Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 27


__ADS_3

Pagi ini Vano dan Elvina bergegas ke Bali untuk liburan berdua. Bisa dibilang bulan madu. Jujur Elvina gugup sekali ingin pergi berdua dengan laki-laki. Sebelumnya Elvina tak pernah melakukannya.


Selama ini Elvina selalu berlibur dengan keluarga, sekarang dengan laki-laki yang bisa dibilang masih asing. Tapi berhubung Vano itu sudah menjadi suaminya, jadi sudah sepatutnya Ia tidak gugup. Ia pergi dengan suaminya, Ia pasti aman. Dan Vano juga pasti membuatnya nyaman.


“Hati-hati, Abang, Kak El,”


Sekarang Davina sudah tidak seratus persen memganggap bahwa Elvina itu temannya daja, Ia tidak boleh lupa kalau Elvina sekarang adalah kakak iparnya jadi akan lebih enak didengar kalau Ia memanggil Elvina dengan sebutan kakak, daripada hanya namanya saja. Walaupun jarak usia Ia dan Elvina sangat dekat.


“Iya, nanti mau oleh-oleh apa kabarin aja ya,”


“Tinggal chat aku, Dav. Jangan lupa lho, okay?”


Davina terkekeh dan menganggukkan kepalanya. Ia senang sekali masih dapat perhatian abangnya yang memang tak pernah absen membawakannya buah tangan. Apapun yang Ia inginkan, Vano akan berusaha untuk memenuhi. Sekarang bonusnya, Ia diperhatikan kakak ipar juga yang siap menampung keinginannya, tinggal bilang melalui chat katanya.


Ternyata pemikirannya dulu salah. Ia pikir Ia akan kehilangan peran Vano setelah Vano punya kehidupan sendiri. Tapi ternyata tidak ada yang berubah dari Vano. Ia bersyukur, dan berharap seterusnya seperti itu.


“Hati-hati kalian ya,”


Kedua orangtua Elvina dan Vano sama-sama mengantar di bandara. Mereka meluangkan waktu untuk mengantar sepasang suami istri baru yang hendak berlibur ke Bali itu dengan perasaan senang. Memang itulah yang mereka mau. Vano dan Elvina punya waktu berdua.

__ADS_1


******


“Mama, Elvina sama Abang pulangnya hari apa sih sebenarnya? Kenapa kata Abang belum pasti? Emang mau lama-pama ya di sana?”


“Ya biarin aja kalaupun lama, Sayang. Abang ngajak istrinya ini, bukan ngajak perempuan yang bukan siapa-siapanya dia. Jadi ya nggak masalah kalaupun seminggu, dua minggu, ataupun sebulan,”


“Iya sih, Mama benar,”


Davina penasaran abangnya kapan pulang dari Bali tapi sudah Ia tanya dua kali, jawabannya selalu sama “Liat aja nanti, Dek. Belum pasti,”


Jawaban Vano seperti itu. Kalau Ia bertanya pada Elvina jawabannya beda lagi “Aku nggak tau juga, Dav. ‘Kan Abang kamu yang ngajakin aku liburan. Aku nanya berapa hari di sana, bilangnya liat nanti aja,”


Davina pulang dari bandara bersama mamanya sementara sang papa sudah berangkat ke kantor dengan mobilnya yang lain.


Di perjalanan tentu tidak ada yang dibahas kecuali Vano dan Elvina yang ke Bali hari ini. Davina cukup kesepian nanti di rumah. Yang biasanya ada abangnya yang rajin menyapa kalau melihat wajahnya, untuk beberapa hari ini tidak dulu.


“Emang kenapa nanya kayak gitu?”


“Nggak apa-apa, Ma,”

__ADS_1


“Kesepian ya nggak ada teman debat? Bener ‘kan? Biasain, Sayang. ‘Kan bentar lagi Abang mau bawa Elvina pindah ke rumah mereka,”


“Hah? Emang dalam waktu dekat?”


“Iya kayaknya, tunggu apalagi ‘kan? Rumah udah ada, istri udah ada, ya tinggal diboyong aja. Mungkin tinggal lengkapi isi rumah aja,”


“Yah, aku bakal kesepian dong? Nggak ada Abang, nggak ada Kak El,”


“Ya ‘kan bisa datang ke rumah mereka kalau kamu kangen,”


“Ih belum rela, aku jadi anak tunggal nanti rasanya, Ma,”


Lisa tertawa mendengar anak bungsunya mengeluh seperti itu. Terbiasa hidup berdampingan dengan abangnya, Lisa tahu tidak mudah bagis Davina untuk melepas abangnya pergi dari rumah memboyong istri.


“Gampang, tinggal datang aja ke rumah Abang sama El nanti, mereka terima baik kok,”


“Iya pasti, cuma ‘kan jadinya nggak bisa ketemu mereka tiap hari, Ma,”


“Ya mau gimana, Sayang? Nanti kamu kalau punya duami pun bakal diboyong ‘kan pasti. Tinggal lah Mama sama Papa aja,”

__ADS_1


__ADS_2