
"Ma, Vano tadi telepon itu. Pas Papa mau angkat, keburu mati,"
Informasi itu langsung diterima Lisa begitu memasuki kamar untuk mengajak suaminya sarapan di ruang makan.
Bergegas Lisa mengambil ponsel pintarnya untuk melihat history panggilannya. Benar, Vano menghubungi sebanyak tiga kali. Pukul empat tadi sekali, dan belum lama ini sebanyak dua kali.
"Padahal serumah kok telepon sih?"
"Coba datangi kamarnya. Ada yang mau diobrolin sama Mama mungkin,"
Lisa mengangguk patuh mendengar saran suaminya agar Ia datang ke kamar putra bungsu mereka yang mereka anggap masih di kamar dan akan membicarakan sesuatu pada Lisa.
Lisa langsung mengetuk pintu kamar Dio. Tapi tidak ada sahutan dan Ia merasa seperti tidak ada kehidupan di dalam sana. Segera Ia membuka pintu kamar di hadapannya ini. Matanya membola menatap sekitar yang kosong.
"Lah kenapa kosong ya? pada kemana ini anak dua,"
Lisa masuk ke dalam untuk mengecek secara keseluruhan. Benar Elvina dan Vano tidak ada dikamarnya. Ia berdecak pelan karena cemas. Ia keluar usai menutup pintu dan kembali ke kamarnya.
"Pa, Vano sama Elvina enggak ada di kamar,"
"Lah? kemana mereka?"
"Ya bunda juga enggak tahu. Masa iya mereka kabur?"
Lisa bicara sambil menghubungi Vano. Ia akan marah besar kalau Vano benar kabur. Apa mentang-mentang Ia belum rela membiarkan Vano untuk tinggal di rumah sendiri makanya Vano dan Elvina ambil jalan pintas dengan cara kabur? tapi masa iya mereka kekanakan seperti itu? dan lagipula kenapa Vano menghubunginya kalau memang kabur? erghh otaknya sudah berpikiran buruk saja setelah tahu Vano dan Elvina pergi tanpa pamit.
"Hallo, Van kamu dimana sih? kok kamar kosong? pergi enggak pamit sama Papa Mama. Kamu sama El kemana?" Ia langsung mengatakan itu ketika Vano menyapanya di telepon.
Vano terkekeh pelan menyadari mamanya yang kesal. Wajar saja, pagi-pagi begini Ia dan Elvin meninggalkan rumah tanpa mengatakan apapun.
"Maaf Ma aku belum bilang sama Papa Mama. Jadi tadi malam bunda hubungi El dan kasih kabar kalau Ayah pingsan terus dibawa ke rumah sakit. Jadi El dan aku langsung ke sana dan enggak kepikiran untuk pamit sama papa mama. Maaf ya, Ma," ujar Vano menjelaskan kenapa Ia bisa tidak ada di kamar.
"Pingsan? jadi sekarang kondisi ayah mertua kamu gimana?"
Raut cemas langsung kelihatan dari wajah Lisa. Begitupun Beni yang segera mendekat pada Lisa untuk mencuri dengar pembicaraan antara istri dan anaknya. Lisa berbisik memberi tahu kalau ayahnya Elvina tidak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit.
"Kata dokter ayah terlalu banyak pikiran dan stres. Terus trombositnya juga turun makanya lagi dirawat di sini. Dan barusan aja, suhu tubuh Papa tinggi,"
Panggilan yang sudah diloud speaker oleh Elvina membuat Beni juga bisa ikut mendengarkan apa yang dikatakan Dio.
"Ya Allah," Beni langsung terkesiap mengetahui kabar Arman, besannya.
"Ya udah, Van. Kamu di sana dulu ya, dampingi El dan Bunda Dini," pesan Lisa langsung tanpa basa-basi pada anak pertamanya itu. Pasti Elvina dan Dini sedang tidak baik-baik saja mengetahui kondisi lelaki yang merupakan pahlawan dalam hidup mereka berdua itu.
"Iya, Ma. Memang aku enggak kerja hari ini. Aku enggak kemana-mana,"
"Ya, Nak. Masalah baju kalian berdua El nanti mama yang bawa ke sana ya,"
"Iya, Ma. Mohon doanya untuk ayah,"
"Iya, Sayang, pasti,"
Beni mengambil alih ponsel istrinya dan gantian bicara dengan Vano. "Van, kamu harus selalu dampingi mereka. Itu ayah Arman juga orangtuamu, jadi kepedulianmu juga harus besar. Mereka lagi butuh kamu apalagi Arman enggak punya anak laki-laki. Pagi ini Papa sama Mama ke sana ya,"
"Iya, Pa,"
Beni mengembalikan benda canggih dalam genggamannya pada sang pemilik.
"Mama siapkan baju dulu untuk El sama Vano. Barangkali mereka mau menginap terus di sana sampai keadaan Arman lebih baik,"
"Iya, pasti itu, Ma. El enggak mungkin membiarkan Mamanya sendiri. Dan Vano juga enggak mungkin pergi meninggalkan El dan mertuanya,"
Lisa kembali ke kamar putra untuk menyiapkan pakaian Vano dan Elvina yang akan Ia bawa ke rumah sakit.
****
Vano memilih bicara dengan orangtuanya di luar ruang perawatan sang ayah mertua karena lagi-lagi Ia takut mengganggu istirahat Arman.
Ia terlonjak begitu bahunya disentuh. Ia menoleh dan mendapati Elvina yang menatapnya.
"Mas kenapa keluar?"
"Takut ganggu ayah. Tadi mama sama papa ngomong sama saya, kalau mereka mau ke sini pagi ini,"
"Oh yang telepon mama aja?"
Vano mengangguk dua kali. Elvina berdehem kemudian Ia memutar tumitnya untuk kembali ke ruangan.
"Kenapa? curiga kalau saya telepon yang lain? enggak kok, saya cuma bicara sama mama dan papa aja. Jangan curiga gitu," ujar Vano sambil menaik turunkan alisnya.
Elvina kembali menatap suaminya dengan senyum. Ia meraih tangan suaminya, tanpa mengatakan apapun. Tapi dalam hati membenarkan kalau ia memang sempat berpikir bahwa Vano keluar untuk bicara dengan seseorang. Seharusnya memang Ia biasa saja. Tapi entah kenapa Ia penasaran sekali. Biasanya kalau sembunyi-sembunyi seperti itu, pasti ada sesuatu. Pikiran Elvina sudah buruk saja padahal suaminya tidak melakukan apapun.
"Segitu enggak percaya nya sama saya? Emang udah cinta sama saya? Kok cemburu?”
"Percaya, aku percaya. Aku minta maaf ya. Aku enggak bermaksud. Aku lagi kacau, jadi pikiran nggak nentu deh, bukan cemburu cuma penasaran aja,”
Vano tersenyum menggeleng tak ingin membahasnya lagi. Ia menyentuh punggung Elvina dan mengajaknya masuk.
Sesaat mereka kembali ke dalam ruangan, sarapan untuk Arman datang. Dini yang sedang menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya nanti segera membangunkan sang suami agar sarapan.
"Pakaian ganti Ayah udah siap, Bun?"
"Udah, Sayang,"
Elvina mengangguk, Ia tak melihat alat mandi untuk sang ayah, mungkin belum sempat dikeluarkan bundanya dari koper kecil yang tadi diantar driver rumahnya ke sini.
Elvina yang mengeluarkan pouch berisi peralatan untuk bersih-bersih yang biasa dipakai sang ayah.
"Ayah enggak mandi dulu. Tapi dilap aja ya,"
"Iya, ayah masih enggak kuat juga ke kamar mandi. Kepala ayah sakit,"
Arman sudah bangun dari tidurnya. Kini Ia beranjak duduk, dibantu oleh Vano. Dini sudah siap dengan mangkuk berisi bubur yang merupakan menu makan pagi suaminya.
"Kalian udah sarapan?" tanya Arman dengan suara lemahnya, menatap istri juga kedua anaknya dengan lembut.
"Nanti, Yah. Gampang, enggak usah mikirin kami. Nanti aku cari sarapan di bawah," kata Elvina menenangkan sang ayah yang baru saja bertanya.
__ADS_1
"Saya aja yang turun. Kamu di sini sama bunda ya. Aaya cuma sebentar kok. Biar Mama juga cepat sarapan jangan sampai terlambat makan nanti sakit juga,"
Vano pamit pada istri dan kedua mertuanya itu untuk turun ke lantai bawah dimana kantin berada.
Vano harus segera mencari sarapan untuk ibu mertuanya terutama. Jangan sampai Dini juga ikut sakit karena terlambat makan. Shena juga begitu, terlalu memikirkan orangtua, bisa-bisa perempuan itu ikut tumbang.
***
Lisa dan Beni tiba di rumah sakit. Kaki mereka melangkah cepat menuju meja resepsionis untuk bertanya dimana letak ruang VVIP sakura yang merupakan tempat Arman dirawat sekarang.
Setelah mendapatkan informasi, mereka segera bergegas menghampiri lift untuk naik ke lantai tiga.
"Awas, Ma. Ada pasien,"
Beni menarik pelan lengan sang istri agar seorang pasien dengan kursi roda dan seorang pendampingnya yang mendorong bisa masuk lebih dulu.
Setelah tiba di lantai tiga, Lisa dan Benj keluar dari benda kotak kaca yang sudah membawa mereka naik itu.
"Ada lift khusus pasien kok malah naik lift umum ya, Pa,"
Rupanya Lisa sedikit mempermasalahkan pasien yang di atas kursi roda tadi.
"Ya mungkin belum tahu kalau ada lift khusus pasien. Biar ajalah, Ma,"
"Aku kasihan aja, Pa. Kan dia jadi gabung sama orang-orang. Kalau naik lift pasien pasti lebih nyaman,"
Beni dan Lisa mengedarkan pandang ketika mereka tiba di koridor khusus ruangan VVIP.
Ia mencari 'sakura' diantara beberapa ruang VVIP, akhirnya berhasil ditemukan.
"Ternyata enggak susah nyarinya,"
"Niat baik akan dipermudah,"
Lisa terkekeh pelan mendengar suaminya bergumam seperti itu. Mereka lantas menggunakan handsinitizer di depan pintu ruangan, barulah mereka masuk.
"Assalamualaikum,"
Elvina dan kedua orangtuanya yang tengah mengobrol ringan menoleh pada pintu yang dibuka dan menampilkan sosok Beni dan istrinya.
Elvina segera bangkit menyambut keduanya. Ia mencium punggung tangan Beni dan Lisa.
"Duduk, Bun, Yah,"
"Si Vano mana? kok enggak ada di sini?" Rupanya Beni sadar tidak ada putranya di dalam ruangan ini. Pagi-pagi Ia sudah keluar.
"Menantuku itu beli sarapan," jawab Arman dengan suara pelannya.
Beni segera mengusap bahu Arman. "Sembuhlah, kasihan anak dan istrimu,"
Arman tersenyum mengangguk. Ia mendapatkan amunisi dari Beni agar lebih kuat untuk melawan sakitnya.
"Jangan banyak pikiran. Apa sih yang kau pikirkan? anakmu udah menikah, bukan tanggung jawabmu lagi. Masih aja banyak pikiran," hibur Beni agar Arman tertawa. Tujuannya datang ke sini selain ingin tahu kondisi Arman, juga ingin menghibur sekaligus menyemangati Arman.
"Duduk dulu. Jam berapa ke sini?"
"Sarapan dulu ya?" Dini meminta mereka agar makan dulu di sini. Tapi Lisa menggeleng.
“Kami ke sini setelah sarapan, Din,"
"Oh iya, aku juga bawakan sarapan ini,"
Lisa mengeluarkan tempat makanan yang bersusun, berisi nasi goreng yang sengaja Ia pisahkan sebelum habis tak bersisa.
"Wuih nasi goreng,"
Elvina mendekat ketika dipanggil Dini untuk makan. Ia menatap lapar nasi goreng yang masih mengeluarkan uap dari tempatnya.
"Ini kebetulan Davina yang masak. Semoga suka ya,"
"Arman sabar dulu. Enggak bisa nyicipin,"
Beni meledek Arman yang sepertinya tertarik karena menatap penuh minat pada wadah nasi goreng yang bertabur bawang goreng dengan telur dan ayam goreng juga sebagai pelengkap.
"Tahu aja kalau aku ngincar,"
Beni terkekeh mendapat sahutan tidak mengelak dari Arman. Sesaat kemudian Ia berujar, "Eh Vano beli sarapan ya?"
Mereka lupa kalau Vano sedang pergi membeli sarapan. Padahal Lisa sudah membawakannya sekarang.
"Pasti semuanya dimakan kok. Enggak apa, kasihan Vano kalau disuruh balik. Lagipula jangan-jangan dia udah selesai beli sarapannya,"
"Iya, nanti kamu habis beri makan Arman, kamu makan juga, Din. Jangan sampai kamu sakit. Kasihan El kalau kalian berdua sakit. El pasti cemas banget. Ini aja udah cemas pas tahu papanya sakit sampai lupa pamit
sama aku pas mau berangkat,"
Elvina terkekeh meringis. Lisa tidak lihat bagaimana dia tadi malam. Seperti orang dikejar hantu karema terlalu mencemaskan papanya.
"Maaf ya, Ma, lupa pamit tadi, aku sama Mas langsung keluar gitu aja,”
"Iya, Mama ngerti, Sayang. Namanya orangtua sakit ya pasti kita mau cepat-cepat ketemu,"
"Aku enggak tahu mau telepon siapa selain Elvina. Aku juga udah kaya apa tadi malam itu. Sebelumnya Arman baik-baik aja. Aku cari di ruang kerjanya terus aku lihat dia kayanya ketiduran. Pas aku banguni, enggak bangun-bangun. Aku langsung panik, nangis enggak karuan. Soalnya belum pernah kaya gini sebelumnya. Setelah sampai rumah sakit, aku ngerasa enggak bisa hadapi semuanya sendiri makanya aku hubungi Elvina,"
Lisa mengusap bahu Dini yang bercerita dengan mata berkaca. Mungkin masih mengingat bagaimana situasi tadi malam.
"Maaf ya aku enggak bisa ada di samping kamu saat kamu butuh,"
Lisa meraih tangan Dini yang langsung menggeleng tidak setuju dengan penuturan Lisa.
"Kehadiran Vano udah lebih dari cukup. Dia yang urus semua keperluan sebelum Arman pindah ruangan, Dia menenangkan aku, meyakinkan aku kalau semuanya baik-baik aja. Apapun dia bantu. Aku justru berterimakasih sekali sama kamu dan Beni. Meskipun aku dan Arman enggak punya anak laki-laki tapi dengan adanya Vano udah membuat kita merasa punya anak laki-laki. Eh padahal ada media dan sayang sekali sama kami,"
Lisa tersenyum. Memang itulah tugas Vano sebagai seorang suami. Tidak hanya menyayangi dan mencintai orangtua kandungnya saja tapi juga mertuanya.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
Ketukan pintu disusul dengan derit pintu yang dibuka membuat mereka semua menoleh.
Vano tersenyum lebar menatap mereka. Di tangan lelaki itu membawa satu kantong plastik putih.
"Bubur ya, Mas?" Elvina menebak dari styrofoam yang dibawa suaminya.
"Iya, aku beli bubur,"
"Mas, mama sama papa bawain nasi goreng buatan Davin,"
Bahu Vano luruh melemas. Hal itu membuat Elvina dan keempat orangtuanya tertawa.
"Mama enggak bilang mau bawa sarapan,"
"Enggak apa, Sayang. Pasti dimakan semua kok. Udah, kamu sarapan dulu sama El," Beni menyuruh anak dan menantunya untuk memilih apakah ingin nasi goreng atau bubur sebagai menu sarapan. Terserah mereka, yang terpenting saat ini perut mereka berdua yang sudah menemani sejak dini hari tadi segera terisi.
"Aku mau nasi goreng aja," jawab Areno.
"Yaudah aku bubur. Biar ada yang menghargai usaha aku turun ke bawah,"
Kalau istrinya memilih makan nasi goreng yang dibawa sang bunda, maka Andra memilih untuk menyantap bubur yang sudah Ia beli tadi. Belinya perlu usaha juga ini. Ia harus ke lantai bawah dimana kantin berada, lalu menunggu giliran dibuatkan oleh penjualnya.
"Nanti aku makan juga buburnya, Mas,"
"Iya harus, kamu harus makan banyak,"
Agatha tersenyum melirik suaminya yang kini duduk di sofa dengan tangan memegang wadah bubur.
"Aku makan dulu ya, semuanya," kata lelaki itu. Meskipun Ia lapar tapi tentu Ia akan menengok kanan kiri. Ada empat orangtuanya tidak mungkin Ia makan saja sendirian.
"Iya, ayah sama bunda udah sarapan sebelum ke sini tadi,"
Lisa menyiapkan air minum untuk sang suami. "Terimakasih," ucap lelaki itu dengan senyumnya dan mulut yang mengunyah.
"Elvina makan juga, Nak," The hermest menyuruh menantunya makan karena Ia melihat alice malah duduk di sebelah Andra.
Agatha lebih tertarik mencuri pandang ke arah suaminya yang sedang melahap bubur daripada mengisi perutnya.
"Nanti aja, Pa. Aku belum lapar,"
"Hei, makan! ini udah waktunya sarapan. Mau kapan kamu makannya?" Lisa menatap sang putri dengan sorot memperingati agar Shelina tidak meninggalkan jadwal makannya. Ini belum sehari Beni di rumah sakit. Jangan sampai anaknya itu sakit juga.
"Iya, Ma. Nanti aja makannya,"
"Ayah enggak kerja?"
Bapaknya deh melihat arloji di pergelangan tangannya. "Oh iya, udah jam setengah delapan ini,"
Beruntung putranya menanyakan. Kalau tidak, Ia terlalu asyik di ruangan ini. Meskipun Arman hanya menanggapi sebisanya obrolan yang tercipta, tapi suasananya hangat. Beni nyaman di sana.
Beni merangkul sekilas bahu Sakti. "Kerja dulu ya. Cepat sembuh, jangan tumbang-tumbang lagi,"
"Iya, terimakasih udah datang ke sini. Kau juga, jaga kesehatan,"
Terkadang orang seperti Beni ini sering mengingatkan orang lain agar tidak sakit tapi dirinya sendiri lengah akibat kesibukan yang mendera setiap harinya. Sakti juga seperti itu. Dan pada akhirnya kini harus merasakan sunyinya ruang perawatan rumah sakit dimana harus terpaksa melepaskan semua kesibukan yang selama ini mengikat.
"Aku juga pulang ya. Cepat sembuh ya, Arman. Setelah sehat, jaga betul-betul kesehatanmu,"
“Din, kamu juga harus jaga kesehatan ya. Kalau kamu sakit, aku nggak ada bestie lagi lho, lagian takutnya mantu aku nggak mau kalah malah ikutan sakit karena ayah bundanya sakit. Kasian kalian kalau sampai begitu. Nggak ah jangan pernah mikir begitu, positif thinking aja,”
“Siap, Lis, makasih banyak udah datang,”
"Papa mama pamit dulu ya?”
Vano dan Elvina mencium punggung tangan keduanya yang akan meninggalkan rumah sakit.
"Hati-hati, Pa. Terimakasih udah jenguk ayah,"
Beni tersenyum mengusap kepala Elvina yang tersenyum tulus mengucapkan rasa terimakasihnya. Padahal apa yang dilakukannya dengan Lisa ini memang sudah seharusnya. Keluarga sakit maka mereka ikut merasakan kesedihan kemudian memberikan semangat agar sembuh. Arman sangat membutuhkan dukungan moril dari orang terdekatnya apalagi kata dokter yang menyebabkan Ia seperti ini adalah banyaknya beban pikiran yang seharusnya tidak perlu ada di kepalanya.
Elvina berdehem usai berhasil menghabiskan bubur miliknya. Ia menyeruput air minum terus melirik pada istrinya yang sedang menatapnya.
“Makan, bukannya malah lihat ke aku terus,"
"Belum lapar, nanti aja,"
"Mama aja sekarang mau makan nih," Dini bangkit berdiri mengambil nasi goreng yang dibawakan Elvina dan Vano tadi. Ia sudah selesai menyuapi suaminya makan.
"Ayah, butuh apa?"
"Enggak ada, ayah butuh lihat kamu makan,"
Elvina menghela napas pelan. Sejujurnya Ia belum nafsu makan makanya menunda. Tapi sejak tadi Ia diminta untuk segera makan. Apalagi kini orangtuanya yang sedang sakit juga angkat bicara memintanya agar segera makan.
"Aku mandi dulu ya,"
"Aku siapin bajunya,"
"Enggak usah, aku ambil sendiri,"
Elvina sudah akan makan tidak mungkin Vano membiarkannya sibuk menyiapkan pakaian ganti yang dibawa orangtuanya dengan travel bag. Disana baju Elvina dan dirinya tersimpan rapi.
Vano mengeluarkan satu stel pakaian non formalnya, pakaian dalam juga peralatan mandi.
Semuanya lengkap, ah Vano harus mengucapkan terimakasih pada mamanya. Tadi Ia lupa mengatakan itu secara langsung. Lisa memang selalu bisa diandalkan untuk hal-hal seperti ini.
Apa memang semua perempuan ditakdirkan begitu ya? Ia jadi ingat bagaimana Elvina waktu mereka liburan ke Jogja dan Bali selama satu minggu. Semua persiapan dilakukan dengan matang oleh istrinya itu. Tidak ada yang tertinggal. Bahkan hal remeh temeh saja Elvina ingat. Semacam pouch untuk menyimpan kaus kaki, kacamata renang yang Elvina pikir akan dipakai suaminya renang di Bali tapi pada akhirnya tidak dipakai karena Vano tidak renang. Justru malah Elvina yang berenang di penginapan.
"Makan yang banyak, Elvina. Badanmu enggak berubah dari sebelum menikah sampai setelah menikah,"
"Kan sengaja, Bun. Biar tetap bagus gitu body aku,"
"Hih kamu ini. Kalau udah nikah enggak usah lagi mikirin body bagus. Udah laku, jadi tenang aja,"
Elvina terkekeh dan mengerling pada bundanya. Sebenarnya bukan karena itu. Memang dasarnya Ia malas makan.
__ADS_1