Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 39


__ADS_3

“Mas, kok kita bisa ketemu Rendra sih? Tadi di jlan sekarang di tempat oleh-oleh,” bisik Elvina pada suaminya yang tengah melihat pajangan khas Bali.


Elvina benar-banar jaget ketika sedang asyik memilih makanan, tiba-tiba Ia melihat Rendra bersama seorang perempuan yang wajahnya sering sekali Elvina lihat di media sosial Rendra.


“Ya mana saya tau? Emang udah ditakdirin buat ketemu sama dia. Emang saya yang ngatur begini?”


“Aku nggak siap ketemu dia, apalagi ngeliat dia sama—“


“Udah lah, El. Mau sampai kapan kamu begini? Dia aja udah bahagia kok sama pasangan barunya, tuh liat mereka ketawa-tawa lah kamu malah sibuk menghindar, malah sibuk merhatiin,”


Vano terlanjur kesal, lagi-lagi membahas Rendra, tidak sengaja dipertemukan dengan Rendra tapi Elvina malah kengeluh padanya karena tak siap bertemu dan melihat Rendra bersama perempuan lain kata Elvina. Kalau boleh Vano memilih, Vano juga tidak mau bertemu dengan Rendra supaya namanya tidak disebut terus oleh sang istri.

__ADS_1


“Udah nggak usah diperhatiin, kamu fokus aja sama apa yang mau kamu beli,”


Elvina menelan salivanya susah payah setelah mendengar ucapan sang suami ditambah lagi melihat ekspresi wajah Vano yang kelihatan kesal.


“Benar kata Mas Vano. Mereka keliatan happy, sedangkan aku malah kayak begini. Lagian kenapa sih aku harus ketemu sama mreka disaat aku belum cinta sama suamiku sendiri? Kalau aja aku udah cinta sama Mas Vano, aku nggak akan sakit hati kayak gini liat mereka!”


Vano tiba-tiba merangkul bahu Elvina dan itu membuat Elvina mengalihkan tatapan dari sepasang manusia yang tengah berdiskusi memlih buah tangan khas Bali.


Elvina menganggukkan kepalanya. Ia membenarkan ucapan suaminya. Seharusnya memang Ia berhenti mengamati kebersamaan Rendra dan kekasihnya itu, ada yang lebih berhak mendapat perhatiannya yaitu Vano.


“Mas, maafin aku ya,”

__ADS_1


“Untuk apa?”


“Ya karena aku udah bikin Mas badmood sama aku. Maaf ya aku masih aja belum—“


“Ya udah nggak usah dibahas. Makin dibahas, makin saya risih dengarnya. Kamu bisa ‘kan hargain perasaan saya? Nggak apa-apa kok kalau belum bisa move on tapi jangan bahas dia kalau lagi sama saya, dan sikap kamu nggak perlu nunjukkin kalau kamu belum bisa lupain dia. Tanpa kamu tunjukkin lewat sikap, kamu omongin dengan mulut, saya tau hati kamu itu masih ada namanya dia. Jadi nggak usah dipertegas lagi, saya udah tau,” ujar Vano yang baru kali ini meminta untuk Elvina sedikit saja memikirkan perasaannya. Vano tidak minta dicintai secara instan. Vano juga paham kalau Elvina belum bisa lepas dari bayangan masa lalunya tapi Vano hanya minta satu hal.


Vano merasa terganggu kalau nama Rendra disebut oleh Elvina ketika Elvina sedang bersamanya, atau Elvina bersikap seolah memberitahu kalau masih Rendra lah pemenangnya. Tanpa ditunjukkan dengan semua itu Vano sudah tahu Ia belum berhasil mendapatkan hatinya Elvina.


“Aku usahain ya, Mas? Tapi emangnya aku pernah bersikap nunjukkin ke Mas kalau aku—“


“Dengan kamu ngeliatin fotonya Rendra pas lagi sama saya, itu udah bikin saya ketampar rasanya. Nggak usah ditampar saya udah tau kok posisi masih kalah sama masa lalu kamu itu. Jadi kalau saya boleh minta tolong, jangan begitu lagi ya. Tapi kalau memang kamu keberatan nggak apa-apa. Bersikaplah sesuai dengan apa yang memang kamu mau,”

__ADS_1


__ADS_2