Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 13


__ADS_3

“Assalamualaikum, El,”


“Waalaikumsalam, Pak Vano. Jadi beneran dari bapak ya pizza itu? Saya kaget banget waktu Bunda bilang ada kiriman dari bapak. Belum saya apa-apain sih ini, soalnya saya mau mastiin dulu,”


“Iya itu benar dari saya, jangan dibuang ya, mudah-mudahan kamu suka,”


“Nggak mungkin saya buang, Pak. Makasih atas kirimannya tapi lain kali bapak nggak perlu kirim apa-apa lagi ke saya. Nggak enak soalnya,”


“Kamu ‘kan nggak minta, saya yang memang mau kirim itu ke kamu. Dimakan ya, semoga kamu, tante sama om suka,”


“Pasti suka, sekali lagi makasih, Pak, dan maaf udah bikin repot,”


Vano terkekeh, tidak ada kata repot kalau untuk Elvina. Tidak ada permintaan apapun dari Elvina tapi Ia memang ingin saja mengirimkan sesuatu untuk Elvina.


“Oh iya kenapa nggak hubungin saya langsung untuk mastiin itu dari saya atau bukan? Kenapa melalui Davina? Nomor telepon saya kamu simpan ‘kan?”


“Iya, Pak. Tapi saya nggak enak kalau langsung ke bapak. Saya sungkan makanya melalui adik Pak Vano aja,”


“Lain kali kalau mau tanya apapun, atau membahas sesuatu, pokoknya apapun itu, jangan sungkan hubungi saya, entah itu yang berkaitan dengan kuliah, atau yang lainnya. Okay, El?”


“Tapi saya sungkan, lebih nyaman sama Davina, Pak. Ini saya jujur,”


“Nggak perlu sungkan, kamu boleh kok hubungin saya untuk kepentingan apapun itu, dan kapan aja juga boleh,”


“Nggak, ke Davina lebih enak deh kayaknya, daripada ke bapak. Saya takut ganggu bapak. Soalnya bapak ‘kan orang sibuk, jadi saya nggak enak kalau sampai ganggu,”


“Ya ampun, El. Saya malah senang kamu ganggu, jujur,”


“Kenapa begitu, Pak?”


“Ya karena emang saya kadang tuh pengen digangguin sama kamu, biar kita ada interaksi selain dari tentang kuliah. Selama ini ‘kan saya tahan-tahan supaya nggak lebih dari sekedar tanya tugas atau ujian kampus,”

__ADS_1


“Udah dulu ya, Pak ngobrolnya. Sekali lagi makasih banyak untuk kirimannya,”


Sebenarnya Vano tidak masalah kalau Ia dan Elvina lebih lama lagi berbicara. Tapi sayang Elvina sudah mau mengakhiri pembicaraan mereka.


“Iya sama-sama,”


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Setelah bicara dengan Elvina, Vano langsung menghampiri adiknya di kamarnya sendiri untuk kengembalikan ponsel.


Ia mengetuk pintu kamar Davina yang tidak lama kemudian dibuka oleh Davina. “Kalem ya ngetuknya, nggak kayak aku tadi,”


“Iyalah, Abang orangnya sabaran, emang kamu nggak sabaran. Kalau agak lama dibukain tuh berarti Abang tidur atau abang di kamar mandi jadi nggak kedengeran,”


“Karena aku juga penasaran banget soal siapa yang ngirimin pizza ke Elvina. Eh ternyata abang. Ya ampun bucin banget sih,”


“Kirim makanan emang bucin? Biasa aja itu, Dav,”


“Abang pengen aja gitu ngirim makanan, barangkali Elvina belum makan jadi biar dia makan. Nah kebetulan abang pengen pizza,”


“Terus kenapa nggak beli? Kenapa cuma beli untuk El aja, Bang?”


“Ini lagi pengen pesan. Maksudnya biar Elvina aja duluan, jadi dia yang makan duluan, Abang ‘kan baru abis mandi juga tadi. Niatnya emang pengen pesan abis mandi aja,”


“Ah so sweet nya Abang mengutamakan cewek. Duh jadi pengen juga,”


“Heh kamu ngomong apaan? Mau apa? Mau digituin sama cowok juga? Coba siapa cowoknya? Cepat kasih tau Abang,”


Davina langsung menutup mulutnya dengan tangan ketika Ia kelepasan bicara. Ucapannya itu membuat sang abang curiga.

__ADS_1


“Bukan siapa-siapa. Itu cuma keinginan aku aja, Bang. Di masa depan mungkin,”


“Kalau sekarang nggak usah berharap ke cowok untuk dijadiin prioritas, atau diutamakan. Udah cukup kamu jadi prioritasnya orangtua sama abang kamu aja,”


****


“El, kamu kenapa? Kok ngelamun aja, Nak?”


Dini membuka pintu kamar anaknya, tapi Ia lihat Elvina sedang membaringkan kepalanya di atas meja belajar sambil menatap layar ponsel dengan kosong.


Ketika Ia bertanya, Elvina juga tidak memberikan tanggapan dan itu membuat Dini khawatir. Dini langsung mendekati Elvina dan mengusap bahu anaknya itu dan berhasil membuatnya terduduk dengan tegap dan wajahnya kaget menatap kedatangan bundanya. Beberapa saat lalu, Ia hanya sendirian di kamar, sekarang ada bundanya dan Ia tidak tahu kapan bundanya itu datang.


“Eh Bunda, kaget aku. Kapan Bunda datang?”


“Barusan, kamu kenapa? Kok kayak ngelamun gitu?”


Dini langsung meraih ponsel putri semata wayangnya itu. Karena menurutnya sumber yang membuat Elvina melamun berasal dari ponsel anaknya itu.


Elvina tidak sempat lagi menahan bundanya supaya tidak meraih ponselnya. Dini sudah terlanjur melihat foto mantannya Elvina bersama perempuan lain.


Dini menghembuskan napas kasar, Ia menatap anaknya dengan tajam sambil meletakkan ponsel anaknya itu di atas meja belajar.


“Kamu kenapa sih? Hah? Masih belum bisa lupain laki-laki itu? Mau sampai kapan, El? Dia udah nyakitin kamu terlalu dalam tapi kenapa kamu masih ingat aja sama dia? Kamu buang-buang energi mikirin dia, El. Kamu ‘kan liat sendiri dia udah bahagia sama pilihannya. Move on dong harusnya, jangan kepikiran dia terus. Dia aja nyakitin kamu nggak mikir tentang kamu. Dia udah sama perempuan lain, nggak usahlah diingat-ingat lagi karena itu nggak ada manfaatnya buat kamu. Ya Allah, kamu ini kenapa sih, El? Bunda udah sampai berbusa mulutnya ngasih tau kamu,”


Elvina menunduk ketika bundanya meluapkan isi hatinya yang benar-benar sudah lelah menghadapi anaknya yang masih belum juga lepas dari masa lalu padahal sudah disakiti.


“Jangan bodoh dong, Nak. Kamu itu perempuan yang luar biasa, kamu layak dapat kebahagiaan, layak dapat laki-laki yang lebih dari dia kenapa harus mikirin dia terus sih? Hah?”


“Bunda, susah untuk aku lupain Rendra. Aku masih cinta sama dia walaupun dia udah nyakitin aku, kami gagal ke jenjang yang lebih serius,”


“Ya itu tandanya Allah sayangs ama kamu, makanya kamu nggak jadi sama dia. Akhirnya apa? Kebongkar ‘kan dia bukan laki-laki yang baik. Harusnya kamu bersyukur Allah kasih tau bobroknya dia sebelum kalian serius, jadi sakit yang kamu rasain nggak berkali-kali lipat. Dan harusnya kamu langsung kubur perasaan kamu itu, Nak. Karena untuk apa masih cinta sama laki-laki yang nggak baik kayak gitu? Mau sampai kapan? Hmm?”

__ADS_1


Elvina sendiri juga tidak tahu mau sampai kapan Ia terus mengingat Rendra padahal rendra sudah memilih bersama perempuan lain disaat Ia dan Renda masih punya hubungan. Ia sudah terlalu mencintai Rendra dan bodohnya Ia adalah disitu. Walaupun sudah disakiti tetap saja cinta, Ia memang memang benar-benar bodoh kalau urusan hati.


“Udah ya, pokoknya mama nggak mau kamu ingat-ingat dia lagi. Daripada kamu ingat sama cowok nggak baik itu, dia udah bahagia juga sama yang lain, mendingan kamu coba tata hati kamu lagi. Kamu buka hati kamu untuk orang lain, Mama rasa itu nggak ada salahnya. Daripada kamu fokusnya ke masa lalu terus. Untung ya prestasi kamu nggak merosost lagi gara-gara dia. Kalau sampai itu kejadian untuk kedua kalinya, Mama benar-benar nggak paham lagi sama kamu, El. Mama marah sama kamu. Bisa-bisanya kamu ngorbanin prestasi kamu sendiri demi laki-laki yang bahkan nggak bisa menghargai kamu. Jadi perempuan itu jangan bodoh, Nak. Kalau udah disakitin, usah nggak dihargai, ya mendingan pergi. Ayah sama bunda nggak rela banget putri satu-satunya kami jadi bodoh karena cinta kayak begini,”


__ADS_2