Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 149


__ADS_3

“Okay, Sayang. Aku minta maaf, jangan nangis lagi. Aku nggak akan nyuruh kamu untuk cek testpack dan ngomongin soal kehamilan lagi. Aku benar-benar minta maaf,”


Vano langsung merasa bersalah melihat istrinya menangis karena Ia punya dugaan kalau Elvina hamil dan Ia ingin Elvina memeriksakan dirinya. Tapi ternyata Elvina merasa terbebani dengan itu. Elvina tidak suka bila suaminya membahas soal anak atau kehamilan, karena akan menggali lubang yang isinya banyak sekali rasa bersalah Elvina untuk Vano karena Ia belum bisa menjadi istri yang baik untuk Vano dengan tidak adanya anak di dalam rahimnya.


“Aku nggak akan ngomongin itu lagi, aku nggak mau kamu nangis kayak gini, maafin aku ya,”


Vano segera menghapus air mata sang istri dan melarangnya agar tidak menangis lagi. Elvina beranjak dan Vano langsung ikut beranjak juga. Vano takut Elvina mual lagi.


Vano mengikuti Elvina ke kamar mandi bahkan ingin masuk ke dalam kamar juga tapi Elvina melarangnya.


“Kamu mau ikut masuk, Mas?”


“Iyalah, aku mau jagain kamu,”


“Nggak usah, aku mau cuci muka sama buang air kecil,”


“Nggak mual lagi?”


“Nggak kok, aku mau pipis aja sama cuci muka,”


“Yang bener, Sayang? Kamu jangan nutup-nutupin kalau emang ada yang dirasa sakit, langsung ngomong ke aku ya,”


“Iya, kamu tenang aja, aku sehat kok udah nggak mual lagi,” ujar Elvina pelan.


“Ya udah aku tunggu di luar ya,”


“Okay, jangan masuk-masuk, nggak sopan tau!”


“Iya, Sayang. Tapi hati-hati ya,”


Elvina mengangguk dan segera memasuki kamar mandi tanpa sang suami yang bersedia menunggu di luar kamar mandi.


“El, jangan lama-lama ya, Sayang,”


“Baru juga turunin celana,”


“Iya-iya maaf,”


Vano tahu istrinya jengah Ia berpesan seperti itu, tapi Vano tak peduli. Ia ingin mendengar suara istrinya menyahuti dari dalam yang artinya Elvina baik-baik saja. Apa yang ada di kepala Vano tentang Elvina yang bisa jadi pingsan ternyata tidak benar terjadi.


“El, udah bel—“


“Belum, Mas, sabar dong. Emang kamu mau masuk ke kamar mandi?”


“Nggak kok, Sayang,”


“Ya udah sabar, lagi mau cuci muka,”


“Emang kenapa cuci muka?”


“Lengket bekas air mata,”


“Ya makanya jangan nangis, kalau nggak suka sama omongan aku tinggal ngomong, jangan nangis,”


Elvina segera membasuh mukanya di wastafel kamar mandi. Setelah itu barulah Ia keluar dan Vano langsung menghela napas lega karena istrinya keluar dengan keadaan baik-baik saja bahkan tersenyum, sepertinya Elvina memang tidak mual lagi.


“Kamu masih mual? Atau udah nggak?”


“Nggak kok, aku udah nggak mual sama sekali,”


“Alhamdulillah, aku senang kalau begitu,”


Vano segera melingkari pinggang sang istri kemudian Ia ajak jalan ke ranjang dengan langkah hati-hati.


“Kamu nggak perlu khawatir berlebihan, Mas, aku baik-baik aja kok,”


“Ngomong-ngomong, kok jalannya agak kaku tadi? Apa kaki kamu sakit, Sayang?”


“Nggak, pinggang aku yang pegal banget,”

__ADS_1


“Ya Allah, terus gimana dong? Mau aku pijat?”


Vano berjalan dengan lancar saja tadi meskipun pelan-pelan, tapi kalau Elvina langkahnya agak beda, untunglah Vano pegang pinggangnya.


“Tadi padahal nggak terlalu pegal kayak sekarang deh,”


“Kenapa emangnya? Kamu angkat beban yang terlalu berat selama aku kerja tadi ya?”


“Ya nggak lah, emang kamu pikir aku bakal angkat apa? Sofa sama meja? Emang lagi pada nggak enak aja rasa badan aku, nggak tau juga kenapa. Mana tadi udah mual juga. Hadeh, ada-ada aja ya aku nih, jadi ngerepotin kamu deh, maaf ya,”


“Eh kamu ngomong apa sih, ya nggak repotin aku sama sekali lah. Emang harus saling peduli kalau lagi ada yang sakit mau itu istri atau suaminya,”


Elvina berbaring kembali di ranjang, dan Vano justru duduk di sebelah Elvina sambil memijat pelan kepala Elvina.


“Kamu pasti pusing ya?”


“Nggak, emang kata siapa aku pusing?”


“Biasanya kalau mual pasangannya pusing,”


“Nggak, aku cuma mual aja tadi,”


“Tapi sekarang udah nggak ‘kan?”


“Nggak dong, udah sehat, emang cuma gara-gara telur aja. Kamu jail sih segala dideketin piring telurnya ke aku, akhirnya aku mual deh,”


“Maaf banget ya, Sayang. Aku niatnya mau makan berdua sama kamu makanya aku nawarin kamu juga, aku berusaha bujuk kamu tapi ternyata kamu malah mual kayak tadi, aku langsung merasa bersalah banget, maafin aku ya, janji nggak ngulangin lagi,”


“Okay nggak apa-apa, aku juga nggak marah kok,”


“Udah gitu aku bikin kamu kesal karena nyuruh kamu cek testpack dan ngira kamu hamil, entah kenapa aku mikirnya ke sana. Maaf juga untuk kesalahan aku yang itu ya, Sayang,”


Elvina menganggukkan kepalanya pelan. Vano tidak bisa disalahkan seratus persen. Lelaki itu terlampau menginginkan seorang anak mengisi hari-hari mereka. Maka dari iti hanya bayi dan dan bayi yang ada di kepalanya. Selama ada tanda-tanda yang tak biasa dialami Elvina, Vano menganggap bahwa Anatha hamil, padahal tidak juga.


“Kalau kamu selalu bahas soal anak atau hamil, aku jadi kepikiran terus. Mungkin aku aja yang terlalu berlebihan ya, Mas? Aku juga minta maaf udah bikin kamu jadi merasa bersalah karena omongan kamu itu aku jadi nangis,”


“Emang aku salah, harusnya aku nggak terlalu nunjukkin kalau aku pengen banget punya anak, harusnya aku nggak seolah maksa kamu, aku minta maaf untuk semua itu, Sayang,”


“Ih mulut kamu masih bau telur, Mas!”


“Ya Allah, Sayang, terus aku harus apa dong?”


“Udah makanya jangan deket-deket aku dulu deh, aku nggak suka bau telurnya masih ada tuh di mulut kamu,”


Elvina sampai mengusap pelipisnya yang baru saja dikecup oleh Vano agar tak ada bekas. Suaminya itu langsung mendengus kesal. Entah kapan aroma telur itu akan hilang, tapi sepertinya selama belum hilang, Ia harus benar-benar menjaga jarak agar Elvina tidak mual lagi.


“Ya udah aku jauh nih, apa perlu aku di teras aja?”


Vano beranjak dari tempat tidur. Elvina yang melihat Ken kesal langsung terkekeh. Elvina tidak bermaksud untuk menjaga jarak dari Vano, tapi Ia benar-benar tidak kuat dengan aroma telur yang masih ada dari mulut Vano ketika mereka ada di posisi yang terlampau dekat, seperti tadi Vano memeluknya dan bicara padanya, otomatis aromanya langsung sampai ke hidung dan rasa mual itu datang lagi.


“Maaf ya, Mas. Aku juga sebenarnya nggak mau kayak begini, aku nggak paham juga kenapa aku nggak suka banget sama bau telur,”


“Iya emang kamu lagi aneh banget, Sayang. Dan jujur aku gondok banget ini. Aku nggak suka kalau harus jauh-jauh dari kamu,”


“Maaf ya, aku bener-bener minta maaf,”


Vano mengangguk seraya tersenyum tipis. Terpaksa Ia harus jauh sementara dari sang istri. Ketika Ia akan keluar dari kamar, Elvina segera memanggilnya.


“Kamu mau keluar?”


“Iya, mending keluar aja deh,”


“Ih kenapa? Nggak perlu keluar aja, duduk di sini nggak apa-apa kok, asal nggak terlalu dekat sama aku dan jangan ngajakin aku ngomong dulu,” ujar Elvina sambil menepuk sisi di sebelahnya. Elvina pikir kalau Vano tidur di sampingnya tanpa memeluk dan berbicara, aroma telur itu tidak akan bisa sampai ke hidung.


“Tapi nanti tetap aja kali,”


“Nggaklah, emang telur baunya setajam itu sampai-sampai kamu harus keluar baru aroma nya hilang,”


“Ya daripada kamu mual, mending aku cari jalan aman aja,”

__ADS_1


“Yang tadi tuh karena kamu meluk aku sambil ngomong juga, Ken. Kalau tidur aka di sini nggak terlalu mepet sama aku, pasti nggak akan kecium bau amis telur itu,”


Akhirnya Vano tidak jadi keluar dari kamar. Ia kembali lagi ke ranjang dan berada di sisi kanan ranjang yang benar-benar di ujung. Vano mengambil posisi duduk, sebagai bentuk kewaspadaan kalau tiba-tiba Elvina meminta Ia kekuar karena aroma telur masih tercium.


“Aman nih? Nggak ada bau telur?”


“Aman-aman, tenang aja,”


“Yang bener? Nggak mual lagi?”


“Tadi udah mual waktu kamu meluk aku sambil ngomong, tapi sekarang udah nggak kok,”


“Ya udah bagus deh,”


“Maaf ya jadi bikin kamu kesal,”


“Nggak apa-apa, El, aku berusaha untuk ngerti kok, kamu nggak usah minta maaf dong, aku yang jadinya merasa bersalah nih,”


“Emang kenapa? Kok kamu merasa bersalah?“


“Ya karena aku makan telur, kamu jadi mual. Aku nyesal deh makan itu, nanti-nanti nggak mau lagi. Akhirnya jadi nggak bisa meluk kamu ‘kan, nggak bisa deket sama kamu,”


“Bisa kok, ini udah deket, Mas. Yang nggak bisa itu, kalau meluk dan ngomong tepat di depan aku kayak tadi yang kamu lakuin. Nah itu bener-bener kecium banget aromanya. Amis banget, ya ampun,”


“Padahal selama ini suka telur, mau digimanain aja telurnya kamu nggak pernah mual deh. Aneh banget ya, Sayang,”


“Makanya itu, kenapa ya kira-kira? Hidung aku lagi ada masalah kali ya,”


“Berarti mual bukan karena masuk angin atau sakit tuh, emang karena telur aja, tapi kenapa? Itu yang dari tadi aku pikirin,”


“Lagi sensitif aja aku nya, Ken,”


Vano akan beranjak dari ranjang namun istrinya langsung memanggil. “Udah aku bilang kamu nggak perlu jauh sampai keluar kamar segala, Mas,” ujar Elvina yang mengira suaminya beranjak dari ranjang karena ingin keluar kamar.


“Aku mau buang semua telur yang ada,”


“HAH?!”


“Astaghfirullah, Sayang! Bisa pelan ngomongnya?”


Vamo sampai menggosok telinganya karena berdenging setelah mendengar seruan Elvina yang tampak kaget mendengar niatnya yang ingin membuang semua persediaan telur yang ada di rumah ini.


“Kenapa dibuang sih?”


“Ya biar kamu nggak mual. Nanti kalau aku liat telur, aku ‘kan suka pengen makan itu, Sayang. Terus nanti kamu mual lagi. Daripada kamu mual terus aku nggak bisa deket-deket sama kamu, bahkan meluk sambil ngobrol aja nggak bisa, ya mending aku buang aja,”


“Ya Allah, jangan Mas! Kamu aneh-aneh aja deh. Telur lagi mahal tau! Kamu jangan buang-buang makanan, mubazir!”


“Ya abisnya aku nggak mau lah kalau telur itu jadi bikin kamu mual, aku juga nggak akan makan telur dulu. Soalnya aku nggak mau lagi kalau dilarang meluk sambil ngajakin kamu ngobrol, itu ‘kan sering kita lakuin apalagi kalau udah malam sebelum tidur masa tiba-tiba nggak boleh hanya karena telur? Aku nggak mau lah,”


“Jangan dibuang juga dong, Mas. Itu namanya kamu nggak bersyukur. Orang banyak yang mau beli telur tapi nggak bisa karena lagi mahal, eh kamu malah mau buang-buang telur, yang bener aja kamu tuh. Jadi manusia nggak bisa bersyukur banget,”


“Sayang, masalahnya—“


“Apapun masalahnya nggak boleh buang-buang makanan, ngerti?”


Vamo akhirnya mengangguk pasrah. Apa yang dikatakan Elvina memang benar seratus persen. Ia terlalu dimakan oleh emosi, akhirnya tidak memikirkan kalau di luar sana banyak yang tidak makan telur karena harga telur yang saat ini tengah melambung hingga membuat sebagian orang gigit jari dan memilih lauk lain yang harganya lebih murah dibanding telur.


“Aku juga sebenarnya doyan banget sama telur dan sayang juga mau buangnya, tapi aku mikirin kamu,”


“Ya kalau nggak dimakan atau pecah, telur itu nggak akan nimbulin bau amis, jadi nggak usah kamu bikin repot, Ken. Kamu nggak bersyukur kalau buang telur hanya karena nggak mau aku mual-mual lagi,”


“Iya maaf, jadi nggak usah dibuang ya?”


“Nggak usah! Ih awas aja kalau kamu buang ya! Kamu tidur di luar aja sekalian,”


“Ya ampun, gara-gara telur aku diusir sama istri, nanti langsung bikin novel ah, judulnya ‘Aku diusir istri dari kamar karena telur’ lucu tuh judulnya,”


Elvina terkekeh mendengar celotehan sang suami. Sepertinya dia tertarik membuat novel dengan judul seperti itu. Berawal dari telur, bisa menghadirkan ide aneh dari kepala Vano.

__ADS_1


“Kamu mau bikin novel kayak begitu?”


“Nggak, aku nggak bakat,”


__ADS_2