
“Elvina saya belum selesai ngomong, Elvina!”
Vano mengejar Elvina sampai keluar kamar sambil memanggil istrinya itu yang tentu merasa risih apalagi ketika lengannya berhasil diraih oleh Vano.
“Apa sih, Mas?” Tanya Elvina sambil menyentak tangan suaminya hingga tak ada lagi tautan di tangan mereka.
“Eh eh kaget aku, kenapa nih? Apa apa kakak-kakakku?”
Elvina dan Vano yang semula wajahnya kelihatan kesal tiba-tiba langsung berubah menjadi biasa saja ketika Davina tiba-tiba datang dan langsung bingung melihat Vano dan Elvina seperti ada masalah. Abangnya mengejar Elvina dan Elvina kelihatan tidak mau dikejar.
“Nggak, nggak ada apa-apa, Dek,”
“Aku tadinya mau ngetok pintu kamar Abangs ama Kak El,”
“Emang kenapa?”
“Mau ngajakin makan bareng,” ujar Davina pada Vano dan Elvina yang sempat saling menatap satu sama lain dan setelah itu sama-sama menatap Davina.
“Ya udah duluan aja, Abang lagi pengen ngobrol berdua sama Kak el, ntar kami ebrdua nyusul ya, Dek,”
“Oh gitu, okay deh, Bang. Tapi Abang sama Kak El nggak lagi berantem ‘kan?”
“Nggak kok,”
“Beneran?”
“Iya beneran,”
“Hmm ya udah deh kalau gitu aku tinggal ya, tapi ebenran nggak berantem ya?”
Vano berdecak ketika adiknya mengulangi pertanyaan padahal sudah jeals jawabannya akan sama, mau sebanyak apapun pertanyaan semacam itu dilontarkan oleh Davina.
“Bawel ya kamu, udah Abang bilang nggak ada apa-apa,”
“Ya udah deh iya-iya aku eprgi sekarang, jangan lupa turun ya. Awas aja kalau lupa, ntar aku ngambek. Aku tunggu di bawah ya, Bang, Kak,”
Keduanya mengangguk membiarkan Davina meninggalkan mereka. Setelah itu Vano mengisyaratkan Elvina untuk masuk lagi ke dalam kamar namun Elvina menggeleng.
“El, tolong lah jangan susah kalau amu diajak ngobrol baik-baik,”
“Ya udah kalau emang mau ngobrol baik-baik kenapa nggak di luar kamar aja? Hmm? Kenapa harus masuk lagi ke dalam kamar? Jujur aku males, Mas,”
“Astaga, kamu tuh kenapa sih? Saya cuma mau ngobrol bentar sama kamu,”
“Mas yang kenapa, orang aku maunya ngobrol di luar kamar aja. Udah buruan Mas mau ngomongin apa?”
Elvina bersikeras tidak mau ada obrolan di dalam kamar. Ia tetap ingin di luar kamar saja. Tapi suaminya punya pilihan sendkri. Alhasil Vano menggendong Elvina dan membawanya masuk ke dalam kamar.
“Kamu tuh bener-bener ya susah dikasih tau,”
“Ih aku udah bilang nggak mau masuk ke kamar, kenapa Mas tetap aja bawa aku ke kamar?!”
“Karena saya belum selesai ngomomh tapi kamu udah keluar kamar aja. Tolong ya jangan keras kepala!”
“Ya udah apa yang mau Mas obrolin sih? Aku nggak mau lama-lama!”
“Saya minta kamu bolir akses komunikasi kamus ama Rendra apapun itu bentuknya. Udah cukup ya selama ini saya diam aja, Elvina. Selama ini saya biarin kamu sesuka hati mikirin mantan kamu disaat kamu hidup sama saya, sekarang saya mau kamu menghargai saya sebagai suami kamu. Tinggal hapus atau blokir sekalian nomor Rendra kalau dia hubungin kamu jangan pernah ditanggapi, itu mudah ‘kan?”
“Apa sih, Mas? Aku ‘kan udah bilang barusan. Aku sama Rendra cuma sebata ateman aja sekarangd am dia duluan yang hubungin aku di dm instagram terus minta nomor aku dan berlanjut ke whatsapp,”
“Ya salah kamu di situ. Kenapa kamu kasih? Udah tau dia mantan kamu, dan kamu belum bisa move lm, kenapa malah kamu kaish nomor kamu ke dia? Ya tambah susah move on lah kamu, El,”
“Ya masa aku tolak sih, Mas? Aku nggak enak lah,”
“Bukan nggak enak, tapi kamu nggak mau buang kesempatan sia-sia ‘kan? Mumpung dia minta nomor kamu, dan kamu belum move on otomatis kalian bakal sering komunikais dan itu bikin kamus enang karena memang itulah yang kamu mau, yang kamu haralkan sebenarnya, iya ‘kan?”
“Jangan sok tau dej, Mas!”
Elvina membantah dengan suara lumayan tinggi dam menatap suaminya dengan tatapan tajam menusuk.
“Apa? Sayas alah? Di bagian mana kesalahan saya? Bukannya kata-kata saya barusan benar ya?”
“Aku anggap Dia teman aja, Mas, nggak lebih dari itu ya walaupun aku belum move on dari dia,”
Vano memghembuskan napas kasar, lantas keluar dari kamar. Ternyata sulit sekali meminta Elvina untuk sedikit saja memghargai perasaannya. Ia tidak bisa melihat Elvina serinh berkomunikasi dengan mantan kekasihnya tapi Elvina tidak mau memahami itu.
“Ih Mas Vano aneh banget sih. Tadi dia yang ngajakin aku lanjut ngobrol di kamar, terus ekarang dia malah pergi. Nggak jelas banget sih!”
Elvina bergegas keluar juga dari kamar. Ia harus segera ke ruang makan karwna tadi adik iparnya mengajak Ia untuk makan bersama. Di meja makan sudah ada Davina, Vano, dan kedua orangtua Vano.
__ADS_1
“Mama bilang ke Vano, kok tumben nggak turun bareng, katanya kamu mau sendiri aja,” ujar Lisa pada menantunya.
“Hehehe iya maaf, Ma aku telat,”
“Nggak apa-apa, Sayang,”
“Kaka sama Abang lagi ada masalah kali ya?”
“Dibilang nggak, kamu cerewet ah, tadi ‘kan abang udah jawab, Dek,”
Davina cemberut, kenapa Ia mengulangi kalimat itu karena memang Ia bisa melihat tanda-tandanya.
“Awas aja ya kalau abang nyakitin Kak El,”
“Lah, siapa yang mau nyakitin El? Nggak ada tuh, kamu salah paham,”
“Nggak kok, Dek. Mas Vano nggak nyakitin kakak orang kita juga baik-baik aja klk,” jawab Elvina.
“Iya si adek nih sok tau deh,”
“Dih orang aku tadi liat kok,”
“Liat apa?”
“Ya liat kalian kayak mau berantem gitu,”
“Cuma karena dia masu pergi dulaun pas kakak belum selesai nhomong, tapi itu udah selesai kok,” jawab Vano
“Tuh ‘kan berarti ada masalah beneran, tapi abang nya nggak mau jujur. Huh! Abang aneh ah,” ujar Elvina.
“Itu bukan amsalah sebenarnya, cuma kesal dikit karena El udah mau keluar kamar aja padahal Abang belum kelar ngomong,
“Emangnya Abangs ama Kak el sebelumnya ngobrolin apa sih? Aku boleh tau nggak?”
“Nggak,”
Davina mendengus dan itu mengundang tawa mama dan juga papanya yangs edari tadi menjadi pendengar yang baik antar Vano yang bersikeras mengatakan tidak ada masalah dengan istrinya dan juga Davina yang tetap pada pendapatnya bahwa Ia melihat Elvina dan Vano tadi seperti akan berdebat.
“Abang ih parah banget,”
“Ya lagian kamu cerewet banget deh,”
“Ya terus apa dong?”
“Aku cuma khawatir aja Abang sama Kak El ada masalah,”
“Nggak ada, Dek. Kamu nggak usah kahwatir,”
“Lalaupun mereka ada masalah, kamu nggak perlu kahwatir, Dav. Mereka mkan udah dewasa bisa menyelesaikan masalah emreka sendiri,”
“Nah bener tuh kata Papa,” ujar Vano.
“Hmm iya juga sih. Tapi kenapa ya jadi orang dewasa tuh rumit banget? Suka ada aja gitu amsalahnya, apalagi kalau udah nikah,”
“Ya namanya juga hidup,“
Davina terlekeh mendengar ucapan abangnya yang menghela napas pelan seperti orang yangs edang kelelahan saja.
“Ada yang masalahnya sama teman, sama pekerjaan, ada juga sama pasangan,”
“Kalau sama pasangan contohnya?”
“Ya—-kesalahpahaman biasanya,“
“Cemburu gitu ya?”
“Iya itu salah satu ya,”
“Abang lagi cemburu ya? Cieee,”
“Abang nggak bakal kepancing, udah tau arahnya kemana,”
Davina terkekeh mendengar ucapan abangnya yang ketus sambil meliriknya dengan sinis.
Kemudian Davina langsung mematap Elvina yang diam saja karena menahan kesal.
“Ngapain sih Mas Vano ngomong kayak begitu? ‘Kan bisa bikin Davina salah paham jadinya,” batin Elvina.
“Abang lagi cemburu ya?”
__ADS_1
“Nggak, kata siapa? Emang siapa yang bilang Abang lagi cemburu?”
“Sok tau kamu ah,”
“Ih jujur aja deh. Abang tuh lagi cemburu. Iya ‘kan? Hayo nggak bisa bohong,”
“Dek, jangan ledekina abangnya kayak begitu dong, orqng abang udah bilang nggak ya berarti nggak, Dek,”
“Terus Mama percaya gitu? Kalau aku sih jelS nghak eprcaya,” jawab Davina sambil tersenyum usil emnatap Vano yang fokus makan tidak mendengarkan apa kata adiknya. Kalau Ia jawab benar Ia cemburu pasti pertanyaan Davina akan panjang lebar lagi setelahnya.
“Cemburu sama siapa?”
Itu eprtamyaan yang sudah apati terlontar dari mulut Davina setelah Ia jujur kalau Ia cemburu. Daripada pusing mencari jawaban lebih baik Ia diam saja.
“Abang kok diam sih?”
“Emang abang harus ngapain? Main lenong depan kamu gitu?”
“Ya nggak gitu juga dong, Abang,”
Lisa dan Beni tertawa karena tanggapan Vano sesantai itu di saat adiknya sedang penasaran tingkat dewa.
“Udah ah jnagan kepo sama urusan rumah tangga abang kamu, nggak baik,” ujar Lusa pada anak terakhirnya itu,
“Iya deh, maafin aku, Ma,”
Davina langsung meminta maaf karena tidka bermaksud untuk ikut campur sebenarnya. Ia hanya ingin tahu saja apa benar abangnya cemburu? Kalau benar, akan Ia goda habis-habisan. Dan akan Ia dapatkan jawaban apa penyebab abangnya cemburu? Bikankah selama ini kehidupan rumah tangga Vano dan istrinya lelihatan rukun dan baik-baik daja? Kenapa ada kecemburuan seperti itu untuk saat ini? Benar-benar aneh kalau memang benar seperti itu.
“Abang, mau bulan lagi kali ya?”
“Duh, kamu nih suka ngarang ya, nilai karangan kamu di sekolah bagus ya?”
“Lah kok ngarang?”
“Ya itu, sok tau banget bilanh abang mau bulan madu. Emang siapa yang bilang kayak gitu,”
“Nggak tau, aku cuma asal nebak doang,” ujar Davina yang entah kenapa malah mengira abangnya ingin bulan madu, mungkin karema cemburu dengan kesibukan Elvina kuliah, atau cemburu dengan kebersamaannya Elvina dnegan teman-temannya oleh sebab itu mau bulan madu supaya mereka lagi-lagi menghabiskan waktu berdua di suatu tempat.
“Nggak, abang mending di rumah deh,”
“Lho, emang kenapa, Bang?”
“Ya ngapain bulan madu? Toh sama aja di rumah atau dimana pun itu, nggak ada bedanya kok,”
“Ya ada dong, Bang,”
“Abang yang tau, abang yang ngerasain, Dek, jadi abang wajar lah ngomong kayak gitu,”
Bulan madu dengan Elvina malah membuat hatinya panas, Ia merasa tidak nyaman dan tidak menikmati perjalanan liburannya mereka berdua. Rasanya seperti berlibur dengan orang asing.
“Emang samanya tuh kenapa sih? Bukannya liburan berdua alia bulan madi itu menyenangkan ya, Bang?”
“Iya menyenangkan, tapi nggak selalu,”
“Hah?”
”ya pokoknya nggak selalu,”
“Abang bosan liburan sama Kak El? Ih kok jahat sih?”
“Abang nggak ngomong gitu, kamu salah paham,”
“Ya terus kenapa Abang keliatannya ngahk mau liburan berdua lagi nareng Kak El?”
“Abang nggak ngomong gitu ah, kamu jangan ngarang deh,”
Davina merengut kesal. Kalau yang Ia tangkap dari ucapan abangnya ya seperti itu. Vano tidak mau lagi berlibur dengan sang istri.
“Abang bukan nggak mau lagi liburan sama Kak El, tapi Abang lagi harus kerja ‘kan liburannya udahan',”
“Nah itu maksuda ku,” Vano membenarkan ucapan mamanya.
Walaupun kenyatananya Ia memang malas liburan dnegan Elvina sebab tak ada bedanya liburan dengan tidak liburan, Ia juga banyak pelerjaan yang harus diselesaikan pasca ke Bali bersama Elvina kemarin. Ia tidak mau membicarakan liburan sulu kareja memang baru pulang liburan.
“Liburan berdua sama El itu nggak sementenangman liburannya suami istri di luaran sana, untuk apa jauh-jauh liburan ke luar kota kalau sama aja kayak di dumah. Dia sibuk sama mantannya stalking mantan, saya sibuk sama dunia saya sendiri entah itu kerja atau main gane. Untuk apa liburan kalau begitu? Lebih baik di rumah saja.
Selepas makan bersama, Elvina diajak oleh Davina untuk pergi ke minimarket karena Davina ingin membeli ice cream. Elvina menyetujui. Semenjak ada Elvina, Davina jadi tidka sering minta ditemani oleh abangnya lagi, sudah seringnya mengajak sang kakak ipar Elvina.
Elvina memgambil dompet did alam kamar, barangkali nanti ada yang mau Ia beli di minimarket, dan saat Ia akan keluar dari kamar suara Vano menghentikan langkahnya.
__ADS_1