Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 65


__ADS_3

“Aku langsung ke kamar ya, Kak,”


“Okay, Dek,”


Sepulangnya Davina dan Elvina dari warung bakso, Davina langsung pamit ke kamar, sementara Elvina ke dapur membawa benerapa porsi yang telah Ia beli untuk penghuni rumah, bagi siapa saja yang mau silahkan diambil.


Elvina memutuskan untuk langsung menyiapkan satu porsi di dalam mangkuk dan itu untuk suaminya yang saat ini entah dimana. Tapi lebih baik Ia siapkan saja, dan akan Ia bawa ke kamar atau ke ruang kerja karena dua tempat itulah yang sering menjadi tempat untuk Vano memghabiskan waktunya.


Setelah satu porsi bakso siap did alam mangkuk, Elvina mengambil air dingin untuk minum suaminya. Ia letakkan mangkuk, gelas, saos dan kecap di atas satu baki setelah itu Ia bawa ke lantai atas dimana kamarnya dan ruang kerja Vano berada.


Ia buka pintu kamar dengan menggunakan punggung karena kenetulan pintu kamar memang tidka dikunci.m dan terbuka sedikit. Elvina melihat siaminya sedang berbaring menonton televisi. Melihat sang istri datang dengan membawa baki, kelihatannya sangat kerelotan, buru-buru Vano beranjak meninggalkan tempat tidur dan menghampiri istrinya itu untuk mengambil alih apa yang dibawa olehnya.


“Makasih ya, kamu harusnya taruh aja di bawah, tinggal panggil saya deh biar saya makan di meja makan dan kamu nggak perlu repot-repot bawa ginian ke kamar,”


“Nggak apa-apa, Mas. Dimakan deh, udah aku beliin tuh,”


“Makasih ya,”


“Iya sama-sama, Mas. Bilang makasih mulu deh perasaan,”


“Saya mau makan suku kalau gitu,”


“Iya silahkan, Mas. Aku mau cuci tangan sama kaki abis dari luar soalnya, sama ganti baju juga karena aku mau baringan,”


“Okay,”


Vano menganggukkan kepala mempersilahkan sang istri untuk segera melakukan apa yang baru saja Ia sebutkan. Sementara Vano makan, Elvina memutuskan untuk ke kamar mandi membersihkan tangan dan kakinya yang baru saja dari luar, setelah itu Elvina juga mengganti pakaiannya barulah Ia mendarat sempudna di atas tempat tidur.


Ia berbaring mieing menatap Vano yang makan di sofa sambil menonton televisi yang sedang menampilkan pertandingan bulu tangkis.


”Gimana baksonya, Mas?”


“Enak, tapi agak beda ya dari yang biasa saya makN? Atau ini kamu beli di tempat lain?”


“Nggak kok, itu belinya di tempat yang pernah kita datengin pas baru-baru aku tinggal sama kamu, Mas,”


“Iya itu langganan saya, tapi ini beda ya rasanya?”


“Iya emang, aku juga ngomong gitu ke Davina dan Davina setuju,”


“Kamu ngomongnya jaga perasaan yang punya warung nggak? Kamu keras ngomongnya?”


“Ya nggak lah, Mas. Aku juga punya pikiran. Mana mungkin aku ngomong keras,”


“Aku juga punya hati kali, Mas,”


“Okay, bagus kalau begitu,”


“Aku bisikin ke Davina dan menurut dia emang udah beda rasanya. Kata Davina, mungkin pembuat baksonya udah beda kali,” ujar Elvina.


“Emang ganti?”


“Ya nggak tau juga sih, Mas. Aku ‘kan nggak tau urusan dapur mereka ya, jadi gimana caranya aku tau kalau yang bikin bakso udah ganti apa belum,”


Vano terkekeh dan dalam hati membenarkan. Darimana istrinya tahu, sedangkan istrinya bukan bagian dari warung bakso itu.


“Terus kamu sama Davina habis nghak baksonya?”


“Tetap habis kok, Mas. Menurut aku ya tetap enak, cuma emang beda aja, nggak kayak sebelumnya,”


“Iya benar, maish snak tapi beda, maish snak yang biasanya,”


“Ksnaoa gitu ya, Mas? Apa benar kata Davina ya kalau yang buat munglin ganti orang. Kalau beda tangan ‘kan biasanya beda rasa,”


“Iya memang, kalau bukan karena beda yang masak berarti ya emang udah mulai ngalamin penurunan kualitas entah apa sebabnya, sayang sih karena dia bakso yang udah cukup dikenal. Saya usah lama banget suka beli bakso di sana.”


“Iya aku aja suka kok awalnya, sekarang juga suka sih, tapi lebih suka yang duluan,”


“Nggak apa-apa deh yang penting kenyang,”


Elvina terkekeh karena itu juga yang Ia ucapkan pada adik iparnya tadi. “Kok sama sih? Tadi aku juga ngomong gitu ke Davina. Yang penting kenyang deh, lagipula masih enak kok sebenarnya,”


Elvina berbaring terlentang dan meriah ponslenya. Ia sibuk dengan ponsel sedangkan Vano sibuk menikmati baksonya sambil menonton pertandingan bulutangkis. Ketika Elvina terkekeh sambil menatap ponsel, Vano langsung menatap ke arah Elvina dan kedua matanya memicing.


“Kenapa kamu?” Tanya Vano yang penasaran dengan alasan istrinya tiba-tiba tertawa.


“Ini aku nonton video kucing jatuh di atas wadah isi oli gitu deh kayaknya terus bangun-bangun mukanya cemong hahaha,” Elvina menjelaskan kemudian tertawa di akhir kalimatnya.


“Kirain nonton apaan,”


“Emang Mas ngiranya aku nonton apa coba?”


“Ya entah, saya juga penasaran dan cuma nebak doang,”


“Kamu nebaknya apa, Mas?”


“Saya nebaknya—kamu lagi ngeliatin foto atau videonya Rendra makanya muka kamu sumringah kayak gitu,”


Elvina terkekeh, ternyata suaminya berpikir ke arah Rendra ketika melihatnya senyum ataupun tertawa sambil menatap ponsel.

__ADS_1


“Bukan kok, Mas. Nih kalau nggak percaya


Elvina langsung mengarahkan layarnya ke Vano yang duduk di sofa. Mata Vano memicing untuk melihat video yang diperlihatkan oleh Elvina setelah Ia mendapatkan jawaban yang sesuai, Ia langsung menganggukkan kepalanya.


“Bener ‘kan? Aku nggak bohong,”


Vano menjawab dengan kedua alisnya yang terangkat setelah itu Vano fokus menatap layar televisi lagi.


Elvina menggulir beranda lagi dan Ia kembali menemukan video yang lucu. Lagi-lagi Ia tertawa dan kali ini lebih renyah lagi tawanya. Sampai Vano yang melihat itu geleng-geleng kepala.


“Kamu girang banget, nonton apalagi itu?”


“Kali ini sapi kabur, Mas. Lucu ngeliat dia lari ya ampun, sapinya gemuk jadi pas lari lucu gembal-gembul badannya,” ujar Elvina menjelaskan video yang Ia tonton.


“Ya bagus deh kamu terhibur karena video-video itu ketimbang yang lain,” ujar Vano yang jelas menyindir Rendra. Selama ini Elvina suka senyum atau terkeksh kalau mengamati foto maupum video yang ada Rendra nya, entah itu di sosial kedia Rendra atau yang tersimpan di galerinya. Jujur Vano ingin sekali ingin menghapus semua kenangan tentang Rendra, tapi kalau dipikir-pikir untuk apa? Percuma kalau kenangan di ponselnya atau di album foto yang tersimpan di kamarnya itu Ia musnahkan, karena di pikiran dan Slvina kena gan itu maish tersimlan dengan rapi. Kecuali kalau memang Elvina sendiri yang mau memberihkan kamarnya dan juga galeri ponselnya dari kenangan tentang Rendra, Vano dukung sekali karena itu tandanya Elvina benar-benar sudah melupakan Rendra.


“Mas mau aku ngeliatin video atau fotonya Rendra?”


“Ya nggak lah. Mana ada suami yang rela istrinya ngeliatin foto laki-laki lain,”


“Ya makanya jangan curiga gitu dong ke aku,”


“Lho yang curiga siapa? Saya nggak curiga sama kamu, El. Saya mkan udha bilang, saya senang kamu hmterhubur dengan nonton video-video random kayak gitu ketimbang terhibur karena foto atau video yang lain,”


“Iya okay akus alah paham, aku minta maaf,”


“Lanjutin aja nonton video random itu. Selagi kamu bahagia saya nggak masalah kok biarpun kamu berisik atau sampai salto gara-gara saking bahagianya,”


“Ah Mas lebay! Ya jangan sampai salto dong, bahaya kalau gitu,”


Vano terkekeh mendengar istrinya menggerutu. Padahal itu menegaskan bahwa Elvina boleh melakukan apaluns elagi itu membuatnya bahagia, tidak masalah Elvina mau berisik, mau salto atau akrobat yang penting Elvina bahagia. Setidaknya walaupun bukan Ia yang membuat Elvina bahagia tapi video-video itulah yang menghibur istrinya hingga dia bsia tertawa bahagia ketimbang Elvina dihibur oleh video atau foto mantan kekaishnya.


Vano sakit hati sekali kalau melihat Elvina berseri-sering menatap foto atau video mantan kekasihnya. Ia seperti suami yang benar-benar tidak dianggap keberadaannya dan tidak ada gunanya karena yang membuat Elvina bahagia masih mantan kekasihnya.


“El, kamu sama Rendra masih komunikasi?”


“Lah ‘kan udah nggak, sejak dia pergi ninggalin aku,”


“Tapi kalian ‘kan pernah ketemu, kamu juga tau sosmed dia, emang nggak saling minta nomo telepon?”


“Sebenarnya nomor telepon aku nggak ganti kok, Mas, dna dia juga gitu. Tapi emang kami berdua nggak pernah ada yang memulai percakapan lewat handphone lagi setelah pisah,”


“Oh ya?”


“Iya, Mas csk aja nih kalau nggak percaya,” ucap Elvina smabil mengulurkan ponsel ke arahnya yang maish bertahan duduk di sofa.


“Ya barangkali aja Ma smau cek karena nggak percaya sama aku,”


“Iya itu hak kamu juga sebenarnya, mau atau nggak komunikasi lagi sama dia,”


“Aku komunikasi sama dia waktu nggak sengaja ketemu di mall itu, yang waktu Mas ngikutin aku diam-diam. Dari situ nggak pernah ada komunikais lagi, baik itu yang secara langsung ataupun yang melalui handphone. Tapi emang semenjak dia pergi nggak pernah lagi sih komunikasi melalui handphone,”


“Kamu maish ingat pesan Bunda?”


Elvina berdecak lantas menatap suaminya yang saat ini kenatao ke arahnya juga sehingga televisi terabaikan.


“Mas kenapa nanya kayak gitu sih?”


“Ya saya—saya cuma nanya aja,”


“Iya aku ingat kok pesan bunda. Nggak usah deh Mas tuh inget-ingetin aku, orang aku juga ingat kok,” ujar Elvina dengan ketus.


“Ya jangan hanya diingat, kalau perlu dipakukan ya, El. Bunda minta kamu untuk apa? Jadi ya kamu lakukan,”


“Bunda minta aku untuk lebih berusaha lupain Rendra,”


“Terus gimana? Udah kamu lakukan?”


“Mas, aku udah berusaha sebenarnya tapi susah banget. Aku juga bingung,”


“Ga kalau masih simpan kenangan dia gimana kamu bisa lupa? Itu namnya usaha yang setengah-setengah, paham maksud saya ‘kan?”


Elvina berdecak tidak terima dengan perkataan suaminya. Usaha untuk melupakan Rendra masih terbilang sia-sia karena Ia belum berhasil melupakan Rendra, dan untuk masalah kenangan jujur Elvina berat sekali untuk memusnahkannya. Hatinya akan sangat perih kalau seandainya Ia memusnahkan kenangannya bersama Rendra. Itu artinya Elvina masih mencintai Rendra, perasaannya dari dulu sampai sekarang belum berubah.


“Kamu kayaknya kalau diajak kabur sama dia mau deh,”


“Lho kok gitu, Mas?”


“Ya iyalah, soalnya sayang dan cinta banget sama dia kalau dia ngajak yang aneh-aneh kayaknya bakal kamu turutin ya? Karena kamu benar-benar sayang dan cinta banget sama dia jadi apapun yang dia lakuin, yang dia minta kayaknya bakal kamu kasih semua deh,”


“Apaan sih, Mas. Kamu ngomong apa coba? Ya nggak lah. Aku sama sia usha nggak ada urusan algi, ya walaupun aku belum move on tapi kami udah asing,”


“Tapi buktinya ngobrol akrab yang aaktu di mall itu,”


“Nggak juga, kamu tau akrab darimana? Emang aku pelukan, cepika cepiki gitu sama dia? Atau aku ketawa ketiwi? ‘Kan nggak, Mas,”


“Ya tapi keliatan akrab,”


“Mas, itu dia ngomong ke aku, dia mau aku jangan benci dia lagi, aku sama dia bisa berteman. Obrolan kami sebatas itu aja, nggak lebih, aku rasa nggak keliatan akrab juga ah,”

__ADS_1


“Ya udahlah nggak usah dibahas lagi,”


“Yang bahas ‘kan Mas sendiri. Ya walaupun aku belum move on dari dia, tapi aku dsama dia itu usah nggak ada urusan. Aku peremluan, mana mungkin aku nyakitin sesama perempuan, dia itu usah punya pasangan, Mas,”


“Jadi kamu mikirin perasaan pasangannya dia sementara perasaans aya nggak kamu pikirin? Hmm?”


“Ya ampun, nggak gitu, maksud aku—“


“Jelas-jelas dari omongan kamu barusan udah bisa ditarik kesimpulan bahw akamu menghargai perasaan pasangan barunya Rendra semnetara perasaan saya nghak kamu pikirkan juga ya? Yang skait hati karena kamu belum move on itu ada saya juga lho, El. Perempuan itu belum tentu tau kalau laki-lakinya masih dipikirin sama kamu, nah sementara saya tau kalau istri saya masih mikirin laki-laki lain, istri saya belum move on, kalau dipikir-pikir ya lebih tertekan saya lah. Karena saya tau semuanya, sedangkan perempuan yang jadi pasangan Rendra itu belum tentu tau kamu masih ada perasaan untuk Rendra. Yang makan hati sebenarnya saya,”


“Kamu kenapa jadi adu naisb gitu, Mas?”


“Lho, saya nggak adu nasib, ngapain saya adu naisb sama yang lain, tapi coba kamu pikir lagi deh. Kamu boleh banget menghargai perasaan perempuan lain, yang jadi pasangannya Rendra, tapi apa kamu nggak mau menghargai perasaan saya? Hmm? Saya suami kamu lho, saya tau semuanya dan saya harus sabar karena saya tau beginilah risiko nya nikah sama perempuan yang belum selesai sama masa lalunya,”


Elvina memghembuskan napas kasar. Lantas Ia keletakkan ponslenya dnegan cukup kasar di atas nakas dan Ia berbaring memunggungi Vano. Elvina memilih untuk bungkam alih-alih menanggapi ucapan suaminya karena Ia tidak bila perdebatan berlanjut panjang lebar. Kalau Ia tanggapi pasti Vano akan menanggapi lagi, begitu seterusnya.


“Padahal saya lagi ngomong, tapi kamu malah punggungi saya,”


“Aku malas mgomong sama Mas kalau Mas kesal kayak gitu,”


“Saya cuma nggak habis pikir aja, perasana orang lain kamu pikirin, gilirna oerasaan suami kamu sendiri nggak ya? Lagian kalau pakai alasan menghargai perasaan perempuan itu, berarti kalau misalnya lerempuan itu pergi dari hidup Rendra, misalnya hubungan mereka berakhir, kamu mau balik lagi dongs aka Re dra? ‘Kan nggak ada lagi perasaan perempuan lain yang mesti kamu hargai,”


Elvina langsung membeku ketika suaminya bertanya seperti itu dan Ia sekarang bingung menjawab apa.


“Benar begitu, El?”


“Nggak, aku nggak akan balik lagi sama Rendra karena dia masa lalu aku,”


“Walaupun dia udha nggak punya pas agan lagi, kamu tetap nggak mau kembali sama dia?”


“Nggak, Mas! Aku mggak akan balik ke masa lalu aku. Karena aku udah punya masa depan sendjri dan itu kamu,” ujar Elvina dengan tegas. Sedikit membuat hati Vano lega, dan Vano tersneyum tipis. Tapi sejujurnya maish ada cemas. Bagaimana kalau seandianya Slvina tidka bisa memegang kata-katanya itu? Bagaimana kalau seandainya Elvina akan kembali lagi bersama Rendra kalau nanti seandainya Rendra tak memiliki pasangan lagi.


“Kalau aku balik sama dia, aku bodoh banget dong? Dia ‘kan udah nyakitin aku, masa aku mau balik ke dia? Aku nggak mau lah jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Aku nggak mau dicap jadi orang bodoh. Sekarang aja aku udah merasa bodoh karena aku masih belum move on dari dia padahal jelas-jelas dia udah nyakitin aku,”


“Ya bagus kalau kamu mulai berpikir ke arahs ana, saya harap kamu secepatnya sadar kalau kamu itu bukan bodoh sebetulnya, tapi lagi dibutakan cinta aja,” ucap Vano setelah itu Vano bergegas pergi meninggalkan kamar dengan membawa peralatan makan yang baru saja Ia gunakan untuk kemyantap bakso.


Elvina langsung menangis sesaat setelah Vano keluar dari kamar. Kemudian Elvina memukul-mukul dadanya sendiri.


“Cepat move on dari Rendra, El! Kamu nggak boleh kayak gini terus! Kamu harus hargai suami kamu semdiri, kamu harus hargai pernikahan kalian, kamu harus dengar semua pesan-pesan bunda kamu!” Dalam hatinya ada yang mengingatkan seperti itu.


******


“Eh Abang udah makan baksonya, Bang?”


“Udah, Dek,”


“Kak El mana?”


“Orang tadi udah pergi bareng ke warung bakso, sekarang udah nanyain aja padahal belum sejak deh kalian pisah,”


Davina yang sedang membuat kopi untuk dirinya sendiri langsung tertawa mendengar ucapan abangnya itu.


“Ya maklum, namanya juga kakak adek,”


“Kak El di kamar lagi rebahan,”


“Oalah,”


“Kamu bikin apa tuh? Tolong bikin buat abang juga boleh nggak, Dek?” Tanya Vano yang sebenarnya sudah tahu kalau adiknya buat kopi sebab dari aroma saja sudah ketahuan, tapi Ia perlu basa-basi dulu sebelum meminta tolong.


“Ih bikin sendiri sana,”


“Oh jadi gitu?” Tanya Vano seraya menoleh ke arah adiknya yang langsung tertawa dan sigap membuatkan kopi untuknya.


“Ya udah deh aku buatin nih, berhubung aku anaknya baik banget ya,”


“Halah bisa aja,”


“Ya udah aku bikinin ya, sama kayak aku ‘kan? Kopi gula aren,”


“Iya kayak kamu aja, Dek,”


“Okay aku buatin sekarang juga,”


“Makasih ya,” ucap Vano yang sedang membersihkan peralatan makan ya. Setelah itu langsung memghampiri adiknya yang sedang menuang air lanas ke dalam gelasnya.


“Ini air panas semua atau campur?”


“Panas semua,”


“Hah? Apa nggak melepuh mulut abang?”


“Nggak lah, santai aja. ‘Kan minumnya nggak seklaigus, Dek, tunggu agak dingin dikir sulaya bisa Abang minum,”


“Oh kenaoa nggak campur air dingon aja sih?”


“Nggak usah, mau air panas aja semuanya. Udah kamu nggak usah cerewet buruan bikin sesuai request Abang aja,”


“Ya udah deh aku ngikut aja,”

__ADS_1


__ADS_2