
Vano menanggalkan pakaian kerjanya setelah itu langsung bergegas masuk ke kamar mandi sementara Elvina mengambil baju yang akan dikenakan sang suami setelah Ia mandi nanti.
“Mas, setelah mandi kamu mau minum teh hangat nggak? Aku bikinin kalau kamu mau,”
“Nggak deh, eh iya deh,”
Elvina berdecak pelan karena jawaban suaminya yang tidak pasti. “Jadi mau atau nggak?” Tanya perempuan itu untuk memastikan.
“Iya mau, Ma, tolong bikinin ya,”
“Okay, aku bawa ke kamar nanti,”
“Terus mau apalagi?”
“Hmm telur dadar deh,”
“Telur dadar aja nggak sama nasi?”
“Nggak, El,”
“Ya udah aku buatin ya,”
Elvina segera bergegas keluar dari kamar usai menjadi pelayan untuk sang suami. Menyiapkan baju sudah, saatnya menyiapkan hidangan yang bisa Vano santap nanti kalau sudah selesai membersihkan badannya.
Elvina membuatkan telur dadar dulu. Setelah itu barulah mengambil teh dan gula yang langsung dimasukkan ke dalam cangkir barulah Ia menuang air panas.
“Bu, untuk siapa?“
Ketika hendak keluar dari dapur, Elvina tidak sengaja bertemu dengan Amih yang bingung melihat Elvina membawa baki dengan satu piring berisi telur dadar dan juga satu cangkir teh yang uapnya masih menguar dari dalam cangkir.
“Buat Vano, Mih,”
“Itu telur nggak sama nasi, Bu?”
“Dia nggak mau,”
“Pak Vano ngidam ya, Bu?”
Elvina terkekeh mendengar pertanyaan Amih yang polos tapi kedengarannya penasaran sekali.
“Masa iya ngidam? Ya nggaklah, dia lagi kecapekan aja, Mih, terus minta ini deh,”
“Oalah, saya kira lagi ngidam, Bu, ya udah atuh, Ibu bawa aja sekarang ke kamar. Barangkali udah ditungguin,”
“Okay, aku naik dulu ya, Mih,”
“Iya, Bu. Saya aja yang bawa, Bu, takutnya Ibu susah naik tangga nya,”
“Nggak susah kok, aku bisa,”
“Pelan-pelan aja, Bu,”
Amih mengantarkan Elvina sampai lantai atas karena Ia terlampau khawatir Elvina ada kendala ketika membawa baki berisi makan dan minuman panas itu.
Setelah membuka pintu kamar sang majikan dan Elvina masuk ke dalam kamar, barulah Amih kenbali ke lantai dasar.
“Mas, ini udah jadi, kamu masih lama?”
“Nggak, aku lagi berendam dulu nih, tapi bentar lagi selesai kok,”
“Ya udah buruan, jangan lama-lama, nanti kalau udah dingin nggak enak lagi lho,”
“Iya, Sayang, ini aku bentar lagi kelar kok,” ujarnya.
Elvina memilih untuk berbaring di tempat tidur untuk mengistirahatkan badannya yang juga terasa pegal sejak tadi.
Vano keluar dari kamar mandi dengan badan yang segar. Ia segera mengenakan pakaian setelah itu duduk di sofa yang menghadap jendela dan balkon untuk menikmati pemandangan sekaligus telur dadar juga teh hangat bikinan sang istri.
“Sayang, sini deh, kita ngobrol yuk,”
Elvina segera beranjak dari ranjang. Padahal malas sekali rasanya untuk beranjak dari tempat tidur tapi suaminya ingin mengajaknya berbincang.
“Iya, kenapa?”
“Jadi kapan acara anniversary orangtua Jona?”
“Minggu ini sih, kamu mau datang?”
“Ya kalau kamu datang, aku juga datang lah,”
“Aku kayaknya sih bakal datang, Insya Allah kalau nggak ada halangan,” ujar Elvina seraya menyandarkan badannya ke sofa sambil mengusap pinggangnya.
“Kamu kenapa?”
__ADS_1
“Badan aku juga pada pegal-pegal,”
“Sama ya kayak aku, mau aku balurin minyak nggak?”
“Nanti aja kalau udah mau tidur,”
“Emang kenapa kamu pegal-pegal gitu? Kecapekan?”
“Nggak tau juga kenapa,”
“Terus itu kenapa pegang-pegang perut juga?”
“Agak nyeri,”
Elvina terkekeh seraya mengusap perut bagian bawahnya. Vano mengernyitkan kening penasaran.
“Kenapa, Sayang? Mau datang bulan kali ya?”
“Iya mungkin,”
“Atau hamil?”
“Nggak! Ih kamu obrolannya ke arah sana terus, aku nggak mau!”
“Hmm? Nggak mau apa?”
Vano langsung salah paham. Pikirnya Elvina tidak mau hamil lagi, seperti sebelumnya yang enggan sekali mengandung anaknya karena belum mencintainya sampai-sampai mengonsumsi pil kontrasepsi.
“Ya nggak mau bahas itu,”
“Oh, aku pikir nggak mau apa,”
“Emang apa? Kamu pikir aku nggak mau apa?”
“Nggak mau hamil lagi,”
“Kalau aku nggak mau hamil lagi nih, aku udah minum pil lagi, Mas. Kamu jangan lupa kalau aku ini udah nggak minum-minum itu lagi,”
“Iya aku nggak lupa. Aku seneng deh kamu mau denger kemauan aku,”
“Tapi kenyataannya setelah aku lepas dari itu, aku tetap aja belum punya,”
“Iya belum waktunya, Sayang. Sabar, kalau emang kata Allah kita bakal punya anak ya berarti tinggal tunggu waktu yang tepat aja, tapi kalaupun nggak juga aku nggak masalah sama sekali. Aku nggak minder sama teman-teman aku yang udah punya anak, aku santai aja. Anak itu ‘kan titipan, ya kalau Allah belum kasih kepercayaan ke kita untuk punya anak, nggak usah dijadikan beban. Banyak kok pasangan suami istri yang belum punya anak, atau bahkan nggak punya sama sekali tapi mereka tetap bisa hidup bahagia, kita juga pasti bisa, Sayang,”
“Tapi kamu ‘kan udah kepengen banget ya,”
“Beda sama aku dong. Aku ini kalau mau apa-apa keras banget. Merasa harus punya. Sebenernya itu nggak boleh ya, egois namanya. Tapi aku tipe orang yang kayak gitu,”
Vano tersenyum dan Ia mengacak lembut rambut sang istri yang baru saja mengatakan perbedaaan yang begitu mencolok diantara Elvina sendiri dan juga suaminya. Tapi Vano tidak masalah, perbedaan dalam pernikahan adalah hal yang sangat wajar terjadi.
“Mau nggak? Enak lho telur dadar aja tanpa nasi,”
Vano mengambil piring kecil berisi telur dadar buatan sang istri. Kemudian Ia tawarkan pada Elvina yang langsung menggeleng.
“Enak, El, karena telurnya masih hangat,”
“Nggak ah, buat kamu aja,”
“Emang kenapa? Biasanya kamu suka, Sayang,”
“Nggak, bau amis,”
“Lah wajar, namanya juga telur, kalau ubi kamu bilang bau amis tuh baru aneh,”
“Ken, jangan sengaja dideketin ke hidung aku,”
Elvina memarahi Vano yang masih mendekatkan piring ke arah Elvina. Padahal Elvina sudah mengatakan bahwa Ia tidak mau, alias menolak tawaran sang suami.
“Udah kamu makan sendiri aja,”
“Beneran nggak mau?”
Elvina mengangguk, dan Vano langsung menyantap telur dadar itu dengan lahap hingga tak lama kemudian habis.
Vano terkejut begitu Elvina tiba-tiba saja berdiri sempurna dari sofa dan berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Suara Elvina yang mual di kamar mandi langsung membuat Vano bergegas menghampiri karena khawatir.
“Sayang, kamu kenapa?”
“Gara-gara bau telur tadi nih,”
“Hah? Kamu serius? Ya Allah, maaf-maaf,”
__ADS_1
Vano segera memijat tengkuk Elvina yang tengah membungkuk di depan wastafel mengeluarkan isi perutnya.
Vano langsung merasa bersalah karena tadi Ia menawarkan telur kepada Elvina bahkan terkesan memaksa juga supaya niatnya bisa makan berdua. Tapi ternyata Elvina benar-benar tidak suka dengan aroma telur itu sampai akhirnya muntah.
Tapi yang membuat Vano bingung adalah, selama ini Elvina tidak pernah ribut soal aroma telur. Baru sekarang dan itu aneh sekali menurut Vano.
“Kok tumben kamu protes soal bau amis telur? Tadi masaknya baik-baik aja ‘kan?”
“Iya, tapi pas kamu deketin piring tadi, aku langsung mual,”
“Ya ampun, maaf ya, Sayang,”
“Ya nggak apa-apa, tapi jangan diulangin lagi, kalau aku bilang nggak mau ya berarti nggak mau, jangan ditawarin lagi,”
“Okay, aku minta maaf ya, Sayang, nggak bermaksud bikin kamu mual kayak begini,”
“Iya, aku paham kok, nggak apa-apa,”
Elvina sudah merasa lebih baik maka dari itu Ia bisa menyahuti ucapan Vano. Sesaat kemudian Elvina kembali menunduk dan mengeluarkan isi perutnya.
“Aduh, mual banget ya,”
“Aneh deh, El, biasanya kamu nggak sampai begini lho, hanya karena telur padahal. Kamu udah sering masak, bahkan suka juga sama yang namanya telur, tapi kok sekarang malah mual ya, Sayang,”
Setelah tidak ada lagi yang mendesak ingin dikeluarkan, Elvina langsung membasuh mulutnya dengan air kemudian Ia keluar dari kamar mandi dengan dipapah oleh sang suami yang benar-benar cemas dengan kondisinya.
“Istirahat ya, kamu mau minum teh hangat nggak? Biar mualnya hilang,”
“Nggak, aku nggak mau apa-apa, Ken,”
Vano mengangkat dengan lembut kaki sang istri yang masih terjuntai ke lantai, kemudian Ia letakkan di atas tempat tidur dengan posisi lurus.
Ia mengambilkan air putih untuk Elvina yang segera menggelengkan kepalanya menolak. “Ayo minum dulu, biar—“
“Nggak mau, aku nggak mau minum apa-apa,”
Vano menghela napas pelan. Elvina kalau sudah dalam mode keras kepala menyebalkan sekali. Padahal supaya mulutnya bersih, setelah muntah tadi, Vano ingin istrinya itu minum.
Vano berinisiatif untuk membalurkan minyak aromaterapi di perut, leher depan, dan tengkuk Elvina. Kemudian Ia juga membalurkannya di kening Elvina.
“Istirahat, Sayang. Kamu kayaknya kecapekan dan masuk angin deh,”
“Emang lagi pengen tumbang aja ini,”
“Iya makanya istirahat, jangan ngelakuin apa-apa dulu ya,”
“Okay,”
Elvina memejamkan matanya untuk istirahat sebentar sementara sang suami menekuk lututnya dan menumpunya di lantai. Ia berada tepat di samping sang istri.
“Sayang, kalau ada apa-apa, tolong langsung bilang sama aku ya,”
“Iya,”
“Kalau ada yang kamu perlu, dan kamu ngerasa sakit di badan, kamu langsung bilang ke aku, supaya kita langsung ke rumah sakit. Aku khawatir banget tiba-tiba kamu mual kayak tadi, padahal sebelumnya baik-baik aja,”
“Santai aja, Mas, aku baik-baik aja kok,”
“Ya gimana aku bisa santai, Sayang? Kamu nggak biasanya kayak begini. Hanya gara-gara aroma telur kamu langsung mual, tapi waktu masak nggak apa-apa ‘kan?”
Elvina menganggukkan kepalanya dan kembali mengatakan bahwa saat ini badannya sedang ingin tumbang, penyebab sebenarnya bukan telur.
Elvina terkekeh melihat Vano menatap ke arahnya dengan kening mengernyit khawatir. Elvina mendorong wajah Vano dengan telunjuknya.
“Kamu panik banget, santai aja,”
“Nggak, aku lagi mikir deh,”
“Mikir apa?”
“Apa iya kamu hamil, Sayang?”
“Mas, jangan mulai ya. Sedikit-sedikit bahas hamil, aku bosan ah,”
“Ya abisnya kamu aneh banget, El. Biasanya nggak pernah tuh mual-mual karena telur. Apa iya kamu lagi masuk angin aja? Bukan karena yang lain,”
“Iya karena masuk angin dan emang lagi waktunya sakit aja, Mas. Nggak usah terlalu kamu pikirin,”
Vano menggelengkan kepalanya pelan. Ia tetap saja tidak bisa berhenti memikirkan berbagai penyebab yang membuat Elvina merasakan mual.
“Kita periksa aja ya, biar jelas,”
“Vano jangan bikin aku tambah merasa bersalah deh, dengan kamu yang terus-terusan ngira aku hamil, atau suruh aku cek, aku ngerasa bersalah sama kamu,”
__ADS_1
“Lho, emang kenapa?”
“Ya karena itu tandanya kamu benar-benar berharap banget punya anak dari aku tapi sayangnya aku nggak bisa kasih, kamu paham nggak? Jangan suruh aku cek atau ini itu, aku nggak mau, nanti ujung-ujungnya dibikin kecewa,” ujar Elvina dan tanpa sadar air matanya mengalir ke pipi dan itu membuat Vano terkesiap.