
“Makasih udah datang ke sini, sering-sering ya, jangan bosan main ke sini terutama untuk kamu, Van,”
“Iya, Yah. Nggak bakal bosan, diterima dnegan sangat baik kok bosan. Nggak mungkin, Yah. Aku malah betah banget di sini, aku bakal seribg-sering ke sini. Tapi Ayah sama Bunda siap-siap bosan liat aku ya,”
“Ah mana mungkin bosan. Justru kami sennag kamu datang,”
“Bersikap yang baik, hargai suamimu dan keluargamu yang di rumah sana, paham kamu?”
Bahkan saat akan pulang saja sikap Dini dan Arman masih dingin. Sekarang elaan Dini kelada Slvina sudah jelas. Dini ingin Elvina menghargai.
Karena inti dari semuanaya dalah Elvina tidak mau menghargai suaminya, keluarganya, dan juga pernikahannya. Satu saja yang tidak dihargai oleh Elvina, maka yang lainnya akan ikut tidak dihargai juga. Pertama yang tidak dihargai oleh Elvina adalah janji sucinya sendiri bersama Vano. Andai saja dia mau menghargai pernikahannya, pasti dia akan berusaha sekeras mungkin untuk melupakan masa lalunya. Tapi sayang Elvina tidak mau berusaha sekeras itu. Pernikahannya saja tidak dihargai, otomatis suami dan keluarganya juga tidak dihargai. Elvina menganggap apa yang sudah terjadi di antara mereka itu hanyalah permainan belaka.
Katanya mau belajar menerima Vano, mencintai Vano, tapi kenyataannya tidak. Yang penting janji dulu, ditepati atau tidak urusan belakangan. Itu prinsip yang dipegang oleh Elvina sekarang. Sehingga menyimpan foto mantan kekasih, melihat-lihat isi sosial media mantannya itu dianggap hal yang wajar.
“Ingat pesan-pesan Ayah bunda. Awas ya kalau kamu nggak tepati,” tegas Arman pada anak satu-satunya itu.
“Iya, Yah, Bun,”
__ADS_1
“Kamu tau ‘kan sebesar apa rasa kecewa kami? Kamu mau menambahnya?“
Elvina menggelengkan kepalanya. Tidak, Ia tidak ingin menambah kekecewaan orangtuanya. Tapi Ia sendiri juga masih bingung bagaimana caranya untuk melupakan Rendra sulaya Ia bisa benar-benar fokus dengan kehidupannya bersama Vano.
Vano dan Elvina sudah meninggalkan kediaman orangtua Elvina. Di dalam perjalanan Elvina banyak diam, dan itu membuat suaminya bingung.
Vano menjentikan jarinya telat di depan wajah Elvina yang langsung tersentak kaget. Elvina menolehkan kepalanya dan bertanya “Kenapa?” Tanya Elvina.
“Saya uang harusnya tanya kayak gitu. Kamu kenapa? Ada masalah?”
“Nggak,”
Vano memulai obrolan supaya suasana di dalam mobil tidak begitu hening. Dan supaya istrinya juga tidak melamun.
“Banyak deh, Ayah bunda banyak ngasih pesan ke aku,“
“Tentang apa? Saya boleh tau nggak?”
__ADS_1
“Tentang pernikahan kita, Mas,”
“Oh gitu, terus?”
“Ya nggak ada teru-terus,”
“Apa aja pesan mereka?”
“Masa iya sih Mas nggak bisa nebak?”
“Saya malas nebak,”
“Ayah Bunda berharap aku bisa secepatnya lupain Rendra, dan fokus aja sama masa depan aku dan kamu. Aku diminta mereka untuk kenghargai pernikahan, karena kalau aku menghargai pernikahan kita, itu artinya aku menghargai kamu dan keluarga kamu juga. Sebaliknya kalau aku nggak menghargai pernikahan kita, tandnaya aku nggak menghargai kamu dan keluarga kamu. Itu bukan yang Ayah Bunda mau,”
“Mereka pengen perninahan kita baik-baik aja pada intinya. Jadi saya harap kamu paham ya?”
Elvina kenganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Saya harap kamu paham, dan dilakukan supaya mereka nggak merasa kecewa. Tapi itu tergantung pilihan kamu lah, saya nggak mau maksa. Yang perlu kamu tau perasaan saya ke kamu masih sama, El,”