Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 19


__ADS_3

“Abang, kita ke rumahnya Elvina ya,”


“Siap, Ma. Abang ingat kok,”


“Mama ingetin takut kamu lupa. Nanti kamu malah bawa mobil ke rumah,”


“Nggak, ini yang abang tunggu-tunggu malah, Ma,”


“Hahaha bisa aja kamu,”


Vano mengakui kalau makan barengnya Ia dengan Elvina adalah hal yang ditunggu-tunggu jadi tidak mungkin Ia lupa. Sejak hadir di dalam acara Ia sudah kepikiran Elvina. Ia tidak sabaran ingin makan bersama Elvina, ditambah lagi ada mamanya dan juga bundanya Elvina.


“Kalian kalau di kampus banyak interaksi nggak, Van?”


“Boro-boro, Ma. Kayak orang nggak kenal aja kalau udah di kampus. Ada interaksi tapi kalau emang berkaitan dengan kuliah aja, Ma. Di luar itu nggak pernah. Dan jarang juga karena aku ‘kan banyak mahasiswa lain tuh, jadi harus fokus ke mereka juga, nggak mungkin cuma mikirin Elvina, sering ngobrol sama Elvina. Aku harus adil ke mahasiswa yang lain. Elvina juga nggak akan nyaman. Pasti teman-temannya yang lain pada mikir negatif soal dia kalau aku lebih ke dia,”


“Iya sih, kamu benar banget. Kamu sebagai dosen harus adil sama semua mahasiswa yang lain. Jangan mentang-mentang kamu ada perasaan ke El, kamu jadi mengabaikan tanggung jawab kamu ke yang lainnya. Kamu harus adil ke semuanya,”


“Iya, Ma. Aku wanti-wanti jangan sampai itu terjadi. Elvina juga begitu. Dia paling nggak mau dinilai jelek sama teman-temannya. Waktu mau jalan sama aku aja, rela-rela jalan kaki ke halte supaya nggak ada yang liat dia masuk ke dalam mobil aku, takutnya teman-teman dia pada salah paham, dan mikir negatif soalnya dia,”


“Nanti kalau kalian nikah, mereka pasti kaget banget ya, Van,”


“Apa kamu bakal undang teman-teman El?”


“Ya kalau aku sih pengen ngundang, Ma. Cuma gimana kesepakatan El aja deh,”


“Lho, sebaiknya memang diundang biar pada tau. ‘Kan bagus pernikahan itu diketahui sama banyak orang, jadi nggak menimbulkan fitnah, Nak,”


“Tapi berhubung El masih mahasiswa, Ma. Barangkali dia nggak mau ketahuan nikah dulu. Cuma aku nggak tau deh, gimana El nanti, Ma,”


“Jangan ngumpet-ngumpet kalau nikah tuh, biar aja orang lain tau justru itu bagus, nggak nimbulin fitnah. Jadi nanti kalau El hamil, orang nggak mikir macam-macam, karena ‘kan sebelumnya udah tau kalau kalian memang udah nikah,”

__ADS_1


Vano juga inginnya seperti itu kalau sudah menikah. Tapi kalau nikahnya dengan Elvina, Ia ingat bagaimana sifat Elvina. Masuk mobilnya saja tidak mau dilihat oleh mahasiswa lain.


******


“Abang sama Mama emangnya kemana, Pa?”


Davina diajak oleh papanya untuk makan di luar, berhubung di rumah hanya ada Davina dan Beni saja, Lisa dan anak sulungnya sedang pergi.


“Kondangan, terus barusan Mama ngomong mau makan dulu sama Tante Dini,”


“Hah? Ada Elvina juga?”


“Ada,”


“Ih aku mau gabung dong, Pa,”


“Ngapain? Udah, kamu sama Papa aja. Mungkin mereka mau ngobrolin sesuatu,”


“Sesuatu apa?”


“Lho, emang Elvina udah terima ajakan nikahnya Abang?”


“Ya mungkin aja, Nak. Kenapa nggak? ‘Kan El udah setuju pas Abang bilang mau kenal El dan orangtuanya lebih jauh, Abang juga udah ngomong ke orangtua El, Papa rasa El bakal mempertimbangkan itu,”


******


“Senang banget ih bisa makan bareng sama kamu, sama si cantik El. Sering-sering begini ya,”


“Sama, udah lama banget nggak ngumpul gini ya, Dini. Dulu seringnya cuma berdua aja, atau sama suami-suami kita yang waktu itu masih pacar statusnya, eh sekarang udah bawa anak, mana udah dewasa anak-anaknya. Ya ampun, waktu cepat banget berlalu ya,”


“Kangen masa sekolah, ya nggak sih?”

__ADS_1


Lisa mengangguk membenarkan. Rasa ingin kembali ke masa sekolah itu pasti ada. Mengingat masa sekolah mereka menyenangkan, jadi rasanya ingin mengulang. Kecuali kalau masa sekolah mereka kurang menyenangkan, inginnya tak lagi mengingat yang sudah berlalu.


“Kamu sama El sering pergi berdua ya pasti? Punya anak cewek tuh seru ya. Teman jalan aku biasanya si Davina nih, cuma dia sekolah pulangnya nggak nentu karena sering ada pelajaran tambahan, terus juga lebih cocok Vano yang aku bawa kondangan. Eh pas banget ketemu El. Senang banget aku sama Vano. Tanpa pikir panjang langsung nyamperin,”


“Kalau nggak ketemu tadi belum tentu kita makan sama-saka gini ya,” ujar Dini.


“Iya benar,” sahut Lisa.


“Eh itu motor kamu gimana, Nak? Apa kendalanya? Kok bisa tiba-tiba mati begitu?”


“Belum dicek, orang yang bisa ngeceknya belum datang,”


“Kamu keren banget, El. Cewek tapi mau tahan panas-panasan karena motor mati. Duduk diam aja di atas motor. Tante gemes lho tadi liat kamu duduk sendirian di atas motor, mana mukanya agak kusut lagi,”


Elvina terkekeh menutup mulutnya malu karena Ia ketahuan kesalnya tadi. Siapa yang tidak kesal? Tiba-tiba di jalan pulang, kendaraannya malah mati, padahal sebelumnya baik-baik saja.


“Udah mau dibeliin motor sama ayahnya, dia nggak mau. Itu motor ulang tahun dia pas umur tujuh belas tahun. Ada mobil di rumah, dia nggak mau pakai juga. Entah lah, aku bingung sama El. Sayang bener sama motor jeleknya itu,”


“Ih Mama, itu nggak jelek, masih bagus, cuma lagi sakit aja,”


Elvina tidak terima ketika motornya dikatakan jelek. Padahal menurutnya masih bagus. Buktinya masih berfungsi dengan baik sampai tadi sebelum berakhir mengenaskan dan secara tiba-tiba hingga membuatnya kaget sekaligus kesal setelahnya. Karena sudah sedikit lagi sampai rumah, tapi motor yang Ia tunggangi itu malah mati,


“Paling abis ini benar-benar dipaksa Mas Arman untuk ganti motor. Karena dia pakai mobil nggak mau sama sekali. Alasannya nggak bisa nyelip-nyelip kalau macet, lebih praktis. Lah orang teman-temannya aja pada pakai mobil kok,”


Vano menatap perempuan di depannya dalam diam, dan diam-diam semakin mengagumi Elvina. Tidak salah Ia memiliki perasaan kepada perempuan itu.


“Memang alasannya begitu, El? Padahal mobil tuh lebih enak, El,” Tanya Lisa pada Elvina yang langsung menganggukkan kepalanya.


“Iya, Tante. ‘Kan kalau naik motor lebih cepat, lebih praktis. Naik mobil emang enak sih, nggak kena debu, nggak kena panas, tapi menurut aku kurang praktis. Aku sukanya yang nggak ribet. Naik mobil kalau pergi sama ayah bunda aja deh, aku males bawa mobil sendiri,”


“Emang agak langka dia. Sukanya panas-panasan, abis itu sampai rumah udah bau matahari,”

__ADS_1


“Ih Bunda,”


Elvina menatap bundanya tidak terima. Sementara Vano dan Lisa terkekeh. “Cewek yang kayak Elvina gini malah bikin suaminya beruntung punya dia, serius deh,” ujar Lisa.


__ADS_2