Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 134


__ADS_3

“Sini aku peluk biar nangisnya berhenti,”


Vano naik ke atas sofa dan Ia meraih Elvina ke dalam rengkuhannya. Rasa penyesalan dalam diri Vano belum juga sirna. Ia yang sudah membuat istrinya menangis.


“Maafin aku ya, udah bikin kamu sakit hati, marah, sedih sampai nangis terus dari tadi. Aku benar-benar minta maaf, aku janji nggak akan ngulangin lagi, Sayang, tapi Demi Allah yang tadi itu aku jujur banget sama kamu. Aku nggak ajak siapapun ke sini apalagi ganggu liburan kita, nggak sama sekali,”


Elvina berusaha melepaskan rengkuhan Vano tapi Vano menahannya. Vano terus memeluknya dengan erat dan menggelengkan kepalanya menolak Elvina yang ingin terlepas dari jeratannya.


“Aku harus ngelakuin apa supaya kamu nggak marah lagi? Supaya kamu nggak nangis lagi,”


“Aku mau pisah aja sama kamu, Mas. Ternyata percuma usaha aku untuk belajar cinta sama kamu. Kenyataannya kamu malah nyakitin aku,”


“Kamu cinta sama aku? Hmm?”


Vano merangkum pipi istrinya setelah Ia lepaskan pelukan mereka. Ia menatap mata Elvina dengan dalam dan menyelami apa yang Elvina rasakan sekarang melalui sorot matanya.


“Iya, Sayang? Kamu cinta sama aku?”


“Aku udah ngomong dua kali, dan aku nggak mau ngulangin itu,”


“Kenapa? Padahal aku senang dengarnya dan mau dengar satu kali bisa nggak? Aku boleh request?”


“Nggak! Aku nggak izinin kamu request apapun itu. Kamu harus tau diri! Kamu itu udah nyakitin aku jadi jangan banyak nuntut,”


Vano menahan tawa karena jawaban ketus sang istri. Ia memajukan wajah mengecup bibir Elvina singkat setelah itu mencium kening Elvina berulang kali.


“Aku mau minta tolong dibawain makanan ke sini, kamu mau apa?”


“Aku nggak mau makan apa-apa,”


“Jangan, aku nggak mau kamu kelaparan. Dari rumah belum makan ya?”


“Udahlah Vano kamu nggak usah pura-pura baik sama aku. Aku benar-benar muak, serius. Berhenti untuk peduli sama kamu,”


“Kenapa? Aku memang benar-benar mau peduli sama kamu. Aku nggak mau kamu kelaparan, Sayang, jadi kamu harus makan ya? Kamu tinggal bilang ke aku mau makan apa, biar aku—“


“Aku nggak mau makan! Yang aku mau sekarang adalah pulang ke rumah orangtua aku. Kamu tolong balikin aku ke mereka dengan cara baik-baik, aku mau pisah aja, aku udah nggak kuat kamu permainkan terus,”

__ADS_1


“Nggak boleh, kamu cinta sama aku dan aku juga jangan ditanya. Jadi alasan kamu mau pisah apa? Aku udah jelasin kok kalau aku nggak salah, kamu kenapa nggak percaya sih?”


“Tapi aku nggak percaya sama ucapan kamu! Terlalu sering bohong jadi susah untuk dipercayai lagi, makanya jangan suka bohong sama aku!”


“Aku nggak bohong kok, memang aku nggak selingkuh, aku nggak pernah permainkan kamu, tapi kamu nya yang nggak percaya,”


Vano bergegas dari sofa. Ia akan menghubungi pihak hotel untuk diantarkan makanan tetapi Elvina mengira Ia akan pergi.


“Kamu mau kemana? Kamu jangan biarin aku sendirian di sini sementara kamu bisa bebas keluar,”


“Aku nggak tinggalin kamu sendirian di sini, Sayang. Jangan takut, aku cuma mau minta diantar makanan,”


“Aku udah bilang kalau aku nggak mau makan,”


“Ya tapi aku mau makan, gimana dong? Masa iya aku pengen makan malah kamu larang? Nggak boleh begitulah, Sayang,”


“Setelah itu biarin aku pulang ya?” Tanya Elvina dengan ekspresi sendunya. Ia memohon pada Vano agar membiarkannya meninggalkan hotel ini. Ia sudah lelah minta kunci karena Vano tidak terpengaruh sedikitpun. Barangkali dengan Ia memohon, Vano luluh dan mau mempersilahkan Ia pulang.


“Tapi kesalahpahaman kita belum selesai, makanya aku nggak kasih izin kamu pulang. Bukan apa-apa, Sayang. Aku itu nggak mau kita bertengkar lama-lama, lagipula liburan kali ini ‘kan udah kita rencanakan sebelumnya, jadi tolong ya jangan—“


“Tapi kamu yang ngerencanain semua ini, aku tinggal patuh aja, kenyataannya aku malah dikhianati. Kamu malah ajak dia ke sini dengan sengaja supaya ketemu aku, benar ‘kan?!”


Vano menyuruh istrinya untuk diam sebab Ia ingin meminta tolong diantarkan makanan karena perutnya sudah ribut minta diisi.


“Aku nggak makan habis rapat tadi,”


“Aku rasa kamu nggak benar-benar rapat ya, Mas,”


Vano menatap istrinya terperangah. Selain penjelasannya sejak tadi, kegiatan Ia sebelum ini pun tampaknya diragukan oleh istrinya itu. Jelas-jelas Ia melakukan rapat. Kalau tidak, untuk apa Ia berada di hotel tersebut.


“Kamu nggak percaya kalau aku rapat? Silahkan tanya sama pihak hotel, tanya ke mereka tadi ballroom dipakai untuk apa? Rapat atau yang lain? Silahkan tanya sendiri,”


“Lalu setelah rapat ketemuan deh sama pacar tersayang. Sengaja supaya aku datang pas ketemu sama dia. Kok kamu bisa jahat begitu? jalan ceritanya gimana? Padahal sebelumnya aku chat kamu nggak dibalas-balas,”


“Iya aku baru banget selesai rapat tadi terus nggak ketemu Delila jadi kami berdua ngobrol bentar, eh kamu datang dan bikin keributan sampai rambut anak orang dijambak, jangan begitu lagi ya, Sayang. Istri aku ‘kan baik dan lemah lembut, jangan macam-macam kayak tadi lagi ya?”


“Kamu ngajarin aku? Diri kamu sendiri aja belum benar. Nggak usah ngajarin aku, perlu kamu tau, aku sengaja ngelakuin itu karena dia yang mulai. Seandainya aja dia bisa jaga jarak, nggak cari perhatian, mungkin aku masih—“

__ADS_1


“Berhenti ngomong yang nggak-nggak, El, aku nggak suka. Aku nggak suka mulut kamu yang kadang kebangetan tajamnya, nggak suka kamu nangis. Intinya aku nggak suka,”


“Aku udah pesan nasi goreng, nanti kamu makan ya,”


“Dibilang aku nggak mau makan, biar makan di rumah aja,”


“Yang benar kamu? Nggak makan-makan kalau belum sampai rumah? Emangnya kuat? Yang ada juga tepar,”


“Aku kuat, liat aja nanti,”


Gruk


Gruk


Gruk


Suara perut Elvina justru mengatakan yang sebaliknya, berbeda sekali dengan apa yang terlontar dari mulutnya sedetik sebelumnya.


Vano tertawa mendengar suara perut istrinya itu. Kenyataannya Elvina lapar, sudah bisa Ia tebak. Habis sedih dan marah, pasti cukup melelahkan untuk Elvina dan kemungkinan besar memang Elvina merasa lapar karena Ia tebak Elvina tidak makan juga dari rumah.


Perut Elvina sudah minta diisi secepat mungkin. Tepat sekali Vano minta disiapkan makanan sekarang.


“Sabar ya, bentar lagi datang kok,”


“Aku nggak mau makan! Aku mau makan masakan mama aku aja di rumah,”


“Nggak akan aku biarin kamu pulang dengan keadaan yang lagi nggak stabil gini. Sedikit-sedikit marah, terus nangis, aku bisa dibuat gila sama kamu, Elvina. Saking kehabisan cara supaya kamu maafin aku dan percaya sama semua penjelasan aku sejak tadi,”


Tidak lama kemudian makanan yang dipesan oleh Vano datang. Vano segera membuka pintu untuk menerimanya.


“Terimakasih ya,”


“Sama-sama,”


Vano membawa nasi goreng dan jus mangga yang dipesannya ke atas meja yang berhadapan dengan sofa di kamar.


“Ayo makan dulu, biar perut kamu dan aku keisi,”

__ADS_1


“Ken kamu ngerti nggak sih kemauan aku apa?”


__ADS_2