Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 49


__ADS_3

“Lho kamu ikut?”


“Ya iyalah masa aku udah diajakin nggak ikut,”


“Tapi beneran mau ikut nggak? Maksud saya kalau mau kesal ngikut saya ke acara mendingan nggak usah aja sekalian,”


Elvina menghembuskan napas kasar. Supaya tidak kelihatan kesal di mata suaminya, sekarang Ia tersenyum begitu lebar.


“Aku udah senyum nih, masih dibilang kesal, Mas?”


“Keluatan nggak ikhlas, keliatan kesal. Jadi daripada bad mood nya kamu nular ke saya mendingan kamu nggak usah berangkat aja sekalian,”


“Ih Mas tuh kenapa sih, aku mau ikut! ‘Kan udah diajakin sama kamu, masa iya aku nggak ikut,”


Elvina jadi kesal sendiri setelah suaminya secara tidak langsung melarang Ia untuk ikut pergi menghadiri acara ulang tahun teman suaminya itu. Padahal sebelumnya Vano sudah mengajak.


Jadi kamu sebenarnua mau atau nggak sih aku ini ikut kamu? Kenaoa kota jadi debat masalah kayak begini? Nggak penting lho,”


“Ya udah kalau memang kamu mau ikut, ayo ikutlah. Tapi saya nggak mau kamu kesal-kesal atau badmood. Ini kamu ikut memang karena keinginan kamu ‘kan? Bukan karena saya paksa,”


“Iya ini keinginan aku beneran,”


Vano menganggukkan kepalanya puas. Jawaban seperti itulah yang Ia inginkan. Ia tidak ingin ada rasa terpaksa di hati Elvina untuk mendampinginya menghadiri acara ulang tahun Danu.


“Aku pakai baju ini nggak apa-apa ‘kan, Mas?”


Elvina menunjukkan dres yang akan Ia pakai. Dres itu memiliki dua tali kecil di kedua sisinya, tapi ada vest di luarnya yang akan menutupi sebagian lengannya.


“Iya boleh,”


“Ini pake luarannya kok, Mas,”


Elvina langsung menunjuk vest yang ada di tangan kanannya, dan dres dengan tali kecil ada di tangan kiri.


“Iya saya udah liat, boleh kok. Kecuali kalau nggak ada luarannya,”


“Okay makasih ya, Mas,”


“Sama-sama,”


“Bagus ‘kan warna pink muda gini? Dalamnya pink muda, luarnya putih. Cocok ‘kan dipakai untuk ke pesta ulang tahun?”


“Cocok kok,”


“Okay, aku udah siapin kemeja putih buat Mas, jadi sama kayak vest aku,” ujar Elvina seraya menyerahkan kemeja yang sudah Ia siapkan untuk sang suami.


“Oh iya, makasih ya,”


“Sama-sama. Sekarang Mas ganti duluan aja,”


“Ya bareng aja, kenapa duluan-duluanan?”


“Ya masa barengan sih, Mas? Jangan lah, Mas duluan aja sana,”


Elvina kaget mendengar ucapan Vano. Mau ganti baju saja kenapa harus bersamaan kalau bisa satu persatu?


“Bareng aja, ayo,”


Vano langsung menarik tangan Elvina yang kebingungan. Ia bingung ketika suaminya melakukan itu.


“Mas, aku mau ganti sendirian aja,”


“Nggak apa-apa biar bareng saya aja. Biar kita makin terasa dekat, akrab, intim,”


“Ih Mas! Kamu kok maksa sih,”


Vano menahan tawa dan Ia tetap membawa istrinya ke ruang ganti pakaian. Ia melakukan itu supaya hilang rasa sungkan atau kaku.


Selama ini Elvina kalau ganti baju selalu pergi, padahal yang di kamar itu suaminya sendiri. Sesekali Vano ingin mengerjai istrinya itu.


“Mas aku nggak mau,”


“Mau lah nggak apa-apa,”


“Ih Mas kok kahat sih! Aku nggak mau huwaaaa,”


“Astaga, Elvina!”

__ADS_1


Vano langsung menutup mulut istrinya yang berseru melampiaskan kesedihannya akibat diajak ganti baju bersama suaminya.


“Kamu apa-apaan sih? Jangan berisik dong,”


“Ya abisnya Mas ngapain ngajakin aku ganti baju bareng? Aku nggak—-hmppp,”


Vano kali ini membungkam mulut istrinya dengan bibirnya sendiri dan itu berhasil membuat suara Elvina hilang entah kemana yang ada juga hanya lenguhan semata.


Setelah puas ******* bibir istrinya, Vano langsung melepastakan tautan bibir mereka yang Ia ciptakan sendiri tanpa izin, tanpa ada pembicaraan di awal sehingga Elvina kaget ketika menerimanya.


“Mas ih! Kenapa sih main asal cium aja. Kita ini mau pergi, kenapa malah ciuman?”


“Ya emang kenapa sih? Yang saya cium itu kamu, istri saya sendiri. Jadi nggak amsalah song. Kamu jangan sewot. Suka-suka bibir saya,”


“Udah ah sana!”


Elvina langsung mendorong dada suaminya supaya menjauh. Vano langsung terbahak karena meluhat raut kesal di wajah sang istri.


“Ganti baju barengan aja,”


“Nggak mau, Mas. Aku malu lah,”


“Ya ampun masih malu-malu segala, yang pacaran aja udah lebih dari ganti baju bareng, lah kamu sama saya udah nikah, udah suami istri masih aja ada malu-malu,”


“Udah sana ganti baju nggak banyak omong, Mas,”


Elvina langsung mendorong punggung suaminya dan Ia yang sudah terlanjur di bawa ke ruang ganti langsung keluar lagi. Ia tidak akan mau ganti baju bersamaan. Takutnya bukan hanya sekedar ganti baju. Tadi saja Vano sudah menyambar bibirnya. Padahal Elvina ingin mereka cepat selesai ganti baju, supaya cepat juga berangkat.


Tidak lama Vano mengganti pakaian, akhirnya Vano selesai juga. Dan Elvina langsung kengganti bajunya dnegan yang sudah Ia siapkan.


“Jangan lama ya, El,”


“Iya,”


“Nggak usah cantik-cantik banget kalau bisa,”


“Hah?”


Elvina bingung menanggapi ucapan suaminya. Bagaimana cara mengatur tingkat kecantikan sesekrang? Ia benar-benar bingung. Apalagi Ia tidak merasa cantik.


“Iya jangan cantik-cantik banget. Ntar ketemu teman-teman saya, mereka pada suka sama kamu,”


“Kamu tuh udah cantik, nggak usah tambah cantik ya,”


Elvina yang sedang mengganti pakaian geleng-geleng kepala. Ia tidak habis pikir dengan ucapan suaminya.


Memilih tak menanggapi Elvina fokus saja dengan kegiatannya karena Ia sudah dikejar okeh waktu. Jangan sampai mereka sampai sana terlalu malam.


Vano menyisir rambut, dan menggunakan parfum. Kebetulan Elvina baru selesai mengganti pakaiannya.


“Bentar ya, Mas,”


“Iya,”


Vano mengamati istrinya di atas tempat tidur. Istrinya itu sedang mengikat rambutnya menjadi satu sehingga menampilkan leger jenjangnya. Setelah itu Elvina memoles wajahnya dengan make up yang tipis saja. Terakhir Ia menggunakan parfum.


“Udah siap, Mas,”


“Itu rambut nggak usah dikuncir semua kali, El,”


“Lho emang kenapa, Mas?”


“Ya nggak apa-apa sih, leger kamu bikin salah fokus ya,”


Elvina mengamati lehernya sendiri. Menurutnya tepat kalau rambutnya dikuncir jadi satu. Tapi Vano bilang, leher membuat salah fokus.


“Maksudnya?”


“Keliatan leher jenjangnya, dan putih bersih, mending di gerai deh. Terus dibuat keriting di bawahnya, kayaknya itu nggak kalah cocok di kamu,”


“Mas, apa iya aku harus catok dulu? Aku nggak—“


“Ya nggak apa-apa,”


“Supaya ada keriwil di ujung rmabut, aku biasanya pakai catokan,”


“Iya catokan itu yang kayak setrikaan ‘kan?”

__ADS_1


Elvina menepuk keningnya pelan, dan Vano terkekeh. Maafkan Ia yang bodoh soal alat-alat yang sering digunakan oleh perempuan. Tapi Ia memang sering melihat alat untuk pelurus dan pengeriting rambut itu karena adiknya juga suka pakai kalau mau pergi ke acara-acara.


“Kok setrikaan sih, Mas?”


“Ya saya bingung namanya apa. Sebut aja setrikaan lah. Lagian dia emang mirip setrikaan ‘kan? Dia ada panasnya,”


“Ya iya sih tapi dari bentuk aja sama,”


“Ya tapi sama-sama mengeluarkan panas, dan gunanya juga sama-sama untuk merapikan. Cuma bedanya, catokan tuh merapikan atau menata rambut ya, nah kalau setrikaan untuk pakaian,”


“Ya udah deh terserah kamu aja, Mas. Susah berdebat sama dosen,”


Vano tertawa melihat istrinya sudah pasrah saja. Tapi Ia senang ketika Elvina mau menuruti perjataannya. Sekarang Elvina membuka kunciran rambutnya laku Ia mengambil alat yang disebutnya tadi.


“Tapi harus sabar lho ya, jangan ribut nyuruh cepat-cepat. Soalnya nyatok itu butuhw aktu,”


“Iya-iya saya tau. Santai, saya tungguin kok,”


Elvina menganggukkan kepala. Ia mulai seibuk untuk menata rambutnya sendiri. Ditawarkan bantuan oleh Vano, Elvina langsung membertikan penolakan.


Kenapa? Karena Elvina takut suaminya malah membuat hasil tatanan rambutnya menjadi buruk alias tak sedap dipandang mata. Lebih baik Ia sendiri saja.


“Kalau digerai gitu cantik, manis, kayak—apa itu yang sering disukain sama anak kecil, kartun salju itu lho, ada dua perempuan,”


“Kartun apa?”


“Masa kamu nggak tau? Kamu ‘kan masih bocil, dan perempuan juga,”


Elvina berdecak dibilang maish ‘bocil’. Usianya sudah dua puluh satu tahun, bukan bocah atau anak kecil lagi sebutannya. Walaupun terkadang pemikiran dan tingkah laku maish seperti anak kecil terkadang.


“Apa? Aku nggak tau,”


“Yang dua perempuan itu lho,”


“Oh Frozen bukan?”


“Nah iya itu,”


“Lah, jauh banget, Mas. Pebandingan kamu nggak kira-kira. Mereka cantik banget, putri-putri menawan, aku apaan? Yah ampun, jauh banget,”


“Saya nggak suka kamu insecure kayak gini, El. Kamu itu cantik,”


“Ya emang siapa bilang aku jelek?”


“Dengan kamu ngomong kayak tadi tuh sebutannya udah insecure, El,”


“Tapi aku ‘kan rambutnya nggak dikepang emang mirip?”


“Mukanya cantik, mirip menurut saya,”


“Hahahahaa kamu bisa aja, Mas. Dosen bisa gombal juga ya ternyata?”


“Saya nggak gombal kok. Yang saya omongin barusan tuh fakta. Emang kamu cantik, mirip frozen itu,”


“Makasih,”


“Ntar kalau punya anak perempuan, secantik apa ya?”


Elvina langsung melipat bibirnya ke dalam setelah mendengar suaminya bicara seperti itu. Jujur belum ada dalam benak Elvina kalau Ia akan memiliki anak. Apalagi kalau dalam waktu dekat.


“Pasti cantik juga deh, nurun dari kamu,”


“Dan kalau cowok juga pasti ganteng. Aamiin, yang penting sehat lah,”


“Duh udah bahas anak aja nih,” batin Elvina sambil sibuk dengan kegiatannya.


“Gimana kalau menurut kamu?”


“Hah?”


“Menurut kamu gimana? Bakal cantik dan ganteng nggak?”


“Ya—-iya aamiin, yang penting sehat benar kata kamu, Mas,”


“Nah itu yang paling penting. Eh kok jadi bahas anak,”


“Iya kenapa sih? Mas udah mau punya anak ya?”

__ADS_1


Vano mengangkat kedua bahunya. Kalau ditanya mau ya sudah pasti. Sebagian besar orang kalau sudah menikah, pasti yang diharapkan adalah kehadiran anak, tapi ada juga yang lagi mau kenunda. Kalau Vano sendiri tidak menunda tapi tidak mau juga untuk mendesak Elvina supaya cepat dapat anak. Karena Ia tahu itu tidak baik untuk mental Elvina. Mengingat Elvina masih muda, dan masih dalam masa pendidikan juga.


__ADS_2