Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 48


__ADS_3

“Kamu bisa temenin saya untuk datang ke acara ulang tahun nya nggak?”


“Kapan, Mas?”


“Malam ini kalau kamu nggak keberatan,”


“Ih kenapa baru bilang? Aku ‘kan harus siap-siap dulu, ini udah mau maghrib. Acaranya kapan?”


“Jam tujuh aja berangkat,”


Elvina berdecak mendengar ucapan suaminya. Entah kenapa Vano malah terlambat mengatakan padanya kalau ada acara ulang tahun temannya malam ini. Ia paling tidak suka kalau siap-siap mendadak.


“Mas gimana sih? Kenapa bggak bilang dari waktu dapat undangan? Aku nggak suka siap-siap dadakan,“


“Ya udah kalau kamu keberatan kamu nggak usah ikut, El. Kamu nggak perlu kesal,”


“Ya tapi lain kali jangan dadakan ngomongnya. Masa sejak mau berangkat baru ngomong sih? Itu keterlaluan banget. Alesannya apa? Lupa? Ya ampun, masa—“


“Iya saya lupa. Dan lupa itu manusiawi, kamu nggak perlu kesal. Saya nggak maksa kamu kok. Tadi saya udah bilang ‘kan dari awal. Kakau kamu nggak keberatan ya berarti kamu pergi sama saya tapi kalau kamu keberatan nggak usah, gampang ‘kan?”


Terlalu banyak yang diurus ketika ujian tengah semester seperti ini sampai Vano lupa kalau ada undangan acara ulang tahun dari temannya. Ia mengajak istrinya karena memang teman-temannya ingin mengajak pasangan.

__ADS_1


Tapi karena Ia tahu sudah berbuat kesalahan dengan terlambat memberikan informasi kepada sang istri, jadi Ia tidak akan memaksa istrinya itu untuk ikut.


Elvina mendengus ketika keluar dari kamar meninggalkan Ia yang sedang kesal. Ia ingin pergi, tapi diberitahu mendadak. Kalau tidak pergi, tidak enak pada Vano sendiri karena lelaki itu kelihatannya berharap Ia ikut.


Akhirnya sekarang Elvina bergegas menyiapkan bajunya. Ia memutuskan untuk menemani suaminya datang menghadiri acara ulang tahun temannya itu.


*****


“Kamu kenapa? Mukanya agak beda gitu deh,”


Vano tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat sang ayah melontarkan pertanyaan sesaat setelah Ia duduk di sebelahnya ayah yang sedang menonton televisi.


“Nggak, Pa,”


“Terus kenapa dong?”


“Ya nggak ada apa-apa,”


“Oh atau ada masalah sama Elvina ya? Sabar-sabar lah, dia itu ‘kan masih muda banget, masih labil, ego nya masih tinggi, dan kamu yang lebih dewasa harus lebih banyakin sabar baru deh rumah tangga adem ayem,”


“Aku sih yang salah, Pa. Cuma ya nggak perlu ngomel juga kali,”

__ADS_1


Vano sudah berhasil membuat papanya tersenyum. Sekarang Vano jujur kalau dia ada masalah sedikit dengan Elvina walaupun belum terbuka masalahnya itu apa, yang bisa disimpulkan oleh Papanya hanya sebatas ‘Elvina mengomeli Vano’ saja.


“Ngomel karena apa?”


“Aku salah baru ngasih tau kalau ada acara ulang tahun teman aku malam ini. Aku ngajak Elvina. Ya karena emang ngasih taunya dadakan jadi dia ngomel padahal aku juga nggak maksa sih, cuma ngajak doang,”


“Oh, biasalah itu. Ya udah, obrolin aja baik-baik. Tanya ke El dia mau ikut atau nggak. Biar pasti. Terus kamu mau berangkat jam berapa?”


“Jam tujuh, Pa,”


“Mau Papa temenin aja?”


“Hahaha jangan dong, Pa. Teman-teman aku tuh pada mau bawa pasangan, nanti mereka ngira aku udah belok,”


“Hahahaha oh gitu ya? Pada bawa pasangan? Pantesan kamu ngajak Elvina malam ini,”


Vano menganggukkan kepalanya. Teman-teman yang datang akan bawa pasangan, dan Ia juga ingin.


“Ya udah sama Papa aja, biar deh dianggap pasangan kamu daripada bawa cewek lain ‘kan?”


“Nggak lah, Pa. Masa iya aku kayak gitu,”

__ADS_1


__ADS_2