
“Sorry, gue bukan mau ngapa-ngapain kok di sini. Gue cuma mau antar makanan aja. Kalau enggak dimakan juga enggak apa-apa kok, ini titipan dari nyokap gue. Sebentar, gue ambil dulu,” ujar Jona dengan senyumnya yang kaku apalagi melihat wajah tak bersahabat yang diperlihatkan Vano.
Dengan cepat Jona mengambil makanan yang Ia maksud di dalam mobil sementara Elvina dan Vano saling menatap satu sama lain. Vano melepas genggaman tangannya dan Elvina setelah itu bergegas masuk ke dalam.
“Mas, enggak jadi pergi makan?”
Vano tak menjawab. Ia masuk ke dalam rumah meninggalkan Elvina yang bingung. Vano marah padanya? Padahal Ia tidak salah. Ia tidak mengharapkan kehadiran Jona apalagi mengundangnya datang ke rumah.
Jona datang dengan dua kotak di tangannya. Itu adalah ayam bakar bumbu kecap dan bumbu rujak titipan mamanya.
“Nih buat lo, dari nyokap gue,”
“Thanks ya, bilang nyokap lo jangan repot-repot lagi,”
“Enggak repot kok. Sorry nih kalau ganggu, gue balik dulu,”
“Iya, hati-hati, Jon. Sekali lagi terimakasih,”
“Yoi sama-sama,”
Jona langsung bergegas masuk ke dalam mobil meninggalkan Elvina yang baru masuk ke rumah setelah mobil Jona tak terlihat lagi oleh matanya.
Elvina masuk membawa kotak ayam bakar dan langsung bergegas ke ruang makan dimana Vano ada di sana, sedang duduk sambil memainkan ponsel. Dan cuek saja ketika Elvina berdiri di dekatnya meletakkan kotak ayam bakar.
“Jadi gimana? Mau pergi atau makan di rumah? Nih sayang banget, ada ayam bakar,”
“Makan aja sama kamu, aku mending makan di luar atau makan aja masakan Amih,”
“Ih enggak boleh begitu, harus hargai pemberian orang,”
“Aku hargai, buktinya enggak aku buang, iya ‘kan?”
“Ya jangan dibuang dong,”
“Enggak aku buang, makan aja sama kamu sana,”
“Ya udah kita makan di luar aja dulu, ini buat nanti malam, gimana?”
__ADS_1
“Bisa jadi itu makanan udah dijampi-jampi sama dia biar kamu kecantol sama dia,”
“Enggak boleh nuduh! Kamu nih kenapa sukanya berpikir negatif sih?”
“Kita tuh harus waspada, kamu kok percaya aja sama dia? Enggak takut diracunin?”
“Astaga, Mas! Kamu makin menjadi ngomong nya, udah lah jangan khawatir begitu,”
Vano beranjak dari kursi dan bergegas keluar rumah lagi. Elvina bingung karena Vano tak mengajaknya.
“Ini maksudnya Vano ngajak gue enggak?”
Elvina berlari kencang menyusul Vano sambil memanggil-manggil suaminya itu. “Mas, tunggu aku! Katanya kamu mau makan sama aku tadi,”
“Ya udah ayo,”
“Ih tapi kamu enggak nungguin aku!”
Elvina menarik tangan suaminya hingga berbalik ke belakang dan hampir limbung. Ia menatap Elvina dengan tajam.
“Aku mau ikut! Kamu ngajak aku juga ‘kan?”
“Iya, tapi enggak usah narik kasar juga dong, hampir aja jatoh ke bawah, kalau jontor bibir aku gimana?”
Vano merangkul bahu Elvina dan mereka berjalan mendekati mobil dengan langkah yang kompak.
Sebenarnya sudah ingin pergi sejak tadi cuma karena Jona datang, Vano sempat enggan pergi. Suasana hatinya terlanjur buruk. Ia cemburu! Apalagi Jona datang untuk membawakan sesuatu walaupun katanya itu makanan dari mamanya.
“Makan dimana?”
“Kita cari japanese food aja gimana?”
“Ya udah boleh, aku ikut apa kata kamu aja,”
“Aku mau tanya sama kamu,”
Vano selesai memasang seat belt setelah itu melajukan mobil dengan kecepatan normal sambil Ia bicara pada istrinya itu.
__ADS_1
“Tanya soal Jona?”
“Iya, beneran kamu enggak ada janji mau jalan sama dia ‘kan?”
“Ya ampun, ngapain aku bohong sih? Beneran, enggak ada janji mau jalan sama dia, emang dia tuh cuma mau antar makanan aja habis itu pulang,”
“Kalau enggak ketemu aku, jangan-jangan kalian ngobrol dulu berdua atau bisa jadi pergi,”
“Ya enggak lah, Mas,”
“Maaf ya kalau aku cemburu, aku ngaku kalau aku cemburu,”
“Aku udah enggak heran kalau kamu kayak gitu,”
“Justru aku yang heran kenapa kamu bisa marah-marah ke aku karena ketemu sama yang lain, makanya aku bilang, kamu kayak lagi cemburu gitu,”
“Nyatanya enggak cemburu sama sekali,”
“Hmm okay, enggak apa-apa,”
Intinya Elvina mulai merasa terusik dan takut posisinya diambil alih orang lain makanya dia bisa sampai marah-marah setelah tahu Vano bertemu dengan perempuan yang berdasarkan pengakuan Vano adalah temannya.
“Terus Jona kasih apa tadi?”
“Kayaknya sih ayam bakar kalau dari tulisan di kotaknya,”
“Mau kamu makan?”
“Makan lah, masa dibuang, sayang dong kalau dibuang,”
“Kamu yang makan?”
“Iya, Mas. Kenapa sih? Kamu masih mikir kalau dia jampi-jampi makanan itu atau dia kasih racun?”
“Jujur sih iya,”
“Astaga, dia tuh kenal aku, aku juga kenal dia, logika nya kalau dia berani macam-macam, berarti dia berani juga aku laporin ke polisi,”
__ADS_1