Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 111


__ADS_3

Vano bingung karena istrinya tak kunjung masuk ke dalam kamar usai berdebat dengannya tadi. Dua jam Vano diam di dalam kamar dan Elvina tidak datang-datang juga.


Vano penasaran kemana perempuan itu, apakah pergi dari rumah atau hanya memutuskan untuk diam di bawah, Vano harus memastikannya sendiri.


Vano menuruni anak tangga satu persatu dengan langkah pelan. Setelah itu Ia mengedarkan pandang mencari keberadaan istrinya.


Ia menemukan istrinya terlelap di atas sofa. Vano berdecak pelan dan menggelengkan kepalanya. Elvina lebih memilih tidur di sofa ketimbang datang ke kamar dan tidur di atas ranjang yang jauh lebih luas dan nyaman daripada sofa.


Vano menundukkan badannya. Ia menjadikan lututnya sebagai tumpuan. Tangannya bergerak mengusap wajah Elvina yang tertidur menyamping dan helai rambutnya jatuh hingga menutupi sebagian wajahnya.


“Kenapa kamu di sini? Bukannya di kamar aja, karena enggak mau liat aku ya? Hmm?”


Vano tahu pertanyaan tak akan terjawab karena Elvina sudah terlelap tapi Ia tetap saja mengeluarkan suaranya untuk bertanya pada Elvina. Ia tak habis pikir Elvina memilih di sofa dibanding ke kamar.


“Aku minta maaf ya udah nyakitin kamu. Aku minta maaf ya, Sayang,”


Vano memberi kecupan di kening Elvina setelah itu Ia berdiri. Ia meraih Elvina ke dalam gendongannya kemudian Ia bergegas ke kamar.


Ia tidak akan membiarkan Elvina tidur di sofa. Ia tidak setega itu meninggalkan Elvina begitu saja setelah tahu Elvina memilih tidur di sofa sementara dirinya bisa tidur dengan sangat nyaman di atas ranjang kamar mereka.


Vano menekan tuas pintu dengan sikunya setelah itu Ia mendorong pintu dengan punggungnya supaya terbuka lebar dan Ia masuk. Kemudian Ia berjalan ke arah ranjang.


Ia segera menempatkan Elvina dengan hati-hati di atas ranjang dan Ia balut tubuh Elvina dengan selimut. Ia usap sejenak rambut Elvina barulah setelahnya Ia naik ke atas ranjang menyusul Elvina untuk berlalu ke alam mimpi.


“Eh pintu belum gue tutup,”


Vano baru sadar pintu kamar belum Ia tutup dan kunci. Akhirnya terpaksa Ia beranjak melakukannya. Sebelum kembali ke ranjang, Ia padamkan lampu utama kamar dan Ia hidupkan lampu tidur.


“Nah kalau gini ‘kan enak, waktunya tidur,” gumam Vano seraya menempatkan kepalanya di atas bantal. Ia bergerak pelan mendekati Elvina. Kalau tidur belum memeluk Elvina barang sebentar, rasanya ada yang kurang. Meskipun Ia kesal atau marah dengan Elvina tapi yang namanya memeluk atau mencium itu tak pernah absen Ia lakukan selagi ada peluang.


“Malam, Sayang. Sekali lagi, maafin semua kesalahan aku ya,”


*****


Elvina berdehem ketika melihat Vano sibuk dengan ponsel sementara saat ini mereka akan melakukan makan pagi bersama.


“Sibuk banget sama handphone,”


“Biasa lah, kayak enggak tau aja kamu. Aku lagi baca-baca kerjaan aku hari ini,”


“Kerjaan apa kerjaan?” Sindir Elvina dengan sinisnya. Vano hanya terkekeh menanggapinya.


“Mulai lagi,” batin Vano karena kelakuan istrinya pagi ini.


“Kayaknya dia beneran cemburu deh sama gue, tapi masa iya sih?” Vano bertanya-tanya dalam hati sambil mengamati istrinya yang sedang menghidangkan makanan di atas meja makan, kemudian duduk di hadapannya.


“Kamu yang masak sotonya?”


“Hmm, enggak mau? Ya udah makan yang lain aja,”


“Siapa bilang enggak mau? Aku mau kok, semua yang kamu masak itu pasti aku makan,”


“Oh ya baguslah, kirain milih untuk sarapan di luar, enggak mau hargai masalan aku,”


“Masak jam berapa? Kamu bangun jam berapa sih tadi?”


“Empat kurang,”


“Oh, aku tadi sempat bangun jam tiga kalau enggak salah, untuk ke kamar mandi,”


“Iya aku tau,”


“Oh kamu bangun juga jam segitu?”


Elvina menganggukkan kepalanya. Bagaimana Ia tidak bangun, kalau Vano saja menghidupkan lampu utama kamar walaupun sebentar. Ia sempat membuka mata beberapa detik kemudian tidur lagi, dan mungkin Vano tidak sadar dengan itu.


“Nanti makan siang bareng, datang ke kantor aku bisa enggak? Atau aku yang jemput kamu di rumah deh,”


“Kamu aja yang jemput aku, aku pengin tau kamu serius atau enggak ajak aku makan siang bareng,”


“Okay, nanti aku jemput kamu di rumah ya, kamu jangan kemana-mana, nanti aku sampai rumah kamu nya malah keluyuran enggak jelas,”


“Kalau aku pergi, aku pasti bilang ke kamu, karena aku enggak mau lagi ribut soal itu,”


“Hmm ya kali aja kamu lupa kasih tau aku kalau mau pergi,”

__ADS_1


“Enggak ada tujuan mau pergi, untuk apa?”


“Pergi sama teman-teman kamu?”


“Ya kalau mereka enggak ngajak, aku enggak akan pergi. Lagian belum tentu juga aku mau ikut. Kalau aku malas enggak bakalan mau ikut, tapi kalau lagi mau pergi pasti aku ikut,”


Elvina mengambil soto ayam miliknya setelah mengambilkan untuk Vano. Mereka makan bersama dengan tenang dan semoga ketenangan itu bisa sampai akhir.


“Tata enggak pernah ngajakin kamu pergi lagi ya?”


“Rencananya hari minggu nanti mau ke konser gitu,”


“Konser apaan? Konser boyband korea?”


“Enggak tau, dia yang ngajakin. Tapi bukan konser boyband luar, konser penyanyi dalam negeri,”


“Aku ikut dong,”


“Sorry, kamu enggak diajak,”


Vano terkekeh mendengar ucapan istrinya. Elvina mengatakannya dengan wajah datar tapi baginya lucu.


“Ya nanti aku bilang sama Tata,”


“Terserah,”


“Yah begitulah cewek. Apa-apa terserah,”


“Perasaan baru ini aku ngomong terserah. Cewek yang mana yang kamu maksud, Maa?”


“Kamu ‘kan sering ngomong terserah,”


“Tapi pagi ini, ya baru tadi aja,”


“Okay, aku salah ngomong, tapi lain kali jangan ngomong terserah,”


“Karena kamu mau ikut sementara kamu enggak diajak, makanya aku bilang terserah,”


“Nanti abis itu kita berdua nonton, mau enggak? Atau enggak mau?”


“Tata gimana?”


Vano memutar bola matanya jengah. Elvina tidak berubah juga. Seolah siapapun bisa mengganggu waktu berdua mereka, padahal Vano inginnya hanya mereka berdua saja.


“Okay, El. Setelah itu kita harus nonton. Pokoknya harus,”


“Nonton apa? Aku enggak suka film laga,”


“Ya udah romantis, kamu ‘kan suka romantis, aku juga lumayan lah, tapi yang romantis ada lucu-lucu nya ya? Romantis komedi. Kayaknya ada film baru tuh,”


Melihat Elvina mengangguk malas-malasan, Vano menghembuskan napasnya kasar. Sebenarnya mau atau tidak sih? Kenapa hanya mengangguk saja? ia jadi bingung.


“Ikhlas enggak nih? Atau keberatan temenin aku nonton?”


“Aku temenin,”


“Yess! Gitu dong, senyumnya mana?”


Elvina menggelengkan kepala. Ia tidak ada keinginan untuk senyum tanpa sebab pagi ini. Apalagi bila melihat wajah Vano, Ia selalu teringat dengan kejadian dimana Ia melihat Vano bertemu dengan perempuan lain.


“Oh iya aku mau bilang sama kamu. Kalau aku milih untuk tidur di luar kamar, jangan pindhain aku ke kamar bisa enggak?”


Vano menggelengkan kepalanya pelan setelah Elvina membicarakan perkara Ia yang memindahkan Elvina dari sofa ke kamar.


Itu Ia lakukan karena Ia mengutamakan kenyamanan Elvina. Ia tidak menyangka kalau Elvina akan protes. Padahal Ia hanya tidak tega bila Elvina tidur di sofa, maka dari itu Ia pindahkan ke ranjang kamar supaya bisa tidur bersamanya.


“Enggak bisa, El. Aku mana tega biarin kamu tidur di sofa. Makanya aku pindahin kamu ke ranjang. Masa iya aku enak-enakan tidur di ranjang sementara kamu di sofa. Ya walaupun juga nyaman, tapi ‘kan jauh lebih nyaman di ranjang kamar,”


“Tapi aku lebih baik kayak gitu, daripada di kamar malah berantem, itu ‘kan kita habis berantem makanya aku di sofa,”


“Iya aku tau, tapi ‘kan, udah enggak berantem lagi. Kamu sudah tidur, jadi enggak bakal berantem,”


“Ah kamu nih enggak ngerti-ngerti deh,”


“Aku enggak tega. Kalau mata aku liat kamu tidur sendirian di sofa kayak gitu, seriusan. Kecuali kalau aku enggak liat, nah mungkin aja bangun-bangun besok paginya kamu tetap di sofa. Masalahnya aku tuh nyariin kamu karena kamu enggak datang-datang ke kamar, makanya aku turun, terus aku malah ketemu kamu yang tidur di sofa, sementara aku bisa tidur di ranjang enak-enakan, kalau kamu emang enggak mau tidur sama aku, ya aku aja yang pergi, jangan kamu, kalau kamu memang mau begitu tinggal ngomong aja supaya aku cari tempat tidur lain,”

__ADS_1


“Aku enggak mau masuk kamar karena aku takut kita berantem lagi. Dan lagipula aku takut kamu marah lagi. Kamu marah sampai cengkram tangan aku,”


Vano terdiam mendengar penuturan Elvina. Sejenak Ia menghentikan mulutnya yang sedang mengunyah. Ia juga meletakkan sendok dan garpu di atas piring, kemudian menatap Elvina lamat-lamat.


“Aku minta maaf ya, aku benar-benar minta maaf udah nyakitin kamu, udah bikin kamu sedih, atau kecewa. Aku minta maaf,”


Vano meraih tangan Elvina yang menganggur, atau tidak digunakannya untuk menyuap makanan yaitu tangan kiri. Kemudian Ia beri usapan lembut di punggung tangan Elvina.


“Aku enggak ada maksud untuk nyakitin kamu, serius,”


“Aku kaget tapi aku juga sadar kalau aku salah udah luapin emosi aku ke barang yang enggak salah. Aku udah bikin piring gelas pecah,”


“Bukan itu yang aku permasalahkan sebenarnya. Aku cuma enggak suka kamu yang emosian. Aku juga jadi ikut emosi liatnya. Dan aku nggak sadar udah nyakitin kamu, udah cengkram tangan kamu sampai sakit. Aku minta maaf,”


“Aku emosi karena aku merasa dibohongi sama kamu, Mas,”


“Aku memang ketemu perempuan tapi dia teman aku, dan aku enggak selingkuh,”


Elvina menarik tangannya dari genggaman tangan Vano. Sampai sekarang Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Vano itu.


Ia tidak percaya kalau mereka hanya sekedar teman. Lalu bagaimana dengan masalah Vano yang bohong soal tempat tujuannya? Vano mengaku akan langsung pergi ke kantor, tapi tidak tahunya malah bertemu perempuan itu padahal katanya sudah terlambat.


“Udah, enggak usah bahas apa-apa. Lanjut makan aja,”


Daripada Elvina malah kesal lagi karena Vano masih berkelit, lebih baik mereka melanjutkan sarapan yang sempat terhenti tadi.


“Kamu kayak lagi cemburu, El. Tapi jujur aku senang sih,”


“Cemburu gimana maksudnya?”


“Iya, kamu kayak lagi cemburu ke aku, masalahin aku yang ketemu sama teman. Itu semacam cemburu, tapi kamu enggak mau mengakui itu. Ya udah, mungkin memang benar kamu enggak cemburu,”


“Ya memang aku enggak cemburu, aku ‘kan belum cinta sama kamu,”


“Entah kapan kamu bisa cinta sama aku. Marah aja bisanya, tapi cinta enggak bisa-bisa, aneh. Udah mulai keliatan enggak suka kalau aku dekat sama yang lain. Tapi anehnya enggak cinta-cinta,”


Elvina mengernyit karena Vano menatapnya dalam, bukan malah lanjut makan. Ia menjentikkan jarinya di depan wajah Vano yang langsung tersentak kaget.


“Kenapa natap aku begitu?”


“Lagi ngedumel,”


“Ngedumel ke aku?”


“Ya iya lah, masa ke Pak RT?”


“Eh ngomong-ngomong Pak RT, di sini ada acara arisan gitu dari RT kita,”


Vano tertawa karena pembahasan mereka yang aneh. Tadi soal masalah rumah tangga mereka, sekarang membahas RT.


“Siapa yang ngadain?”


“Istrinya Pak RT sih lebih tepatnya,”


“Oh bu RT, terus kamu ikut?”


“Aku diajakin, tapi aku belum jawab sih. Lumayan arisannya,”


“Ikutan aja, hitung-hitung nabung,”


“Iya deh, nanti aku jawab,”


“Kamu daripada bosan di rumah enggak ada kegiatan mending ikut kegiatan semacam itu, Na,”


“Aku kadang malas. Aku orangnya pasif kalau soal kayak gitu,”


“Waktu belum nikah nggak pernah ikut bunda ke acara-acara yang ada di lingkungan tempat tinggal?”


“Bukan nggak pernah, tapi aku nggak sering ikut,”


“Kamu kenapa nggak sering ikut?”


“Dibilang, aku orangnya pasif kalau soal kayak gitu. Mending kuliah, terus sibuk sama teman-teman, nah kalau libur di rumah. Bunda juga jarang ngajak anak sih, paling kalau temannya ngajak anak, ya bunda juga ngajak. Seringnya bunda ‘kan acara sama teman-teman aja tanpa anak,”


“Iya, biasa lah ibu-ibu. Nanti kalau bawa anak pasti pada jadi obrolan deh. Udah sukses, udah nikah, hah macam-macam pokoknya,”

__ADS_1


“Ih bunda aku sama teman-temannya enggak begitu ya! Mereka enggak rempong tau. Eh agak rempong sih, tapi enggak hobi ngerumpiin orang gitu,”


“Kalau ada anak yang belum nikah sama belum sukses ‘kan jadi kepikiran,”


__ADS_2