
“Mas, kamu yang blokir nomor Rendra ya? Kenapa diblokir?” Tanya Elvina dengan kesal.
“Iya, emang kenapa?” Jawab Vano dengan santainya.
“Lah, ‘kan barusan aku tanya. Kenapa kamu malah nanya balik, Mas?”
Vano berdecak kesal. Mendadak jadi tidak bagus lagi mood nya hanya karena pertanyaan istrinya itu. Elvina bertanya kenapa Ia memblokir nomor Rendra? Tentu saja jawabannya karena Ia merasa terganggu dengan Rendra. Makanya Ia sengaja memblokir nomor telepon Rendra dengan supaya Rendra tak bisa lagi menghubungi istrinya. Ia tidak mau komunikasi mereka berlangsung semakin sering.
“Mas, kenapa kamu blokir? Kamu belum jawab pertanyaan aku lho,”
“Ya karena saya risih, El. Kok masih tanya kenapa sih?”
“Tapi ‘kan dia nggak berbuat apa-apa. Kenapa kamu risih? Orang dia aja nggak ngusik aku kok, apalagi ngusik kamu, Mas,”
“Dia tuh bikin saya risih dari pertama kali chat minta nomornya di save. Ya udah saya blokir aja. Cari perhatian banget deh. Udah bahagia sama pasangan baru kenapa masih aja hubungin kamu? Maksudnya apa coba? Kamu juga, harusnya bisa lah jaga perasaan saya,”
“Tapi dia cuma minta save aja, Mas. Aku sama dia juga udah nggak chat apa-apa kok. Aku barusan liat daftar kontak yang diblokir dan aku liat ada nama dia jadi aku kaget,”
“Ya emang saya blokir. Biarin aja, saya senang dia diblokir jadi nggak bisa hubungin kamu lagi,” kata Vano seraya tersenyum santai.
Elvina berdecak pelan. Ia masih bingung kenapa suaminya sampai memblokir. Vano pernah jujur kalau dirinya cemburu, tapi haruskah sampai memblokir nomor telepon Rendra? Elvina pikir selagi komunikasi tidak berlebihan, Ia tahu batasan, tak masalah Ia menyimpan nomor telepon Rendra mengingat Rendra juga temannya sekarang, bukan sebatas mantan kekasih lagi.
“Aku buka aja blokir nya, Mas,”
“Lho, ngapain sih? Nggak usah lah. Nggak perlu kamu buka-buka. Kamu senang banget kayaknya kalau lancar komunikasi sama dia, El,”
“Astaga, nggak begitu. Tapi ‘kan dia teman aku, dan chat kami juga nggak yang aneh-aneh, kamu bisa liat sendiri ‘kan? Jadi kenapa harus diblokir coba? Nggak usah, Mas. Aku juga tau kalau aku ini istri kamu. Sebaiknya kalau cemburu itu jangan berlebihan,”
Perkataan Elvina membuat Vano kesal bukan main. Ia tidak senang mendengar ucapan Elvina yang seolah menentang keputusannya untuk memblokir kontak Rendra supaya tak ada komunikasi lagi antara Elvina dengan temannya itu.
“Kamu sadar nggak sih kalau dia itu cari perhatian kamu? Saya sebagai cowok bisa liat sendiri lho. Dia tuh cari perhatian sama kamu, ngapain kamu ladenin?”
“Aku nggak ladenin apa-apa kok. Aku cuma balas waktu dia minta nomornya disimpan. Udah sebatas itu aja, Mas,”
“Udahlah pokoknya nggak usah diladenin, biarin aja nomornya di blokir,” pungkas Vano yang tak mau keputusannya diganggu gugat. Menurut Vano, supaya hatinya tenang, sudah sepatutnya apapun tentang Rendra disingkirkan sejauh mungkin.
Elvina meletakkan ponselnya. Keputusan akhir tak bisa diganggu gugat. Vano benar-benar tidak mau membuka akses komunikasi antara dirinya dan Vano. Ia menuruti perkataan Vano supaya tetap memblokir nomor telepon Rendra.
Melihat Elvina meletakkan ponselnya di atas nakas dan hendak masuk ke dalam kamar mandi, Vano langsung memanggil istrinya.
“El,”
“Kenapa?”
“Tetap kamu blokir ‘kan?”
__ADS_1
“Kamu yang blokir, bukan aku,”
“Ya saya tau, tapi tetap diblokir ‘kan?”
“Iya, kamu hilangnya begitu tadi ‘kan? Ya udah aku ikutin,” kata Elvina yang langsung membuat Vano tersenyum lebar.
Dengan cepat Vano berjalan ke arah istrinya kemudian Ia merengkuh Elvina dengan erat sambil mencium kening Elvina beberapa kali.
“Baik banget sih kamu. Mau nurut apa kata suaminya. Saya senang deh, makasih ya, Elvina ku sayang,”
Elvina tersenyum tapi sedikit masam berdasarkan penglihatan Vano makanya Vano menghembuskan napas kasar.
“Nggak ikhlas nih nurut sama saya nya?”
“Kata siapa?”
“Lah itu senyumnya agak-agak nggak ikhlas deh keliatannya,”
“Nggak ah, aku senyum ya emang begini bentuknya,”
“Pasti dalam hati lagi ngedumel ya? Iya ‘kan? Jujur aja deh sama saya,” kata Vano sambil menarik ujung hidung istrinya.
“Emang bisa diliat darimana senyum ikhlas dan nggak ikhlas?”
“Aku tau lah. Aku bisa nilai, El,”
“Kamu ada-ada aja. Ya nggak gitu juga dong senyumnya. Lebar amat, jangan lebar-lebar kalau senyum, nanti banyak yang naksir,”
“Mana ada, senyum lebar udah kayak hantu aja. Nggak ada lah yang naksir. Jadi gimana? Udah keliatan ikhlas belum senyum aku, Mas?”
“Udah, Sayang. Udah keliatan ikhlas kok, kata aku udah keliatan ikhlas sih,”
“Berarti harus senyum lebar dulu baru dibilang ikhlas?”
“Ya nggak gitu, senyum ikhlas itu keliatan dari matanya. Tanpa harus senyum lebar kalau matanya keliatan senyum, ya itu udah ikhlas,”
“Mata aku udah senyum belum?”
“Udah kok, Cantik,”
“Ya udah, aku mau ke kamar mandi. Selesai ‘kan obrolan tentang Rendra dan senyuman?”
“Udah-udah, silahkan kamu ke kamar mandi,”
“Ya udah lepas dulu dong pelukan kamu. Gimana aku mau ke kamar mandi kalau kamu nya masih meluk aku kayak begini?” Tanya Elvina sambil menunjuk tangan suaminya yang masih melingkari pinggangnya. Vano mengizinkan Ia untuk bergegas ke kamar mandi tapi tangan Vano masih memeluknya.
__ADS_1
“Eh iya, maaf saya lupa belum lepas ya ternyata pelukan saya,”
“Iya, gimana caranya aku bisa ke kamar mandi ‘kan?”
“Mau saya temenin nggak?”
“Nggak usah, makasih, Mas. Kaki aku Alhamdulillah masih berfungsi, tangan aku juga begitu, aku masih bisa ke kamar mandi sendiri. Makasih ya tawarannya,”
Vano tertawa mendengar ucapan istrinya yang menolak dengan halus disertai alasan yang masuk akal. Memang Vano yang aneh. Tak ada hujan dan badai, tiba-tiba menawarkan diri untuk menjadi pengantarnya Elvina ke kamar mandi.
“Serius nih nggak mau saya temenin, El?” Tanya Vano seraya tersenyum usil menatap istrinya yang saat ini hendak menutup pintu kamar mandi.
“Ih kamu ada-ada aja. Ngapain coba nawarin mau antar aku mulu? Orang ke kamar mandi doang kok,”
Setelah bicara seperti itu Elvina langsung mengunci pintu kamar mandi, dan Vano tertawa lagi. Bercanda dengan Elvina benar-benar menyenangkan sekali untuknya. Maka dari itu Ia senang melakukannya. Apalagi ketika reaksi Elvina kesal. Elvina akan terlihat semakin menggemaskan kalau Ia kesal.
“El, jangan lama-lama ya. Nanti saya kangen,”
“Nggak tau ah, geli banget dengar kamu ngomong gitu biasanya juga nggak. Karena abis blokir nomor Rendra ya? Jadi merasa bersalah sama aku?”
“Nggak dong, ngapain saya merasa bersalah?”
“Memang itu yang harus saya lakuin supaya hubungan kita tetap baik-baik aja dan kamu fokus sama saya bukan yang lain,”
“Ya lagian aneh banget. Baru juga pisah sedetik udah kangen,”
“Kita ‘kan pengantin baru jadi masih anget-angetnya,”
“Bercanda mulu kamu,”
“Lah, emang kenyataan kok. Kita ‘kan pengantin baru, jadi masih anget-angetnya, jauh bentar aja tuh nggak bisa,”
Elvina tak lagi mengeluarkan suara, hanya mencibir di dalam hati “Giliran kesal sama Rendra aja serem banget keliatannya, sekarang bercanda mulu,”
“El, aku liat handphone kamu ya,”
“Liat aja, aku nggak pernah larang,”
Elvina menyahuti sambil Ia membuka pintu kamar mandi setelah buang air kecil. Vano meraih ponselnya kemudian sengaja membaringkan badan di atas ranjang.
“Aku mau mantau dulu,”
“Mantau apa?”
“Mantau handphone kamu dong, El,”
__ADS_1
“Emang ada apa sama handphone aku?”
“Ya barangkali ada cowok genit yang nyasar lagi. Kalau ada yang chat kamu lagi, saya yang balas,”