
“Suamimu udah bangun, El?”
Elvina menoleh ketika ada yang bertanya padanya, yaitu ayahnya sendiri. Ia sedang mengambil air putih di dapur dan ternyata ayahnya juga melakukan hal yang sama.
“Udah, Yah. Kenapa emangnya, Yah? Ayah ada perlu sama Mas Vano?”
“Oh nggak, Ayah mau ngajakin Vano shalat di masjid, bentar lagi ‘kan adzan shubuh,”
“Oh iya nanti aku bilangin sama Mas Vano, Yah. Dia udah bangun kok, malah bangun duluan. Tadi sih lagi di kamar mandi,”
Arman bergegas kembali ke kamar untuk bersiap ke masjid, sementara Elvina ke kamarnya.
Ketika Ia sampai di kamar, suaminya masih ada di dalam kamar mandi. Sambil menunggu suaminya keluar, Elvina merapikan tempat tidur, setelah itu mematikan pendingin ruangan.
Tidak lama kemudian suaminya keluar sambil mengusap perutnya yang sudah terasa lega. Elvina terkekeh ketika suaminya tersenyum kecil.
“Abis setoran ya, Mas?”
“Iya, lega banget saya. Kebanyakan makan nih semalam. Udah makan di rumah, makan juga di sini. Pisang goreng Bunda enak banget,”
“Iya emang, aku juga suka. Oh iya barusan aku ‘kan keluar ngambil minum nggak sengaja ketemu ayah, dan ayah ngajakin Mas sholat di masjid,”
“Okay, saya udah ambil wudhu kok,”
“Tapi aku nggak bawain kamu baju koko lho, Mas,”
“Ya udah apa aja juga boleh, yang penting sopan. Kamu bawa kaos ‘kan?”
“Bawa kalau kaos,”
“Ya udah bisa pakai itu, sama sarung, kalau sarung kamu bawa ‘kan?”
“Bawa dong, ‘kan buat kamu sholat. Bggak boleh sampai lupa,”
Elvina segera mengeluarkan baju kaos dan juga saring milik suaminya. Vano segera mengganti pakaiannya dan setelah itu keluar dari kamar.
Tapi sebelum itu tak lupa pamit dulu pada istrinya. “Saya ke masjid dulu ya, kamu jangan tidur lagi, sholat,”
“Ya masa aku tidur lagi sih, Mas. Aku juga tau aku harus sholat,”
“Iya saya cuma ingetin aja kok. Ya udah saya berangkat ya, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Vano keluar dari kamar, menubggu ayah mertuanya di ruang tamu, sementara istrinya mengambil air wudhu bersiap untuk sholat
****
“Ganteng banget menantunya, cocok lah sama Elvina. Langgeng-langgeng ya, Nak,”
“Aamin-aamiin, terimakasih doanya, Pak,”
Selepas menunaikan sholat shubuh berjamaah di masjid dekat rumah, ada yang menyapa Arman. Mereka rata-rata menanyakan siapakah sosok laki-laki yang bersama Arman. Dan mereka itu yang tidak hadir ketika diundang di pernikahan Elvina dan Vano.
Setelah sholat dan berbincang sebentar dengan yang menyapa, barulah Arman dan Vano bergegas pulang ke rumah.
Di rumah Elvina dan Bundanya sedang teh hangat, pisang goreng lagi, dan juga nasi goreng.
“Jadi nanti terserah Ayah mau langsung makan nasi goreng apa pisang goreng dulu. Kalau Vano biasanya sarapan langsung berat, El?”
“Apa aja boleh Mas Vano, Bun. Roti dia mau, sereal dia mau, nasi juga dia mau. Eh tadi Mas Vano bilang pisang gireng Bunda enak banget lho,”
“Alhamdulillah, suka nggak Vano nya?”
“Suka dong, Bun. Orang katanya enak banget,”
“Eh suara bel rumah tuh, El. Bukain pintu, Nak. Udah pada pulang kali tuh,”
“Iya, Bun,”
Elvina yang sedang menyiapkan piring langsung meninggalkan sejenak kegiatannya itu untuk membuka pintu rumah. Ia lihat dulu dari jendela. Mengingat zaman sekarang ini banyak kehahatan, sekalipun tinggal di komplek perumahan yang penjagaannya ketat, harus tetap waspada. Setelah memastikan yang datang adalah Vano dan Arman, barulah Elvina membuka pintu.
“Assalamualaikum,”
Elvina langsung mencium tangan ayah dan juga suaminya. “Ayo kita minum teh, Yah, Mas,”
“Ganti baju dulu bentar ya,”
“Okay sial, Yah,”
Arman bergegas mengganti baju sementara suami Elvina ke kamar untuk menanggalkan sarungnya dan kembali mengenakan celana. Barulah Ia turun ke lantai bawah. Di meja makan sudah ada Elvina dan Dini. Tidak lama Ia duduk, Arman datang.
“Ayo-ayo kita makan,”
“Mas, ketemu pisang goreng lagi,” ujar Elvina menggoda suaminya yang menyukai pisang gireng buatan Dini.
“Emang enak pisang goreng buata Bunda, Van?”
“Enak banget, Bun,”
“Alhamdulillah, itu dimakan ya, Bunda masih gireng lagi, jangan khawatir bakal abis,”
__ADS_1
“Makasih ya, Bun,”
“Sama-sama, makanya sering ke sini biar sering juga ketemu sama pisang goreng buatan Bunda,”
“Siap, Bun,” jawab Vano sambil tersenyum.
“Nanti kita jadi mancing ya?”
“Jadi, Yah,”
“Aku ikut,”
“Ah kamu bosenan anaknya. Nggak usah ikut lah. Ayah nggak mau kamu merengek bosan,”
“Ayah tau aja,”
“Ya kebiasaan kamu ‘kan begitu, Nak. Dulu sebelum nikah, Ayah sering ajak ke tempat mancing. Kadang mau ikut kadang nggak mau. Kalaupun ikut, pasti baru bentar udah ngajak pulang, bilangnya bosan. Lah kalau mancing ‘kan emang harus sabar, nggak boleh cepat bosan,”
Vamo terkekeh mendengar cerita Arman tentang istrinya yang ternyata tidak punya hobi yang serupa dengan ayahnya.
“Kalau Mas emang suka mancing?”
“Suka-suka aja. Itu bikin saya jadi lebih sabar. Cocok untuk kenag yang mau belajar sabar tuh,”
“Nah bener itu, jadi kalau kamu mau belajar sanar, suka mancing lah,” ujar Arman pada anaknya yang spontan menggeleng.
“Nggak mau, Yah. Kesanaran aku biarin sja setipis tisu, nggak cocok kalau mancing,”
“Lho, Elvina suka marah-marah, Van?”
Mendengar pengakuan Elvina tentang kesabaran yang setipis tisu, Dini langsung menganggap kalau anaknya itu suka marah pada suaminya.
“Kan yang biasnaya punya kesabaran dikit suka marah,”
“Nggak, Bun. Kalau gampang badmood iya,”
“Nah itu sama aja. Jangan gitulah, pusing suami kamu ngadepin kamu yang nggak jelas gitu mood nya, berubah-ubah,”
“Ya nggak apa-apa, Bun. Mas Vano kesabarannya setebal kamus bahasa inggris,”
“Hadeh, ada-ada aja sebutannya,”
“Emang iya kok, iya ‘kan, Mas?”
“Itu menurut kamu aja. Kalau menurut saya berlebihan bawa-bawa kamus,”
Elvina tertawa, ada benarnya juga. Tidak ada angin dan hujan tiba-tiba membahas kamus bahasa inggris.
“Kalau lagi halangan aja biasanya, Bun,”
“Kalau di rumah suka mancing, Van? Atau ikut Papa mancing gitu misalnya. Setau Ayah, Papamu itu juga suka mancing,”
“Iya suka, cuma nggak tiap minggu, Yah. Papa paling cuma dua kali dalam sebulan. Jarang banget. Aku kayaknya nggak pernah deh ikut Papa mancing. Soalnya nggak pernah diajak juga, kalau sama ayah diajak ‘kan,”
“Ih bukan nggak diajak, Papa takut kamu nggak mau, atau mungkin kamu nga ada kesibukan lain. Daripada Papa ganggu ya mendingan nggak usah,”
“Iya kayaknya gitu deh. Papa malas ngajak saya, dan mungkin menurut Papa, saya nggak suka mancing, padahal saya suka-suka aja kok. Walaupun bukan saya jadikan hobi,” ujar Bindra seraya terkekeh.
“Ngajak sepeda atau golf itu sering,“
“Kamu kalau di rumah akhir pekan olahraga nggak, El?”
“Jarang, hehehe,”
“Kok jarang? Berarti nggak tiap minggu?”
“Nggak,”
“Pasti males?”
“Iya hehehe,”
“Udah ketebak. Orang waktu di aini aja suka malas diajakin jogging sama ayah bunda, naik sepeda juga suka malas,”
“Tapi kadang rajin ‘kan, Yah? Nggak malas mulu, Yah,”
“Seringnya kamu malas diajak olahraga,”
“Setelah nikah gimana, Van? Pernah kamu ajakin jogging, sama sepedaan gitu nggak? Terus gimana reaksinya malas nggak?”
“Alhamdulillah nggak, Bun,” jawab Vano atas pertanyaan yang dilontarkan oleh ibu mertuanya.
“Oh ya? Alhamdulillah kalau gitu. Kirain nolak mulu kalau diajakin lari pagi, sepedaan,”
“Kalau lagi malas ya malas, kalau lagi rajin ya rajin. Aku ‘kan anaknya gitu, Yah, Bun. Kayak baru kenal aja sama aku,”
“Kalau ngurus suami nggak malas ‘kan?”
“Insya Allah nggak,”
“Gimana, Van? Beneran nggak?”
__ADS_1
“Nggak kok, Bun. Elvina pintar ngurus Vano,”
“Oh ya? Wow, anak tunggal manja ini bisa ngurus suami, Alhamdulillah yang Buda khawatirkan nggak terjadi,”
“Ih Bunda kenapa harus ada kata manjanya ya? Emang harus gitu disebut kalau aku manja,”
“Lah ‘kan emang manja,”
“Nggak ah, jangan ngomong gitu di depan Mas Vano dong, Bun,”
“Selalu ingat pesan Bunda ‘kan? Ngurus suami itu jangan males-malesan. Kalau mau dihargai, ya harus menghargai juga,”
“Iya, Bun. Jangan bilang aku manja di depan Mas Vano ya, Bun. Aku malu soalnya,”
Dini tertawa mendengar Elvina menggerutu. Apdahal tanpa diberitahu pun Vano sudah bisa menikai kalau istrinya ini anak yang manja. Mengingat Elvina adalah anak satu-satunya dan orangtuanya juga memanjakan Elvina. Bukan berarti tidak tegas. Yang Vano lihat, didikan Dini dan Arman bagus meskipun Elvina itu anak perempuan dan anak satu-satunya.
“Sama Davina akur ‘kan? Awas ya kalau kamu nggak bisa mengayomi dia, nggak bisa ngalah. Mentang-menyang di rumah cuma sendiri terus di sana ada adek, kamu jadi seenaknya,”
“Ya ampun nggak lah, Bun. Masa iya aku kayak gitu ke Davina. Bunda tanya aja ke Davina gimana aku selama ini. Aku malah senang punya adek, nggak kepikiran untuk berantem-berantem. Kami berdua akur banget kok,”
“Kalau sama Davina, jangan ditanya, Yah, Bun. Mereka itu udah jadi sahabat banget, istilahnya bestie kalau zaman sekarang. Saya aja kalah tahta sekarang. Elvina nomor satu, saya nomor dua kalau di mata Davina,”
“Mas curhat nih suka dicuekin sama adeknya setelah ada aku?”
“Nggak, biar Ayah Bunda tau aja kalau kamu itu baik banget sama Davina. Makanya ajdi sahabat,”
“Alhamdulillah kalau begitu. Bunda semoat khawatir kamu nggak bisa beradaptasi sama Davina. Tapi ternyata bisa ya? bunda senang dengarnya. Akur-akur lah, ‘kan itu yang kamu pengen waktu itu. Kamu sering banget bilang pengen punya adek, mau cewek supaya bisa jadi teman. Nah dikasih tuh sama Allah adek cewek sesuai sama request kamu,”
“Alhamdulillah makasih ya, Allah,”
“Kalau Elvina di kamar aja nih, dia suka nanyain ke Vano. Mana kakak, Bang? Lah kalau Vano yang ngilang nggak dicariin, kalau El dicariinnya cepat banget, padahal sebelumnya juga baru tatapan,”
Mendengar cerita Vano, Elvina dan kedua orangtuanya tertawa. Orangtua Elvina senang sekali mendengar kehidupan anak mereka yang ternyata tidak kalah bahagia dengan sebelum menikah dan tinggal bersama mereka.
“Eh bentar, Bunda lupa masih goreng pisang,”
“Yah gosong deh itu,” ujar Arman.
“Nggak emang api kecil kok, Yah. Ada Bibi di dapur, cuma takut Bibi juga lupa,”
Dini bergegas ke dapur untuk mengangkat pisang yang sudah matang tapi ternyata itu sudah dilakukan oleh asisten rumah tangga yang mereka panggil Bibi.
“Alhamdulillah udah diangkat Bibi, makasih ya, Bi. Dimakan pisangnya, Bi,”
“Iya, Bu, udah kok tadi,”
“Beneran udah? Makan yang banyak, Bi, biar makin sehat, ‘kan kemarin abis sakit,”
“Heheh iya makasih, Bu,”
Dini kembali lagi ke meja makan. Melanjutkan obrolan sebentar sebelum diakhiri oleh Elvina yang pamit undur diri lebih dulu karena mau buang air kecil, disusul oleh Vano yang ke kamar mengikuti Elvina, sementara Dini dan Arman ingin ke pasar.
“Mas, aku mau sekalian mandi, Mas mau masuk kamar mandi nggak?” Tanya Elvina yang berada di depan pintu kamar mandi.
“Nggak,”
“Ya udah,”
“Kamu nggak mau jalan-jalan pagi?”
“Mau tapi naik motor aja, Mas,”
“Itu namanya bukan jalan-jalan, El,”
“Jalan dong, Mas. ‘Kan intinya keliling-keliling,”
“Ya udah abis kita berdua mandi kita jalan naik motor, pinjam motor punya ayah,”
“Motor punya aku aja tuh, udah lama dia nggak aku pake,”
“Tapi saya yang nyetir ya, jangan kamu,”
“Okay,”
Elvina menghilang di balik puntu kamar mandi. Sambil menunggu istrinya selesai mandi, Vano memutuskan untuk melihat-lihat koleksi buku yang Elvina punya.
Tidak ada yang menarik karena kebanyakan kokik dan novel, itupun yang romantis. Sementara Vano punya selera baca yang berbeda, begitupun selera tontonannya. Vano lebih suka yamg humoris, misteri, atau action.
Ada satu buku yang membuat Vano tertarik untuk melihat isinya karena dis ampul terdapat tulisan “Punya Elvina & Rendra”
Begitu Ia buka ternyata isinya foto-foto mereka berdua. Hati Vano langsung terasa seperti diremas kuat melihat foto-foto mereka yang menunjukkan bagaimana dekatnya mereka.
Di sana ada foto-foto mereka mengenakan seragam sekolah. Tentunya ini diambil saat masa sekolah mereka dan saat mereka masih memiliki hubungan, atau mungkin masih pendekatan.
“Kamu kelihatan bahagia banget sama Rendra, El. Mata kamu nggak kosong. Sementara kalau sama saya, sering saya liat mata kamu itu kosong. Walaupun berusaha kamu tutupi dengan tawa atau senyum,” gumam Vano sambil terus melihat foto-foto istrinya bersama sang mantan kekaish yangs ampai saat ini masih menjadi bayangan Elvina karena mengikuti kemanapun Elvina pergi.
“Kapan ya kamu bisa sebahagia ini waktu sama saya? Apa usaha saya kurang ya untuk bikin kamu bahagia,”
Tanpa sadar, di belakang Vano ada seseorang yang kedua matanya berkaca, raut wajah marah dan sedih bercampur menjadi satu. Kemudian orang itu keluar dari kamar meninggalkan Vano yang masih sibuk dengan kegiatannya.
Walaupun terluka, tapi Vano tetap melihat foto-foto Elvina dan Rendra sampai di halaman terakhir. Kemudian Ia menutup buku itu dan menghembuskan napas kasar. “Ada kemungkinan atau nggak ya untuk saya dapetin hati kamu?”
__ADS_1