegas nggak galak,”
“Tuh gue nggak ngapa-ngapain lo, dia jawab jujur sesuai kata hati dia,” ujar Vano sambil mengangkat kedua tangannya.
“Hahahaa iya-iya bagus, biarin bini lo jujur ya,” ujar Denis yang kali ini datang dengan istrinya, Febia. Kedatangan Vano dan Elvina menambah kehangatan di meja tersebut.
“Terus kalau di kampus perlakuan dia ke lo gimana? Kayak di rumah atau justru beda selayaknya dosen sama mahasiswa?” Kali ini Hafiz penasaran dengan hal itu dan ingin mendapatkan jawaban.
“Aku diperlakukan sama aja kayak teman-teman aku. Gimana sikap dia ke aku waktu sebelum nikah, ya begitu juga sikap dia ke aku setelah nikah, ini kalau di kampus ya. Kalau di rumah ya selayaknya suami istri pada umumnya aja,”
“Ih seru banget ya,” Elena istri Hafiz langsung membayangkan semenyenangkan apa kehidupan Vano dan Elvina yang merupakan dosen dan mahasiswa kalau di kampus. Tapi kalau di rumah sepasang suami istri.
“Lo juga seru deh kayaknya, Len. Soalnya laki lo dosen, lo nya guru. Nah sama-sama pengahar tuh cuma beda temoat ngajarnya aja. Hafiz di kampus, lo di sekolah,”
“Kita semua dengan pasangan masing-masing itu punya kehidupan yang seru semua kok, tergantung cara kita mandangnya aja,” ujar Danu yang langsung dijawab sepremlak okeh semua yang duduk bersamanya.
“Iya benar,”
“Eh kalau lo sebagai dokter nih, punya istri dosen, gimana kehidupannya?” Tanya Hafiz pada Denis dan Febia.
“Beuh, jangan dicontoh dah. Ribet! Udah jarang ketemu, sering debat lagi. Harus bener-bener bisa ngatur waktu, nggak sibuk mulu. Btar pasangan bisa cemburu iya nggak?” Denis menjawab sambil melirik Febia.
“Kamu yang sering cemburu ‘kan?”
“Kamu lah,”
“Hahahaha,”
__ADS_1
Perdebatan antara Denis dan Febia menjadi hiburan selanjutnya. Ternyata menyenangkan sekali membahas kehidupan suami istri yang punya profesi berbeda.
“Nah yang pramugari nih, coba jelasin dong, jangan diem-diem aja,” Febia menunjuk Marisa istri Kevin.
“Kevin nya manager, Marisa pramugari. Itu gimana kehidupannya?”
“Kompleks dah, jangan ditanya lebih jauh,”
“Iya bener, terlalu kompleks, tapi seru ‘kan, Yang?” Tanya Marisa pada suaminya yang langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Seru semua pokoknya,”
Sepanjang pembicaraan mereka, Elvina tidak jarang ikut tersenyum dan tertawa. Tapi ketika Ia sadar bahwa istri-istri temannya Vano itu sudah menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri, mendadak Ia merasa paling kecil sendiri. Ia masih mahasiswa, sementara mereka punya profesi yang membuat Elvina berdecak kagum.
“Aku masih mahasiswa mereka udah apda jadi dokter, dosen, guru, pramugari. Apa Mas Vano nggak malu ya punya istri yang masih kerdil kayak gini?” Batin Elvina.
Sebenarnya tidak ada yang menyinggung profesi atau apapun di sini. Obrolan mereka hanya untuk senang-senang saja, tapi Elvina memang mudah terbawa perasaan.
Menyadari istrinya mulai kelihatan tidak nyaman, hanya dari gerak gerik saja Vano bisa membaca, akhirnya Vano berinisiatif untuk pamit pulang kebih dulu.
“Eh gue sama Elvina balik duluan nggak apa-apa ya?”
Elvina sendiri kaget mendengar suaminya pamit, padahal Ia pikir masih ada beberapa menit ke depan untuk mereka tetap ada dalam situasi yang hangat penuh obrolan seperti ini. Tapi ternyata suaminya mengajak Ia pulang sekarang.
“Okay, hati-hati ya, Bro,” ujar mereka semua ketika Vano berjabat tangan satu peraatu dengan mereka sebagai tanda perpisahan.
“Makasih udah datang, Van, El,” ujar Danu pada Vano dan Elvina.
“Iya sama-sama,”
Setelah pamit pada pemilik acara seklaigus teman-teman mengobrol mereka tadi, barulah Slvina dan Vano bergegas meninggalkan kafe yang menjadi tempat dilaksanakannya acara ulang tahun Danu.
“Mas, kok tiba-tiba kita pulang? Bukannya tadi maish asyik ngobrol ya?” Tanya Elvina sambil terus berjalan di sebelah suaminya, dan tangannya digenggam hangat oleh Vano.
“Saya tau kamu udah nggak nyaman lagi di sana, saya sebagai suami harus laham itu, walaupun saya masih mau di sana tapis aya nggak boleh egois. Saya harus mikirin kamu juga. Lagipula takut makin malam sampai rumah,” ujar Vano yang langsung membuat mata Elvina terbuka lebar-lebar. Vano itu sebenarnya tanpa cela, sedangkan Ia banyak celanya. Entah kenapa mereka ditakdirkan bersama. Vano yang sebaik ini semakin membuat Elvina merasa tidak percaya diri, merasa semakin kecil.
“Mas, tadi malu nggak?”
“Malu kenapa?”
“Ya malu, Mas. Kamu merasa malu nggak tadi? Malu karena apa aja gitu,”
Vano langsung membukakan pintu dan mempersilahkan istrinya untuk masuk ke dalam mobil.
Setelah itu Vano menyusul masuk juga ke dalam mobil. Vano sudah menggunakan seat belt dan Ia memastikan istrinya juga sudah melakukan hal serupa barulah Ia mengenduiakn mobilnya meninggalkan area parkir kafe.
“Tadi kamu tanya apa? Maaf saya belum jawab,” ujar Vano di tengah perjalanan. Ia baru ingat istrinya tadi punya pertanyaan tapi belum terjawab olehnya.
“Kamu merasa malu nggak?”
“Saya bingung sama pertanyaan kamu, bisa lebih jelas nggak? Lebih spesifik malu seperti apa yang kamu maksud,”
“Malu punya istri kayak aku, Mas,”
Vano sampai membelalakkan kedua matanya mendengar pertanyaan Elvina yang mulai Ia tebak sedang merasa tidak percaya diri.
“Ya aku ‘kan cuma nanya aja, Mas,”
“Jawaban saya nggak! Saya nggak pernah merasa malu punya istri kayak kamu. Memang apa yang bikin saya malu? Nggak ada alasan saya malu,”
“Tapi ‘kan, istri-istri teman kamu itu semuanya cantik-cantik, terus profesi mereka pada bagus ya, Mas. Nah sedangkan aku apa? Aku ini cuma mahasiswa kamu. Apa kamu nggak malu, Mas, punya istri yang maish jadi mahasiswa, belum jadi apa-apa, belum bisa dibanggain,”
Vano menghembuskan napas kasar mendnegar ucapan istrinya itu. Jujur Ia tidak senang mendengar ucapan Elvina, tapi Ia tidak bisa terang-terangan mengatakan bahwa Ia tidak suka. Ia harus beri penjelasan dengan hati-hati, dan bahasa yang baik. Karena orang yang sedang kehilangan rasa percaya dirinya itu harus diajak bicara dengan baik-baik. Bukan malah dimarahi atau semacamnya. Yang sedang tidak percaya diri itu harus diyakinkan bahwa Ia tidak serendah itu, bahwa Ia tidak selemah itu, Ia tidak kalah hebat dengan manusia-manusia yang lainnya.
“Elvina, kamu dengar baik-baik omongan saya ini ya. Saya cinta sama kamu, dan saya nggak bisa ngatur hati saya bakal jatuh cinta sama siapa,” ujar Vano seraya meraih tangan istrinya dan Ia genggam dengan erat.
“Seandainya saya ketemu kamu yang udah jadi dokter, pramugari, atau dosen sekalipun yang satu profesi sama saya, belum tentu saya bisa cinta sama kamu. Saya mencintai kamu ini ya bukan melihat dari profesi, tapi memang hati saya milihnya kamu yang kebetulan adalah mahasiswa saya. Lagipula, kamu ini ‘kan masih perlu proses, waktu kamu masih panjang, usia kamu masih muda, kamu punya banyak kesempatan untuk nggak kalah membanggakan dengan profesi yang nantinya kamu pegang. Nggak usah insecure. Karena insecure itu nggak akan bikin maju,” ujar Vano dengan nada yang lembut menenangkan Elvina, sambil ibu jarinya mengusap punggung tangan Elvina.
“Jadi kamu jangan pernah merasa nggak percaya diri pagi. Mereka jadi dokter, dosen, dan lain-lain itu ‘kan juga butuh proses, emang mereka langsung jadi kayak gitu? Nggak, mereka juga melewati yang namanya proses, sama lah kayak kamu. Cuma bedanya, mereka yang usianya di atas kamu udah lebih dulu sampai di titik akhir proses mereka. Nah kamu ‘kan masih muda, usia di bawah mereka, ya wajar lah kalau belum sampai di titik akhir proses kamu. Saya yakin kok, kamu nantinya nggak kalah membanggakan dari mereka. Sekarang kamu ‘kan lagi dalam masa proses. Semua orang punya waktu masing-masing untuk selesai berproses, El. Syukuri apapun itu, jangan pernah merasa insecure, jangan juga merasa iri dengan apa yang ada di tangan orang lain sekarang. Kita nggak tau seberapa berat proses yang udah mereka lewati, dan nanti saat kamu udah jadi apa yang kamu mau, mereka juga nggak berhak untuk merasa iri, karena mereka nggak tau apa aja yang udah kamu lalui,”
“Aku nggak merasa iri, Mas. Malah aku merasa malu, aku juga takut kamu malu,”
“Nggak boleh ada rasa malu kalau lagi berproses, El. Kalau malu ya nggak maju-maju, kamu bakal stuck di situ terus. Pencapain orang, sebaiknya kita jadikan motivasi aja, jangan malah jadi alasan untuk kamu merasa insecure,”
Elvina menganggukkan kepalanya. Ia membalas genggaman tangan suaminya dengan erat. Pikiran dan hatinya dibuka lebar-lebar oleh Vano. Seharusnya memang Ia tidak perlu merasa malu atau tidak percaya diri setelah tahu istri dari teman-teman Vano semuanya adalah orang hebat. Sepatutnya Ia jadikan mereka itu sebagai motivasi, bukan malah membuatnya jadi merasa ‘kecil’.
“Udah ya, jangan pernah berpikir kayak gitu lagi. Kamu itu hebat, kamu luar baisa, jangan menganggap kalau diri kamu itu nggak ada nikainya. Kamu itu benar-bsnar berharga, El,”
“Makasih Mas udah bikin aku sadar, dan tenang sekarang,”
“Saya akhirnya tau kenapa tiba-tiba kamu keliatan nggak nyaman padahal sebelumnya kamu keliatan nyaman dengan obrolan tadi,”
“Iya aku memang nyaman kok, aku menikmati kebersamaan kita semua tadi, aku menikmati obrolan yang ada tapi lama-lama aku sadar kok aku jadi kerdil banget ya kalau disanding sama istri-istri teman kamu, Mas. Aku nggak ada apa-apanya dihanding mereka,”
“Stop jangan mikir kayak gitu lagi. Saya nggak kau kamu merasa malu, insecure, dan semacamnya. Kalau kamu masih kayak gitu, artinya kamu nggak menghargai diri kamu sendiri. Kamu nggak menghargai juga kehebatan atau kelebihan yang Tuhan ciptakan untuk diri kamu,”
“Sekarang aku sadar, Mas,”
Vano tersenyum sambil mengusap puncak kepala istrinya itu. “Nah gitu dong,” pujinya sambil mengusap pipi Elvina dnegan lembut.
“Makasih udah ngajak aku ke acara temannya, Mas. Aku jadi kenal orang baru, aku bisa punya teman baru juga, terus aku bisa belajar untuk lebih menghargai diri aku sendiri, menghargai kelebihan aku, menghargai proses aku,”
“Iya sama-sama, tapi ingat ya lain kali kamu nggak boleh insecure lagi. Selalu tanamkan dalam pikiran kamu kalau kamu itu hebat, kamu luar biasa, kamu berharga, okay?”
“Okay, Mas,”
Vano tersenyum mendengar jawaban Elvina. Kalau saja sekarang ini Ia tidak sedang nenyetir, Ia akan mengecup puncak kepala istrinya untuk bentuk apresiasi dirinya terhadap Elvina yang sudah mau belajar untuk tidak lagi merasa kecil atau tidak berharga.
Setelah kurang lebih lima belas menit mereka dalam perjalanan pulang dari kafe menuju rumah, akhirnya pukul setengah sepuluh mereka sampai juga di rumah yang suasana nya sudah sepi. Mereka sudah menebak itu.
“Kayaknya udah pada istirahat ya, Mas,”
“Iya, kita juga harus istirahat sekarang. Kamu nggak boleh kekurangan istirahat,”
“Mas juga dong. Malah harusnya aku yang ngomong gitu. Aku ‘kan mahasiswa, nggak sesibuk Mas yang dosen,”
“Tapi kamu masih ujian lho besok, jangan lupain itu,”
“Aku mau buka materi bentar deh, Mas,”
__ADS_1
Vano sudah memastikan pintu rumah aman, barulah Ia dan istrinya naik ke lantai dua dimana kamar mereka berada.
“Saya temenin, saya juga lagi ada yang mau dikerjain,”
“Ya udah kita agak begadang tipis-tipis malam ini, Mas,”
Vano terkekeh pelan dan mengangguk setuju. Mereka tidak bisa langsung tidur karena punya kewajiban masing-masing. Vano ounya oekerjaan yang harus Ia selesaikan sebelum tidur, sekentara Elvina ingin memperlajari materi ujian besok.
“Tapi kamu nggak bomeh kurang istirahat, jam sebelas tidur ya, itu udah paking malam lho,”
“Okay, Mas juga ya?”
“Saya gampang, jam berapa aja tidur, bangunnya nggak kesiangan kok,”
“Ih tapi kita sama-sama manusia, dan manusia itu emang nggak boleh kurang istirahat apalagi manusia yang sibuk kayak Mas, banyak bebannya lagi,”
“Sok tau kamu,”
“Lah emang benar. Beban jadi dosen, beban jadi suami pula,”
“Bukan beban, tapi tanggung jawab. Kita punya tanggung jawab masing-masing sebagai manusia,”
“Okay aku bersih-bersih dulu ya, Mas,”
“Iya, saya habis kamu,”
Sambil menunggu Elvina bersih-bersih badannya di dalam kamar mandi, Vano mengambil laptopnya di ruang kerja dan Ia bawa ke kamarnya. Ia bergelut dengan oekerjaan sampai tidak sadar kalau Elvina sidah selesai.
“Mas, aku udah,”
Vano tak bergerak dan tak menanggapi apapun juga. Elvina tahu suaminya itu sedanga ibuk sampai tidak sadar kalau Ia sudah selesai mandi dan narusan bicara kepadanya.
Akhirnya Elvina hampiri suaminya itu. Ia menyentuh bahu Vano yang langsung tersentak kaget.
“Kaget ya? Maaf, padahal aku pelan lho,”
“Saya yang terlalu serius jadi biar disentuh pelan juga kagetnya berlebihan. Oh kamu udah selesai ya? Ya udah kalau gitu saya mandi dulu,”
“Pakai air hangat jangan lupa, Mas,”
“Okay,”
Vano sudah masuk ke dalam kamar mandi, dan Elvina masih berdiri di bekakang kursi yang tadi ditempati oleh Vano. Ia geleng-geleng kepala melihat tabel di layar laptop suaminya itu.
“Mas Vano lagi ngapain sih? Lagi ngurus nilai kali ya? Pusing aku liatnya, nggak paham juga,” gumam Elvina sambil berlalu ke meja rias. Ia menggunakan produk perawatan wajahnya setelah itu menyisir rambut sebelum akhirnya berakhir di atas tempat tidur bersama laptopnya sendiri, dan juga dua buah buku.
“Bismillah, kuatkanlah aku, ya Allah. Semoga aku nggak ngantuk amiin,” ujar Elvina sebelum memulai kesibukan belajarnya malam ini. Selepas menghadiri acara ulang tahun, alih-alih langsung istirahat, Ia justru harus sibuk dengan persiapan ujian besok.
Ketika Vano keluar dari kamar mandi, Vano tersenyum melihat istrinya sudah bergelut sendirian dengan laptop nya di atas tempat tidur.
“Semangat ya,” ujar Vano sambil mengepalkan salah satu tangannya menyemangati sang istri.
Elvina langsung menoleh je arah suaminya yang setela mandi langsung duduk di temoatnya tadi.
“Makasih, Mas,”
“Iya, kamu nggak mau semangatin saya juga gitu?”
“Semangat juga buat Mas gantengku,”
“Hah bisa aja,”
“Aku nggak ngerti tuh Mas lagi ngerjain apa. Pusing aku liat tabel-tabel nya. Apa Mas nggak pusing?”
“Nggak, udah biasa. Ini lagi bikin ringkasan materi sama ngurus data nilai,”
Elvina menganggukkan kepalanya. Kalau dipikir-pikir Ia juga. Suaminya sudah terbiasa dengan pekerjaan itu ajdi tidak mungkin dia merasa pusing.
“Kamu kalau udah ngantuk, atau pusing nggak kuat lanjut belajar ya dilanjut besok pagi aja. Janga ditahan-tahan nggak istirahat, nanti malah sakit,” pesan Vano pada istrinya itu yang langsung menganggukkan keoalanya patuh.
“Iya, Mas. Aku langsung tidur nanti kalau misalnya udah ngantuk,”
“Jangan ditahan,”
“Okay, Mas,”
Mereka sibuk masing-masing. Istri sibuk belajar untuk persiapan ujian besok sementara suami sibuk dengan tugasnya sebagai dosen.
Sampai satu jam berlalu mereka tidak ada yang bicara, sama-sama mengunci mulut karena tengah serius sampai kemudian suara perut Wlvina mengalihkan perhatian Vano.
“Kamu lapar?” Tanya Vano seraya menoleh pada istrinya yang langsung terkekeh malu.
“Iya, Mas,”
“Tadi kita nggak makan ya kayaknya? Karena sibuk ngobrol,”
“Kalau malam-malam emang suka gini ih,”
“Ya namanya juga belum makan. Ya udah kamu makan gih. Mau makan apa? Biar saya pesenin. Kalau hangatin makanan yang ada kelamaan, keburu kamu makin lapar,”
Dengan perhatiannya Vano menawarkan istrinya untuk makan sesuai dnegan apa yang diinginkan. Alih-alih menyuruh Elvina sibuk memanaskan makanaj karena menurut Vano istrinya itu akan semakin kelaparan kalau menunggu makanan dipanaskan. Kalau pesan, Elvina tinggal makan saja.
“Aku mau kebab boleh nggak, Mas?”
“Iya boleh saya pesenin ya, atau kamu aja yang mau pesen? Nih pake handphone saya,”
Vano menyerahkan ponselnya kepada Elvina yang langsung diterima oleh Elvina. Perempuan itu ingin memilih sendiri kebab mana yang akan Ia beli.
“Mas juga mau?”
“Boleh deh, biar makan bareng kamu,”
“Okay tunggu bentar ya, aku yang pilih nggak apa-apa ‘kan?”
“Nggak apa-apa dong,”
“Tapi apa Mas mau beli di tempat lain barangkali Mas punya pikihan sendiri, aku ikut Mas aja kalau gitu,”
“Nggak-nggak, terserah kamu aja. Pilih sesuai kemauan kamu,”
__ADS_1