Bayangan Dari Masa Lalu

Bayangan Dari Masa Lalu
Bab 132


__ADS_3

“Mas, pil aku kemana? Kamu yang simpan ‘kan?”


Vano mengangkat bahunya karena Ia sedang sibuk dengan laptopnya. Ia melirik ke arah Elvina sekilas. Perempuan itu tengah sibuk mencari pil kontrasepsi yang telah Ia buang. Mau sampai kiamat dicari juga tidak akan ketemu, kecuali kalau Elvina carinya di apotek.


Ia sudah membuang itu dan Elvina belum tahu. Elvina mencari di laci-laci nakas, kotak obat, laci meja riasnya, sampai ke bawah bantal juga Ia cari.


“Mas, dimana pil aku? Jawab dong, kamu boleh sibuk kerja tapi jawab dulu pertanyaan aku,”


“Enggak tau,”


“Ih kok enggak tau sih? ‘Kan sama kamu itu pilnya! Kamu jangan ngerjain aku deh,”


“Emang enggak tau,”


Elvina berdecak dan melempar bantal ke arah suaminya itu. Vano langsung memberi tatapan tajam sebab laptopnya hampir jatuh dari pangkuan ketika Elvina melemparkan bantal ke arahnya.


“Ya enggak tau, intinya enggak tau,”


“Kamu harus tau lah! Karena kamu yang simpan itu!”


“Lupa,” sahutnya pelan yang mengundang amarah Elvina makin menjadi. Ia sudah lelah mencari dimana-mana tapi tidak berhasil menemukannya. Sementara Ia harus mengonsumsi itu.


“Mas, tolong serius dikit bisa nggak? Aku butuh banget itu,”


“Aku buang,”


Akhirnya keluar juga pengakuan itu dari mulut Vano. Elvina langsung menatapnya datar dan gerahamnya beradu satu sama lain.


“Dari tadi aku tanya terus kamu bilang enggak tau, lupa! Sekarang kamu bilang udah dibuang! Yang mana yang benar?!”


“Aku buang, sorry,” ujar Vano lagi dengan santainya.


Elvina mendatangi suaminya. Ia mencubit kulit lengan Vano dengan kuat hingga Vano meringis kesakitan.


“Sakit, El. Ih kamu kasar banget. Kamu bisa dituntut karena kekerasan dalam rumah tangga lho,”


“Kamu kenapa sih cari masalah terus sama aku?! Kenapa kamu buang pilnya?! Hah?! Aku mau minum itu, Mas!”


“Enggak usah, enggak perlu,”


“Perlu, kalau aku hamil gimana? Siapa yang mau tang—“


“Kamu serius tanya kayak gitu ke aku, El? Siapa yang mau tanggung jawab? Ya aku lah. Aku yang bakal tanggung jawab. Kenapa kamu harus pusing mikirin itu? Tenang aja, aku bakal tanggung jawab lahir batin kalau memang kamu hamil anak kita,”


“Tapi aku belum mau, Mas,” rengek Elvina dengan jengkel di hatinya. Vano tidak paham-paham juga kalau Ia belum mau hamil.


“Kamu waktu itu setuju kok sekarang jadi kayak begini?”


“Aku enggak mau lama-lama lagi punya anak, maunya cepat. Aku buang aja itu pil nya. Jangan kamu beli lagi ya. Awas kalau kamu beli,” kata Vano seraya menunjuk istrinya seraya memberikan tatapan tajam.


Elvina berdecak dan menghempaskan badannya di tepi ranjang. Pantas saja Ia tidak kunjung menemukan pil kontrasepsi miliknya. Ternyata sudah dibuang oleh Vano.


“Udah enggak perlu bahas pil sialan itu lagi,”


“Enak aja sialan! Dia itu berguna tau enggak?! Aku mau beli lagi pokoknya,”


“Enggak boleh, Elvina. Kamu kenapa sih jahat banget sama aku? Kamu tau enggak, aku itu sakit hati banget setiap liat kamu minum itu. Segitu enggak pengennya kamu punya anak dari aku? Iya?”


“Iya karena aku ‘kan belum—“


“Ya udah enggak masalah kalau belum cinta tapi udah punya anak. ‘Kan jadi ada yang mempersatukan kita, barangkali setelah itu kamu jadi cinta sama aku dan nggak mau pisah dari aku, iya ‘kan?”


Elvina diam dan masih keberatan dengan apa yang Vano sampaikan. Vano ingin Ia hamil? Mereka saja masih kerap bertengkar. Kalau punya anak, pasti bisa jadi korban keegoisan mereka berdua.


“Eh iya, aku mau tanya sesuatu dong sama kamu, jawab jujur ya,”


Elvina menatap suaminya yang kini meletakkan laptop di atas sofa dan Vano duduk tegap menghadapnya.


“Kamu ngikutin aku yang ketemuan sama Tata ya?”


Elvina terdiam bingung harus jujur atau tidak. Entah kenapa Vano tiba-tiba bertanya seperti itu. “Apa mungkin Mas Vano denger cerita gue ke Amih ya?” Batin Elvina yang malah menatap Vano datar, tanpa membuka mulut.


“Eh aku tanya malah ngeliatin aku begitu. Nanti jatuh cinta baru tau rasa,”


“Apa?”


“Kamu ikutin aku lagi ya? Kamu tau kalau aku ketemuan sama Tata?”


Elvina menganggukkan kepalanya. Sepertinya Vano sudah tahu cuma Ia ingin memastikan saja. Tidak ada gunanya juga Ia bohong.


“Jadi kamu dengar semua obrolan aku sama dia?”


“Hmm, kenapa?”


“Kamu tau dong kalau dia sempat—“


“Suka sama kamu?” Tanya Elvina memenggal kalimat tanya Vano yang belum terlontar hingga akhir.


Vano menganggukkan kepalanya. Ia memang ingin bertanya soal itu dan berharap Elvina tidak mempermasalahkannya karena Tata ‘kan sudah tidak menyukainya lagi.


“Iya tau,”


“Hah? Seriusan? Terus kamu mau marah enggak?”


“Enggak,”


“Ah syukurlah, soalnya dia bilang udah enggak suka lagi sama aku, El,”


“Makanya aku enggak mau masalahin soal itu. Yang aku permasalahkan sekarang adalah kamu dan juga Delila,”


“Kalau itu harusnya enggak usah kamu permasalahin juga lah,”


“Kenapa? ‘Kan udah jelas-jelas ketahuan selingkuh. Masa perselingkuhan kamu enggak boleh aku permasalahin?”


Vano merapikan lembaran kerja yang ada di atas meja depan sofa dimana Ia duduk setelah itu Ia menutup laptop.


“Udah ah, aku mau tidur, besok mau jalan-jalan ke Kalimantan sama Papa,”


“Mengalihkan pembicaraan,” gerutu Elvina. Jelas sekali kalau Vano tidak mau Ia membahas persoalan Vano dengan Delila.


“Karena nanti berantem. Sementara aku nggak ada tenaga untuk berantem, aku mau istirahat karena besok beneran jalan setelah beberapa kali ditunda, untungnya jadi,”


“Jadi bareng Rendra ke Kalimantan? Kok bisa kebetulan bareng sih?”


“Kenapa tanyain Rendra?” Tanya Vano dengan wajahnya yang tidak bersahabat. Ia masih sensitif kalau nama Rendra keluar dari mulut istrinya.


“Aku ‘kan cuma tanya aja,”


“Ikut!” Jawabnya pun tidak santai. Vano tidak senang Elvina tanya-tanya soal laki-laki lain, siapapun itu.


“Oh aku pikir enggak,”


“Kalau enggak emang kenapa? Terus kalau iya emang kenapa?”


“Ya enggak apa-apa sih, berarti besok langsung ke bandara?”


“Hmm kamu antar aku ya,”


Elvina menganggukkan kepalanya. Vano sudah mengatakan itu berulang kali demi memastikan Ia mengantar Vano ke bandara.


“Sayang, nanti sering-sering telepon ya. Aku bakal kangen banget sama kamu,”


“Kamu bukannya bakal kangen si dia? Telepon aja dia,”


“Aku kangen yang namanya Elvina aja,”


“Halah, mulut buaya,”


Elvina dan Vano naik ke atas tempat tidur. Saat Vano akan memeluknya, Elvina segera menjaga jarak dan mendorong suaminya untuk menjauh.


“Aku mau tidur!”


“Aku juga mau tidur, emang siapa bilang aku mau main bola?”


“Ya ngapain kamu peluk aku?”


“Biasanya juga begitu,”


“Sekarang aku enggak mau,”


“Kenapa? Aku ‘kan mau, El,”


“Iya itu kamu, aku enggak mau. Nanti kamu lebih dari pelukan mintanya,”


Vano tertawa karena Elvina terlalu jauh berpikirnya. Entah apa yang ada di otak istrinya. Ia dianggap akan meminta lebih dari sekedar pelukan.


“Ya enggaklah, beneran cuma mau peluk aja,”

__ADS_1


Vano akhirnya berhasil memerangkap Elvina. Ia memeluk Elvina tidak begitu erat agar Elvina bebas bergerak.


“El, jangan minum pil lagi ya. Jangan ada pengaman diantara kita,”


“Kamu yakin, Mas? Kamu bisa handel semuanya kalau udah punya anak?”


“Yakin, anak itu anugrah, dia datang pasti karena ada alasan. Dan mungkin dengan kehadiran dia, kita bisa jauh lebih baik, El, kita bisa akur, dan bisa jadi keluarga yang bahagia,”


“Udah ah, kamu ngomong terus deh,”


******


“Sarapan dulu,”


Vano turun dengan membawa kopernya. Elvina memanggil lelaki itu agar bergegas ke meja makan untuk sarapan.


“El, jadi antar aku ‘kan?”


“Iya, udah sering tanya itu masih aja diulang,” ujar Elvina seraya menyiapkan sarapan untuk sang suami.


“Aku pergi kamu baik-baik di rumah ya. Kabarin kalau mau pergi kemana-mana,”


“Ngabarin untuk apa? ‘Kan kamu nya juga lagi enggak ada, lagi jauh dari aku,”


“Ya biar aku tau kamu dimana nya, El,”


“Iya, aku bakal kasih tau kalau aku mau kemana-mana,”


“Kalau bisa, jangan pergi sama Jona. Okay?”


Elvina hanya mengangkat bahunya tidak acuh. Ia saja tak ada niat untuk jalan dengan Jona. Ken malah berpikir ke sana.


“Banyakin istirahat aja ya, El,”


“Siapa? Aku? Emang kenapa tiba-tiba nyuruh aku banyak istirahat?”


“Supaya enggak banyak keluyuran. Aku bakal sering telpon kamu supaya enggak kangen,”


“Udah daripada banyak ngomong, mending makan deh,”


Vano terkekeh karena mulutnya disuruh berhenti bicara oleh sang istri. Vano menyuruh istrinya juga makan.


“Enggak deh, aku sarapan nanti aja, ini masih pagi banget. Setengah enam aja belum,”


“Ya enggak apa-apa, biar makan bareng sama aku,”


Elvina akhirnya mengangguk. Vano mau pergi, jadi harusnya perdebatan memang dikurangi. Vano hanya ingin makan dengannya jadi kali ini Ia turuti.


“Nanti kabari aku kalau udah sampai, bisa ‘kan?”


Vano menganggukkan kepala langsung. Ia senang karena Elvina berkata seperti itu. Jarang Elvina melakukannya.


“Khawatir aku enggak pulang ya?”


“Maksudnya?”


“Iya khawatir aku enggak pulang-pulang,”


“Orang aku cuma minta dikabarin aja. Kenapa kamu ngomong begitu? Enggak nyambung, Mas,”


“Iya deh nanti aku kabarin kamu terus aku lagi mandi, makan, segala macam pokoknya bakal aku kasih tau ke kamu supaya kamu enggak khawatir,”


“Ya enggak semua kegiatan juga kamu kasih tau ke aku. Masa mandi aja kamu kasih tau, enggak penting banget itu, Mas,”


“Ya barangkali kita bisa mandi bareng lagi,”


“Mandi bareng gimana?”


“Jadi kalau aku mandi aku bakal bilang sama kamu, terus kamu juga ikut mandi. Jadinya ‘kan mandi bareng,”


Elvina menggelengkan kepalanya. Kelakar Vano tidak membuatnya tertawa sama sekali smenetara Vano sudah tertawa. Entah lucunya dimana.


“Kamu sama Delila jadi gila ya?”


*****


“Gimana? Apa yang berubah dari rumah Ayah Bunda?”


“Enggak ada, Bun, sama aja,”


“Oh kirain menurut kalian udah ada yang berubah. Saking lamanya enggak ke sini,”


“Iya maaf, Bun. Suka pengen ke sini tapi takutnya Bunda enggak ada,” ujar Elvina.


“Ah kata siapa bunda nggak ada? Bunda hampir setiap hari ada di rumah, El,”


“Kita cari sarapan di luar yuk, belum sarapan ‘kan?”


“Aku sudah tadi sama Mas Vano, Bun,”


“Ya udah temenin bunda sarapan ayok,”


“Mau makan apa, Bun?”


“Kita cari lontong sayur aja gimana?”


“Mau-mau,”


*****


Kedatangan seorang perempuan cantik ke rumah Elvina dan Vano membuat Amih terkejut. Amih tersenyum hangat menyambut perempuan dengan pakaian satu stel batik dan juga sepatu berhak tinggi yang membalut kakinya hingga Ia terlihat jenjang.


“Permisi, maaf saya mau tanya, Vano nya ada ya?”


“Oh Pak Vano kebetulan lagi pergi, Mba. Ada perlu apa ya? Biar nanti saya sampaikan,”


“Lho katanya dia sakit kemarin,”


“Ah iya tapi udah sembuh kok. Makanya udah pergi sama mertuanya,”


“Hmm terus Ibu sendiri aja di sini?”


“Ibu Elvina lagi ke rumah orangtuanya. Memang ada apa ya? Kalau ada perlu bisa sampaikan ke saya nanti saya sampaikan pada Pak Vano atau Ibu Elvina,”


“Sebentar saya ambil dulu di mobil,” katanya yang membuat Amih mengernyit bingung. Perempuan itu bergegas mendekati mobilnya. Ia kembali menutup pintu mobil setelah mengambil parcel buah.


Ia segera berjalan menuju Amih dan mengulurkan parcel buah itu kepada Amih. “Ini untuk Vano,” ujarnya.


“Dari siapa ya, Mba?”


“Dari saya,”


“Iya maksud saya, nama Mba siapa? Biar saya sampaikan ke Pak Vano nya enak karena tau nama,”


“Delila,”


Amih sempat terdiam sebentar mendengar perempuan itu menyebutkan satu nama yang pernah membuatnya jadi merasa curiga terhadap Vano dan nama itu juga yang menjadi penyebab pertengkaran Vano dan Elvina belakangan ini.


Amih menatap perempuan itu lamat-lamat. Pikir Amih, jadi ini yang namanya Delila. Cantik dengan penampilan sederhana namun kelihatan mahal dan kalau dilihat dari sikapnya Delila ini perempuan yang sopan dan hangat.


“Ibu, saya permisi ya. Tolong disampaikan aja ke Pak Vano nya,”


“Iya, nanti akan saya sampaikan, terimakasih dan hati-hati di jalan,”


Perempuan bernama Delila itu menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum sebelum akhirnya bergegas meninggalkan kediaman Vano.


Amih membawa parcel buah itu masuk ke dalam rumah, Ia letakkan di atas meja makan. Segera Ia memotretnya dan Ia kirim pada Vano sebagai pemilik.


-Pak, ada parcel buah dari Mba Delila-


*****


“Halo, Mih, gimana rumah? Aman-aman aja ‘kan?”


“Aman, Bu, alhamdulillah. Ibu jadi nginap di rumah mama papanya?”


“Jadi, Mih,”


“Terus bajunya gimana, Bu? Mau diantar ke sana aja?”


“Enggak usah, aku sama Shena ‘kan ada baju di sini, banyak baju kita di sini, namanya juga rumah yang pernah ditinggalin, Mih,”


“Oh iya-iya, Bu. Ibu udah makan?”


“Udah kok, eh iya enggak ada tamu yang datang? Aku sih enggak ada janji sama orang,”


“Ada tamu tadi satu orang nganterin parcel buah,”

__ADS_1


“Oh dari siapa?”


“Dari Mba Delila, Bu. Saya udah kasih tau ke Pak Ken di pesan tapi Pak Vano belum baca,”


“Hmm bagus, buang aja sekalian itu parsel buahnya. Biar satu sama. Waktu itu ‘kan dia buang ayam bakar dari Jona teman aku. Nah sekarang buang aja itu parcel buah dari selingkuhannya,”


“Saya cuma mau menyampaikan aja, Bu. Pak Vano belum tau, nanti kalau saya buang—-“


“Buang aja, emang dia pikir di rumah enggak ada buah apa? Di rumah banyak buah, jadi enggak usha ngirim-ngirim begitu harusnya. Dia antar sendiri parcel itu?”


“Iya, Bu. Mba Delila datang sendiri tadi, saya pikir siapa yang datang, awalnya saya bingung, saya bilang kalau ada perlu sampaikan aja ke saya buat saya sampaikan ke ibu atau Pak Vano. Tapi dia kasih itu. Sebagai teman mau datang ngirimin parcel buah karena Pak Vano sakit ya enggak apa-apa ‘kan, Bu?”


Elvina terkekeh sinis. Amih kenapa masih saja berpikiran positif ya? Segitu perhatiannya datang seorang diri ke rumah hanya untuk mengantar parcel buah karena tahu Vano sakit. Benar-benar istimewa sekali hubungan mereka.


******


-Pak, ada parcel buah dari Mba Delila-


Vano membaca itu dalam hati. Ia baru saja sempat membuka ponsel dan begitu melihat ada pesan masuk dari Amih, tanpa basa-basi Ia segera membacanya. Ia pikir tentang Elvina. Pikirannya sudah kemana-mana. Ia takut sesuatu telah terjadi di rumah. Tapi ternyata Amih hanya memberitahu bahwa Delila datang mengantarkan parcel buah untuknya.


“Pa, aku keluar bentar ya, cari udara segar,”


“Sore-sore gini emang enaknya cari udara segar. Jangan terlalu jauh tapi,”


“Iya, Pa,”


Vano sudah pamit pada mertuanya yang tengah bergelut dengan iPad nya. Ia memilih lobi sebagai tempatnya untuk menghubungi Delila. Sekali Ia menelpon Delila namun tidak ada ada jawaban.


Sekali lagi Ia menelpon dan kali ini dijawab oleh Delila dengan sumringah. “Halo, Van. Kamu pergi ternyata, enggak bilang-bilang. Tadi kata asisten kamu—“


“Iya emang aku pergi, sorry baru ngabarin. Tadi kamu ketemu sama Elvina enggak?”


“Hah? Enggak dia lagi pergi ke rumah orangtuanya,”


“Arghh sial! Gue lupa,”


“Gimana keadaan kamu? Udah mendingan ya?”


“Udah sembuh, kemarin cuma sakit biasa aja pusing sama demam bentar, abis itu sembuh. Makanya ini lagi pergi sama mertua,”


“Oh sampai kapan?”


“Kayaknya sih kalau sesuai rencana cuma tiga hari aja di sini,”


“Cuma sama mertua?”


“Sama adik ipar juga, kamu bertiga di sini, cuma cowok-cowok aja,”


“Oh okay, hati-hati, Van,”


“Hmm thanks, udah dulu ya,”


“Lain kali kalau mau nyuruh aku datang tuh di momen yang pas dong. Tadi enggak ada Elvina,”


Vano tertawa mendengar gerutuan Delila yang kedengaran kesal dengannya di seberang sana. “Iya sorry, lupa banget kalau dia enggak ada,”


“Okay, bye,”


Usai bicara dengan Delila, Vano bergegas ingin kembali ke kamar. Begitu Ia berbalik, suara deheman seseorang membuatnya tersentak.


“Ngomong sama siapa? Sambil ketawa-ketiwi begitu,”


Tiba-tiba saja Rendra yang satu penginapan dengan Vano, lagi-lagi karena kebetulan mendadak sudah ada di hadapan Vano sekarang dengan mata memicing curiga menatap Vano.


“Hah? Teleponan sama teman gue lah,”


Rendra menganggukkan kepalanya. Sayang sekali Ia tidak sempat mendengar apa yang dibicarakan Vano, entah mengapa Ia curiga karena melihat Vano yang kikuk.


Kedatangannya terlambat sekali. Ia tiba di dekat Vano setelah Vano selesai bicara.


“Lo kenapa tiba-tiba ada di sini? Bukannya tadi lo di kamar mandi ya?”


“Emang iya, tapi begitu gue keluar dari kamar mandi gue enggak liat lo di kamar. Gue tanyalah sama papa, terus kata papa lo lagi keluar cari udara segar,”


“Iya emang, ‘kan bosan di kamar terus,”


“Nggak bosan, tinggal lo keliling aja, ‘kan luas tuh yang jadi tempat tinggal nginap kita,”


“Tapi gue tetap bosan lah, Ren. Enggak enak di kamar aja,”


“Orang udah dari tadi juga keluar kamar mulu, dari mulai ke ballroom terus keluar makan sama cari oleh-oleh,”


“Ah ribet lo mah, komentar aja, suka-suka gue lah,”


Vano kesal karena Rendra yang seolah tidak senang dengan alasannya keluar kamar. Masa iya harus jujur kalau Ia keluar karena ingin bicara dengan Delila? ‘Kan tidak mungkin sekali kalau begitu.


“Ayo balik ke kamar,”


“Emang ini mau balik, siapa bilang gue mau di sini terus,”


Rendra menyusul langkan Vano yang terburu-buru. “Woy, tunggu napa! Barengan kita,”


Vano terus melangkah sampai akhirnya seorang anak kecil tidak sengaja menabraknya. Anak itu hampir saja terjatuh. Vano sebenarnya tidak salah, karena anak itu yang berlari di depannya tidak lihat kanan kiri.


Vano berhasil menangkap tubuhnya hingga tidak jatuh ke lantai. “Aduh, hati-hati, Dek,” kata Vano pada anak itu.


Seorang perempuan datang mendekati mereka dengan terburu-buru dan begitu tiba di depan Vano, Ia langsung meminta maaf.


“Maaf ya, Pak. Anak saya lari-larian karena enggak mau makan,”


“Oh iya enggak apa-apa, untungnya enggak lecet anaknya,”


Vano tersenyum pada anak perempuan dengan kerudungnya yang sudah tidak terpasang dengan baik.


“Cantik banget kamu, tapi sayangnya enggak mau makan. Nanti malah jadi berkurang cantiknya. Makan ya,”


Anak itu menganggukkan kepalanya. Vano tersenyum dan pamit pada anak itu dan juga ibunya. Rendra pun melakukan hal yang sama.


Begitu mereka agak jauh dari si ibu dan anak tadi, Rendra langsung meledek Vano. “Lo sih jalannya kecepetan. Akhirnya anak orang lo tabrak,”


“Lah bukan salah gue, dia emang lari-larian, orang emaknya aja minta maaf ke gue,”


“Makanya santai aja sih jalannya,”


“Males gue jalan bareng lo. Udah sana jauh-jauh,” usir Vano pada Rendra yang jalan di sebelahnya.


“Lah emang kenapa? Tadi juga bareng-bareng mulu. Aneh lo nah,”


“Ntar Elvina cemburu,”


“Idih, emang gue perempuan?! Ngapain dia cemburu sama gue, lagian dia juga enggak ada di deket lo, Van. Lo kalau mau macam-macam juga boleh,”


“Ngomong apaan sih lo?!”


Vano melirik Rendra yang tertawa dengan sorot mata yang kesal. Bisa-bisanya Rendra bicara begitu.


“Becanda aja gue, tapi boleh juga kalau lo mau macam-macam. Biar ditendang lo sama Elvina,”


“Lo juga kalau mau macam-macam boleh, ntar anak lo enggak ngakuin anaknya. Mana ada dua anak lagi,”


“Janganlah, ah ngadi-ngadi aja mulut lo kalau ngomong,”


“Lo juga sama aja,”


“Tapi lo sebenarnya cinta enggak sih sama Agatha,”


“Gila aja ini orang ya. Bisa-bisanya dia nanya begitu,”


“Lah ‘kan gue nanya apa salahnya?”


“Ya iyalah, jangan ditanya,”


“Iyalah apa? Jawab yang tegas dong. Ah lo mah enggak jelas nih,”


“Iya cinta lah, Van. Enggak ada yang lain cuma satu aja, cuma Agatha pokoknya,”


“Hah baguslah,”


“Lo sendiri gimana? Lo masih cinta sama istri lo itu ‘kan?”


Vano menganggukkan kepalanya. Kepalanya hanya bergerak saja tanpa mengatakan apapun, Rendra jadi geram. Rendra mendorong bahu Vano.


“Yang bener jawabnya ya! Jangan cuma ngangguk doang,”


“Masa anggukan enggak lo pahami juga?”


“Enggak, suara lo juga harus keluar lah biar gue tau,”

__ADS_1


“Iya! Kalau enggak cinta udah gue tinggalin. Gue kuat-kuatin cinta sama Elvina meskipun dia mungkin nggak sebaik waktu sama lo, gue cinta banget sama dia, Ren,”


__ADS_2