
Vano menatap ponsel istrinya yang layarnya menyala dan menampilkan pemberitahuan bahwa akun instagram dengan user name Rendra baru saja memposting foto.
Vano langsung menghela napas pelan dan geleng-geleng kepala. Ia baru tahu, ternyata setelah menikah pun Elvina masih mengaktifkan notifikasi atau pemberitahuan bila mantan kekasihnya memposting sesuatu di akun instagram pribadinya. Elvina terlalu takut ketinggalan info terbaru.
“Segitu nggak maunya kamu ketinggalan update dari dia ya, El. Jadi kalau dia posting, kamu bisa cepat tau karena notif itu kamu nyalain,”
Vano memilih untuk mengalihkan pandangan ke arah lain, tidak lagi ke sumber yang telah membuatnya kecewa.
Selain masih suka diam-diam mengamati potret Rendra, ternyata Elvina masih tidak mau ketinggalan sedikitpun postingan Rendra sampai Elvina enggan menonaktifkan notifikasi.
Vano memilih untuk pura-pura tidak tahu. Walaupun sebenarnya Vano bisa saja menonaktifkan notifikasi itu supaya di lain waktu tidak akan ada lagi pemberitahuan tentang Rendra yang posting video ataupun foto. Sebenarnya Vano juga bisa saja memblokir akun instagram Rendra. Tapi Vano tidak mau berdebat dengan istrinya.
Kalau Ia melakukan itu, Elvina pasti tidak terima, lalu kemungkinan besar mereka akan adu mulut dan itu yang dihindari oleh Vano.
“Mas, kok belum makan?”
Elvina datang dari kamar mandi, dan lansgung duduk di hadapan suaminya. Ia bingung melihat makanan Vano masih utuh, yang artinya Vano belum menikmati makanannya.
“Iya, saya nunggu kamu,”
“Harusnya nggak usah nunggu aku. Mas ‘kan bisa duluan aja,”
__ADS_1
“Tapi saya lebih senang kalau makan bareng-bareng,”
“Ya udah yuk kita doa terus makan deh,” ajak Elvina yang langsung menengadahkan kedua tangannya ke atas begitupun Vano. Mereka berdoa bersama, setelah itu baru mulai bersantap dengan menu nasi campur khas Bali, juga sate lilit.
“Hmm enak banget, Mas,”
“Iya, kalau ke Bali saya suka ke sini,” ujar Vano.
Elvina terlalu lahap menikmati makanan sampai tidak sadar kalau Ia makan sedikit berantakan. Di sudut bibirnya ada nasi yang hinggap tapi tidak disadari olehnya. Vano langsung inisiatif untuk menyingkirkannya.
“Mas sering ke Bali?”
“Nggak juga sih. Kalau liburan lebih sukanya di rumah. Kalaupun pergi liburan yang sering cuma ke puncak aja paling, atau staycation lah,”
“Kamu mikirnya saya liburan sama siapa? Ayo coba tebak,” Vano meminta istrinya untuk menebak supaya suasana lebih berwarna saja disaat mereka makan.
“Hmm? Aku disuruh nebak nih? Mana bisa, yang ada nanti jawaban aku salah,”
“Nggak apa-apa, tebak aja dulu coba,”
“Mas ‘kan dosen, usianya udah dewasa, laki-laki pula, pasti liburannya nggak sendiri. Sama teman-teman ya? Atau sama pacar juga mungkin?”
__ADS_1
Vano terkekeh mendengar tebakan istrinya. Tangan Vano menjawil dagu Elvina yang salah. Mana pernah Ia liburan dengan kekasih. Kalau dengan teman itu sudah pasti pernah tapi benar-bsnar jarang sekali.
“Kamu itu sok tau ya. Tapi kalau lagi sok tau, gemesin juga. Saya merasa nikahin anak sekolah,”
“Ya ‘kan smang masih sekolah,”
“Nggak dong, udah kuliah. Kamu mau sibilang anak sekolahan? Kalau saya sih nggak mau ya dibilang nikahin anak sekolah, nanti dikira pe**fil,”
“Nggak, usia kita nggak jauh-jauh banget. Jangan ngomong gitu dong,”
“Ya makanya jangan mau disebut anak sekolah,“
“Iya, anak kuliah yang nikah sama dosennya sendiri,”
“Dosen muda sebutnya, ‘kan baru mau dua sembilan,”
“Ih kenapa sih pengen banget dibilang muda,”
Vano mencubit pelan pipi istrinya yang memasang ekspresi wajah yang ketus. Tapi anehnya Vano suka-suka saja karena menggemaskan.
“Saya emang masih muda, buktinya kamu mau sama saya. Coba kalau saya udah aki—“
__ADS_1
“Ih nggak! Jangan ngomong gitu, Mas,”