Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 162


__ADS_3

"Makasih ya, Sayang,"


"Okay sama-sama,"


"Aku mau tanya dong,"


Elvina menganggukkan kepalanya siap menjawab pertanyaan yang akan terlontar dari bibir sang suami.


"Emang kenapa nggak pernah ada obrolan ke arah pernikahan sama Jona?"


"Ya karena aku masih sekolah waktu itu, masa iya mikirin nikah. Harusnya mikir belajar dulu yang bener,"


"Tapi kamu pacaran tuh sama dia, harusnya jangan pacaran lah, 'kan harus fokus belajar," ujar ken menyindir sang istri yang malah tak fokus belajar melainkan menjalin hubungan dengan seorang laki-laki di masa sekolahnya.


"Ya 'kan cuma status aja pacaran, tapi omongan belum ke nikah-nikahan, dan tetap belajar yang bener juga kok. Emang kamu waktu sekolah nggak pacaran?"


"Pacaran sih, tapi sama juga nggak bahas-bahas soal nikah,"


"Ya udah, sama berarti,"


"Kenapa putus?"

__ADS_1


"Udah nggak cocok,"


Vano mendengus kemudian mencibir jawaban yang dilontarkan oleh istrinya itu.


"Alasan klasik, udah bosen dengar jawaban itu dari orang yang milih untuk putus dari pasangan,"


Elvina tertawa lepas dan Ia akui itu memang jawaban yang umum sekali dan sering didengar dari mulut-mulut orang yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan.


"Karena aku sama dia berantem terus, Mas," ujar Elvina yang kali ini lebih menjelaskan tentang penyebab Ia putus, bukan hanya sekedar tidak cocok lagi.


"Emang kenapa berantem terus?"


"Dia itu orangnya baik, tapi suka tebar pesona ke cewek-cewek. Terus aku juga dulu egois banget, sering jadi bikin ribut duluan lah intinya,jadi karena hal-hal itulah akhirnya aku sama dia putus deh,"


"Iya begitulah penyebabnya,"


"Terus nggak lanjut lagi?"


"Ya nggak, pacaran sekali terus putus. Habis itu nggak ada hubungan apa-apa lagi, kalau jadi teman sih masih ya. Namanya juga satu sekolah 'kan. Kalau jadi musuh malah nggak enak,"


"Tapi kamu cinta sama dia?"

__ADS_1


"Ya makanya aku sama dia pacaran emang kamu pikir karena apa? harta yang dia punya? ya nggaklah, maaf-maaf aku juga punya harta sendiri. Eh bukan aku sih maksudnya, mama papa aku. Aku belum kerja soalnya," ujar Anatha seraya terkekeh usai menyelesaikan kalimat terakhirnya.


"Ya berarti bedanya di situ ya. Kalau kamu 'kan awalnya nggak cinta sama aku, udah sekarang aja cintanya.Kalau awal nikah mah boro-boro, egois banget, mana ngajak debat mulu, nggak hargain suaminya,"


"Iya-iya deh, cowok sabar mah beda,"


Vano terkekeh dan kini menepuk dadanya sendiri dengan menampilkan wajah pongah.


"Sabar setelah itu dapat kebahagiaan yang dicari dan diinginkan deh, Alhamdulillah,"


Elvina selesai memilih baju untuk datang ke acara ulang tahun pernikahan kedua orangtua Jona setelah itu Ia menyuruh Vano untuk bersiap.


“Jona kenapa harus ngundang kamu ya, Sayang?”


“Ya karena aku temannya, Mas. Wajar lah kalau dia undang aku,”


“Bukan teman ah, mantan kali yang benar, mantan sebelum si Rendra kan? Hehehehe,”


“Ih itu udah lana-lama-lama banget, saking lamanya sampai aku ulang tuh kata lama. Cinta monyet mah nggak usah dianggap,”


“Oh kalau cinta yang benerannya dianggep? Si Rendra tuh dianggep? Iyalah orang pernah nggak bisa move on,”

__ADS_1


Vano bertanya, tapi dijawab sendiri terlihat bahwa Ia tak bisa menahan kecemburuannya.


****


__ADS_2