
Kamu mau balas dendam ke aku ya? Karena mungkin selama ini kamu anggap aku jahat terus sekarang kamu mau balas itu. Iya ‘kan?”
“Aku enggak pernah anggap kamu jahat, El. Kamu masih ada efek mabok nih makanya ngomong ngalor ngidul,”
Elvina bangkit berdiri kemudian mendorong Vano dengan kuat hingga punggung lelaki itu bertabrakan dengan sofa. Vano menatap Elvina yang kini tampak arogan di depannya.
“Kamu kenapa sih? Aku enggak ngerti, kok jadi marah tiba-tiba begini?”
“Aku liat kamu antar perempuan itu pulang setelah kamu datang ke acara teman kamu itu!”
“Kamu ngikutin aku, El? Hah? Kamu ngikutin aku lagi?”
“Kenapa?! Kamu enggak terima aku ikutin kamu? Aku itu curiga makanya aku ikutin kamu dan ternyata benar. Kamu memang sama perempuan lain setelah dari acara teman kamu itu,”
“Kamu makin lama makin lancang ngikutin aku kemana-mana ya. Aku enggak suka kamu yang begini, Elvina. Kamu suka enggak kalau aku mata-matai? Hah?”
“Aku enggak peduli! Udah kepergok selingkuh masih aja ngelak dan sekarang ngalihin ke topik lain,”
“Diam!”
Vano menunjuk Elvina dengan telunjuknya dan menatap Elvina dengan tatapan marahnya. Sudah cukup Elvina memarahinya pagi ini.
“Kamu yang diam! Udah salah masih aja enggak ngaku. Aku mau tanya siapa perempuan itu?”
“Mau aku ketemu sama siapa kek, itu bukan urusan kamu kali, El,”
“Aku ist—“
“Lah? Kemarin-kemarin kemana aja sih? Kok baru sekarang tau status itu? Istri maksud kamu? Sebelumnya bodo amat ke aku,”
Perdebatan mereka itu sampai ke dapur. Bayangkan, masih pagi-pagi buta Elvina dan Vano berdebat. Sampai suara mereka sampai ke telinga Amih yang tengah bekerja di dapur. Tapi Amih memilih pura-pura tidak mendengar karena bukan urusannya juga. Tapi Ia menebak, sepertinya permasalahan kedua majikannya itu cukup besar sampai memancing perdebatan di pagi buta begini.
“Dasar bajingan! Brengsek! Tukang selingkuh!”
Elvina meninggalkan Vano yang terperangah mendengar umpatan Elvina untuknya setelah itu Elvina beranjak meninggalkannya yang benar-benar heran.
“Makin keliatan cemburunya, udah ngaku aja deh. Enggak habis pikir, pagi-pagi begini marah ke gue, karena perempuan lain juga,”
Vano menyusul Elvina yang sepertinya bergegas ke kamar. Begitu Ia tiba di depan pintu kamar Ia langsung ingin membuka pintu namun sayang malah dikunci.
“El, pintunya buka dong, aku mau siap kerja nih,”
“Orang masih pagi banget, shubuh aja belum, mau siap kerja apa mau siap kemana kamu?!”
“Lah, maksudnya mandi dulu, pakai baju kerja dan lain-lain nanti aja kayak biasa, soalnya sekarang aku enggak mau tidur lagi. Buka pintunya, El,”
“Ke kamar lain aja sana!”
“Dih kok gitu? Ini ‘kan kamar aku juga, buka sekarang dong, mana mau pipis juga ini,”
“Rasain! Pipis sana di celana,”
Elvina menarik selimut hingga menutupi seluruh wajahnya usai meneguk air putih yang banyak dan buang air kecil. Ia membiarkan suaminya berceloteh sampai puas di dalam kamar.
“Elvina! Ih buka pintunya,”
Elvina mengeluarkan kepalanya dari selimut setelah itu Ia menyahuti dengan suara kerasnya.
“Enggak denger,”
Vano berdecak kesal. Elvina memancing kesabarannya habis. Padahal apa susahnya buka pintu dan mereka tak akan lagi berdebat. Kalau seperti ini jadi memancing keributan lagi.
“Ini masih pagi jangan bikin kunti pada bangun deh, buruan buka!”
“Enggak denger,”
“Kamu hangover ya abis mabok semalam? Tapi efeknya ke kuping ya? Budek apa gimana? Enggak dengar muluk,”
“Enggak denger,”
Vano memukul pintu dengan kesal. Elvina menaikkan tingkat emosinya pagi ini. Benar-benar harus diberi pelajaran sepertinya.
“Aku hitung sampai tiga kalau enggak dibuka, aku dobrak pintunya ya, dan aku enggak akan mau perbaiki, enggak boleh ada yang perbaiki pintu ini kalau udah aku dobrak,”
“Enggak dengar,”
“Satu,”
Elvina tidak lagi mengeluarkan dua kata andalannya sejak tadi “enggak dengar” Ia membuatkan suaminya belajar berhitung satu sampai tiga di depan kamar, biar saja Elvina santai berbaring dengan suhu kamar yang dingin dan selimut yang menghangatkannya. Ia anggap suara Vano itu radio.
“Elvina!”
“Dua…”
Masih belum ada tanda-tanda pintu kamar dibuka oleh Elvina. Vano menggertakkan giginya emosi.
“Elvina cepat buka pintunya!”
“Woah bener-bener mau pintu ini didobrak ya?”
“Enggak denger,”
“Sana ke kamar selingkuhan kamu aja, ngapain ke sini? Kamu enggak diundang!”
“Ngomong apaan sih?! Buruan buka!”
“Yayayaya,”
“Anj—Astaga, ngeledek banget dia,” Vano hampir saja memaki istrinya itu dengan kata-kata kasar yang biasa terlontar bila Ia sedang bersama teman-temannya saja.
“Elvina, tolong buka, Sayang,” cara baik-baik sudah tadi, cara kasar sampai memukul pintu juga sudah, sekarang kembali ke cara awal, kalau masih belum berhasil membuat Elvina mau membuka pintu, sepertinya Vano akan benar-benar membuka pintu kamar mereka secara paksa.
“Elvina,”
“Pantas aja belakangan ini enggak pernah panggil aku sayang lagi ya, ternyata udah ada yang lebih disayang,”
“Cie yang mau aku panggil sayang,”
“Idih! Enggak sudi dipanggil sayang sama laki-laki tukang selingkuh dan masih enggak mau ngakui kesalahan. Ke laut aja mendingan!”
“Na, tolong dong jangan mancing aku marah,”
“Udah dari tadi kamu marah, lupa ingatan ya?”
“Ya karena kamu yang mancing, aku harus gimana lagi dong? Aku enggak selingkuh! Jangan terus-terusan nuduh aku begitu, tolong,”
“Bodo amat, enggak dengar,”
“Anatha, ya Allah… aku aduin ke papa kamu ya, biar kamu dimarahi sama papa,”
“Aduin aja, aku juga bakal aduin kamu kalau kamu itu selingkuh dan aku punya buktinya, hahaha. Jangan main-main sama Elvina,”
Geraham Vano beradu satu sama lain. Ia menghembuskan napas kasar kemudian Ia mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamarnya dan Elvina yang sengaja dikunci Elvina supaya Ia tidak bisa masuk.
“Okay, tiga! Aku dobrak sekarang ya,”
“Silakan aja kalau bisa. Paling juga badan kamu sakit. Eh nanti udah ada yang ngurusin deh biar enggak sakit lagi,”
“Iya yang ngobatin kamu, yang ngurusin aku sakit ya kamu,”
“Bukan dong, si selingkuhan itu yang namanya siapa? Lupa aku—oh Dal—dalaman ya?”
“Delila!”
“Duh yang enggak mau nama selingkuhannya salah,”
“Gila, dia mulutnya bisa cerewet juga. Selain suka marah-marah,” Gumam Vano seraya menyandarkan keningnya di pintu. Ia masih berusaha menekan-nekan tuas pintu. Biar saja sekalian lepas tuas pintu itu, Ia tidak peduli.
“EL, buka pintunya,”
“Lho katanya mau dobrak? Ya udah ayo buruan dobrak, ntar kamu yang betulin, kamu yang keluar uang untuk betulinnya,”
“Enggak lah, enggak bakal aku betulin biarin aja, biar kamu kapok enggak ngunciin aku kayak begini,”
“Aku sih enggak mau ada di dalam kamar yang enggak ada kuncinya. Kamu aja yang di sini, aku di kamar lain, gampang,”
“Enggak bisa lah, ‘kan kamu yang udah bikin aku dobrak pintu ini,”
“Enggak peduli,”
“Bukan pintunya, Elvina! Sayang! Jangan mancing dong,”
Tidak terdengar suara apa-apa lagi dari Anatha. Akhirnya Vano mengambil tindakan yang sedari tadi Ia katakan.
Brak
Vano berusaha membuka pintu secara paksa. Elvina yang mendengar suara hantaman antara badan dengan pintu dari luar tersentak kaget.
Rupanya Vano benar-benar akan berusaha mendobrak pintu kamar mereka. Elvina harap-harap cemas juga. Takut pintunya berhasil dibuka Vano.
“Tapi kayaknya enggak bisa deh. Dia enggak sekuat itu, biarin aja dia sesekali aku kunciin, sekalian enggak bisa kerja,”
Semua perlengkapan kerja suaminya ada di dalam kamar dan kalau pintu kamar tidak kunjung Ia buka otomatis sulit bagi Vani untuk bersiap ke kantor, kemungkinan besar lelaki itu tidak bekerja.
“Yee enggak bisa, rasain emang enak!”
Vano meringis karena bahunya mulai nyeri. Entah harus bagaimana Ia membuka pintu itu. Dengan ucapan baik-baik tidak mempan, ancaman juga tidak mempan. Jalan terakhir adalah dibuka paksa. Biar sekalian membuktikan kalau Ia tidak main-main dengan ucapannya.
Vano terus berusaha supaya pintu kokoh di depannya terbuka. Ada bagusnya punya pintu yang pertahanan kuat tapi kalau dalam situasi begini ada rasa penyesalan juga.
“Harusnya gue buat pintu abal-abal aja, jangan yang premium kayak begini,” gumam Vano.
“Ya Allah, Pak Ken! Ngapain atuh pagi-pagi udah geradakan aja? Saya pikir ada apaan tadi makanya saya naik,”
Amih datang dengan tergopoh-gopoh karena mendengar suara berisik dari lantai atas tepatnya dari kamar Elvina dan Vano. Ia sempat berpikir kalau telah terjadi kekerasan dalam rumah tangga mereka. Entah siapa yang memukul dan dipukul intinya Amih cemas sekali. Tapi begitu Ia naik ke lantai atas, yang Ia lihat justru Vano tengah berusaha membuka paksa pintu kamarnya.
“Ini, Elvina kunciin pintu kamar seenak jidat. Saya gimana mau mandi dan siap-siap kerja coba?”
“Kenapa dikunciin, Pak?”
“Biasa, kambuh penyakitnya,”
“Udah ngomong baik-baik, Pak?”
“Udah dari tadi, Mih. Tapi enggak berhasil, tetap aja dikunci,”
“Coba saya ngomong sebentar sama Ibu, Pak,”
“Ya coba aja,”
Vano menjauh dari pintu membiarkan Amih membujuk Elvina yang luar biasa menyebalkan pagi ini. Mana ada yang seperti mereka? Pagi-pagi sudah bertengkar dan bahkan Ia sampai berusaha membuka pintu secara paksa hingga menimbulkan suara yang lumayan mengganggu.
“Bu, tolong buka pintunya. Pak Vano mau masuk,”
“Dibayar berapa supaya ngomong begitu, Mih?”
“Ya Allah, enggak, Bu. Jangan begini, Bu. Kasihan atuh Pak Vano nya, nanti enggak bisa kerja, Ibu enggak dapat uang bulanan gimana?”
“Lah biarin aja, aku bisa kerja lagi, gampang,”
“Enggak ya! Siapa yang bolehin kamu kerja lagi? Udah deh buruan jangan kayak begini. Buka pintunya, bentar lagi adzan shubuh tuh,”
“Kamu shalat di luar, apa-apa di luar, gampang ‘kan?”
“Ya Allah, Sayang. Mana bisa begitu sih? Aku ‘kan ada juga hak di dalam kamar?”
“Mih, pergi aja, biar saya yang usaha sendiri,” ujar Vano pada Amih yang langsung mengangguk patuh. Amih segera pergi meninggalkan sepasang manusia yang tengah bertengkar itu.
“Sayang, enggak enak tau berantem pagi-pagi. Enggak enak sama Amih, sama tetangga,”
“Lah kalau tetangga mah jauh-jauh, enggak enak sama Amih? Dia udah sering liat kita berantem, udah kebal telinga nya dengar kamu marah,”
“Kebalik kali, kamu yang apa-apa marah, ngomel mulu,”
__ADS_1
“Cepetan buka pintunya, Sayang,”
Amih datang lagi kali ini tidak dengan tangan kosong. Ia memberikan kunci cadangan untuk membuka pintu kamar. Vano yang melihat itu langsung tersenyum lebar.
“Makasih ya,”
“Sama-sama, Pak. Maaf baru ingat ada itu,”
“Iya, harusnya dari tadi, Mih. Tapi enggak apa-apa, ini aja udah bikin saya senang,”
“Coba aja dipasang, Pak,”
Vano mengangguk dan tanpa disuruh dua kali Ia tentu langsung memasukkan kunci ke dalam lubangnya. Tapi sayang, kunci tidak bisa masuk karena dari dalam sudah dikunci oleh Elvina.
“Aku enggak lebih pintar dari kamu, Vano,” ejek Elvina ketika mendengar dari luar ada suara kunci yang berusaha dimasukkan ke dalam lubang kunci pintu kamar.
“Udah aku bilang, kamu di luar aja,”
“Enggak bisa, aku harus kerja dan kamar juga hak aku, buruan buka!”
“Kamu ngaku dulu kalau kamu itu selingkuh,”
“Apaan sih?! Capek aku jawabnya, tanya itu terus,”
“Ya makanya jawab yang jujur! Aku minta jawaban yang jujur bukan jawaban yang ada unsur kebohongannya,”
“Harusnya kamu deh yang jujur sama aku, Na,”
“Kenapa aku?”
“Karena kamu itu keliatan banget cemburu ke aku. Apa susahnya ngomong iya? Hmm? Udah jelas kamu cemburu, tapi masih aja ngelak, kenapa? Gengsi ya? Selama ini aku yang cemburuan, aku yang keliatannya cinta dan sayang banget sama kamu, sementara kamu enggak sama sekali,”
Vano kembali berusaha untuk membuka paksa dan kali ini berhasil. Iya! Kali ini dirinya berhasil membuat kunci pintu kamar terbuka paksa tapi untungnya pintu kamar tidak lepas. Itu tadi, Ia menggunakan pintu kualitas premium sehingga benar-benar perlu usaha ekstra untuk membuka aksesnya.
Elvina terkejut dengan mata membelalak karena suaminya berhasil membuka pintu kamar. Vano tersenyum miring.
“Yes! Aku bisa buka pintunya, aku kuat, aku hebat. Yeayy kalah deh kamu,”
Elvina mengejek istrinya dengan tawa dan telunjuknya sambil menujuk Elvina yang mendidih bukan main.
Vano tingkah seperti anak kecil yang tengah mengejek teman karena punya mainan lebih keren dibanding mainan milik temannya.
Vano sampai menunjukkan ototnya ketika berkata bahwa Ia kuat. Elvina melempar Vano dengan bantal dan Vano menghindar seraya tertawa.
“Kalah-kalah yeyeyeye, rasain! Emang enak. Kamu enggak lebih pintar dari aku, Mas,” ujar Vano menirukan apa yang diucapkan oleh istrinya tadi.
“Eh enggak taunya bisa juga kebuka. Aku gitu lho, hebat!”
“Pergi kamu dari sini! Kamu udah keterlaluan! Habis selingkuh masih aja pulang ke rumah! Pergi! Ngapain masih di sini? Aku najis satu rumah sama laki-laki kayak kamu, tau enggak?!”
“Astaga omongannya, nyelekit banget sih,”
Vano merasa hatinya berdenyut sakit setelah mendengar ucapan Elvina yang menurutnya keterlaluan sekali. Ia diusir, difitnah, kurang apalagi? Elvina memang paling jago dalam urusan menyakiti hati suami.
“Aku ngomong begitu supaya kamu sadar kalau kamu itu salah! Untuk apa kamu masih satu rumah sama aku bahkan satu kamar sama aku kalau nyatanya kamu main di belakang aku? Aku enggak sudi satu lingkup sama kamu, tau enggak?”
Vano dengan napas memburu dan hati yang tersinggung bukan main, langsung berjalan mendekat pada Elvina yang seketika menjadi waspada. Vano menatapnya tajam dan amarah tidak bisa disembunyikan di sorot matanya itu.
Elvina meremang ketakutan. Jujur Ia takut melihat Vano. Ia membayangkan Vano akan marah besar padanya sekarang. Atau bahkan bisa jadi Vano melakukan kekerasan terhadapnya tanpa ampun.
Vano meraih rahang istrinya hingga Elvina mendongak menatapnya yang berdiri di depan Elvina senentara Elvina tetap duduk di atas tempat tidur.
“Mulut kamu kurang ajar! Enggak ada sopan santun ngomong kayak gitu ke aku. Apa kamu pikir aku enggak punya perasaan? Hah?! Jangan minta dihargai terus! Hargai juga perasaan orang lain!”
Elvina meringis ketika cengkraman Vano di rahangnya malah mengetat, tadi tidak menyakiti sekarang lumayan membuatnya meringis. Ia makin takut makanya sampai memejamkan mata karena Vano berseru marah di depannya.
“Mas Vano, Sakit! Jangan kasar ke aku,”
“Aku enggak kasar. Apa menurut kamu, aku kasar?”
Vano melepaskan rahang istrinya setelah itu berseru lagi hingga membuat Elvina tersentak kaget.
“Ngaca! Siapa yang menyakiti dan yang disakiti sebenarnya? Selama ini aku tahan-tahan ya, aku sabar ngadepin kamu, tapi kamu selalu enggak bisa ngerti, kamu tetap aja egois, maunya dihargai terus tapi kamu enggak bisa hargai aku. Kalau aku mau kasar sama kamu, udah dari dulu aku lakuin, terutama sama mulut kamu itu yang enggak pernah berhenti nyakiti hati aku,”
Vano mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi lalu menutup pintu dengan kasar hingga berdentum dan membuat Elvina berjengkit kaget.
*****
Elvina keluar dari mobil dengan menjinjing handbag nya. Langkah kakinya mengayun mendekati sebuah gerbang rumah yang menjadi incarannya sejak semalam. Ingin sekali Ia mengunjungi tempat ini setelah sebelumnya disajikan dengan pemandangan yang membuatnya muak sekali.
“Selamat siang, Mba. Ada yang bisa saya bantu?”
Security bertanya padanya dengan sopan dan tersenyum hangat. Elvina membalas tersenyum dan mengamati sekitar rumah itu.
“Mau tanya, yang punya rumah ini ada ya? Saya mau ketemu,”
“Oh ada perlu apa ya, Mba? Kebetulan yang punya rumah nya lagi pada kerja,”
“Saya mau bicara sebentar aja,”
“Begini saja, nanti Mba datang lagi ya? Oh iya bisa saya tau nama Mba?”
“Elvina,”
“Okay, nanti saya sampaikan ke Mba Delila kalau—“
“Delila?”
Elvina puas sekali mendengar nama si pemilik rumah dari security yang menjaga rumah itu. Akhirnya Ia tahu siapa yang Vano antar semalam. Rupanya perempuan itu yang namanya Delila, sayang Ia tidak lihat wajah. Berarti selama ini benar dugaannya. Vano sedang dekat dengan yang namanya Delila.
“Iya, Ibu mau ketemu sama Mba Delila ‘kan? Atau sama mamanya, Bu Selvi?”
“Hmm Delila, ya, saya mau bicara sama Delila,”
“Baik, nanti saya sampaikan ke beliau kalau ada yang datang mencari dan ingin bicara dengan beliau,”
“Kira-kira kapan saya bisa ke sini lagi?”
“Baik, terima kasih atas bantuannya, Pak. Saya permisi dulu,”
“Sama-sama, Mba. Hati-hati di jalan,”
Elvina masuk ke dalam mobil dan Ia menghembuskan napas kasar. Satu pertanyaan sudah terjawab. Jadi yang diantar pulang oleh Vano itu adalah perempuan yang sudah dua kali Ia lihat namanya di ponsel Vano ketika menghubungi dan mengirimkan pesan untuk Vano yang mengandung pesan kurang wajar menurutnya. Pesan-pesan yang dikirim perempuan itu seolah memberitahu secara tidak langsung bahwa Vano dan dia sudah cukup dekat.
Ketika perempuan itu melampiaskan rasa kesalnya karena Vano tidak menghubungi dan membalas pesannya, itu sudah membuat Elvina curiga. Tidak mungkin kalau hanya sekedar teman sampai berani kesal hanya karena Vano tidak berkomunikasi dengan dia untuk beberapa saat saja.
“Ternyata dia yang namanya Delila dan ini rumahnya. Enggak sia-sia gue ngikutin Vano semalam itu,”
“Gue harus pastiin secara langsung, gue harus tau ada apa sebenarnya antara dia dan Vano. Gue enggak mau dibodoh-bodohi terus sama mereka berdua!”
*****
Elvina melanjutkan kegiatannya yang sibuk dengan tontonan sementara suaminya mandi.
Suara ketukan pintu membuat Elvina terkejut. Terpaksa Ia meninggalkan laptopnya sementara waktu.
"Kenapa, Mih?"
Amih berdiri di depan pintu dengan senyum terpatri di bibirnya.
"Ada kiriman dari Jona, Bu,"
"Kiriman apa?"
"Makanan, Bu,"
"Diantar sama dia langsung atau sama siapa?"
"Sama abang ojek online,"
"Ya udah, simpan aja. Ken enggak usah tau itu dari siapa, nanti dia ngambek karena cemburu,"
"Okay siap, Bu,"
Elvina tidak mau ada masalah lagi dengan Vano. Nanti kalau Vano tahu Ia dikirimi makanan lagi oleh Jona, bisa adu mulut lagi mereka. Vano itu paling risih kalau sudah tau ada lelaki lain diantara mereka. Mau seperti apapun statusnya dengan Elvina, entah itu sahabat, teman biasa atau yang lainnya.
Elvina kembali menutup pintu dan tidak lama kemudian Vano keluar dari kamar mandi. Beruntungnya Amih sudah memberitahu soal tadi sebelum Vano selesai mandi.
“Tadi kayaknya ada yang ketuk pintu. Siapa, Na?”
“Enggak ada, perasaan kamu aja kali,”
“Terus kenapa kamu di depan pintu? Abis dari luar?”
“Nanya terus enggak habis-habis,”
Elvina kembali duduk di ranjang dan memangku laptopnya. Sesekali Ia akan melirik jam. Kenapa lama sekali jam empat ya? Padahal Ia sudah tidak sabaran ingin bertemu dengan yang namanya Delila. Oleh sebab itu Ia menolak ajakan Vano untuk pergi ke bazar walaupun sebenarnya Ia ingin karena tadi kata Vano ada make up dan skincare.
“Ikut mau ‘kan?”
“Ikut kemana sih?”
“Tadi aku ‘kan aku ngajak kamu ke bazar, Ma. Masa lupa?”
“Aku enggak mau ikut, jangan maksa deh,”
“Ih kok gitu sih? Aku mau kamu ikut, aku udah pulang cepat lho ini,”
“Aku enggak minta,”
“Ayolah, ke bazar sama aku,”
Vano mengenakan bajunya. Setelah itu akan melepas lilitan handuk di pinggang untuk mengenakan celana seketika Elvina berseru mengingatkan.
“Heh! Pake celana jangan di sini dong, jangan di kamar sana!”
“Kenapa sih? Orang udah biasa liatnya juga,”
Vano tetap bergegas membuka lilitan handuk dan detik itu juga Elvina berseru kesal dan memalingkan wajah. Bukan pakai celana di kamar mandi atau di walk in closet, Vano malah mengenakannya di kamar, Elvina ‘kan lagi ada di tengah ranjang. Elvina tidak mau matanya kotor, untungnya sempat memalingkan wajahnya.
“Kamu aneh, orang udah biasa juga,”
“Mesum!”
“Oh mau dimesumin ya?”
Vano bertanya sambil mengangkat dagu dan sebelah alisnya. Elvina mengedikkan bahunya geli melihat tatapan Vano.
“Mending kamu tidur atau kerja aja deh, Vano. Biar enggak aneh-aneh tingkah kamu itu. Dasar enggak tau malu! Pake celana harusnya enggak di sini tau!”
“Terus dimana? Persis di dekat kamu? Kamu yang mau makein ya?”
“Aku timpuk pakai laptop ya! Biar tau rasa benjolnya di kepala,”
Vano terbahak ketika melihat Elvina menatapnya tajam dan ancang-ancang melemparkan laptop ke arahnya.
Seharusnya Ia membujuk Elvina agar mau ikut dengannya ke bazar, bukan malah membuat Elvina marah seperti ini. Tapi Ia suka melakukannya. Ia suka melihat wajah Elvina kalau lagi marah, walaupun terkadang menyebalkan juga karena suka marah-marah.
“Ayo ikut aku ke bazar, tolonglah mau, El,”
“Jangan paksa aku! Dengar sekali lagi ya, Jangan paksa aku,”
“Sayang, tapi aku mau banget pergi sama kamu lho,”
“Tapi aku nya yang enggak mau, ih udah deh, jangan maksa aku begitu, aku enggak suka,”
“Kamu emang mau diam aja di rumah? Mending pergi aja kalau gitu,”
“Aku mau pergi sebentar,”
Lonceng dari jam dinding sudah bersuara dan jarum jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Mungkin perempuan itu sudah ada di rumah. Saatnya Ia menghampiri.
“Kamu mau kemana?”
__ADS_1
“Cuma pergi sebentar aja kok, ada yang dibeli,”
“Eh pergi kemana? Jawab dulu! Beli apaan?”
“Ya ke minimarket lah, beli pembalut!”
“Kamu dapet? Perasaan belum tanggalnya deh,”
Elvina menyesali kebohongannya yang tidak berhasil. Vano tahu soal kapan Ia biasanya datang bulan karena biasanya Ia memang teratur.
“Kali ini lebih cepat, enggak tau kenapa,”
Sudah terlanjur bohong dengan alasan datang bulan dan ingin beli pembalut makanya ingin ke minimarket, akhirnya Elvina lanjutkan saja kebohongannya itu.
“Oalah, okay, aku antar ya?”
“Enggak usah, aku bisa sendiri,”
“Naik apa?”
“Odong-odong!”
“Aku serius nawarin kamu lho,”
“Enggak usah, Vano. Aku pergi sendiri aja, ‘kan cuma sebentar ini, terus cuma ke minimarket juga, enggak kemana-mana,”
“Naik apa? Mobil?”
“Ya iyalah, mau naik apa?”
“Kirain mau naik motor,”
“Enggak, mobil aja, aku mau siap-siap dulu,”
Vano sebenarnya bingung kenapa istrinya tidak mau ditemani padahal ‘kan lumayan, Elvina tidak perlu harus menyetir kalau Ia yang mengantarnya ke minimarket.
Melihat Elvina mengganti pakaian, Vano merasa kalau istrinya niat sekali ya, padahal hanya ke minimarket katanya.
“Kamu yakin mau ke minimarket pakai stelan jeans begitu?”
“Iya, emang kenapa? Walaupun cuma pergi sebentar, aku mau tetap spektakuler,”
“Wajarlah, enggak pake itu juga udah spektakuler kamu mah,”
Elvina pamit pada suaminya yang mengulurkan tangan minta agar Elvina mencium tangannya.
“Hati-hati ya, langsung pulang, jangan jauh-jauh,”
“Hmm,”
Vano menarik tangan istrinya yang suda berbalik membelakangi langsung menghadap Vano lagi. Elvina terkejut karena Vano melakukannya tiba-tiba.
“Jawab iya dulu. Langsung pulang ‘kan?”
“Iya! Ih cerewet banget,”
“Ya udah hati-hati, awas aja kalau enggak langsung pulang ya. Jangan mampir kemana-mana, apalagi ke bar!”
“Enggak, tenang aja,”
******
“Mba Del, ada yang nyariin tadi katanya mau ketemu ngobrol sama Mba,”
Perempuan bernama Delila itu mengernyit ketika baru pulang bekerja, Pak Daryo, security rumah memberitahu bahwa ada yang ingin bertemu dengannya.
“Siapa ya, Pak?”
“Elvina, Mba,”
“Jadi dia mau datang ke sini?”
“Iya saya bilang Mba biasanya datang jam empat, terus kayaknya sih dia mau datang ke sini lagi, Mba,”
“Saya enggak terima tamu, saya mau istirahat bilang aja kalau saya enggak bisa ketemu dia ya, Pak,”
“Oh begitu ya, Mba? Jadi nanti saya persilakan Mba Elvina pulang aja ya?”
“Iya, karena saya mau istirahat,”
“Baik, Mba,”
Sebenarnya security itu tidak tega juga bila berkata pada Elvina bahwa Delila tidak bisa ditemui padahal sebelumnya siapapun yang datang Delila tidak keberatan, entah kenapa ketika Elvina yang datang dengan tujuan ingin bicara padanya malah tidak diterima kedatangannya.
Tidak lama setelah Delila masuk ke dalam rumah, sebuah mobil menghentikan laju rodanya tepat di depan gerbang yang kebetulan belum ditutup oleh security.
“Selamat sore, Pak,”
“Eh Mba Elvina, sore, Mba,”
“Delila udah pulang ya?”
“Udah, tapi katanya beliau nggak mau ditemui, Mba. Mau istirahat, tadi beliau ngomong begitu ke saya. Sebelumnya mohon maaf ya, Mba,”
“Dia enggak mau ketemu saya? Apa Bapak udah kasih tau kalau saya Elvina?”
“Iya, Mba. Saya udah kasih tau nama Mba dan Mba pengen ngomong sama beliau cuma beliau bilang mau istirahat enggak terima tamu,” ujar Pak Daryo tidak enak hati sekali. Elvina jadi sia-sia datang ke sini, padahal sepertinya Elvina ada keperluan.
“Sekali lagi, coba panggil dia, Pak. Saya butuh banget untuk ngomong sama dia, saya minta tolong,”
“Memang apa yang mau dibicarakan, Mba? Nanti biar saya yang sampaikan ke beliau,”
“Saya mau ngomong langsung. Saya minta tolong banget karena ini ada hubungannya sama rumah tangga saya,”
“Hah? Kenapa memangnya, Mba?”
“Saya perlunya bicara langsung sama Delila, tolong banget ya, Pak,”
“Saya coba bicara lagi sama Mba Delila ya,”
“Iya, Pak, sekali lagi saya minta tolong banget,”
“Mba tunggu aja dulu sebentar,”
Elvina mengangguk dan memilih untuk menunggu dengan posisi berdiri di depan gerbang. Pak Daryo masuk ke dalam rumah untuk bicara dengan Delila.
Elvina tengah gelisah menunggu Delila. Ia cemas sekali. Takutnya Delila tidak bersedia keluar menemuinya.
Elvina berdecak ketika ponselnya bergetar. Begitu Ia lihat ternyata Vano yang menghubunginya. Elvina memilih untuk tak menjawab panggilan sang suami. Vano pasti mau tanya kenapa dia belum pulang juga. Nanti Ia bingung menjawab apa. Tak mungkin Ia mengatakan belum menemukan pembalut diantara banyaknya minimarket.
****
“Kok enggak dijawab sih, kemana Elvina ya? Belum pulang-pulang juga dia,”
Vano mulai khawatir karena istrinya tidak kunjung pulang. Padahal katanya cuma mencari pembalut saja tapi lama sekali.
Vano kembali menghubungi Anatha. Tapi lagi-lagi tidak ada jawaban dari Elvina. Entah sengaja diabaikan, atau memang Elvina tidak tahu kalau Ia menghubungi.
Vano berjalan ke meja makan. Sambil menunggu istrinya pulang, Ia ingin menikmati makanan yang ada di meja makan.
“Apaan itu, Mih?”
“Nasi kebuli, Pak. Baru saya panasin,”
“Nasi kebuli? Anatha beli? Kapan?”
“Enggak, Pak. Tadi dikasih sama orang,”
“Sama siapa?”
“Kurang tau, Pak. Tadi Ibu yang terima,” ujar Amih yang hampir saja kelepasan mengatakan bahwa nasi kebuli itu adalah pemberian Jona. Anatha tidak mau Ken tahu siapa pengirim makanan itu. Amih bingung mau menjawab apa, maka dari itu Amih beralasan Elvina yang menerima makanan tersebut padahal dirinya.
“Anatha yang terima? Kapan? Waktu saya mandi?”
“Hmm iya, Pak, saya kurang tau siapa yang kirim,”
“Aman enggak tuh, Mih?”
“Yang penting udah saya panasin, Pak, biar kalau mau makan makin enak,”
“Takutnya enggak aman,”
“Tanya aja sama Ibu nanti, Pak. Tapi Insya Allah aman kok, Pak. Kalau enggak aman, pasti udah dibuang sama Ibu ‘kan,”
“Jadi penasaran itu dari siapa, coba saya makan, cobain dikit aja,”
Vano mengambil sendok dan mencicipi sedikit nasi kebuli pemberian orang yang sudah dipanaskan oleh Amih.
“Hmm enak juga,”
“Enak, Pak?”
“Iya, karena baru dipanasin juga jadi makin enak. Dari siapa sih? Penasaran saya, emang Elvina enggak bilang apa-apa tadi?”
“Enggak, Pak,”
Vano jadi keterusan menikmati nasi kebuli pemberian Jona. Ia tidak tahu itu dari Jona makanya nafsu. Mungkin beda cerita kalau Vano tahu itu dari Jona. Jangankan dimakan, kemungkinan besar dibuang lagi seperti beberapa waktu lalu.
*****
“Mba, dipersilakan masuk, Mba Delila kasih waktu untuk Mba bicara sama beliau,” ujar Pak Daryo pada Elvina yang seperti menjadi angin segar bagi Elvina.
Tapi dalam hati Elvina mendengus. Seolah Ia yang berbuat salah sampai Ia harus sebegininya mencari kesempatan untuk bicara dengan Delila, padahal yang salah adalah Delila. Harusnya Delila yang menghampirinya dan meminta maaf.
“Silakan, Mba,”
“Terimakasih, Pak,”
Elvina tersenyum pada Pak Daryo yang telah membantunya. Kalau Pak Daryo tidak bicara lagi dengan Delila bisa jadi Delila tetap bersiteguh tidak mau bertemu dengannya. Ia sangat berterima kasih pada Pak Daryo.
Elvina diarahkan agar duduk di sofa ruang tamu. Elvina mengamati seluruh penjuru ruang tamu kediaman Delila.
Tidak lama Elvina duduk, ada yang datang tapi bukan Delila, melainkan asisten rumah tangga menghidangkan air minum dan kue di dalam toples.
“Silakan dinikmati, Mba,”
“Iya, terimakasih,”
Asisten rumah tangga meninggalkan Anatha setelah mempersilakan Elvina mencicipi minum dan makanan yang disajikan.
Seorang perempuan datang dengan wajah tanpa ekspresi nya menghampiri Elvina yang duduk seorang diri di ruang tamu.
“Halo, selamat sore,”
“Sore, Delila?”
Perempuan itu mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Elvina yang seolah ingin memastikan bahwa yang ada di depannya sekarang ini adalah targetnya untuk Ia temui.
“Saya mau langsung bicara ke intinya aja ya. Saya Elvina, kalau kamu belum tau nama saya. Kenapa saya datang ke sini? Karena saya mau tau apa hubungan kamu dengan suami saya Vano,”
“Maksudnya ngomong begini apa?”
“Harusnya saya yang tanya, maksud kamu dekat sama suami saya apa? Kalian ada sesuatu di belakang saya ya? Maaf saya tanya begitu, karena saya beberapa kali lihat kamu ketemu sama suami saya,”
“Vano siapa?”
Elvina tersenyum sinis mendengar pertanyaan Delila yang kelihatan seperti orang bodoh. Beginilah perebut, setelah ketahuan barulah melakoni peran sebagai protagonis.
“Kamu yakin enggak ngerti sama apa yang saya bicarakan? Hmm? Kamu ada hubungan apa sama Ken? Kamu tau enggak, kalau dia itu udah punya istri dan istrinya adalah saya, kamu mau jadi perebut ya? Hmm?”
Delila diam saja tak mengeluarkan sepatah katapun pada Elvina yang sudah geram bukan main karena Delila sejak tadi bersikap seperti orang yang tidak tahu apa-apa sementara di dalam dadanya sudah merasakan panas yang luar biasa.
“Saya enggak akan bicara seperti ini kalau saya enggak liat kamu beberapa kali ketemu sama suami saya dan kamu juga berusaha untuk menghubungi dia, untuk apa? Kalian hanya teman? Omong kosong! Mana ada teman yang interaksinya seperti kalian?”
__ADS_1