Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 42


__ADS_3

Vano sudah membayar semua buah tangan yang dipilihnya bersama sang istri kemudian Ia bawa ke mobil, saat akan bergegas ke mobil itulah Ia tak sengaja berpapasan dengan istrinya yang akan masuk lagi ke dalam menghampirinya karena berpikir kasir belum selesai menghitung semuanya.


“Eh, udah Mas?”


“Udah,” jawab Vano singkat.


Vano memasukkan semuanyang dibeli ke dalam troli, dan istrinya mengamati. Mulut Vano masih terkunci rapat, dan wajahnya yang datar membuat Elvina segan untuk cerita kalau Ia tidak sempat lagi bertemu dengan Rendra karena mobil Rendra sudah pergi.


Setelah bagasi terisi, dan troli yang digunakan untuk membawa belanjaan kosong, Vano segera mengembalikan troli tersebut ke dalam toko, sementara Elvina masuk ke dalam mobil lebih dulu. Tidak lama kemudian suaminya menyusul.


“Mas,” Elvina ingin memulai lembicaraan.

__ADS_1


“Hmm?”


“Tadi aku—“


“Mau ceirta soal Rendra? Mendingan nggak usah, saya udah bisa liat dari wajah kamu tadi. Kamu nggak berhasil nyamperin dia ya?”


“Iya, mobilnya udah keburu pergi,”


“Ya salah kamu sendiri berharap banget untuk, nyamperin dia dan nyapa dia, padahal sebelumnya sikap kamu itu udah tepat banget. Jangan sampai dia tau kalau kamu itu masih belum move on. Karena apa? Dia bakal besar kepala, El. Tapi kamu nggak paham sih. Jadi ya udahlah terserah kamu mau gimana,”


“Mas marah ya sama aku?”

__ADS_1


“Saya nggak berhak marah. Karena dari awal saya tau hati kamu bukan untuk saya tapi untuk laki-laki yang tadi. Cuma saya boleh ‘kan untuk kasih saran gimana sebaiknya kamu bersikap di depan dia? Okay lah kamu belum bisa move on, tapi emangnya dia harus tau banget? Emang kamu nggak malu? Dia aja udah bahagia sama perempuan barunya, semetara kamu masih terjebak di masa lalu,”


“Emang segampang itu, Mas? Nggak gampang, aku juga pengen lupain dia tapi—“


“Ya ya ya, saya paham kok. Terserah kamu lah mau gimana. Tapi kalau saya boleh kasih saran, belajar menghargai pasangan itu bisa lho bikin move on. Karena apa? Kamu sibuk untuk menghargai pasangan kamu yang sekarang ada di samping kamu, nggak ada waktu untuk mikirin dia. Dan jalan untuk move on kayak begitu ‘kan cari kesibukan, cari pengalihan supaya nggak ingat-ingat terus sama dia,”


“Aku emang nggak menghargai Mas ya?”


“Dengan kamu tadi lari nyamperin dia niat mau nyapa dia, di depan saya kamu ngelakuin itu, apa bisa dibilang itulah sikap menghargai pasangan?” Pertanyaan Vano langsung membuat Elvina terdiam berpikir dengan akal sehatnya. Vano menggertakkan giginya hingga rahangnya terbentuk semakin tegas. Ia kesal sekali mendengar pertanyaan Elvina seolah menghampiri laki-laki lain yang jelas sudah punya pasangan baru, dan dirinya sendiri pun sudah punya suami adalah perbuatan yang benar, perbuatan yang sangat menghargai pasangan padahal tidak sedikitpun.


“Okay aku minta maaf ya, Mas,”

__ADS_1


“Dimaafkan selalu. Tapi mau sampai kalan begini? Saya nanya aja, karena jujur saya mulai hopeless. Bisa atau nggak ya saya bikin kamu jatuh cinta?”


“Mas…jangan ngomong gitu,”


__ADS_2