Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 99


__ADS_3

"Assalamualaikum,"


Setelah menekan bel dan pintu dibuka oleh Amih, Vano langsung menyapa Amih dengan senyum hangatnya.


"Alhamdulillah Pak Vano sampai dengan selamat. Ayo masuk, Pak,"


"Iya, Elvina dimana?"


"Ibu di kamar, Pak. Lagi nonton tadi,"


"Saya mau langsung ke kamar aja,"


"Oh iya, silakan, Pak,"


Sudah berapa hari tidak menginjakkan kaki di rumah ini, dan tidak melihat secara langsung wajah Elvina. Rasanya benar-benar rindu.


Vano beranjak ke lantai atas, menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar untuk bertemu dengan Elvina yang kata Amih tadi sedang menonton.


Vano menekan tuas pintu dan membukanya sedikit. Ia bisa melihat Elvina memang sedang berbaring telungkup menatap laptop di hadapannya.


Tanpa mengetuk pintu, Vano masuk begitu saja. Decit pintu yang dibuka membuat Elvina menoleh kesal sebab pikirnya Amih datang lagi.


"Mih—"


Elvina sempat bingung. Beberapa detik Ia habiskan untuk memastikan bahwa yang dilihatnya saat ini adalah suaminya.


"Elvina..."


Elvina langsung bangkit dari baringannya. Ia berdehem menjawab panggilan suaminya yang kini berjalan mendekat ke arahnya.


"Kenapa datang ke sini? Padahal aku nggak suruh kamu pulang lagi lho,"


Sejujurnya Vano merasa sakit hati mendengar sambutan Elvina yang segitu tidak berharapnya Ia pulang.


Tapi sebenarnya Ia sudah memperkirakan itu jadi seharusnya tidak kaget lagi. Elvina memang tidak akan menunggunya, biasa saja ketika Ia datang malah cenderung mengusir.


"Aku ke sini sebenarnya mau membicarakan soal hubungan kita, El,"


"Okay, apa yang mau kamu bicarakan sama aku?"


"Kapan kamu mau gugat aku?"


Elvina yang sedang memperbaiki posisi duduknya langsung terhenti dan menatap Vano dengan bingung.


Perlu waktu beberapa saat untuk Elvina mencerna apa yang dibicarakan oleh Vano padanya barusan.


"Gugat apa maksudnya?"


"Gugat cerai. Aku bakal setuju, aku udah terbiasa hidup tanpa kamu, apalagi kamu, iya 'kan? Kelihatannya enjoy aja tanpa aku. Aku bisa lepas dari kamu, walaupun nanti tetap butuh waktu untuk benar-benar lupa sama kamu, tapi aku yakin pasti bisa. Jadi—-kapan?"


"Mas, kamu ngomong apa sih?"


Raut wajah Elvina kelihatan kesal. Datang hanya untuk membicarakan perpisahan padahal Ia sendiri saja sudah tidak menyinggung persoalan itu.


"Kenapa? Bukannya itu yang kamu mau?"


"Tapi aku enggak bilang dalam waktu dekat 'kan, Mas? Aku cuma bilang sama kamu bahwa aku mau pisah tapi aku enggak mau gugat kamu sekarang atau dalam waktu dekat, kamu paham nggak?"


"Kenapa harus tunggu nanti?"


"Mas, apa kamu serius? Kamu mau pisah dari aku?"

__ADS_1


Vano mengangguk pelan. Ia yakin setelah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Dan lagipula, orangtuanya sudah menyerahkan semua keputusan di tangannya begitupun mertuanya. Memang hanya Ia dan Elvina saja yang diizinkan untuk mengambil langkah selanjutnya.


Vano tidak bisa bertahan lagi sampai Elvina yang memintanya pergi, seperti apa yang pernah Ia katakan pada Arman, sebab Ia rasa sudah waktunya mereka hidup masing-masing.


"Gimana sama orangtua kita?"


"Aku udah bicara sama orangtua aku, dan orangtua kamu juga. Mereka nggak ada campur tangan, Elvina. Ini murni keputusan aku karena memang mereka juga udah menyerahkan semuanya ke aku. Aku ini kepala keluarga, jadi aku dianggap paling berhak untuk memutuskan tanpa campur tangan mereka, dan tentunya ke kamu juga sebagai istri aku, orang yang sama-sama jalanin hubungan ini,”


"Aku nggak mau! Aku nggak mau kalau sekarang-sekarang ini,"


Vano menatap Elvina dengan raut bingung. Padahal selama ini yang keras ingin pisah adalah Elvina. Lantas kenapa sekarang Elvina malah enggan berpisah? Tidak cukup kah perjuangan Vano selama ini untuk mencuri hatinya dan juga mempertahankan pernikahan mereka?


"Kamu yang ngotot mau pisah, kenapa sekarang berubah pikiran? Hmm?"


"Harusnya aku yang ngomong begitu, bukan kamu!"


"Kamu nggak terima kalau aku bahas perpisahan? Sementara kamu enggak. Apa aku gugat duluan aja ya?"


"Nggak bisa! Aku yang mau pisah dari kamu tapi kenapa kamu yang sekarang ngotot? Hah?!"


Plak


Elvina menjalankan tangannya menampar sang suami yang sudah memancingnya untuk melakukan itu.


Ia tidak akan bisa terima kalau Vano yang menggugat. Ia tidak bisa membiarkan situasi jadi dibalik. Ia yang tidak menginginkan Vano, tapi kenapa Vano yang seolah tidak menginginkannya? Bahkan sampai ingin menggugat lebih dulu. Ia seperti dicampakkan.


Vano mengusap pipinya yang ditampar oleh Elvina. Kemudian Ia menatap Elvina dengan rahang mengeras.


Ia bangkit berdiri demi menjauh dari Elvina karena bisa-bisa Ia melakukan hal yang tadi dilakukan oleh Elvina dan Ia tidak mau bila itu sampai terjadi. Ia tidak ingin melakukan kekerasan terhadap Elvina.


Vano keluar dari kamar dan Elvina cepat-cepat menyusulnya. "Kamu mau kemana, Mas?"


"Balik ke tempat tinggal aku sekarang, kenapa?"


"Jangan fitnah bisa enggak?"


"Wajar dong kalau aku berpikir kayak begitu. Karena kamu betah banget nggak balik-balik ke rumah dan sibuk di luar sana,"


"Kenapa? Itu juga yang kamu lakuin 'kan? Kamu enjoy aja hidup tanpa aku. Kamu nggak keberatan sama sekali tinggal di rumah sendirian tanpa aku. Terus bebas juga melakukan apapun di luar sana. Aku hanya ngelakuin apa yang kamu lakuin. Kenapa? Salah ya?"


"Aku yakin kamu punya selingkuhan! Alasannya bukan karena butuh waktu sendiri dan mau terbiasa hidup tanpa aku, tapi memang kamu udah ada yang baru,"


"Kamu keterlaluan nuduh aku ya,"


"Udah deh, Mas. Kamu ngaku aja,"


"Terserahlah kamu mau mikir gimana, aku enggak peduli. Memang udah sering kamu berpikiran buruk soal aku, itu hak kamu jadi terserah kamu,"


Elvina menarik tangan Vano yang akan menuruni tangga. Vano segera menolehkan kepalanya menatap Elvina dengan marah.


Entah mau apalagi Elvina sekarang. Ia membahas perpisahan, Elvina malah kesal. Seolah Elvina ingin tidak ada yang boleh memulai pembahasan soal itu kalau bukan dirinya sendiri.


"Kamu aneh tau nggak? Kenapa harus tunggu nanti kalau kita bisa pisah sekarang? Atau dalam waktu dekat,"


"Kamu bilang mau nunggu aku sampai cinta sama kamu. Iya 'kan?!"


"Tapi kenyataannya apa?! Sampai sekarang kamu enggak bisa cinta sama aku. Jadi aku harus tunggu berapa lama lagi? Aku itu udah capek banget, Elvina. Aku capek enggak pernah kamu hargai. Setiap saat kamu selalu aja berusaha untuk menyakiti aku. Kamu pikir aku bukan manusia yang enggak punya perasaan? Hmm?"


"Aku enggak mau pisah sama kamu!"


Kedua alis Vano naik. Ia menatap Elvina bingung. Tidak mau pisah kata Elvina. Padahal sebelumnya keras sekali mau berpisah karena tidak bisa mencintainya.

__ADS_1


"Kamu aneh, benar-benar aneh. Entah lah, aku pusing ladenin kamu, El,"


Vano menuruni anak tangga dengan cepat meninggalkan Elvina yang kembali menyusulnya sambil mencaci maki.


"Brengsek banget jadi orang. Setelah pergi berhari-hari terus datang malah ngomongin pisah,"


"Terus aku harus ngomong apa? Kamu juga nggak ada reaksi senangnya begitu aku datang,"


"Ya kamu maunya aku ngapain? Aku lompat sambil salto begitu? Hah?"


"Paling enggak, kamu tanya gimana kabar aku, atau apa yang bikin aku senang. Ini mah enggak, malah ngajakin ribut,"


"Siapa yang ngajak ribut sih? Kamu kali yang ngajak ribut,"


"Aku mau pergi lagi. Baik-baik di rumah,"


Sekesal apapun Vano terhadap istrinya itu Ia tetap berpesan pada Elvina supaya menjaga dirinya baik-baik. Ia tidak ada bersama Elvina, jadi hanya Elvina yang bisa menjaga dirinya sendiri.


"Kamu mau pergi lagi?" Tanya Elvina tak habis pikir. Kaki Elvina masih terus mengikuti langkah tergesa-gesa suaminya yang keluar dari rumah.


"Iya,"


"Mau sampai kapan?"


"Kapan-kapan, terserah aku,"


"Vano kamu sadar enggak sih kalau yang kamu tinggalin sekarang itu istri kamu sendiri!"


"Oh istri ya? Aku kira bukan, soalnya kita ini kayak bukan suami istri," ujar Vano setaya terkekeh menyindir Elvina yang langsung terdiam dibuatnya.


Vano masuk ke dalam mobil dan langsung memundurkan mobilnya supaya bisa keluar.


"Mas, jangan pergi!"


"Kenapa? Kasih aku alasan kenapa aku enggak boleh pergi? Apa kamu masih mau nyakitin aku, El? Kamu masih nggak mau menghargai aku sebagai suami kamu? Iya? Jadi untuk apa aku bertahan di rumah? Aku serius lho. Aku mulai lelah dengan kamu, dengan pernikahan kita ini,"


"Kamu bukan lelah karena aku, tapi memang ada perempuan lain. Enggak usah jadikan aku sebagai alasan untuk keluar dari rumah!"


"Kamu selalu nuduh aku, mikir yang enggak-enggak soal aku padahal kamu kasih buktinya aja enggak!"


"Kamu punya perempuan lain! Makanya enggak mau pulang ke sini. Kalau kamu benar-benar cinta sama aku, dan kamu suami yang baik, kamu enggak akan pernah ninggalin aku, Ken,"


"Kalau aku enggak cinta sama kamu, untuk apa aku bertahan selama ini? Sia-sia semuanya karena kamu enggak pernah anggap perasaan aku itu ada,"


"Kamu brengsek! Kamu selingkuh 'kan?!"


Vano terkekeh heran dengan segala tuduhan yang dilayangkan Elvina kepadanya tanpa bukti.


"Harusnya aku yang mikir begitu soal kamu. Kamu yang selingkuh dari aku. Kamu pikir aku enggak tau kamu jalan sama cowok lain dan kalian kelihatan dekat banget. Cowok itu ngusap kepala kamu. Kamu kira aku enggak lihat ya? Hah?"


Elvina mengernyit bingung dengan ucapan Vano. Ia benar-benar tidak paham siapa laki-laki yang dibicarakan Vano barusan.


"Jangan nuduh aku sembarangan ya!"


"Lho, bukannya kamu yang nuduh aku sembarangan? Aku ngomong begitu karena aku lihat dengan mata kepala aku sendiri. Sementara kamu lihat aku sama perempuan lain enggak? Asal kamu tau, selama aku hidup sendiri, aku benar-benar cuma sendirian tanpa ada orang lain apalagi perempuan. Sekalinya keluar itu cuma sama Ajun. Kalau kamu enggak percaya, kamu bisa tanya langsung ke Ajun supaya otak kamu itu enggak mikir yang aneh-aneh terus soal aku. Udah ya, aku enggak mau berdebat sama kamu lagi. Aku mau pulang,"


"Ini bukannya rumah kamu ya?"


"Entah sejak kapan rumah ini terasa bukan rumah bagi aku. Biasanya rumah selalu menghadirkan rasa nyaman dan aman, tapi entah kapan pastinya, aku enggak mendapatkan itu di rumah ini. Yang ada setiap saat kamu bikin aku enggak nyaman ada di rumah, kamu enggak pernah hargai aku sebagai kepala keluarga di rumah ini jadi lebih baik aku pergi,"


"Mas, aku minta maaf, kamu kenapa jadi begini sih?"

__ADS_1


Vano keluar lagi dari mobil untuk kemudian berdiri berhadapan dengan Elvina. Ia bersedekap tangan memandang Elvina dengan rahang mengetat.


"Begini gimana? Bukannya kamu yang mau aku menjauh? Hmm?"


__ADS_2